<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UnitedFool.com &#187; Short Story</title>
	<atom:link href="http://www.unitedfool.com/topik/short-story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.unitedfool.com</link>
	<description>But God chose the foolish things of the world to shame the wise... (1 Cor 1:27-29)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Jun 2010 13:43:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dilema Kenakalan, Sebuah Cerita</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2005/05/14/dilema-kenakalan-sebuah-cerita/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2005/05/14/dilema-kenakalan-sebuah-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2005 03:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[diari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali saya tersenyum malu-malu tiap kali uda (istilah dalam bahasa Batak yang biasanya digunakan untuk memanggil adik kandung dari ayah) bercerita tentang kenakalan saya sewaktu kecil. Kalau tidak salah saat usia 5-6 tahun. Dia bercerita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.unitedfool.com/images/daily_life/bart_simpson.gif" alt="Bart Simpson" width="144" height="185" align="left">Seringkali saya tersenyum malu-malu tiap kali uda (istilah dalam bahasa Batak yang biasanya digunakan untuk memanggil adik kandung dari ayah) bercerita tentang kenakalan saya sewaktu kecil. Kalau tidak salah saat usia 5-6 tahun. Dia bercerita bagaimana waktu itu, saya meninju seorang anak kecil seusia saya, yang berdiri di depan rumah<br />
lalu lari bersembunyi ala perang gerilya. </p>
<p><span id="more-858"></span></p>
<p>&#8220;Tapi sekarang, dia jadi pendiam,&#8221; kata uda saya ketika membandingkan masa kecil dengan sifat saya sekarang. Saat dia bercerita, tersirat kebanggaan akan kenakalan yang saya buat. Seolah-olah semakin mengukuhkan slogan, &#8220;Anak laki-laki itu harus nakal&#8221;. Sebab kalau tidak nakal malah dicap aneh bahkan punya kelainan. Bukankah begitu, penonton? <img src="http://www.unitedfool.com/images/smileys/orangerazz.gif" width="15" height="15"></p>
<p>Mengenang &#8216;kenakalan&#8217; &#8211; saya juga tidak keberatan bila disebut &#8216;kejahatan&#8217;, yang saya buat di masa kecil, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Entah darimana sifat &#8216;nakal&#8217; itu datangnya. Ada dua &#8216;kenakalan&#8217; yang masih sangat membekas dalam ingatan (sengaja ditulis dua, takut merusak image.. he..he..he.. <img src="http://www.unitedfool.com/images/smileys/orangebiggrin.gif" width="15" height="15">). </p>
<p>Sewaktu saya masih duduk di bangku 2 SD, saya bersekolah di SD Kalam Kudus, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sekolah Katolik yang mayoritas siswanya dari etnis Tionghoa ini, punya tempat kantin yang luas dengan jajanan yang bikin anak SD ngiler kebawa mimpi. </p>
<p>Saat itu, bel istirahat adalah simbol dimulainya &#8216;kenakalan&#8217; saya. Saya bergegas menuju sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam permen. Permen-permen ini disusun di atas sebuah meja yang miring 30 derajat ke arah pembeli. Seperti sebuah papan yang dimiringkan untuk bermain mobil-mobilan, dari atas turun ke bawah. Di atas meja itu, dibuat kotak-kotak kecil tempat menampung permen-permen berbagai jenis. Pembeli tinggal mengambil dari kotak itu bila berniat membelinya.  </p>
<p>Posisi warung ini diapit tembok sisi kanan dan kirinya dengan lebar sekitar 3 meter. Jadi, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya anak-anak SD berebutan jajan permen. Nah, keadaan penuh sesak ini saya manfaatkan untuk berbuat &#8216;nakal&#8217;. Di hadapan saya ada sekitar 15 anak dan di belakang saya ada sekitar 10 anak. Saat itu, suasana gaduh dan dorong-dorongan. Dorong ke kanan, ada tembok, dorong ke kiri ada tembok. Saat berada di antara kerumunan itu, saya berpura-pura antri hendak membeli permen lalu membuat suara hendak membeli. &#8220;Itu permennya berapa?&#8221; saya berteriak supaya membuat suasana tambah gaduh. </p>
<p>Sambil pura-pura membeli, tangan saya menyelusup seperti ular di antara badan anak-anak SD yang ada di depan, membungkuk sedikit, lalu meraup sejumlah permen di atas meja itu. Lumayan, permen warna-warni bisa menari-menari di lidah saya. Beberapa kali &#8216;aksi&#8217; ini berhasil tanpa ketahuan.  </p>
<p>Pesona jajanan di kantin terus terbayang di rumah. Makan permen tidak mengenyangkan. Saya pernah jajan bakmi di kantin dan rasanya bikin ketagihan. Tapi sayang, uang jajan lebih sering hanya cukup beli krupuk jigoan atau gocapan dan coklat ayam. Dirundung &#8216;kesulitan ekonomi&#8217;, saya membuat &#8216;kenakalan&#8217; yang lain. Hanya saja, setting atau TKP-nya di rumah. </p>
<p>Beberapa jam sebelum masuk sekolah (sekolah siang), saya masuk ke kamar, mengambil kursi, berdiri di atasnya lalu meraih sebuah celengan ayam jantan dari tanah liat yang ada di atas lemari. Orang tua sengaja menaruh di situ agar sulit dijangkau. Tapi memang sudah niat berbuat &#8216;kenakalan&#8217;, pasti ada jalan. Banyak jalan menuju Roma, kira-kira begitu kata nenek-nenek. </p>
<p>Saya berniat mengambil uang dari celengan ayam itu tanpa ketahuan. Entah dari mana idenya, saya membuat lubang kecil, cukup untuk mengeluarkan uang kertas, di bawah celengan itu. Lewat lubang itu, saya meraup seratus hingga seribu perak. Agar tidak ketahuan mengambil (harusnya sih mencuri tapi diperhalus&#8230; he..he..he.. <img src="http://www.unitedfool.com/images/smileys/orangerazz.gif" width="15" height="15">) uang saat keluar kamar, uang ratusan yang sudah kumal dan berbau apek itu, saya masukkan ke dalam mulut. </p>
<p> Saya kemudian melenggang pergi keluar kamar bersama &#8216;jarahan&#8217;. Saat di sekolah, saya berpesta pora makan beberapa porsi bakmi dan jajan berbagai permen. Anehnya, &#8216;kenakalan&#8217; saya ini tidak pernah ketahuan sampai sekarang (kecuali orang tua saya membaca tulisan saya ini <img src="http://www.unitedfool.com/images/smileys/curtain.gif" width="14" height="19">).</p>
<p> Bersambung ke &#8216;Dilema Kenakalan &#8211; Segumpal Kegelisahan&#8217;</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=858&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.unitedfool.com%2F2005%2F05%2F14%2Fdilema-kenakalan-sebuah-cerita%2F&amp;linkname=Dilema%20Kenakalan%2C%20Sebuah%20Cerita"><img src="http://www.unitedfool.com/sira/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2005/05/14/dilema-kenakalan-sebuah-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kau, Aku, Dia</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/06/30/kau-aku-dia/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/06/30/kau-aku-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2004 02:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
Dari mana sebaiknya kumulai jalinan yang rumit kita ini? Darimu, dariku, dariNya?<br />
Atau, dari hati paling dalam: hatimu, hatiku, hatiNya? Ah, entahlah. Lama kurenung<br />
sepenuh pertimbangan, tetapi sejujurnya, aku belum menemukan arah yang pasti. </p>
<p><span id="more-558"></span></p>
<p> Tetapi, sudahlah. Begini saja lebih baik. Kita bersepakat dalam perasaan yang<br />
penuh teka-teki. Bukankah hubungan tak selamanya harus terbuka? Jadi, karena<br />
kau masih menyimpan perasaanmu, sementara Dia tentu saja tahu, bagaimana bila<br />
kumulai dari awal pertemuan kita? Aku tahu, pasti kau tertawa, dan Dia bergumam,<br />
&quot;Ah, ada-ada saja.&quot; </p>
<p>Biarkan. Biarkan matahari tersenyum di balik dedaunan. Biarkan burung-burung<br />
berkepakan di reranting hijau. Biarkan alam raya ikut tertawa bersama kita.<br />
Bukankah keindahan pertanda kemesraan menyulam hubungan kita?</p>
<p>Masih jelas terlukis dalam kanvas mata, suatu waktu, matahari mengintip di<br />
dedaunan yang menari-nari dipermainkan angin, di saat itu aku bertemu kau.<br />
Dan, di manakah Dia? Oho, Dia ada di antara kita. Dia melirik kita. Bahkan,<br />
berbaur debur jantung, aku percaya, Dia yang pertemukan kita. Dia yang ciptakan<br />
suasana indah memesona kita. Dia yang menyutradarai semua adegan menakjubkan<br />
di antara kita. Dia yang menentukan aku sebagai pengajar dan kau (sebagai<br />
salah satu dari 30 orang) membutuhkan pengajaran. Bagaimana denganmu? Adakah<br />
perasaanmu juga berkecamuk? Ah, lebih baik kau ingat Dia yang mengajar kita<br />
tentang kehidupan surgawi. Ajaran untuk senantiasa hidup kudus.</p>
<p>
Di dalam ruangan ber-AC itu, aku duduk menahan dingin menyusup tulang. Saat<br />
itu sedang berlangsung ibadah singkat dalam mengawali proses belajar mengajar.<br />
Dan kau masuk, lalu tanpa basa-basi duduk di sebelah kananku. Aku tak tahu,<br />
mengapa harus ada kursi kosong di sampingku. Aku juga tak mengerti, mengapa<br />
kau harus duduk di sebelahku. Pertanda apakah ini? </p>
<p>Hatiku terus bertanya-tanya di antara tatapanNya yang menyelidik. Ternyata,<br />
jawabanku berlalu dalam kibasan gigil angin. Hingga acara usai, kau tetap<br />
asyik belajar; cuma sekilas memandangku. Sementara aku harus menyelesaikan<br />
tugas mengajar dengan duduk di kursi depan. Ya, hari pertama itu berlalu dalam<br />
irama ceria. Karena sesekali kau tersenyum dan tertawa. Tahukah kau, bahwa<br />
Dia yang memberi hati cerah, sukacita membasuh kita.</p>
<p>Di hari kedua, ah, demikian juga. Sesekali kau tersenyum dan tertawa. Nah,<br />
pasti Dia geleng-geleng kepala menyaksikan peristiwa gombal kita. Tetapi,<br />
ada satu yang istimewa, yang kemudian baru kusadari, kali ini kau duduk tepat<br />
di depanku. Bukankah kemarin kau duduk di kursi belakang? Kini, kita berhadapan:<br />
muka dengan muka. Dan seharusnya, aku dapat menatap parasmu yang cantik sepuas<br />
ingin. Tetapi, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tak punya keberanian.<br />
Aku cuma nekat curi-curi pandang. Betapa memalukan! Betapa bodohnya aku!</p>
<p>&quot;Kau memang bodoh!&quot; suara mendengung tiba-tiba, tajam mengejekku.<br />
Suara siapakah? Mungkinkah suara malaikat? Atau, suara peri?</p>
<p>Bukan. Aku tahu itu bukan suaraNya. Pasti bukan Dia yang menegur dengan keras<br />
di tengah siang. Sebab, siapa pun percaya, suaraNya lebih lembut dari dentingan<br />
harpa, lebih merdu dari lagu burung-burung menyambut pagi.</p>
<p>Duh. Benarkah aku bodoh? &quot;Kau memang bodoh! suara itu kembali mendesing<br />
di telingaku. Nyaring dan menusuk jantung. Demi keinginan semu, kau membuang<br />
hal terbaik yang telah kau terima.&quot; </p>
<p>Aku terpana. Lama mereka-reka makna kebodohan yang ditujukan kepadaku. Dan,<br />
aku menghempas resah, menyadari kebodohanku. Ah, entah mengapa, aku malah<br />
grogi saat mengajar. Ya, di depanmu, saat itu, aku jadi kurang konsentrasi.<br />
Rasanya aku ingin memukuli kepalaku sembari mengutuk diri: &quot;Keparat!<br />
Bedebah! Jahanam! Berhentilah untuk memikirkan keindahan tubuh perempuan yang<br />
bukan milikmu! Berhentilah bermimpi!</p>
<p>Ayo, bangunlah!&quot;</p>
<p>Seketika aku terjaga. Aku terhenyak dari keinginan yang gila. Betul, aku<br />
harus bangun dari lumpur kebusukan yang hendak menghisapku. Angan-angan durjana<br />
untuk bergelut dan rebah dalam rangkulan perempuan</p>
<p>lain harus kusingkirkan jauh, sejauh aku bisa. Malah, aku harus terus bangun<br />
dasar-dasar kokoh pernikahanku yang suci. Tentu aku tak ingin buah-buah pernikahanku<br />
membusuk oleh nafsu tololku. O, mengapa aku jadi begini? Haruskah aku selemah<br />
ini? Maka, kuserukan agar Dia mengerbangkan tangan, membungkusku dalam kuasaNya.</p>
<p>&quot;Untuk apa kau ditolong?&quot; tiba- tiba suara itu kembali menegurku.</p>
<p>&quot;Agar aku tidak tersesat!&quot;</p>
<p>&quot;Edan! Bukankah selama ini kau tersesat?&quot;</p>
<p>&quot;Ya, aku adalah domba yang tersesat di lorong kekelaman.&quot;</p>
<p>Bahkan, kau senantiasa bangga atas kesesatan itu, dan menari-nari dalam lumpur<br />
kesesatan yang menenggelamkanmu.</p>
<p>&quot;Aku tahu&#8230;&quot;</p>
<p>&quot;Lalu, mengapa kau menadah pertolongan?&quot;</p>
<p>&quot;Karena domba ini ingin kembali. Tak kuasa domba keluar dari lubang<br />
lumpur jika Sang Gembala tak menolong,&quot; jawabku serak. &quot;Tanpa Dia,<br />
aku akan semakin tersesat. Itu sebabnya, kumohon dengan sangat, Dia mengulurkan<br />
tangan,&quot; lanjutku mulai terisak-isak. Tanpa kusadari airmataku mengalir<br />
mencari muara.</p>
<p>Kau tersenyum. O, dalam senyummu, kulihat paras istriku. Dan, kau tertawa.<br />
O, dalam tawamu, kudengar tawa anakku.</p>
<p>Olala, betapa gembira aku, sesuatu yang nyaris hilang oleh ketololanku telah<br />
kembali. Aku tak ingin melepasnya. Aku tak ingin terhempas ke batu-batu padas.<br />
Istri dan anakku adalah anugerah tak terhingga.</p>
<p>Rumah tanggaku adalah jejak langkahku menuju hari esok yang lebih baik. Keluargaku<br />
adalah ikatan suci kehidupanku. Lalu, mengapa harus kutepis basuh keindahan?<br />
Mengapa harus kunodai selendang putih dengan gelitik berselingkuh? O, dosa<br />
laknat, terkutuklah!</p>
<p>Maka, di hari ketiga, hari terakhir aku mengajar, aku mulai agak tenang.<br />
Hatiku tak berkecamuk lagi, tak seperti sapi gila. Apalagi kau duduk di kursi<br />
belakang, seperti hari pertama kita bertemu. Dan kau lebih banyak diam dan<br />
menunduk. Aneh, benar-benar aneh. Sikap itu kembali menimbulkan tanda tanya:<br />
ada apa gerangan?</p>
<p>Kucoba membuat kehangatan, kau tak tersenyum. Kucoba membuat kelucuan, kau<br />
tak tertawa. Bah! Mati aku! Siapakah yang menculik senyum dan tawamu? </p>
<p>&quot;Biarkan saja!&quot; suara itu mencegahku untuk bertindak lebih jauh.<br />
Seketika aku tersadar. Ya, kembali kuingat Dia, lalu kuingat paras istri dan<br />
anakku. Kuingat bunga kemesraan yang kami pupuk dalam taman rumah tanggaku.<br />
Maka, aku tersenyum dalam balutan senyum istri dan anakku. Dan, aku menyelesaikan<br />
tugas mengajar dengan cerah. Aku merasa dapat mengatasi gejolak perasaanku<br />
yang konyol, merasa berhasil melewati godaan yang teramat kuat. Aku telah<br />
berhasil menepis gelitik iblis.</p>
<p>Lalu, aku dan kau berpisah. Lega. O, lihat, Dia pun lega.</p>
<p>&quot;Bolehkah aku menghubungi Mas?&quot; tanyamu sesaat sebelum aku berlalu<br />
bersama waktu larut.</p>
<p>Aku terdiam. Di dalam hati aku bilang, tidak. Tetapi, edan, kepalaku mengangguk.<br />
Boleh. &quot;Silakan,&quot; tanggapku.</p>
<p> 
<p>
Seminggu kemudian, kala hujan gerimis menghias jendela senja, kuterima SMS<br />
darimu: &quot;Mas, aku ingin menjadi penulis. Ajari aku.&quot; Bah! Pesan<br />
singkat itu ternyata memperpanjang hubungan kau dan aku. Sehingga Dia jadi<br />
geleng-geleng kepala. Maka, godaan kembali menggelitikku. Bisikan iblis kembali<br />
menyeruak dada. O, di manakah Dia? Tolong, datanglah dengan sayap-sayap kudus.
</p>
<p>Tetapi, entah kenapa aku semakin larut dalam lautan kelabu. Penulis? Cita-cita<br />
sableng apa itu? Mengapa kau tidak memilih menjadi diplomat, bankir, atau<br />
sekretaris? Parasmu cantik. Tubuhmu tinggi langsing.</p>
<p>Kulitmu kuning langsat, mulus selembut sutra. Rambutmu panjang, agak pirang.<br />
Matamu bulat cemerlang. Apa lagi yang kurang? Mengapa tidak menjadi model<br />
saja? Malah,meski aku belum tahu bakatmu, aku yakin, kau dapat menjadi artis<br />
sinetron, dan bakal sejajar dengan bintang-bintang lainnya yang berpendaran<br />
di langit jingga.</p>
<p>Tanpa kusadari, aku kembali terayun-ayun di ujung tali kebimbangan. Haruskah<br />
kujawab? Atau, kudiamkan saja? Ah, aku memutuskan untuk tidak merespons, tetapi<br />
konyolnya, tanganku malah meraih HP dan membalas via SMS.</p>
<p>Sejak itu, aku dan kau terus saling berbalas kabar, mencoba tak peduli atas<br />
kegelisahanNya. Astaga! Jika istriku tahu, wah, bisa berabe. Aku bisa dinilai<br />
kurang ajar, lelaki brengsek, suami tak bermoral, makhluk hidung belang. Ah,<br />
untunglah istriku tak pernah mengutak-katik HP-ku. Tak pernah bercuriga. </p>
<p>Selalu percaya. Dan, kian sempurna kebejatanku karena tega menepis segala<br />
kepercayaan istriku untuk godaan selingkuh yang tak jelas. Tetapi, oh, lihat,<br />
kita tak bisa lari dari tatapanNya. Sejauh kita pergi, lari, sembunyi, Dia<br />
senantiasa mengawasi.</p>
<p> 
<p>
Tahukah kau makna hubungan kita ini? Benarkah aku dan kau berselingkuh? Hubungan<br />
saling bertukar informasi dan pendapat tergolong selingkuh? Dapatkah kau jelaskan<br />
padaku? Sebab, aku tak tahu. Sama sekali tak kupahami. Demikian aku berusaha<br />
berkelit, seperti penyamun. Lihat, Dia tertawa parau. Burung-burung tertawa,<br />
kupu-kupu tertawa &#8212; mengejekku. </p>
<p>&quot;Sebaiknya memang tak perlu kau pahami,&quot; tanggap suara itu tiba-tiba,<br />
kembali menyergapku.</p>
<p>Sial! Suara siapakah itu yang selalu saja hadir kapan dan di manapun aku<br />
berada? Suara itu selalu tahu apa yang ingin aku lakukan, bahkan yang masih<br />
dalam pikiranku. Betapa hebatnya! Seperti tak ada tempat bersembunyi bagiku.
</p>
<p>&quot;Mengapa harus begitu?&quot; tanyaku sinis.</p>
<p>&quot;Karena kau harus menjadi seperti anak kecil untuk dapat memahami kehidupan<br />
ini.&quot;</p>
<p>&quot;Anak kecil? Usiaku saat ini sudah 37 tahun, bagaimana mungkin?&quot;</p>
<p>&quot;Tak ada yang tak mungkin!&quot;</p>
<p>&quot;Apa maksudmu?&quot;</p>
<p>&quot;Kedewasaan tak selamanya memberi kebahagiaan!&quot; tegas suara itu.<br />
&quot;Apa lagi dalam memahami kehidupan, bertindaklah seperti anak kecil.<br />
Polos, jujur, dan tak pernah menuntut.&quot; </p>
<p>&quot;Ah, tak perlu berteori di depanku.&quot;</p>
<p>&quot;Semakin dewasa keinginanmu, semakin sulit kaumengendalikan dirimu.&quot;</p>
<p>Aku termangu. &quot;Menuduhku?!&quot;</p>
<p>&quot;Orang yang serong hati adalah kekejian bagiNya.&quot; Otakku membatu.</p>
<p>
<p>
Di langit, malam tak berbintang. Lampu temaram memoles wajahmu. Angin mengusap<br />
dedaunan, memberiku keberanian. Aku menatapmu dalam-dalam. Aku nikmati bolamatamu<br />
yang segar, ingin memetik bibirmu yang ranum. Sementara ular mulai liar, menggerogotiku.<br />
Beberapa pekan lalu ular itu menyusup ke dalam jantungku, dan bersarang. Beberapa<br />
hari lalu, ular itu menggeliat, gelisah. Kini ular itu meronta ingin memangsa.<br />
Oh, di manakah Dia? Mengapa Dia masih diam? Mengapa Dia tidak segera datang<br />
menjamah, memutus jalinan busuk ini?</p>
<p>Kau tersenyum teramat sulit kuartikan. Matamu bekerjapan mengalahkan kecantikan<br />
kerlap-kerlip lampu. Aku terpana. Semakin mabuk anggur jingga. </p>
<p>&quot;Betapa senang hatiku, Mas. Atas bantuan Mas, mengajariku menulis, kini<br />
sudah beberapa cerpen yang berhasil kutulis, lapormu,&quot; ceria, saat kita<br />
kembali bertemu di kafe, tempat pertemuan yang kerap kita sepakati. Dan, aku<br />
tak ingat, ini pertemuan yang ke berapa. Pertemuan dengan alasan belajar menulis<br />
yang terus kita lanjutkan, entah sampai kapan. Terima kasih, ya, Mas,&quot;<br />
bisikmu.</p>
<p>Aku tersenyum juga tak kumengerti maknanya. Sebab, jalinan ini mulai kunikmati.<br />
Bahkan, aku mulai berani memunggungiNya, dan sering pura-pura tidak tahu kehadiranNya<br />
dalam keperihan. Padahal aku tahu, ke langit pun kita terbang, dengan sayap-sayap<br />
fajar kita melayang, Dia pasti tahu. Ah. Betapa terluka hatiNya atas kekejian<br />
yang kulakukan. Beberapa kali Dia menangis getir berbaur gelegar petir. Sementara<br />
aku tetap berharap kau juga tidak memedulikanNya. Biarkan saja Dia terseret<br />
gelombang nestapa. Dan kita merajut jalinan teka-teki ini dalam keringat biru<br />
kelabu.</p>
<p>&quot;Orang bebal tidak suka kepada pengertian,&quot; suara itu kembali terdengar<br />
kali ini mendengus. </p>
<p>Aku tak peduli. Bahkan mencibir. Dan, hubungan antara kau dan aku &#8212; tanpa<br />
Dia &#8212; terus kita pacu hingga embun berjatuhan di ujung rerumputan.</p>
<p>Dan, dalam dusta keletihan, aku tiba di rumah. Betapa terkejutnya aku karena<br />
di pintu terpampang tulisan: Hai, kau yang serong hati, lebih baik bagi lehermu<br />
diikatkan batu kilangan, dan kau diceburkan ke dalam laut.</p>
<p>Aku terperangah, teramat terpukul. Betapa keinginan telah merajaiku. Sudah<br />
kubiarkan iblis menguasaiku. Terkutuklah aku! Dengan perasaan kalut, kupukuli<br />
kepalaku, bahkan kubentur-benturkan kepalaku ke tembok. Biarlah aku mati!<br />
Biarlah si bejat ini mati, membusuk dan dimakan cacing! </p>
<p>Di saat itulah, cinta kasih kepada istri dan anakku mengguyurku. Mendadak<br />
aku sangat merindukan mereka. Ingin mendekap erat mereka. Segera aku menghambur<br />
masuk, mencari mereka ke kamar, ingin menumpahkan sepenuh cinta yang tersisa.<br />
Tetapi, mereka tak ada. Kamar kosong. Semua ruang, kosong. Di mana mereka?<br />
Ke mana mereka? Aku mulai kalut, mencari-cari sambil memanggil-manggil dengan<br />
keras. &quot;Istriku&#8230;!</p>
<p>Anakku&#8230;!&quot; tangisku, kehilangan.</p>
<p>Kekalutanku memuncak, salah seorang tetanggaku buru-buru menghampiriku, bicara<br />
dengan gugup, &quot;Maaf,Pak Darius. Istri dan anak Bapak tadi sakit keras.<br />
Karena Pak Darius tak ada, kami berinisiatif melarikan mereka ke rumah sakit&#8230;&quot;</p>
<p>Seketika langit runtuh menimpaku. Dan aku jatuh terhempas ke batu, terkapar&#8230;<br />
terkekeh-kekeh&#8230; </p>
<p>Jakarta, 2004</p>
<p>Sumber: Suara Pembaruan, 27 Juni 2004</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=558&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/06/30/kau-aku-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Tua</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/02/29/rumah-tua/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/02/29/rumah-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Feb 2004 00:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Rumah itu terlihat tua. Cat temboknya sudah terkelupas. Warna putihnya sudah berubah menjadi kekuning-kuningan. Bila dilihat lebih dekat lagi maka akan terlihat retakan-retakan kecil di bagian-bagian tertentu. Gaya bangunannya seperti gaya bangunan jaman dulu. Sederhana ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah itu terlihat tua. Cat temboknya sudah terkelupas. Warna putihnya sudah berubah menjadi kekuning-kuningan. Bila dilihat lebih dekat lagi maka akan terlihat retakan-retakan kecil di bagian-bagian tertentu. Gaya bangunannya seperti gaya bangunan jaman dulu. Sederhana dan konservatif. Rumah itu berdiri sendiri. Sebelah kanan dan kirinya hanya tanah kosong sementara rumah lainnya baru ada sekitar<br />
1 km lagi dari rumah tua itu.</p>
<p><span id="more-444"></span></p>
<p> Pintunya yang terbuat dari kayu juga sudah terlihat rapuh. Dari lubang kecil yang ada di pintu terlihat beberapa rayap kecil sedang berbaris rapi menyelusuri pinggir pintu. Gagang pintunya tidak kuat. Sudah berkarat dan sedikit longgar karena ada mur yang terlepas dari tempatnya. Seharusnya sebuah papan pengumuman yang bertuliskan &#8220;hati-hati membuka pintu&#8221; digantungkan pada pintu itu. Supaya jangan sampai pintu itu roboh dan menimpa orang yang membukanya.</p>
<p>    Rumah itu kecil. Dari luar yang terlihat hanya tembok, pintu, dan jendela. Rumah itu polos adanya. Tanpa halaman yang penuh dengan bunga, tanpa pagar putih yang terbuat dari kayu, dan tanpa pohon hijau yang menjulang tinggi. Terasnyapun tidak ada. </p>
<p> Aku berdiri di depan pintu masuk. Mulanya aku ragu apakah ini rumah yang kucari-cari. Nomor rumahnya cocok dengan nomor yang telah diberikan oleh ayahku. &#8220;Pergilah ke sana, nomor rumahnya 23, rumahnya kecil dan tua. Sekali melihat kau pasti akan tahu bahwa itu adalah rumah yang kau cari,&#8221; kata ayah kepadaku.</p>
<p>Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita separuh baya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya pucat, lesu, dan lelah. Baju yang dipakainya kusut dan lusuh. &#8220;Ada apa anak muda,&#8221; tanyanya kepadaku. Aku terdiam. Aku mencoba mengintip ke dalam rumah. Tidak ada lampu yang menyala. Hanya sinar matahari yang menerangi dalam rumah itu. Aku melihat ada seorang anak sedang tidur di atas lantai dengan beralaskan tikar. Anak itu sepertinya sedang merintih kesakitan. &#8220;Ibu..ibu..,&#8221; teriak anak itu memanggil ibunya. Mendengar dirinya dipanggil, wanita yang membukakan pintu itu segera menghampiri anaknya dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu. </p>
<p> Aku ikut masuk ke dalam rumah. Ruangannya panas dan pengap. Aku hampir tak bisa bernafas. Aku melihat si ibu memegang dahi anaknya yang sedang terbaring. Lalu seperti orang ketakutan ia berlari mengambil kain basah dan meletakkannya di atas dahi anaknya. Aku menghampiri anak itu. Anak itu pasti sedang sakit. Ia terlihat sangat lemah tetapi ia masih saja terus memanggil-manggil ibunya. Aku mencoba membantu si ibu untuk menenangkan anaknya. Aku pegang kepalanya mencoba menenangkan anak itu. </p>
<p>Tetapi betapa terkejutnya aku ketika merasakan panas yang mengalir ke tanganku. Anak itu sedang panas tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit untuk di beri perawatan, kalau tidak, mungkin ia akan segera meninggal. &#8220;Ibu&#8230;,&#8221;kataku. &#8220;Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak ia bisa mati.&#8221; Si Ibu menatapku dan dari matanya aku bisa melihat tetesan&#8211;tetesan air berjatuhan membasahi wajahnya. &#8220;Ibu tidak punya uang, dan ibu tidak tahu harus berbuat apa,&#8221; kata ibu itu dengan suara menangis. </p>
<p>Ibu itu terus memegangi tangan anaknya yang terus memanggil-mangil dirinya. &#8220;Ibu&#8230;,&#8221; kataku. &#8220;Mari kita bawa anak ibu ke rumah sakit, biar saya yang akan membayar semua biayanya.&#8221; Segera aku membangunkan anak itu dan menggendongnya dengan kedua tanganku. Ibu itu mengikuti aku dari belakang. &#8220;Anak muda, siapakah sebenarnya anda? Apakah saya mengenal anda? Dan ada keperluan apa anda datang ke mari?&quot; tanya ibu itu. </p>
<p>Lalu jawabku &#8220;Ayah saya yang menyuruh saya untuk datang ke rumah ibu. Ia berkata kalau ibu sedang memiliki masalah dan butuh pertolongan. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya yakin ibu pasti mengenal siapa ayah yang saya maksudkan, kemarin malam ibu berdoa meminta kepada-Nya supaya anak ibu bisa sembuh dari penyakitnya.&#8221; Saat mendengar itu, terkejutlah si ibu. Lalu ia mulai berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan telah mendengar doanya. (dewa)</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=444&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.unitedfool.com%2F2004%2F02%2F29%2Frumah-tua%2F&amp;linkname=Rumah%20Tua"><img src="http://www.unitedfool.com/sira/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/02/29/rumah-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Coklat Berbicara</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/01/30/saat-coklat-berbicara/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/01/30/saat-coklat-berbicara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2004 00:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>  <em>Cinta tak dapat dipaksakan. Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya<br />
untuk masuk ke dalam hati seseorang. Dan apbila ia sudah masuk maka tidak ada seorangpun yang dapat menyembunyikannya.</em>
</p>
<p></p>
<p><span id="more-400"></span></p>
<p>Bila aku kembali mengingat waktu aku pertama kali berjumpa dengan dirimu, ingin rasanya aku selalu berada di masa itu. Tetapi itu berarti aku harus meninggalkan masa kini dan menyeberangi jurang waktu yang terpisah sangat jauh. Dapatkah hal tersebut terjadi sehingga aku bisa kembali merasakan keindahan kala cinta datang memenuhi hidupku. Andaikan sekarang aku bisa memilih, dan kalau hal itu bisa terjadi, maka aku akan memilih untuk melupakan segala sesuatu yang terjadi selama tujuh bulan kita bersama. </p>
<p>Saat itu aku dan kau masih hanya sebatas teman biasa saja. Belum ada ikatan diantara kita berdua. Aku berjalan di jalan yang aku pilih dan kau juga berjalan di jalan yang kau pilih. Aku sendirian melewati setiap dentuman detik dan kau juga sendirian melewati berlalunya waktu. Aku dan kau berjalan di jalan yang berbeda sambil mengikuti apa yang menjadi kata hati. Hati dimana semuanya akan bermula dan hati dimana semuanya akan berakhir. Hingga akhirnya sang waktu tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi. Ia mempertemukan kita berdua pada suatu jalan yang bernama jalan cinta. Aku masih ingat setiap detil peristiwa itu. Kala itu malam sangat cerah dan bintang buatan sang Khalik menjadi hiasan malam terlihat begitu menakjubkan.</p>
<p>Malam itu aku merasakan kegelapan berlahan-lahan mulai meninggalkan ruang di hatiku dan kemudian digantikan oleh suatu bentuk keindahan yang dikenal dengan nama cinta. Aku telah jatuh cinta kepadamu. Malam itu aku memberanikan diri menatap ke dua matamu. Kau membalas pandanganku dengan sorot matamu yang bercahaya bagaikan kilau bintang malam itu. Aku tidak dapat memendam perasaan cinta yang ada di dalam hati ini lebih lama lagi. Bisa-bisa nanti aku membuat malam menjadi marah dan mengurung kembali cintaku bersama kegelapannya. Aku tak mau cintaku tertawan kembali disaat aku kini telah menemukan jalan keluar dari pekatnya hitam hati.</p>
<p>Malam itu, aku berkata kepadamu kalau aku mencintai dirimu. Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu mudahnya bagaikan kobaran nyala api yang mencoba menjilat segala sesuatau yang ada disekitarnya. Mungkin memang benar kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya untuk masuk ke dalam hati seseorang.</p>
<p>Setelah cinta keluar dari mulutku, waktu seakan-akan berhenti. Sekejap semuanya terasa sunyi dan sepi. Aku diam tak tahu apa lagi yang harus aku bicarakan, cinta adalah kata terakhir yang ada di dalam kepalaku. Dalam sunyi dan sepi aku menunggu jawabanmu tetapi bibirmu tak bergerak, terkatup diam. Hanya senyum di  bibirmu saja yang seakan-akan berbicara namun aku tetap tak bisa memahaminya.</p>
<p>Aku kemudian menggengam tanganmu sepanjang malam itu. Kaupun membalas genggaman tanganku. Aku tak bisa menafsirkan apa arti dari gengaman tanganmu yang terasa hangat dan senyumanmu yang membawa seribu tanda tanya. Aku tak tahu ada makna apa di balik senyuman dan tatapan matamu malam itu. Baru seminggu kemudian aku mengetahui maknanya. Kau juga mencintaiku seperti aku mencintai dirimu. Aku atas nama cinta mengucapkan terima kasih kepada malam karena tidak lagi memenuhi ruang di hatiku dengan kegelapannya. Kini sebuah bintang telah bersinar di dalam hatiku.</p>
<p>Aku lihat bintang masih tetap bersinar diatas sana. Jumlahnya memang tak terlalu banyak. Tetapi cahayanya masih bersinar sama seperti malam itu. Berbeda dengan malam itu, malam ini aku merasakan bintang yang ada di dalam diriku mulai meredup. Cahayanya mulai melemah. Berlahan-lahan kegelapan kembali merasuk kedalam hatiku. Aku tak tahu bagaimana caranya agar bintang itu bisa kembali bersinar. Aku tak tahu. Semenjak aku dan kau menjadi sepasang kekasih segala sesuatunya terjadi di luar dari apa yang bisa aku bayangkan. Aku bingung mengapa akhirnya menjadi seperti ini, di saat seharusnya semua berjalan begitu indah dan menyenangkan seperti kisah di dalam film-film yang aku tonton, buku-buku yang aku baca, dan cerita-cerita cinta yang aku dengar. </p>
<p>Besok adalah hari Valentine. Malam ini aku pergi ke mall untuk membeli kue coklat yang akan kuberikan kepada Raine sebagai hadiah baginya di hari Valentine. Mall yang aku kunjungi terlihat ramai oleh para pengunjung yang sebagian besar adalah remaja seusiaku. Di setiap sudut mall telah dihiasi dengan dekorasi-dekorasi Valentine dan tulisan selamat hari kasih sayang. Aku berjalan sendiri melewati keramaian pengunjung itu, melihat ke kanan ke kiri mencari toko yang menjual kue coklat. Kue coklat yang akan aku berikan kepada Raine. Aku berharap semoga ia merasa senang dengan kue coklat yang aku berikan. Semoga bsok aku siap untuk mengutarakan sekali lagi apa yang menjadi perasaanku kepadanya. Jangan sampai malam bersama gelapnya berhasil menguasai hatiku lagi.</p>
<p> Akhirnya aku berhadil menemukan toko kue yang kucari-cari. Rupanya banyak orang yang mau membeli kue di toko kue itu. Terlihat antrian pembeli sampai ke luar toko. Aku melihat jam di tanganku pukul setengah sembilan malam. Sepertinya aku masih sempat untuk membeli kue sebelum toko tutup jam sembilan. Aku melangkah masuk ke dalam baris antrian. Aku mencoba menghitung jumlah pembeli yang ada di depanku, semuanya ada sekitar sepuluh orang. Semoga aku tak berlama-lama di dalam antrian ini. </p>
<p> Rencana memberikan kue coklat sebagai kado Valentine buat Raine aku dapatkan setelah aku membaca suatu artikel yang bercerita kalau seorang pria memberikan kue kepada pasangannya sebagai hadiah maka itu bertanda pria itu sebenarnya sudah tidak suka lagi kepada pasangannya. Semoga Raine bisa memahami makna di balik pemberianku ini. Aku tak tahu dia suka makan kue atau tidak, bahkan sejujurnya selama tujuh bulan berpacaran aku sama sekali tidak tahu apa yang disukai oleh dirinya. </p>
<p>Tujuh bulan masa pacaran aku lalui dengan perasaan yang tersiksa. Tujuh bulan yang seharusnya tidak lama menjadi terasa lama sekali. Sebulan pertama aku dan Raine berpacaran , aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku mencari-cari pasangan yang tepat akhirnya aku menemukan seorang wanita yang aku yakini akan menjadi bagian dari hatiku. Meskipun Raine bukan seperti wanita yang secara fisik kuimpi-impikan dan hanya seorang wanita berparas biasa, namun ada bagian dari Raine yang sangat kusukai, yang membuat aku tidak bisa berlama-lama membisu, yaitu rasa belas kasih yang dia miliki kepada sesama. </p>
<p> Aku melihat jam tanganku kembali, sekarang sudah menunjukkan jam delapan lewat tiga puluh lima menit. Jarum detik berjalan memutar melewati angka-demi angka. Aku terdiam memperhatikan setiap pergerakkannya. Suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Waktu menjadi berjalan terasa lambat. Tiba-tiba dari arah belakangku tedengar suara yang memanggil namaku. Aku lalu menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya aku melihat Raine sedang tersenyum dengan matanya yang bersinar menatap kepadaku. </p>
<p>&#8220;Hai&#8230;Billy, mau beli kue?&#8221; </p>
<p></p>
<p>Aku masih tak percaya kalau Raine ada bersama diriku saat ini. Aku membalas senyumannya. </p>
<p></p>
<p>&#8220;Raine sedang apa kamu disini? Kau datang sendiri atau bersama orang lain?&quot;
</p>
<p></p>
<p>&#8220;Aku sendiri&#8230;kebetulan aku juga mau membeli kue. Sebenarnya aku sudah mau<br />
pulang ketika melihat antrian yang begitu panjang tetapi sewaktu aku melihat<br />
kau juga ikut mengantri aku ingin imengantri juga.&quot;</p>
<p></p>
<p>Wajah Raine terlihat begitu senang. Aku tak tahu apakah aku juga harus merasa senang dengan hadirnya Raine bersamaku saat ini.<br />
Aku memandang wajah Raine, aku tak berani menatap matanya berlama-lama apalagi kalau mengingat rencanaku buat Raine. </p>
<p></p>
<p>&#8220;Baguslah Raine, aku juga tadi sudah bosan antri sendirian, untung saja Raine datang jadi ada teman ngobrol.&#8221; kataku kepada Raine. </p>
<p></p>
<p> Beberapa pembeli baru saja menyelesaikan pembelian mereka. Aku melangkah maju<br />
ke depan. Kini yang tersisa tinggal tiga orang lagi. Aku terus menatap ke<br />
depan, berpura-pura kalau Raine tidak ada di belakangku walaupun aku tahu<br />
Raine masih ada di belakangku namun aku tak tahu harus membicarakan apa dengannya.<br />
Mengapa di saat seperti ini aku selalu merasa tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
</p>
<p>Aku melihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat 45 menit.<br />
15 menit lagi toko akan segera tutup. Aku perhatikan jarum detik yang terus<br />
bergerak, suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Sebenarnya aku memiliki<br />
impian akan suatu hari Valentine yang indah. Satu hari dimana aku bisa melewatinya<br />
bersama dengan orang yang aku kasihi. Berbagi kasih pada hari dimana semua<br />
orang di seluruh dunia bersama-sama merayakannya. Sepertinya hari Valentine<br />
tahun ini impianku tak akan terwujud. Karena besok aku dan Raine sudah berjanji<br />
untuk berbicara mengenai hubungan kami. </p>
<p></p>
<p>Raine kembali bertanya kepadaku</p>
<p></p>
<p>&#8220;Bily kamu mau beli kue apa?&#8221;</p>
<p></p>
<p>Aku menjawab Raine</p>
<p></p>
<p>&#8220;Aku mau beli kue coklat?&#8221; Jawabku singkat.&quot;</p>
<p></p>
<p>Raine kembali bertanya</p>
<p></p>
<p>&#8220;Kau suka kue coklat Billy?&#8221;</p>
<p></p>
<p>Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.</p>
<p></p>
<p>&#8220;Sama yah&#8230;aku juga mau membeli kue coklat dan aku juga suka kue coklat.&quot;</p>
<p></p>
<p>Aku memberi senyum kepada Raine sebagai tanda kalau aku senang ia memiliki selera yang sama dengan aku.</p>
<p></p>
<p>&#8220;Kau masih ingat film yang pernah kita tonton dulu, judulnya Chocolate? Mulai dari sejak menonton film itulah aku semakin menyukai<br />
coklat.&#8221;</p>
<p></p>
<p>&#8220;Yah aku ingat film itu, ceritanya mengenai seorang Ibu bersama anaknya yang pindah ke suatu daerah dan di sana<br />
mereka memulai usaha baru yaitu membuat kue coklat.&#8221;</p>
<p></p>
<p> Raine mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian dia berkata</p>
<p></p>
<p>&#8220;Benar Bily, cerita film itu sangat bermakna bagi diriku.&quot;</p>
<p></p>
<p>&#8220;Oh</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=400&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/01/30/saat-coklat-berbicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Pemuda 2</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-2/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2003 16:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika pemuda itu dicukupkan kebutuhannya, ia tahu itu karena belas kasihan Tuhan. Ketika pemuda<br />
itu sedang kesulitan, ia tahu ia harus bersandar pada belas kasihan Tuhan. Itulah mengapa<br />
ia lebih suka berdiam diri, hati-hati menjalani hidup, dan sering ngotot bila berhadapan dengan<br />
prinsip. </p>
<p><span id="more-231"></span></p>
<p>Perempuan menyebutnya egois, keras kepala, mau menang sendiri, dingin, apapun yang mereka suka<br />
ucapkan. Mereka mencintainya tetapi mereka tidak pernah bisa memilikinya kecuali gadis sederhana<br />
yang sebentar lagi akan meninggalkannya demi suatu cita yang sudah lama dinanti-nantikannya. </p>
<p>Mencapai kesempurnaan membutuhkan orang yang tidak sempurna. Mencapai kesempurnaan<br />
harus melewati masa sukar dan ujian yang menghantam sisi gelap seorang manusia,<br />
cinta pada diri sendiri. Mungkin Tuhan juga ikut diam ketika melihat pemuda<br />
itu diam. Mungkin Tuhan juga mengerti, ketika pemuda itu datang kepada orang<br />
yang dicintainya tetapi yang dicintainya itu harus pergi meninggalkannya.<br />
&quot;Untuk beberapa lama waktunya, Aku tidak bersama-sama dengan kamu, tetapi<br />
ketahuilah Aku akan menyertai kamu hingga pada akhir zaman.&quot;</p>
<p>Pemuda itu ingat akan perkataan Tuhannya. Akankah cintanya bisa berjanji<br />
dan berkata akan abadi hingga pada akhir zaman? Sekali lagi, waktu tersenyum<br />
kecut tidak bisa menjawab karena ia sendiri merasa takut. </p>
<p>Pemuda sederhana yang memusuhi dunia itu, juga resah akan masa depannya. Ia harus belajar<br />
hidup dengan sokongan dana ratusan ribu rupiah setiap bulannya. Ia bekerja keras setiap hari,<br />
sering dengan tangis bercampur tawa yang dipendam sendiri, berharap dan terus berharap. Keraguan<br />
selalu mengintip dan siap menerkam di kala pemuda itu lengah. Sekali dua kali, pemuda<br />
itu jatuh terjerembab, nyaris mati dikeroyok ratusan keraguan yang setelah puas memukulinya,<br />
pergi menghilang tanpa bekas. </p>
<p>Ia ingin membantu saudaranya yang sudah puluhan tahun sakit kakinya, namun<br />
belum bisa karena biaya operasi yang sangat besar. Ia ingin membantu membiayai<br />
sekolah adik-adiknya, saudara-saudaranya yang dihimpit kemiskinan sehingga<br />
untuk makanpun sulit, tetapi belum bisa. Ia ingin menolong sahabat-sahabatnya<br />
yang kecewa kepada Allah, yang merusak dirinya sendiri, yang kecewa terhadap<br />
dirinya sendiri, yang sering membuat hati pemuda itu berdukacita namun ia<br />
tidak bisa memaksakan kehendak karena sahabat-sahabatnya itu harus memutuskan<br />
sendiri jalan hidupnya. </p>
<p>Pemuda itu ingin menjadi orang yang baik namun sering disebut terlalu naif, munafik, dan tidak<br />
realistis. Ia sebenarnya sama saja seperti kebanyakan orang, yang bisa gelisah dan takut meskipun pagi<br />
tersenyum kepadanya. Pemuda itu bisa duduk termenung di atas sofa berjam-jam tanpa melakukan apa-apa<br />
kecuali menatap televisi yang juga sedih. Pemuda itu suatu ketika bisa menjadi penyair, bisa menjadi<br />
pengkhotbah, bisa menjadi penipu, bisa menjadi kepalsuan, di lain waktu ia bisa menjadi seorang munafik. </p>
<p>Namun, ada satu hal yang selalu membuatnya jatuh tersungkur dengan hati hancur<br />
yaitu cinta Tuhannya yang tidak pernah meninggalkannya. Kasih karunia dan<br />
anugerah-Nya selalu baru tiap pagi, selalu menjaga-nya, selalu mengampuninya,<br />
selalu mengasihinya. Ia tidak mempunyai uang yang banyak, tidak mempunyai<br />
mobil, tidak mempunyai rumah, atau apapun juga yang bisa membuatnya sombong<br />
lalu terbuai membeli cinta semu yang ditawarkan dunia. Yang dipunyainya hanyalah<br />
cinta Tuhannya, yang bisa mengertinya, bisa menerimanya, bisa mencintainya,<br />
dan tidak pernah meninggalkannya. </p>
<p></p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=231&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Pemuda 1</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-1/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2003 15:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada seorangpun yang pernah bisa mengerti pemuda sederhana itu kecuali seorang gadis<br />
sederhana yang sudah beberapa tahun dikenalnya. Cinta datang dengan tiba-tiba yang kemudian<br />
membuat hati keduanya bertukar posisi, hati pemuda itu menjadi hati gadis itu dan hati gadis<br />
itu menjadi hati pemuda itu. </p>
<p><span id="more-230"></span></p>
<p>Pemuda itu tergolong pemuda sempurna dalam arti jalan hidupnya lurus-lurus saja. Di mata<br />
beberapa temannya ia termasuk pemuda tanpa cacat cela, kecuali sikapnya yang terkadang<br />
menghakimi, ucapannya yang ketus dan terkadang jayus.  </p>
<p>Namun di balik semuanya itu, dari berbagai kelemahan, kegagalan,<br />
dan didikan Tuhan yang didapatnya, pemuda ini semakin yakin, bahwa the most perfect man has<br />
the most perfect weakness. </p>
<p>Ia tidak memiliki apapun untuk dibanggakan kecuali Tuhannya. Ia tidak memiliki<br />
prestasi apapun kecuali itu semua karena kebaikan Tuhan. Pemuda ini tahu benar<br />
apa yang menjadi duri dalam dagingnya, dan itu membuat ia semakin menyadari<br />
dan mengerti mengapa Paulus dalam pergumulannya, justru mendapat jawaban Tuhan,<br />
&#8220;Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku<br />
menjadi sempurna.&#8221; Oleh sebab itu, pemuda itu lebih suka bermegah atas kelemahannya<br />
supaya kuasa Kristus turun menaunginya. Sebab jika ia lemah, maka ia kuat.</p>
<p>Pemuda ini sudah beberapa kali menghadapi beberapa pencobaan dan pergumulan yang boleh dikatakan<br />
seperti telur di ujung tanduk. Ia pernah mengalami kesulitan membayar uang sekolah, tidak bisa kursus karena<br />
tidak punya biaya, terpaksa berjualan majalah dan menjaga warung, terpaksa jalan kaki karena<br />
tidak punya uang. Tapi anehnya, ia bisa membelikan sahabat-sahabatnya buku, mentraktir makan,<br />
bahkan ia bisa melupakan kebutuhan dirinya sendiri agar orang lain bisa senang. </p>
<p>Namun sayang, tidak ada seorangpun yang mampu mengerti pemuda itu. Ratusan kali ia sudah<br />
berkorban demi cinta yang sudah didapatnya dari Tuhan. Tapi ia belum bisa mengerti, ketika<br />
ia diminta berkorban demi cinta seorang manusia yang sarat dengan kelemahan. Ketika ia memutuskan<br />
untuk mencintai, cinta itu selalu menghindarinya. Sepertinya tidak ada yang menginginkannya. </p>
<p>Pemuda itu adalah pemuda yang baik, yang selalu berusaha menjadi orang yang baik. Tetapi sebelum<br />
mendapat yang baik itu, pemuda itu selalu mendapat yang tidak baik terlebih dahulu. Pemuda itu<br />
selalu dipaksa untuk mengosongkan dirinya. Lalu apa yang ia dapatkan? Ia hanya mendapatkan cinta<br />
agape, cinta yang tidak mengenal batas, jarak, waktu dan ruang. Cinta tanpa syarat yang lebih sering<br />
menyiksa jiwa pemuda itu siang dan malam. Tidak pernah dicintai tetapi selalu dituntut untuk<br />
mencintai, melampaui ekspresi cinta manusia biasa yang hanya mampu mengerti cinta eros. </p>
<p>Mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Mungkin pula Tuhan sangat sayang kepadanya. Tidak ada yang<br />
tahu kecuali waktu yang sedang menjauh darinya berusaha menyembunyikan cerita masa depan. </p>
<p>Di mata dunia, ia tahu kalau ia termasuk pemuda yang malang. Namun, ia tidak bisa mengeluh, marah,<br />
atau menggerutu karena ia tidak mempunyai apa-apa untuk disombongkan. Ia hanya pemuda biasa yang sarat<br />
dengan kelemahan, yang tiap-tiap hari mengharapkan belas kasihan Tuhan. </p>
<p></p>
<p>Bersambung &#8230; </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=230&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2003/09/18/kisah-seorang-pemuda-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Thinking About Forever</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2003/04/24/thinking-about-forever/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2003/04/24/thinking-about-forever/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2003 17:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hariku sama seperti hari-hari orang lain. Bangun tidur, makan, sekolah, basket,</p>
<p>nonton film seri detektif kesukaanku, nonton kartun, main sega, tidur, gereja, dst-nya.</p>
<p>Disukai cewek tapi tak pernah ambil peduli. Menyukai cewek tapi tak pernah menganggapnya</p>
<p>serius. Teman-temanku banyak dan kebanyakan dari mereka tinggal dengan rumah yang sederhana,</p>
<p>kecil bahkan ada yang tinggal di sebuah ruangan dimana ruang tamu dan ruang tidur dijadikan</p>
<p>satu.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p>Semuanya itu sudah biasa bagiku karena aku bersekolah di sebuah sekolah negeri yang</p>
<p>menampung murid-murid tak mampu. Aku bisa ada di sekolah itu karena aku mengikuti jejak</p>
<p>teman-temanku yang juga memilih bersekolah di situ. Setiap hari aku bersepeda ke sekolah,</p>
<p>melewati sawah dan jalan yang dipenuhi dengan pepohonan. Tak jarang aku harus hujan-hujanan</p>
<p>dengan sepedaku ketika pulang sekolah. </p>
<p>Sebenarnya aku punya masalah dengan kepercayaan diri. Aku selalu berprasangka yang buruk</p>
<p>bila ada orang berbisik-bisik di dekatku. Aku sering menghukum diriku sendiri, memaki diriku</p>
<p>bila aku gagal mencapai standar yang aku buat sendiri. Aku terlahir dalam keluarga yang</p>
<p>keras. Miskin pujian, kaya tuntutan. Tidak mengherankan bila aku selalu berorientasi pada</p>
<p>prestasi. Pernah suatu kali, nilai raporku banyak yang merah karena aku malas belajar, aku</p>
<p>dihukum berdiri dengan satu kaki diangkat dan kedua tangan menjewer telinga. </p>
<p>Aku suka sekali berenang. Kegemaranku berenang dimulai semenjak aku SMP kelas 2 dan</p>
<p>berlanjut hingga SMA kelas 1. Kelas 2 dan 3 SMA, karena tergoda dengan tayangan NBA yang</p>
<p>saat itu sedang heboh-hebohnya, aku jadi menggemari basket. Setiap kali bel istirahat, aku</p>
<p>dan teman-teman segera berhamburan lari keluar menuju lapangan basket. Walaupun bel tanda</p>
<p>istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, aku tetap saja penasaran dengan bola itu.</p>
<p>Ada seorang temanku yang juga suka bermain basket. Orangnya gemuk dan tidak begitu tinggi,</p>
<p>tapi berhubung percaya dirinya tinggi, dia bisa bermain basket bahkan bergabung dalam tim</p>
<p>basket sekolah. Di rumah pun, setiap sore aku selalu menumpang bermain basket di lapangan</p>
<p>sekolah dekat rumahku. Sampai-sampai, pohon kelapa yang ada di pekarangan rumahku pun</p>
<p>kujadikan ring basket. Tidah usah ditanya, ring basket yang waktu itu terbilang mahal, jadi</p>
<p>penyok dan miring karena cuma dipaku ala kadarnya.</p>
<p>Sempat suatu kali ketika aku men-drible bola di atas tanah berumput di perkarangan<br />
rumahku, aku melihat kucingku &#8216;huting&#8217; mengais-ngais tanah menimbun kotorannya<br />
sendiri. Dari situlah aku tahu kalau ternyata kucing &#8216;bertanggung jawab&#8217; sama<br />
kotorannya sendiri. </p>
<p>Kegemaranku pada basket membuatku gemar bermain sega permainan basket dengan<br />
kedua orang adik dan teman-temanku. Temanku-temanku hanya bisa melongo, karena<br />
setiap kali aku menyerang ke kandang lawan, aku bukan mengejar dua poin dengan<br />
lay up atau shoot, aku selalu melakukan three point, dan 99% tembakanku selalu<br />
masuk. Tidaklah mengherankan bila kami baru bermain 3 menit, selisih angka<br />
bisa sampai dua puluh poin.</p>
<p>Waktu berlalu tanpa aku rasakan. Aku tetap menjadi manusia cuek di jaman itu.<br />
Sewaktu aku masih SMP, seorang cewek pernah mengirimkan aku surat dan dia<br />
menjelaskan perasaannya kepadaku. Aku sudah lama tak bertemu dengan cewek<br />
itu karena dia adalah temanku sewaktu SD dulu dan kami sekarang berbeda sekolah.<br />
Karena cueknya aku waktu itu dan dinginnya tanggapanku ketika ia menelepon<br />
karena suratnya itu tidak kubalas, ia berani mengancamku dengan berkata, &#8220;Kalo<br />
loe nggak bales surat gue, loe berarti cowok goblok!&#8221; Wuih, aku cuma berlagak<br />
bego saat itu dan setelah telepon itupun, aku tidak pernah membalas suratnya.<br />
Padahal kalo aku ingat-ingat, orangnya manis dan agak centil. Ia berambut<br />
sebahu dan suka memakai rok di atas lutut. Kesimpulannya sih, orangnya boleh<br />
juga. Tapi berhubung aku tidak ambil peduli, aku anggap enteng hal itu.</p>
<p>Kejadian ini tidak hanya satu kali. Ada yang mengirimi kartu selamat ulang tahun, menelepon</p>
<p>mengajakku nonton, meneleponku hanya untuk jahil sampai berjam-jam, dsb-nya dan semuanya ini sudah dimulai semenjak aku masih SD. Sampai suatu kali, seorang cewek meneleponku, mengatakan bahwa ia suka padaku, tetapi dengan bodohnya aku justru menjawab, &#8220;Nggak, nggak, gua nggak suka sama loe!.&#8221; Telepon sempat hening selama 1 menit dan akhirnya terputus. Setelah kejadian itu, ia tidak pernah meneleponku lagi, padahal setiap bel istirahat sekolah dia selalu ke telepon umum untuk meneleponku yang kebetulan waktu itu aku masuk siang.</p>
<p>Aku terbiasa mandiri, mengurusi segala sesuatunya sendiri. Aku tidak boleh<br />
cengeng dan mudah menyerah. Aku dididik untuk menjadi seorang cowok yang kuat,<br />
tidak cepat panik, dan tenang menghadapi segala sesuatu. Dan itu juga merambat<br />
ke masalah hubunganku dengan cewek. Aku sulit untuk jatuh cinta, tetapi sekali-kalinya<br />
aku jatuh cinta, bisa hilang akal sehatku. Perasaan suka juga sering terjadi,<br />
tetapi untuk urusan &quot;merasa jatuh cinta&quot;, baru satu kali dalam hidupku,<br />
itupun sewaktu aku masih SMA. Setelah masa SMA, aku hanya bergaul seperti<br />
biasa, terkadang ada perasaan suka dengan seorang cewek, begitu seterusnya.<br />
Aku merasa, aku belum menemukan seorang cewek yang aku cari. Hingga kini,<br />
belum ada satu cewekpun yang bisa membuatku bertindak dan menyatakan kepadanya<br />
kalau dialah cewek pertama dan terakhir yang aku cintai.</p>
<p>Karena sikapku yang cuek, berorientasi pada prestasi, terbiasa mandiri, hingga<br />
kini aku &#8216;memutuskan dengan kesadaranku sendiri&#8217; untuk tidak berpacaran dan<br />
tidak bermain-main dengan perkara ini. Karena ketetapanku ini, bila orang<br />
lain atau temanku bertanya apakah aku pernah pacaran atau belum, aku selalu<br />
memilih diam kemudian menjawab, &quot;Gua belum pernah pacaran.&quot; Aku<br />
tidak merasa malu bahkan aku bangga dengan keputusanku itu karena aku memang<br />
belum menemukan seorang pasangan yang aku tahu dia untukku.</p>
<p>Sekedar curhat, jalan, makan dan nonton bareng sudah jadi komoditi yang biasa<br />
bagiku. Bagiku, undangan makan malam tidak selalu berarti kencan. Nonton dan<br />
jalan bareng tidak selalu berarti pendekatan. Mungkin bagi orang lain aku<br />
sudah seperti pacaran atau pendekatan, tetapi bagiku itu adalah hal biasa<br />
dalam berteman.</p>
<p>Sampai suatu ketika panah dewi cinta menembus hatiku. Dua tahun dalam kelas<br />
yang sama sewaktu SMA, membuatku jatuh hati pada seorang cewek. Senyumannya<br />
manis dan bibirnya yang tipis merah jambu memikat hatiku. Tidak hanya itu,<br />
matanya &#8230; yah &#8230; matanya membuat jantungku berdebar-debar. Dengan postur<br />
tinggi semampai, ia bisa mengimbangi tinggi badanku. Semuanya bermula ketika<br />
ia menghampiri tempat dudukku dan mengajakku ngobrol. Gaya bicaranya asyik<br />
dan senyumannya menggoda. Belakangan aku tahu, kalau ia datang ke tempat dudukku<br />
karena ia ditantang oleh teman-teman-nya apakah ia punya cukup keberanian<br />
untuk mendekatiku dan ternyata dia melakukannya.</p>
<p>Prosesnya tidak cepat dan perasaanku mulai muncul setelah aku mulai menyadari<br />
kalau dia suka mencuri-curi pandang ke arahku. Sambil berlagak bego, aku pura-pura<br />
tidak tahu kelakuannya itu. Padahal ketika dia lengah, giliran aku yang curi-curi<br />
pandang. Saking mencurigakannya gerak-gerikku, teman-teman sekelasku mulai<br />
ikutan nimbrung bikin gosip baru. Dan lucunya, aku malah digosipin dengan<br />
orang yang salah. Arah pandangku miring 45 derajat, karena aku duduk di belakang<br />
sejajar dengan pintu keluar sementara dia di depan dekat meja guru. Mau nggak<br />
mau, ketika aku melihat ke arahnya, aku juga terkesan melihat ke arah seorang<br />
cewek yang juga duduk di belakangnya. Dengan cewek yang salah inilah aku justru<br />
dijodoh-dijodohkan. Aku semakin sadar tentang kesalah-pahaman ini, ketika<br />
cewek yang salah itu mulai sering telepon ke rumahku. Pokoknya, jadi lucu<br />
dan konyol banget.</p>
<p></p>
<p>Bersambung &#8230;</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=64&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2003/04/24/thinking-about-forever/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kala Cinta Berlari</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2003/04/03/kala-cinta-berlari/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2003/04/03/kala-cinta-berlari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2003 12:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TEMAN-teman mengatakan aku ini cewek tomboi, kalau dilihat dari potongan rambut, dandanan, dan tingkah lakuku, itu memang benar, tak dapat aku sangkali, aku ini memang cewek tomboi. Aku memiliki rambut pendek, aku tak suka memakai perhiasan dan tak pernah mengerti mengapa barang norak seperti itu ada saja yang mau memakainya, dan aku tak suka memakai rok atau baju yang berenda-renda, baju favoritku adalah kaus, dengan pasangan setianya jeans. Teman-temanku kebanyakan cowok, bukannya aku tidak memiliki teman-teman cewek, tetapi bagiku bermain bersama cowok lebih menarik dan menantang dibandingkan dengan cewek, yang menurut penglihatanku permainannya paling-paling cuma jalan-jalan ke mall cuci mata atau gosipin orang lain. Awalnya aku tak memiliki masalah dengan status cewek tomboi ini, aku sering tak peduli orang mau bilang apa mengenai diriku. Bagiku, aku adalah aku, mau itu tomboi atau tidak tomboi, aku tak mau ambil pusing, toh yang menjalani hidup inikan aku sendiri. Tetapi kegigihanku untuk mempertahankan prinsipku itu akhirnya gugur bagaikan daun yang berjatuhan ketika angin datang bertiup. Angin yang bisa membuat gugur pendirian kerasku itu adalah cowok yang bernama Alvin. </p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Dia anak baru di sekolahku, katanya dia itu dari daerah, dan pindah ke Jakarta karena orang tuanya pindah tugas kerja ke Jakarta. Ia termasuk orang yang mudah bergaul dan enak untuk diajak ngobrol, maka wajar saja kalau belum sampai satu bulan Alvin sudah memiliki banyak teman di sekolah. Salah satu temannya adalah aku dan teman-teman cowokku. Setiap hari Sabtu aku biasanya ikut eskul Basket di sekolah, dan ternyata Alvin juga memilih untuk mengikuti eskul tersebut. Alvin sangat jago bermain basket, maka ia segera dilirik oleh teman-temanku untuk masuk dalam tim basket sekolah. </p>
<p>Awalnya aku bertemu dengan Alvin cuma saat ada latihan basket, tetapi setalah<br />
beberapa lama, aku dan Alvin menjadi sangat dekat, sedekat aku dengan teman-teman<br />
lamaku. Diri Alvin bukan sosok asing lagi menurut ku, padanya aku sering bercerita<br />
mengenai masalahku atau sekali-kali kalau aku mau pergi ke suatu tempat, Alvinlah<br />
yang menjadi pilihan pertamaku untuk diajak pergi. Bagiku Alvin lebih dari<br />
sekedar teman ngobrol atau teman jalan saja. Dia itu unik dimataku. Entahlah,<br />
kalau di lihat dari wajah dan penampilannya, ia biasa-biasa saja, namun aku<br />
selalu merasa aman dan bebas ketika berada di dekatnya. </p>
<p>Selama beberapa bulan aku dan Alvin bertemu seperti biasanya, dan aku belum<br />
menyadari atau tepatnya aku mencoba untuk menyangkali kalau aku sebenarnya<br />
jatuh cinta kepadanya. Hingga suatu saat aku tak bisa mengelak lagi dari perasaanku<br />
ini, kalau aku sebenarnya telah jatuh cinta kepada cowok yang bernama Alvin.<br />
Aku menjadi bingung. Sebelum-sebelumnya selama aku bergaul dengan teman-temanku<br />
yang cowok, aku tak pernah merasakan perasaan seperti saat ini, aku selalu<br />
bersikap biasa saja terhadap mereka dan tak pernah timbul perasaan suka. Tetapi<br />
kini mengapa dengan Alvin aku memiliki perasaan yang berbeda. Aku selalu ingin<br />
di dekatnya, ingin selalu mendengar suaranya, ingin selalu tahu bagaimana<br />
keadaanya atau apa yang sedang dikerjakannya. Perasaanku ini terus kupendam<br />
terpenjara dalam hatiku. Hingga akhirnya ruang hatiku tak bisa lagi menahan<br />
perasaanku terhadap Alvin yang setiap hari terus bertambah besar. Kini perasaan<br />
itu berlari-larian di seluruh tubuhku. Kadang-kadang ia mampir di kepalaku,<br />
membuat aku menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir<br />
di jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat. Aku ingin sekali Alvin mengetahui<br />
perasaanku kepadanya, tetapi masa aku yang harus memulainya. </p>
<table width="200" border="0" align="right" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td>
<div class="boxDoan">Kadang-kadang ia mampir di kepalaku, membuat aku<br />
menjadi susah tidur ataupun belajar. Terkadang lagi dia mampir di jantungku,<br />
membuatnya berdetak lebih cepat.&nbsp;</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>Perasaan aku terhadap Alvin kini semakin menjadi-jadi. Ia kini tak lagi hanya<br />
berlari-larian di dalam tubuhku saja, perasaan itu telah keluar dari dalam<br />
tubuhku. Dimana-mana aku seakan-akan melihat Alvin, seakan-akan mendengar<br />
suaranya. Aku sering salah memanggil nama orang dengan nama Alvin. Aku juga<br />
sering berbicara sendiri membayangkan Alvin ada bersamaku Melihat tingkah<br />
laku yang aneh, orang tuaku mulai curiga, apa yang sebenarnya sedang terjadi<br />
dengan anaknya. Mereka mengira aku telah menjadi gila. Baru aku mengerti ternyata<br />
manusia bisa menjadi terlihat gila oleh karena cinta. Perasaan ini tak bisa<br />
lebih lama lagi kupendam, aku harus mengutarakannya kepada Alvin. Aku memilih<br />
mengutarakannya dengan cara perlahan-lahan saja. </p>
<p>Aku semakin sering menelepon ke rumahnya, tanya-tanya apa besok ada tugas atau ulangan, atau sekedar bicara apapun juga. Aku ingin membuat dia berpikir kalau aku menaruh perhatian kepadanya. Setiap hari aku pasti menelepon Alvin, hingga suatu saat aku kaget mendengar dari temanku bahwa Alvin menyukai tipe cewek yang lembut dan feminim. Mendengar itu aku menjadi terdiam seribu bahasa. Aku melihat diriku di hadapan cermin. Potongan rambutku, baju dan celana yangku pakai, kulitku yang tak dihiasi dengan perhiasaan, dan wajahku yang tanpa kosmetik membuat aku berpikir kalau aku bukanlah tipe cewek yang diinginkan oleh Alvin. Aku masih tak percaya akan omongan teman-temanku mengenai Alvin, maka aku memutuskan untuk menanyakannya kepada Alvin secara langsung, apakah benar ia menyukai tipe cewek feminim. Dari mulutnya sendiri, Alvin mengatakan hal yang sama seperti yang kudengar. Bahkan semua mantan Alvin adalah cewek-cewek dengan tipikal feminim. </p>
<p>Berulang-ulang kali aku melihat diriku di depan kaca, bertanya-tanya dalam hatiku apakah aku feminim atau tidak. Kini ada sedikit penyesalan dalam diriku mengapa aku memiliki sikap seperti anak laki-laki, mengapa aku harus menjadi cewek yang tomboi. Di pikiranku mulai muncul pikiran-pikiran yang mengatakan kalau Alvin tak akan pernah suka kepadaku karena aku cewek tomboi, Alvin pasti sudah mengetahui hal itu. Namun aku berusaha melawan pikiran-pikiran itu, aku tak mau menyerah, dihadapan cermin aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku bisa berubah menjadi cewek yang feminim. Aku mulai mengubah cara dandanan dan gaya bicaraku. Aku mulai memakai segala hal yang mencirikan cewek feminim. Rambutku mulai dihiasi dengan pita, leherku kini telah beruntaikan kalung, di tanganku bergelantungan gelang-gelang, jeans kuganti dengan rok, nada bicaraku mulai melembut, dan gaya berjalanku sudah seperti putri dari Solo, melenggak-lenggok. </p>
<p>Teman-temanku kaget melihat perubahan pada diriku ini, Alvin juga termasuk salah satunya. Alvin pernah menanyakan mengenai perubahan pada diriku itu, tetapi aku hanya menjawabnya dengan senyuman saja, dan sejak saat itu ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Aku dengan penampilan baruku ini ternyata tidak membawa perubahan besar dalam hubunganku dengan Alvin  dan  dengan teman-temanku. Kami masih sering berkumpul bersama, dan tetap melakukan latihan basket setiap hari Sabtu. Walaupun demikian aku menjadi sedikit kurang bebas untuk bersikap kepada mereka. Aku menjadi lebih banyak diam dan malu-malu, menjaga imageku agar jangan sampai terlihat seperti cewek tomboi di hadapan Alvin. </p>
<p>Baru seminggu aku memainkan peranku sebagai cewek feminis, aku mulai merasa capek untuk melakoninya. Kalau di hadapan Alvin aku berlagak feminim tetapi kalau berada di rumah aku kembali lagi menjadi cewek tomboi.  Tubuhku seakan-akan terbelah mejadi dua orang yang berbeda. Aku bertanya pada diriku sendiri berapa lama lagi aku harus bertahan dengan keadaan seperti ini, bila hal ini harus terjadi untuk selamanya, apakah aku benar-benar menginginkannya?</p>
<p>Keesokan harinya aku memutuskan untuk kembali lagi ke sifatku yang sebenarnya, entah Alvin menyukainya atau tidak, aku tak bisa hanya mengira-ngiranya lagi. Aku harus menanyakan langsung kepadanya, bagaimana pendapatnya mengenai diriku. Keesokan harinya, aku berkata kepada Alvin untuk bertemu di perpustakaan setelah sekolah usai. Di dalam perpustakaan aku dan Alvin duduk saling berhadapan. Alvin terlihat bingung melihat penampilan diriku yang berubah lagi, ia bertanya kepadaku mengapa aku mengubah penampilanku lagi. Pertanyaan Alvin tak kujuwab, aku diam sambil menatap dirinya, setelah entah beberapa lama, aku bertanya kepada dirinya mengenai bagaimana pendapatnya mengeni diriku. Alvin kini berbalik yang berdiam, ia berbalik bertanya bagaimana pendapat diriku mengenai dirinya. Mendengar pertanyaannya itu aku seakan-akan merasakan bahwa ini adalah moment yang selama ini kutunggu-tunggu, saat inilah aku harus mengutarakan bahwa aku sungguh menyayangi Alvin. Kata-kata itu keluar mengalir begitu saja, tidak ada kata yang terbata-bata. Aku menjelaskan bahwa perubahan pada diriku selama ini dikarenakan oleh dirinya. Setelah mendengar semua ucapanku itu, Alvin tersenyum pada diriku. Senyumannya semakin lama bertambah lebar, hingga akhirnya berubah menjadi tawa. </p>
<p>Aku terdiam. Lalu Alvin memegang kedua tanganku, dengan suara berbisik ia<br />
berkata &#8220;Aku juga cinta padamu&#8221;. Aku sangat senang saat mengetahui kalau Alvin<br />
ternyata juga menyukai diriku. Kami keluar dari ruangan itu dengan tetap masih<br />
saling berpegangan tangan. Aku tahu sekarang mengapa cinta selalu berlari,<br />
karena cinta harus dikejar, dan orang yang mengejar cinta pasti akan mendapatkannya.</p>
<p></p>
<p>Ditulis oleh: &#8216;Dewa&#8217; &#8211; Sahabat UF </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=52&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2003/04/03/kala-cinta-berlari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

