<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UnitedFool.com &#187; Realita Hidup</title>
	<atom:link href="http://www.unitedfool.com/topik/realita-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.unitedfool.com</link>
	<description>But God chose the foolish things of the world to shame the wise... (1 Cor 1:27-29)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Jun 2010 13:43:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wahyuni, Nasibmu&#8230;</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2005/01/14/wahyuni-nasibmu/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2005/01/14/wahyuni-nasibmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2005 02:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> TUBUH gadis cilik itu tampak tergolek pada sebuah tempat tidur di lorong poliklinik di Kecamatan Lamno, Aceh Jaya. Kelopak matanya terbuka sedikit, tetapi tatapan matanya tampak kosong. </p>
<p><span id="more-762"></span></p>
<p> Dari mulut gadis berusia 10 tahun itu tak henti-hentinya keluar busa berwarna putih kekuningan. Meski sudah diseka dengan tisu, buih itu muncul lagi. Wajahnya cantik, tubuhnya mungil. Tetapi, di tangan, kaki, dan lehernya tampak beberapa luka terbuka. Kulit tubuhnya mengeriput karena terbakar matahari. </p>
<p> Wahyuni namanya. Dia tak bereaksi saat dipanggil. Tetapi, sesekali tampak air mata menetes ke pipinya. Seorang ibu tampak menemaninya, sambil sesekali menyeka mulutnya yang terus mengeluarkan busa. &quot;Bukan, bukan, saya bukan ibunya. Bapak dan ibunya sudah meninggal dihantam ombak besar hari Minggu lalu,&quot; ujar ibu itu ketika ditanya. &quot;Satu-satunya keluarga yang dia punya hanya pamannya. Saya ndak tahu namanya, tetapi itu dia sedang duduk,&quot; ujarnya sambil menunjuk seorang laki-laki setengah baya. </p>
<p> Laki-laki yang ditunjuknya sedang menemui dokter relawan dari Partai Keadilan Sejahtera dan Global Rescue yang hari itu tiba dari Banda Aceh. Laki-laki itu, Ibrahim namanya, juga kehilangan istri dan anaknya yang ditelan ombak. Tetapi, dialah yang menemukan Wahyuni. &quot;Sekarang saya hanya punya mamak dan Wahyuni ini,&quot; ujarnya. </p>
<p> Ketika bencana datang, Ibrahim tergulung ombak dan tak sadarkan diri. Begitu sadar, dia sudah berada di tepi sawah, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Dia mencoba mencari anak dan istrinya, tetapi tidak satu pun berhasil dia temukan. </p>
<p> Sekitar lima kilometer menjelang rumah orangtuanya di Lamno, dia menemukan seorang gadis kecil tergeletak di tepi hutan. Ternyata anak itu Wahyuni, keponakannya. &quot;Saya gendong Wahyuni kemari dan saya serahkan ke dokter di poliklinik,&quot; ujar Ibrahim. </p>
<p> Kisah Wahyuni mungkin hanya satu dari ribuan cerita memilukan yang bisa didengar dari para korban gempa tektonik dan tsunami yang menimpa hampir seluruh pesisir Nanggroe Aceh Darussalam pada hari Minggu 26 Desember lalu. Namun, kepedihan makin terasa karena musibah itu tidak juga berhenti meski seminggu telah berlalu. </p>
<p> Di dekat Wahyuni, tergeletak M Yunus, petugas kebersihan dari Kecamatan Calang, Aceh Jaya. Dia ditemukan oleh nelayan di tengah laut hari Kamis siang, setelah selama lima hari terapung-apung di laut hanya dengan berpegangan pada sebuah tutup peti plastik tempat menyimpan ikan. Tanpa makanan dan minuman, Yunus terseret arus hingga 80 kilometer meninggalkan kampungnya. </p>
<p> Yunus akhirnya sadar dia justru terseret ke laut ketika air bah itu berbalik setelah menghantam bukit. Sebuah tutup peti plastik yang dipegangnya akhirnya dia peluk sambil terombang-ambing gelombang. &quot;Di hari kedua, saya menemukan menemukan dua botol aqua yang terapung di laut. Satu isi penuh, satu tinggal separuhnya. Saya minum keduanya sekaligus. Tetapi, sejak itu saya tak dapat apa-apa lagi,&quot; ujarnya. </p>
<p> Yunus tidak tahu berapa lama dia terombang-ambing di laut. Dia tidak punya lagi tenaga untuk mengayuhkan kakinya mendekati daratan. &quot;Tiba-tiba saya mendengar suara perahu motor. Saya lalu melambai- lambaikan tangan, sampai akhirnya ditolong mereka,&quot; ujarnya. Yunus baru tahu dia terapung-apung di laut selama lima hari saat dia diberi tahu bahwa dia ditemukan hari Kamis siang. </p>
<p> REPOTNYA, poliklinik tempat mereka dirawat tidak memiliki obat-obatan memadai untuk para pasiennya. Tidak ada oksigen untuk membantu Wahyuni yang tampak makin sulit bernapas. Tak ada peralatan untuk operasi bagi beberapa pasien yang harus diamputasi karena bagian tubuhnya sudah hancur dan membusuk. </p>
<p> Memindahkan mereka ke rumah sakit juga tidak mungkin. Sebab, jalur jalan ke mana pun dari dan menuju Lamno terputus. &quot;Kalau mau berjalan kaki, butuh waktu dua hari untuk sampai ke Banda Aceh. Sudah banyak yang melakukan itu, tetapi saya imbau agar warga tidak meninggalkan desa karena situasi di Banda Aceh pun tidak lebih baik dari desa ini,&quot; ujar Komandan Rayon Militer Lamno Ramli Saragih. </p>
<p> Apa yang terjadi di Lamno juga terjadi di Kecamatan Calang dan Kecamatan Tenom yang terletak di antara Banda Aceh dan Meulaboh. Ratusan desa habis disapu ombak. </p>
<p> &quot;Kami jadi tempat pengungsian warga dari tempat lain. Padahal, di Lamno sendiri, dari 48 desa yang ada, kini hanya 10 desa yang tinggal. Pengungsi di sini sudah mencapai 15.000-an, tersebar di rumah-rumah penduduk, sekolah, pesantren, kantor kecamatan, dan meunasah,&quot; ujar Sembiring. &quot;Kami kekurangan tenda, tangki-tangki untuk air bersih, dan tenaga medis. Baru dua hari ini, kami kedatangan dokter dari TNI AD serta relawan Partai Keadilan Sejahtera serta Global Rescue,&quot; tambahnya. </p>
<p> Sulit untuk membayangkan berapa lama yang dibutuhkan untuk pemulihan di daerah- daerah yang persis berhadapan dengan pusat gempa ini. Beberapa desa, seperti Lhong, Lambusa, Jangut, Ujung Muloh, Lhok Kruet, dan Kreung Tunong, kini rata dengan tanah, tanpa sebuah bangunan pun yang tersisa karena kuatnya gelombang tsunami. Begitu juga infrastrukturnya. Di antara Kecamatan Lamno dan Kecamatan Calang saja ada sedikitnya 30 jembatan yang hancur dihantam ombak. Belum lagi jembatan-jembatan besar seperti di Kuala Unga yang panjangnya lebih dari 100 meter. </p>
<p> Pelabuhan-pelabuhan rakyat dan dermaga kapal di sepanjang pantai barat tak satu pun yang tersisa. Praktisi hukum Jakarta asal Lamno, Nasrullah, yang Senin sore mengirim bantuan 15 ton beras dan 500 dus mi instan menggunakan empat buah perahu, terpaksa menginap di tengah laut karena para nelayan yang membawa perahu tidak bisa menemukan muara sungai di tengah kegelapan malam. </p>
<p> Di tengah kesulitan menyalurkan bantuan, toh, warga Lamno masih harus diganggu oleh baku tembak yang sesekali terjadi antara pasukan TNI dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seperti yang terjadi Selasa lalu. &quot;Mas sementara tinggal di sini saja bersama anggota POM TNI,&quot; ujar Saragih sambil menunjuk sebuah ruko yang diubah fungsiya menjadi gudang persediaan beras sekaligus pos TNI. </p>
<p> WAHYUNI tidak bereaksi apa-apa ketika dia digendong pamannya, Ibrahim, naik ke atas truk menuju lapangan bola di depan Kantor Koramil Namro. Setelah empat hari tergeletak di poliklinik dengan perawatan seadanya, Wahyuni, Yunus, serta 12 korban lain yang kondisinya parah dievakuasi ke Banda Aceh, 4 Januari lalu. </p>
<p> Perwira kesehatan TNI AD Mayor dr Malissa yang tiba tanggal 2 Januari langsung meminta korban yang terluka parah dievakuasi ke Banda Aceh untuk dirawat di RS Kesdam, satu dari dua rumah sakit yang tersisa di Banda Aceh. </p>
<p> Busa berwarna putih terus keluar dari mulut Wahyuni ketika dia dinaikkan ke atas helikopter Sea Hawk milik tentara AS yang datang untuk memberikan bantuan mi instan dan biskuit. Cuma napasnya yang terlihat makin tersengal-sengal ketika helikopter membawanya terbang menuju Banda Aceh. Begitu tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Wahyuni langsung dilarikan ke RS Kesdam Banda Aceh menggunakan truk, ditemani relawan asal Universitas Atmajaya Jakarta. </p>
<p> Mulut Wahyuni tiba-tiba mengeluarkan cacing, begitu dokter menyeka dan membuka mulutnya di rumah sakit. Seorang dokter dibantu beberapa relawan medis langsung menanganinya begitu Wahyuni dimasukkan ke unit gawat darurat. Cacing di perutnya sudah naik ke mulutnya, begitu kata tenaga medis yang menanganinya. </p>
<p> Wahyuni terkena pnumonia parah. Paru-parunya kemasukan air laut dalam jumlah yang cukup banyak. &quot;Air asin lebih membahayakan jika masuk ke dalam paru-paru. Apalagi jika dia menelan air dari gelombang tsunami yang juga penuh pasir dan lumpur,&quot; ujar Muzal Kadim, dokter anak yang menjadi relawan dari Ikatan Dokter Indonesia. </p>
<p> Tetapi, takdir menentukan lain. Malam harinya, beberapa jam setelah dirawat, Wahyuni mengembuskan napas terakhir. Seperti banyak warga Aceh lainnya, Wahyuni hanya menambah panjang daftar korban bencana di Aceh yang terus berjatuhan.(nug)</p>
<p>Sumber: Kompas, Kamis, 6 Januari 2005.</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=762&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2005/01/14/wahyuni-nasibmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak, Masih Bisakah Puteri Sekolah&#8230;?</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2005/01/13/pak-masih-bisakah-puteri-sekolah/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2005/01/13/pak-masih-bisakah-puteri-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2005 03:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=761</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KETIKA Kompas menjenguknya di ruang perawatan Rumah Sakit Haji Adam Malik, Medan, Selasa (11/1), buku Soal-soal Ulangan untuk Kelas V Sekolah Dasar tampak terpegang erat di tangan kiri Puteri (15). Ia tampak terusik dengan kehadiran beberapa orang di dekat ranjangnya. Sempat melirik, tetapi beberapa saat kemudian matanya terus asyik kembali membaca kalimat demi kalimat pada buku yang membahas soal-soal ulangan berbagai mata pelajaran Kelas V SD itu.</p>
<p><span id="more-761"></span></p>
<p>KETIKA ditanya buku apa yang dibaca, Puteri menjawab pelan, &#8220;Sedang membahas soal-soal mata pelajaran Agama dan Ilmu Pengetahuan Alam. Karena lagi sakit, jadi belajarnya di rumah sakit saja. Supaya jangan ketinggalan pelajaran kalau kembali ke sekolah nanti,&#8221; kata Puteri.</p>
<p>Tetapi, sembari meringis menahan sakit, Puteri tiba-tiba menaruh buku di tangannya, digeletakkan begitu saja di kasur. Ia coba duduk dan menatap tajam dengan kening berkerut. &#8220;Tetapi, Pak, masih bisakah Puteri sekolah?&#8221; ucapnya lirih.</p>
<p>Tiba-tiba, raut muka Puteri tampak memerah menahan amarah, kesal. Ia hanya diam. Tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, Puteri berpaling dan memejamkan matanya. Butiran bening tampak membasahi pipi gadis kecil belasan tahun asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu.</p>
<p>&#8220;Ia terlihat sangat kesal ketika menyadari tangan kanannya sudah tidak utuh lagi. Kalau sudah begitu, ia berubah jadi pemarah. Puteri seolah tidak bisa menerima kenyataan yang dialami sekarang. Ia pun merasa dihantui kalau cacat tangannya akan membuat ia tidak bisa sekolah lagi,&#8221; tutur Nurhaimah, warga asal Banda Aceh yang bersimpati atas nasib Puteri saat ditemui ketika mendampingi gadis itu.</p>
<p>Puteri memang tampak trauma dan terpukul. Jika ditanya kisahnya sampai selamat dari bencana itu, ia malah diam dan melihat dengan tatapan kosong. Kalau sudah begitu, butiran air mata tampak jatuh di pipinya. Puteri pun tak banyak cakap, memilih memalingkan muka dan tampak memejamkan matanya dalam-dalam.</p>
<p>Gadis kecil pelajar kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri 87 Ulee Lheue, Banda Aceh, yang semula periang itu kini berubah drastis menjadi pendiam. Tidak ada tawa ceria, kecuali rasa sedih dan menyesali nasib. Bahkan, kalau ia ingat masa depan dan kelanjutan sekolah, Puteri malah kadang berubah temperamental. Ia marah, tetapi entah kepada siapa.</p>
<p>Perubahan sikap Puteri yang perasa, sensitif, dan kadang emosional itu bagaimanapun bisa dimaklumi. Sebab, gelombang tsunami setinggi 10-an meter yang menghantam rumahnya di Ulee Lheue, 26 Desember 2004, telah membalikkan hidup dan masa depan Puteri ke titik nol.</p>
<p>Ibunya, Sahniati, memang selamat dan kini setia mendampingi di RS Adam Malik, Medan. Akan tetapi, ayahnya dan dua adiknya sampai kini belum diketahui nasibnya.</p>
<p>Tidak hanya itu yang membuat Puteri terpukul. Bencana tsunami telah membuat Puteri kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Tangan kanannya harus diamputasi. Ia kini hanya memiliki satu tangan, tangan kiri. &#8220;Kadang, dalam gerakan refleks, Puteri lupa tangan kanannya sudah tidak utuh lagi. Pada saat itulah ia jadi emosional, sensitif. Kalau sudah begitu, Puteri hanya diam dan air matanya menetes,&#8221; jelas Sahniati, yang terus memberi semangat hidup kepada Puteri yang kini menjadi anak semata wayang.</p>
<p>Menurut Sahniati, anaknya kini penuh kegamangan. Ia kadang-kadang tidak percaya diri dan ragu-ragu apakah ia masih bisa sekolah, menulis, atau mandiri seperti keadaannya selama ini. &#8220;Kami beruntung ada relawan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang 24 jam menemaninya. Relawan ini menghibur dan memberi semangat bahwa tangan cacat tidak menjadi halangan bagi orang untuk belajar. Inilah yang sekarang memompa semangat Puteri sehingga ia mulai terlihat percaya diri dan berambisi untuk sekolah kembali,&#8221; tutur Sahniati.</p>
<p>Betapa hasrat Puteri untuk belajar tetap tinggi, terbukti ketika Kompas datang menjenguknya di RS Adam Malik. Ketika itu, Puteri spontan minta dibelikan buku-buku. Ia pun menyodorkan sejumlah daftar buku bacaan, seperti buku Himpunan Soal-soal Ulangan untuk Kelas V SD, Kupas Tuntas untuk SD, Gembira Belajar Sains, majalah Bobo, dan lain-lain.</p>
<p>&#8220;Terima kasih banyak, Pak,&#8221; ucap Puteri ketika Kompas menyerahkan buku-buku yang dimintanya. Dalam sekejap, perhatiannya tercurah ke buku-buku itu. Meski mungkin asanya masih teramat perih, untuk sesaat Puteri tampak bisa melupakan kepedihan atas kehilangan satu bagian raganya itu.</p>
<p>BAGI anak-anak seusia Puteri, bencana tsunami mungkin tidak akan dilupakan seumur hidup. Gelombang dahsyat yang berawal dari gempa bumi itu telah merenggut semua yang mereka kasihi, ya orangtua, adik, kakak, saudara, teman, rumah, dan gedung sekolah mereka. Bahkan juga merenggut bagian terpenting dari tubuh mereka.</p>
<p>Puteri memang tidak sendirian. Meski angka konkret belum terdata, barangkali ada ratusan atau ribuan anak usia sekolah yang mengalami nasib tragis seperti yang dialami Puteri. Hati mereka mungkin sangat luka, teramat perih. Namun, karena tidak berdaya, jeritannya hampir-hampir tidak ada yang mendengar.</p>
<p>Tengoklah Suwardi yang kini terbaring di ruang perawatan RS Malahayati, Medan. Pelajar sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Banda Aceh ini pun mengalami nasib tragis karena kini ia kehilangan kaki kiri. &#8220;Dengan satu kaki seperti ini, apa saya masih bisa sekolah? &#8221; ujarnya.</p>
<p>Pelajar yang sebelumnya tinggal di Lampase, Banda Aceh, itu kini mengaku hanya sebatang kara. Kedua orangtua dan saudaranya sampai kini belum diketahui keberadaannya. &#8220;Setelah digulung tsunami beberapa menit, saya akhirnya nyangkut di satu pohon. Inilah yang membuat nyawa saya selamat. Tetapi, sayang kaki kiri saya terpaksa diamputasi karena kata dokter sudah membusuk,&#8221; kata Suwardi.</p>
<p>Gelombang tsunami memang membuat banyak anak usia sekolah kehilangan segala-galanya. Maliki Syahputra (11), juga pelajar SMP di Krueng Cut, Banda Aceh, sedikit beruntung. Kakinya bisa diselamatkan kendati sudah patah dan luka-luka parah.</p>
<p>Kini, tsunami memang sudah reda. Akan tetapi, bencana itu menyisakan banyak luka di &#8220;Tanah Rencong&#8221; tersebut. Sekarang, sepertinya hanya satu isi tangis anak-anak di bumi Serambi Mekkah, &#8220;Pak, masih bisakah kami sekolah&#8230;?&#8221; (ahmad zulkani)</p>
<p>Sumber: Kompas, Kamis, 13 Januari 2005.</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=761&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2005/01/13/pak-masih-bisakah-puteri-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mukjizat Tuhan Mempersatukan Kami</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2005/01/12/mukjizat-tuhan-mempersatukan-kami/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2005/01/12/mukjizat-tuhan-mempersatukan-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2005 13:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=759</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>OZIA terbaring lemas di bahu Santi. Dari mulutnya yang mungil terdengar seruan perlahan, &#8220;Nda (kakak-Red) pulang saja,&#8221; katanya. Kakaknya, Santi, hanya bisa membelainya dan berjanji akan segera membawanya pulang. Janji yang disadari Santi sulit ditepati. Sebab, rumah mereka di Lampojambe, Banda Aceh, telah lenyap ditelan gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember lalu. Tidak hanya itu, ibu mereka pun hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
</p>
<p><span id="more-759"></span></p>
<p>Santi juga diliputi kekhawatiran karena adiknya yang baru berusia dua tahun itu terus-menerus mengeluarkan cairan dari mulut dan anusnya. Apalagi cairan itu berwarna hitam, dan bercampur dengan pasir. Meski demikian, ada pancaran harapan di wajah Santi. Pasalnya, dia berhasil bersatu dengan ketujuh adiknya yang sempat terpisah akibat bencana itu. Selain itu, ayahnya, Fadli Ahmad yang saat peristiwa sedang bertugas di Meulaboh, juga dikabarkan selamat. &#8220;Ini semua mukjizat Tuhan, kami bisa bersatu kembali di tengah cobaan ini,&#8221; kata Santi saat ditemui <I>Pembaruan,</I> Rabu (5/1), di RSAB Harapan Kita, tempat Ozia dirawat. </p>
<p>Dia berkisah, saat bencana terjadi sebagian besar anggota keluarganya sedang berada di rumah. Dia sendiri tengah pergi bersama sejumlah temannya ke pusat kota. Demikian juga ayahnya yang sedang tugas sebagai pegawai distribusi PLN Aceh Barat di Meulaboh. </p>
<p>Di tengah jalan, dia melihat orang begitu banyak berhamburan di jalan sambil berteriak air naik. Saat itu, Santi belum terpikir kalau rumahnya ikut terkena. Tetapi kecemasan itu timbul saat dia bertemu dengan sejumlah tetangga yang mengabarkan lokasi kediamannya telah habis tersapu gelombang. &#8220;Saya sudah tidak bisa menangis. Saya hanya berjalan menuju rumah dengan harapan masih ada yang tersisa,&#8221; katanya. </p>
<p>Sepanjang jalan menuju rumahnya, dia terus mencari saudara-saudaranya. Yang ditemui hanyalah mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia pun nekat mencari saudaranya diantara jenasah itu. &#8220;Sudah tidak ada lagi rasa takut atau jijik. Bahkan untuk menangis pun sudah tidak sanggup, sebab semua orang juga menangis,&#8221; ujarnya.
</p>
<p><strong>Membuahkan Hasil</strong></p>
<p>Upaya pencarian yang dilakukan mahasiswi Universitas Islam Syiah Kuala itu selama tiga hari membuahkan hasil. Satu persatu adiknya diketemukan. Dua adiknya, Ira (11) dan Ayu (12) ditemukan di RS Banda Aceh. Selanjutnya dia juga menemukan adik bungsunya, Romi yang baru berusia 6 bulan. Ajaibnya, bayi itu selamat berkat usaha Sari (16), adik Santi nomor 3 yang memasukkan Romi ke dalam pakaiannya sambil berpegangan pada sebatang kayu. </p>
<p>Dia juga memegang ketiga adiknya yang lain, serta ibunya. Sayang, arus air yang begitu kuat membuat ibunya terlepas dan hanyut. Sari berhasil menyelamatkan adik-adiknya, tetapi dirinya terluka parah. Kepala dan mukanya terkena tusukan besi tajam hingga berlubang. </p>
<p>Menurut Santi, luka yang diderita Sari kini mulai membusuk. Karena itu, sejumlah dokter asing yang membantu di Aceh, menyarankan agar Sari mendapat perawatan khusus di Jakarta. Santi mengaku sudah pasrah. Sebagai pengganti orang tua bagi adik-adiknya, beban yang dipikul gadis berusia 20 tahun itu terlalu berat. Untung ada banyak pihak yang memberi semangat. </p>
<p>&#8220;Saya bisa bertahan karena mereka terus memberi semangat dan menjanjikan adik-adik saya akan disekolahkan. Itu yang memberi semangat,&#8221; katanya.     </p>
<p>Apalagi, adik-adiknya terus bertanya kapan mereka bisa sekolah lagi. Namun dia mendapat kabar bahwa ayahnya masih hidup. &#8220;Serasa tidak percaya, ketika mendengar suara bapak di telepon. Dia berjanji akan segera bersama dengan kami. Jika dia sudah ada di sini, baru Santi bisa tidur dengan tenang,&#8221; katanya penuh harap. Secercah harapan telah timbul dari mukjizat Tuhan. Semoga itu segera terwujud. (W-10)</p>
<p>Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 7 Januari 2005 </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=759&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2005/01/12/mukjizat-tuhan-mempersatukan-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkit Setelah Masa-masa Terpahit</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/10/18/bangkit-setelah-masa-masa-terpahit/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/10/18/bangkit-setelah-masa-masa-terpahit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2004 17:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>    PENULIS, humanis, dan pendidik, Leo F Buscaglia (1924-1998), menulis:</p>
<p><em>&quot;To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must<br />
be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing&#8230;.&quot;</em></p>
<p><span id="more-678"></span></p>
<p>Harapan dan kehidupan. Dua hal yang sangat mudah diucapkan, tetapi menjadi<br />
tantangan besar pada Irwanto (49) dan Sartono Mukadis (59).</p>
<p>Pertanyaan &quot;why me&quot;, misalnya, lebih mendominasi alam pikiran yang<br />
melayang liar menyangkali realitas bahwa tubuh yang terkapar itu adalah miliknya.<br />
Padahal, Sartono tahu persis bahwa pertanyaan seperti itu hanya akan mendamparkannya<br />
ke dalam sumur tanpa dasar karena jawabannya bisa, &quot;why not you?&quot;.</p>
<p>Harapan dengan mudah menguap ditelan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sekaligus<br />
ketidakberdayaan ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa kondisi tubuh<br />
mereka tidak mungkin kembali seperti semula. Embel-embel profesional, segala<br />
teori yang dikuasai, dan kekuatan hati seperti apa pun sempat menjadi tak<br />
banyak berarti ketika orang berada pada posisi mengalami. &quot;Kita ini manusia<br />
biasa, yang kebetulan menjadi psikolog,&quot; ujar Irwanto.</p>
<p>Bukan sesuatu yang kebetulan kalau Sartono dan Irwanto adalah psikolog terkemuka<br />
di bidangnya masing-masing. Mereka berteman. Sartono Mukadis adalah pengamat<br />
sosial yang tulisan dan komentarnya sering muncul di media massa. Ia menaruh<br />
perhatian pada sumber daya manusia. Irwanto menaruh perhatian pada masalah<br />
pengembangan anak dan kajian keluarga. Bidang studi itu memberinya gelar doktor<br />
dari Purdue University, Indiana, AS, tahun 1992, dan kemudian bekerja di Lembaga<br />
Penelitian Universitas Atma Jaya (LPA), Jakarta.</p>
<p>Sejak empat tahun lalu Sartono harus bergantung pada kursi roda setelah kaki<br />
kirinya diamputasi karena gangrene sudah merambat naik. Gangguan itu bermula<br />
dari luka yang tak kunjung sembuh akibat diabetes. Kelingking kaki kanannya<br />
diamputasi jauh sebelum ia berangkat pergi untuk menunaikan ibadah haji pada<br />
tahun 1997. Namun, pola makan yang tidak pernah berubah membuat luka serupa<br />
muncul di telapak kaki kirinya.</p>
<p>Irwanto adalah korban &quot;skandal medis tanpa nama&quot; (kalau tidak boleh<br />
disebut sebagai &quot;malapraktik&quot;). Ia masuk RS Internasional Bintaro<br />
pada tanggal 27 Juli 2003 sekitar pukul 23.30 karena merasa tekanan yang sangat<br />
kuat di dadanya sehingga ia sulit bernapas.</p>
<p>Perawatan dan obat yang diberikan dokter menghasilkan kelumpuhan dari dada<br />
ke sekujur tubuh bagian bawah sekitar pukul 17.00 sehari kemudian. Jiwanya<br />
sempat hampir melayang. Diagnosis yang terus berubah dan data rekam medis<br />
yang tidak transparan membuat situasinya terus memburuk.</p>
<p>Setelah dirawat selama 60 hari di sebuah rumah sakit di Singapura, Irwanto<br />
bertahan hidup. Si pemberi inspirasi melalui pengetahuan dan penelitian-penelitiannya<br />
itu kembali memimpin LPA sejak awal Januari 2004. Semangatnya segera tertangkap<br />
meski semua pekerjaan dilakukan dengan posisi setengah berbaring. Irene, sang<br />
istri, dan seorang perawat selalu mendampingi.</p>
<p>&quot;Dibandingkan Pak Irwanto, penderitaan saya bukan apa- apanya,&quot;<br />
ujar Sartono dengan nada penuh sesal.</p>
<p>PENDERITAAN sebenarnya tak bisa diperbandingkan karena menyangkut pergumulan<br />
seseorang dengan dirinya sendiri. Kecuali satu hal: orang yang mengalaminya<br />
melalui proses yang hampir sama untuk sampai pada tahap menerima kenyataan<br />
sebagaimana adanya dan kemudian bangkit melanjutkan perjalanan.</p>
<p>&quot;Ketika tiba pada tahap awal menerima dengan ikhlas semua ini, semua<br />
jalan seperti dibukakan,&quot; tutur Sitti Herawati, istri Sartono, yang akrab<br />
disapa Erry.</p>
<p>Bagi Irwanto dan Sartono, bertahan hidup saja tidak cukup kalau tidak bisa<br />
memberikan sumbangan bagi kebaikan manusia. Perjalanan kembali menuju ke arah<br />
itulah yang harus melewati proses sangat terjal.</p>
<p>Optimisme Sartono pasca- operasi Agustus 2002 memudar ketika mendapati kenyataan<br />
ia tak bisa membalikkan tubuhnya sendiri. Penyakit itu membuat jantungnya<br />
kena, parunya berair. Kondisi kesehatannya labil.</p>
<p>Sampai empat bulan setelah operasi, Sartono hanya merasa kesuraman yang pekat.<br />
Pada saat yang sama sebenarnya keluarganya juga mengalami tekanan luar biasa,<br />
pada Erry khususnya. Kesibukan anak- anaknya sehingga tidak selalu bisa menjenguk<br />
sang ayah, ketertatihan Erry menghadapi segala persoalan sendiri, tidak ditanggapi<br />
dengan bantuan psikologis. Sebaliknya, keluarga itu malah dihakimi dengan<br />
berbagai &quot;skenario&quot;. Ini sempat membuat Erry down.</p>
<p>&quot;Perasaan terhina dan tidak berarti lagi kuat sekali memenuhi diri saya,<br />
karena buang air pun harus dibantu,&quot; kata Sartono mengenang. Konflik<br />
dengan istri dan anak-anaknya sering tak terhindari. Ketidakmampuannya menyesuaikan<br />
diri dengan kondisi fisiknya yang baru acap kali membuatnya terjungkal ke<br />
titik nadir. Ia menjadi sangat sensitif, juga cengeng, dan demanding.</p>
<p>&quot;Ia jarang bicara. Maunya tidur terus, susah dibawa cek ke rumah sakit,&quot;<br />
kata Erry. Saat itu, Sartono merasa hidupnya sudah selesai. Selama dua tahun,<br />
kondisi psikologisnya pasang dan surut secara tajam. Sementara di luar, orang<br />
menganggap keluarga itu pasti bisa mengatasi masalahnya karena baik Sartono<br />
maupun Erry sama-sama psikolog.</p>
<p>Suatu hari, ketika sudah berada di mobil sehabis kontrol ke rumah sakit,<br />
seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengatakan, &quot;Pak, Anda<br />
jangan depresi ya. Nanti Anda tidak bisa menguatkan orang lain.&quot;</p>
<p>Peristiwa itu seperti membuka kesadarannya. Namun, untuk bangkit dan menerima<br />
keadaannya, tetap bukan hal yang mudah. Sampai pada suatu hari pada pertengahan<br />
bulan Juni tahun 2002, temannya, Aida Ismed Adullah, minta tolong agar Sartono<br />
membantunya membuka klinik psikologi di Pulau Batam. Tawaran pertama tak dijawab.<br />
&quot;Bergerak saja setengah mati, mana mungkin saya terbang ke Batam?&quot;<br />
katanya.</p>
<p>Namun ia sadar, ada masalah riil yang dihadapi. Keuangan keluarga kacau-balau<br />
sejak ia sakit. Toh bukan itu motivasi utamanya. &quot;Perasaan bahwa saya<br />
masih dibutuhkan bahwa hidup saya masih berarti, itu yang terutama,&quot;<br />
tuturnya.</p>
<p>Pertama menginjakkan kaki lagi ke Bandara Soekarno-Hatta berbagai perasaan<br />
berkecamuk. Akan tetapi, langkah itu juga menjadi semacam &quot;turning point&quot;<br />
yang membangkitkan semangatnya untuk kembali tegak menghadapi dunia nyata.</p>
<p>Sartono tak bisa mengelak bahwa hidupnya kini ditopang oleh 15 jenis obat<br />
setiap hari. Kenyataan itu membuatnya harus terus berjuang untuk menerima<br />
keadaannya dengan hati ikhlas. Dan itu bukan hal yang mudah&#8230;.</p>
<p>&quot;SANGAT tidak mudah&#8230;,&quot; sergah Irwanto. Kondisi &quot;stabil&quot;<br />
yang dipahami secara umum tidak berlaku pada Irwanto dan Sartono. Pada mereka,<br />
keikhlasan harus direbut dari diri sendiri, di antara perasaan-perasaan lain<br />
yang saling berkompetisi dalam bayang-bayang penderitaan yang tak selalu bisa<br />
diungkapkan.</p>
<p>&quot;Saya lega ketika akhirnya bisa memaafkan dokter yang menyebabkan saya<br />
lumpuh,&quot; ujar Irwanto pelan. Kemarahan yang ia pendam hanya mendatangkan<br />
rasa sakit. Penyesalan yang ia tumpuk hanya mendatangkan rasa pahit.</p>
<p>Namun, memaafkan bukan berarti melupakan apa yang dilakukan dokter itu terhadap<br />
dirinya. Irwanto tidak pernah melupakan peristiwa yang memutar balikkan dunianya<br />
dalam sekejap. Begitu pun Irene, sang istri.</p>
<p>&quot;Bagian dada ke bawah benar-benar mati. Saya shock betul. Sebagian tangan<br />
langsung tak bisa digerakkan, tapi otak saya bekerja baik,&quot; kenangnya.<br />
Irwanto sempat berada dalam situasi antara hidup dan mati di RS Bintaro. Lalu<br />
keluarga minta agar Irwanto dipindahkan ke RS lain. Diagnosis dokter di situ<br />
lain lagi. Kali ini, katanya, ia terserang cytomegalovirus (CMV).</p>
<p>Di RS itu depresi menyerangnya. Ia tidak mau melihat cahaya, tidak mau mendengar<br />
suara. Ia bahkan menolak mendengarkan kaset pentas anak sulungnya. &quot;Tidak<br />
ada yang terpikir selain, &#8217;Tuhan, pekerjaan saya masih banyak. Apa salah<br />
saya? Kenapa saya tidak diambil saja?&#8217; Tapi di lain pihak, saya ingin<br />
melihat anak-anak saya jadi orang. Saya ingin hidup.&quot;</p>
<p>Dalam situasi yang amat menekan itu bukan penghiburan yang didapat, juga<br />
bukan dukungan psikologis. Empati dari dokter sangat tipis. Vonis bahwa Irwanto<br />
tidak mungkin bertahan disampaikan dokter kepada Irene di lorong rumah sakit.<br />
Pandangan bahwa pasien tak lebih dari komoditas terasa ketika ibu dua anak<br />
itu ditegur untuk segera membayar kekurangan biaya perawatan. Kalau tidak,<br />
hari itu juga Irwanto akan dipindah ke kelas tiga.</p>
<p>Situasi itulah yang membuat Irene nekat membawa Irwanto ke Singapura. Dengan<br />
bantuan dana yang dipinjam dari sanak keluarga dan teman-teman, Irwanto dirawat<br />
di sebuah rumah sakit di Singapura. &quot;Di sana saya merasa diperlakukan<br />
sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara amat teliti,&quot;<br />
ujar Irwanto. Kemungkinan kekeliruan diagnosis terkuak di rumah sakit itu.</p>
<p>Di Singapura ia punya waktu untuk menemui dirinya sendiri, tetapi masih belum<br />
bisa menerima keadaan. Ia baru &quot;terbangun&quot; ketika pada hari keempat<br />
dokter datang dan dengan pelahan mengatakan, kecil kemungkinan bagi Irwanto<br />
untuk bisa berjalan lagi. &quot;Dokter bilang, tidak ada yang berubah dari<br />
Irwanto. Ia bisa berkarya dari kursi roda. Otaknya tidak mengalami cedera<br />
apa pun,&quot; kenang Irene.</p>
<p>Pertolongan yang lain sering datang tak terduga. Itulah misteri hidup. Di<br />
bangsal itu ada Mr Ong yang selalu mengingatkan, &quot;Jangan lawan penyakitmu.<br />
Terima apa adanya. Pikirkan apa yang bisa dilakukan ke depan. Jangan melihat<br />
ke belakang terus.&quot; Optimisme Irwanto terus ditumbuhkan sampai ia mau<br />
ikut latihan fisik. &quot;Sangat pelan dan mulai dari awal karena menggerakkan<br />
jari tangan pun sakit sekali,&quot; katanya.</p>
<p>Menurut Irwanto, para dokter, fisioterapis, konselor, dan semua orang yang<br />
berhubungan dengan mereka di RS sangat membesarkan hati. Kemajuan sekecil<br />
apa pun selalu mendapat apresiasi. Termasuk ketika, setelah berusaha setengah<br />
jam, Irwanto mampu memakai baju sendiri.</p>
<p>Selama delapan minggu sebelumnya, organ pencernaan Irwanto lumpuh. Di Singapura<br />
ia mencoba minum susu. Awalnya berhasil, tetapi lalu ususnya berdarah. &quot;Saya<br />
down lagi. Tapi Mr Ong bilang, mundur untuk maju. Jangan putus asa.&quot;</p>
<p>Kondisi beberapa pasien yang jauh lebih serius, membuat semangat Irwanto<br />
semakin besar. Menjelang pulang, Irwanto sudah bisa menggerakkan jari tangannya.<br />
Tetapi berat badannya hilang sampai belasan kilo. Masalah lain muncul: ia<br />
takut pulang. Takut anak-anaknya malu dengan kondisi ayahnya.</p>
<p>Irene kemudian berusaha menghubungi dua anak perempuannya dan pelan-pelan<br />
memberitahu kondisi ayah mereka. &quot;Di luar dugaan, anak sulung kami mengatakan,<br />
&#8217;It&#8217;s OK Ma. This is the way we have to go. Just go&#8230;&#8217;.<br />
Ketika mengucapkan kalimat itu, Irene meneteskan air mata, Irwanto juga. Sedu<br />
sedan mereka memecahkan keheningan siang di ruangan itu.</p>
<p>RITME hidup di rumah keluarga Irwanto pun berubah, disesuaikan dengan kondisi<br />
Irwanto, yang hampir semua kegiatan hidupnya harus dibantu. Termasuk buang<br />
air besar dan kecil. Ia juga harus memakai popok.</p>
<p>&quot;Sehari sebelum bekerja lagi, saya konsultasi sama Irene karena setiap<br />
saya bergerak selalu keluar kotoran. Saya khawatir baunya mengganggu orang<br />
lain,&quot; kata Irwanto.</p>
<p>Menurut Irene, Irwanto sebenarnya takut bertemu teman- teman lamanya, takut<br />
melihat reaksi mereka. Tetapi semua itu ternyata tak berdasar. &quot;Ini mukjizat<br />
luar biasa,&quot; ujarnya setelah melihat tubuhnya tidak bereaksi seperti<br />
yang ia khawatirkan.</p>
<p>Sebelum peristiwa pahit itu terjadi, Irwanto banyak membantu teman-temannya<br />
di organisasi nonpemerintah memberikan pelatihan mengenai posttraumatic stress<br />
disorder (PTSD). Kini ia siap membantu mengatasi PTSD pada para korban cacat<br />
akibat ledakan bom. &quot;Barangkali mereka akan lebih percaya, karena kondisi<br />
saya sama seperti mereka,&quot; ujar Irwanto.</p>
<p>Dalam hal itu, trauma terutama disebabkan oleh rasa sakit yang konstan selama<br />
24 jam. &quot;Pada korban bom, bekas luka- luka yang menganga itu sakitnya<br />
bukan main. Pada saya, tangan ini sering saya pukul- pukulkan karena sakitnya<br />
enggak keruan. Namun, trauma sebenarnya juga membuat kita bertanya, siapa<br />
kita, dan apa artinya semua ini,&quot; lanjutnya.</p>
<p>Setelah masa-masa paling pahit terlalui, keluarga mereka harus memperteguh<br />
komitmen untuk mendorong dan terus menemani mereka melanjutkan perjalanannya.<br />
&quot;Saya sedang menyiapkan buku judulnya Melihat Dunia dari Kursi Roda,<br />
kata Sartono.</p>
<p>Irwanto akan melanjutkan penelitian-penelitiannya yang tertunda. Pekan kemarin<br />
ia sudah ikut menguji mahasiswa S-3 di Universitas Indonesia di Depok.</p>
<p>Sartono dan Irwanto akan memperpanjang barisan para tokoh yang terus berkarya<br />
dalam keterbatasan fisiknya, seperti penyair John Milton dari Inggris yang<br />
mengalami kebutaan pada usia 43 tahun. Mereka tegak menghadapi risiko apa<br />
pun, demi harapan, kehidupan dan kemanusiaan. Ayo! (MH)  </p>
<p>Sumber: Kompas, Minggu, 17 Oktober 2004 </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=678&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/10/18/bangkit-setelah-masa-masa-terpahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cobaan bagi Cecep Belum Berakhir</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/06/28/cobaan-bagi-cecep-belum-berakhir/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/06/28/cobaan-bagi-cecep-belum-berakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2004 05:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>COBAAN bagi kehidupan Cecep Muhayat (52) dan istrinya, Enik (43), belum berakhir.<br />
Di samping kehidupannya yang tergolong ekonomi lemah, satu dari dua anaknya<br />
menderita lupa ingatan. Anaknya yang satu lagi terancam putus sekolah karena<br />
ketiadaan biaya.</p>
<p><span id="more-557"></span></p>
<p>Cecep mendapat penghasilan dari hasil kerjanya sebagai pedagang asongan rokok.<br />
Ia berkeliling ke segala penjuru menjajakan dagangan rokoknya yang dikalungkan<br />
di lehernya. Enik membantu mencukupi kebutuhan keluarga dengan berjualan sayur.</p>
<p>Eva, anak pertamanya, berhasil menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan selanjutnya<br />
mencoba meneruskan pendidikan ke tingkat SMA. Tetapi sayang, baru dua bulan<br />
mengecap pendidikan SMA-nya, Eva terpaksa berhenti karena ketiadaan biaya.</p>
<p>Itu terjadi sekitar delapan tahun lalu. Tetapi, akibat putus pendidikan di<br />
tengah jalan tersebut terasakan hingga sekarang. Dari &quot;patah semangat&quot;,<br />
Eva kemudian mengurung diri, tidak mau makan-minum, tidak bersedia diajak<br />
bicara, dan akhirnya yang terasakan hingga sekarang adalah Eva jadi lupa ingatan.</p>
<p>Sudah beberapa kali Eva dibawa berobat ke rumah sakit jiwa, termasuk ke RS<br />
Hasan Sadikin (RSHS). Dokter di RSHS menyatakan, Eva bisa normal kembali asalkan<br />
pengobatan dapat dilakukan secara terus-menerus dan intensif. &quot;Tetapi<br />
itu suatu yang tidak mungkin karena biayanya besar dan kami tidak punya uang,&quot;<br />
kata Cecep.</p>
<p>UNTUK mengurangi beban kehidupan Cecep, Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) mendatangi<br />
mereka dengan membantu dana. Cecep menempati rumah berukuran 2 x 6 meter di<br />
sebuah gang kecil di Jl Inhottank No 60/200 B, RT 01 RW 04, Kelurahan Kebon<br />
Lega, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kodya Bandung.</p>
<p>Ruangan di dalam rumah hanya disekat dengan kain yang sudah sangat lusuh.<br />
Air minum masih minta kepada tetangga, listrik 60 watt diberi sambungan dari<br />
tetangga juga.</p>
<p>Bantuan yang diberikan, kata Cecep, akan digunakan untuk biaya pengobatan<br />
alternatif bagi Eva. Sekali berobat, kata Cecep, sekitar Rp 400.000.</p>
<p>Cecep juga mengatakan, adik Eva saat ini duduk di kelas 1 SMP. Anak itu sudah<br />
diminta untuk tidak usah melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya. &quot;Anak<br />
itu tetap ngotot sekolah, padahal tagihan dari sekolah juga datang terus dan<br />
tunggakan beberapa bulan juga belum dilunasi. Semuanya karena enggak ada biaya,&quot;<br />
kata cecep.</p>
<p>Cobaan bagi Cecep dan keluarga memang belum berakhir. (TIM DKK)  </p>
<p>Sumber: Kompas, Kamis, 24 Juni 2004 </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=557&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/06/28/cobaan-bagi-cecep-belum-berakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalam Kegelapan Aku Melihat Berkah</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/06/25/dalam-kegelapan-aku-melihat-berkah/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/06/25/dalam-kegelapan-aku-melihat-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2004 02:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>	DALAM kegelapan aku melihat berkah. Begitu ungkapan Joko Warianto dan istrinya,<br />
Suradiyah, ketika menerima sumbangan Rp 3 juta dari Dana Kemanusiaan Kompas<br />
(DKK) pada awal Juni, atau tepatnya Rabu (9/6). Suami-istri tunanetra yang keduanya<br />
berprofesi tukang pijat itu memang sedang dirundung malang.</p>
<p><span id="more-555"></span></p>
<p>Joko Warianto kini menderita kanker usus dan harus menjalani operasi, sementara<br />
dana sepeser pun dia tak punya. Duka itu masih ditambah dengan kontrak rumahnya<br />
yang sebentar lagi habis dan harus membiayai pendidikan dua anaknya, Eko Waluyo<br />
Nugrahanto (SMP) dan Desi Setyorini (SD).</p>
<p>Semenjak menderita sakit, praktis Joko tidak bisa bekerja. Meskipun Istrinya<br />
juga tukang pijat, hasilnya tidak selancar sang suami. &quot;Perempuan itu<br />
jarang pijat sehingga sudah bagus kalau saya mendapatkan pasien empat orang<br />
sebulan,&quot; kata Suradiyah.</p>
<p>Ternyata penderitaan itu terasa bukan beban yang membingungkan, ketika banyak<br />
tetangga memberikan bantuan, baik materiil maupun moril, agar Joko senantiasa<br />
tabah. Joko lantas menunjuk nama Budi Sardjono, Bambang Triyanto, dan Sugiarto<br />
, tetua Dusun Jamban, Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, tempatnya<br />
tinggal selama ini, banyak memberi pertolongan penderitaan Joko dan keluarganya.</p>
<p>Menurut Joko, ketiganya yang mengumpulkan uang dari warga dusun untuk memeriksakan<br />
penyakitnya. &quot;Waktu itu terkumpul Rp 700.000. Dengan uang itu saya diantar<br />
ke RS Bethesda. Karena belum ada dana, saya menempuh berobat jalan. Untuk<br />
operasi biayanya mahal. Dokter juga menganjurkan untuk minum obat jalan dulu,&quot;<br />
tegasnya.</p>
<p>    SEBELUM menderita penyakit, kehidupan keluarga ini berjalan normal, meskipun<br />
hanya pas-pasan. Sebagai tukang pijat Joko bisa memijat 80-90 orang per bulan.<br />
Setiap kali memijat dia memasang tarif Rp 12.000 per orang sehingga dalam<br />
sebulan bisa mengantongi Rp 800.000 sampai Rp 900.000. &quot;Makanya saya<br />
bisa menyekolahkan anak yang lelaki di SMP dan yang perempuan di SD. Saya<br />
juga bisa mengontrak rumah, sekaligus untuk tempat praktik,&quot; kata Joko.</p>
<p>Akan tetapi, setelah dirinya menderita sakit sudah hampir enam bulan ini,<br />
kehidupannya sekarang benar-benar seret. &quot;Saya sudah tak mampu pijat<br />
lagi, tetapi saya paksakan walau seminggu hanya mendapat empat orang. Saya<br />
mudah capek dan perut saya juga sakit kalau terlalu capek,&quot; kata Joko.</p>
<p>Keterampilan memijat diperoleh Joko dari panti asuhan milik Dinas Sosial<br />
Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Selepas dari pendidikan itu, Joko yang kelahiran<br />
Solo ini berkelana dari kota ke kota. Sampai akhirnya dia terdampar di panti<br />
pijat tunanetra di daerah Gowongan, Yogyakarta. Di tempat itulah dia bertemu<br />
dengan Suradiyah yang kemudian dinikahinya.</p>
<p>Hidup dengan Suradiyah dijalani dalam perjalanan derita yang tak kunjung<br />
habis. Setelah menikah mereka mandiri membuka praktik pijat di kawasan Pugeran,<br />
Yogyakarta. Setelah kontrakan habis, mereka pindah ke Bugisan. Di tempat baru<br />
ini mereka tak bertahan lama karena sepi pasien.</p>
<p>Mereka akhirnya menemukan tempat baru di kawasan Bantul. Seusai kontrak di<br />
Bantul, Joko dan istrinya mulai limbung karena mereka tak mampu lagi menyewa<br />
rumah. Penghasilan tukang pijat tak lagi mampu berpacu dengan kebutuhan hidup<br />
yang makin membesar. Joko kemudian ditolong pengurus Persatuan Tuna Netra<br />
Indonesia (Pertuni) Yogyakarta yang mengontrakkan rumah di wilayah Ngaglik,<br />
Sleman, sekaligus sebagai tempat praktik pijat.</p>
<p>Timbal baliknya, keluarga Joko harus menyerahkan Rp 3.000 dari ongkos pijat<br />
ke Pertuni. Dari pertolongan Pertuni inilah Joko mulai bisa menapaki kehidupannya,<br />
namun kini penyakit datang menghadang. (TH.PUDJO WIDIJANTO)  </p>
<p>Sumber: Kompas, Kamis, 24 Juni 2004 </p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=555&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/06/25/dalam-kegelapan-aku-melihat-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemiskinan Masih Menyelimuti NTT</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/06/16/kemiskinan-masih-menyelimuti-ntt/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/06/16/kemiskinan-masih-menyelimuti-ntt/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2004 05:30:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>NTT adalah provinsi yang memiliki penganut Kristen terbesar di Indonesia<br />
(Katolik 53,9 persen dan Protestan 33,8 persen), total 87,7 persen</strong>.<br />
Yang membuat saya sedih adalah <em>kemiskinan masih menjadi persoalan utama</em><br />
bagi masyarakat di NTT. Dengan kata lain, banyak sekali saudara-saudara kita<br />
seiman yang hidup serba kekurangan. </p>
<p><span id="more-545"></span></p>
<p>Tercatat hingga Februari 2004, sebanyak 30 persen dari sekitar 4 juta jiwa<br />
penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Pendapatan per kapita per hari hanya<br />
berkisar Rp 3.500 hingga Rp 5.000 saja, Kinerja pendapatan per kapita di Nusa<br />
Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia. </p>
<p>Untuk informasi tambahan, menurut studi yang dilakukan oleh Vincent Gaspersz<br />
dan Esthon Foenay yang dilaporkan dalam <a href="http://www.ekonomirakyat.org/edisi_20/artikel_10.htm" target="_blank">Jurnal<br />
Ekonomi Rakyat</a>, Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi<br />
Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1.125.240<br />
per tahun atau Rp 93.770 per bulan. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan<br />
di NTT adalah sebesar Rp 1.728.408 per tahun atau Rp 144.034 per bulan, sedangkan<br />
pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.015.380<br />
per tahun atau Rp 84.615 per bulan. Hal ini berarti pengeluaran per kapita<br />
per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.028 (70,22%)<br />
daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT. </p>
<p>Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90,15% penduduk<br />
NTT (3.493.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang<br />
dari Rp 150.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.000 per hari. Kelompok penduduk<br />
yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000 per bulan<br />
atau kurang dari Rp 5.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan<br />
NTT yaitu sebanyak 3.104.959 orang (94,72%), sedangkan yang berada di daerah<br />
perkotaan NTT adalah sebanyak 388.339 orang (65,04%). </p>
<p>Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di<br />
Nusa Tenggara Timur, terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya<br />
(94,72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per<br />
kapita kurang dari Rp 5.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang<br />
berlaku pada saat itu. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah<br />
terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui<br />
rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT. </p>
<p>Tidaklah mengherankan bila kemiskinan, yang akrab dengan NTT sejak zaman<br />
Belanda hingga sekarang, membuat banyak anekdot tentang provinsi ini. NTT<br />
dijadikan singkatan &quot;Nasib Tak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tambah<br />
Terang, Ngalor-ngidul Tidak Tentu, Numpang Tanda Tangan, Negeri Tidak Tentram&quot;,<br />
dan masih banyak lagi bentuk pelesetan yang akhirnya hanya memberi kesan begitu<br />
kental tentang betapa terbelakangnya daerah ini dalam hampir semua aspek kehidupan.
</p>
<p>Selain kemiskinan, pengangguran juga merajalela di wilayah seluas empat puluh tujuh ribu kilometer persegi ini. Kurangnya lapangan kerja di wilayah ini pada akhirnya membuat persoalan kemiskinan bagai lingkaran setan yang menurunkan tingkat kesejahteraan sektor lainnya. </p>
<p>Sedihnya lagi, tingkat kematian ibu hamil masih tinggi, 550 ibu di antara 100.000 proses kelahiran, demikian pula kematian bayi, 50 bayi di antara 1.000 kelahiran. Saya percaya dengan statistik ini karena belum 3 minggu Dhe melayani di sana, tanggal 23 Mei 2004, Dhe bercerita kalau ia sudah menangani kematian bayi saat lahir. Katanya bayi itu meninggal karena pendarahan. </p>
<p>Di bidang pendidikan, lebih tiga per empat penduduk masih berpendidikan tingkat sekolah dasar (SD) dengan angka buta huruf yang juga tinggi. Masih ingat kasus TKI Nirmala Bonat? Secara tidak langsung, kisah Nirmala mencerminkan kondisi riil tanah kelahirannya yang serba kekurangan. Ia harus pergi dari desanya yang terpencil, miskin, dan tandus agar bisa bermasa depan. Tidak angkutan umum seperti bus yang beroperasi ke sana. Hidup masyarakatnya sangat sulit terutama selama musim kemarau April-November. </p>
<p> <TABLE width=449 height="218" border=0 cellPadding=0 cellSpacing=0><br />
<TBODY><br />
<TR><br />
<TD width=449 height="218" vAlign=top>
<div align="center"></div>
<p><img src="http://www.unitedfool.com/images/daily_life/ntt.gif" alt="Nusa Tenggara Timur" width="449" height="218"></TD><br />
</TR><br />
</TBODY><br />
</TABLE></p>
<p>Kondisi NTT semakin diperparah dengan minimnya sumber daya alam, maraknya korupsi dan migrasi tenaga-tenaga terdidik keluar wilayah ini yang menyebabkan laju pembangunan daerah berjalan lambat dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. Belum lagi masih ditambah sisa-sisa persoalan keamanan berkaitan dengan wilayah perbatasan dengan Timor Timur. </p>
<p>***</p>
<p>Saya berharap informasi tentang NTT ini bisa membuka hati dan pikiran kita<br />
untuk berdoa bagi saudara-saudara kita di NTT. Sungguh sukacita yang besar,<br />
kalau ada di antara kita yang terbeban untuk membantu baik secara materi ataupun<br />
terjun melayani di sana. </p>
<div class="box">
&#8220;Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.&#8221; (Gal 6:10)</p>
<p>&#8220;Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka<br />
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala<br />
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu<br />
senantiasa sampai kepada akhir zaman.&#8221; Matius 28:19-20 </p></div>
<p></p>
<p>Artikel lainnya tentang NTT: </p>
<ul>
<li><a href="http://www.smeru.or.id/report/other/bookletmiskin/booklet_1to8.pdf" target="_blank">Apa<br />
itu Kemiskinan dan Apa Penyebabnya</a></li>
<li> <a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0405/19/daerah/1034979.htm" target="_blank">Pengentasan Kemiskinan di NTT Masih Parsial</a> </li>
<li><a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0405/30/utama/1047573.htm" target="_blank">Nasib Nirmala, Imbas Kemiskinan NTT</a></li>
<li><a href="http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/03/11/0058.html" target="_blank">Kesiapan NTT Masih Retorika</a></li>
<li><a href="http://www.ekonomirakyat.org/edisi_20/artikel_10.htm" target="_blank">Kinerja Pendapatan<br />
Ekonomi Rakyat Dan Produktivitas Tenaga Kerja Di Provinsi Nusa Tenggara Timur</a></li>
<li><a href="http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0111/07/daerah/dokt20.htm" target="_blank">Dokter di NTT Harus Buat Pernyataan Untuk Melanjutkan Studi</a></li>
<li><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/15/utama/1082254.htm" target="_blank">NTT Tunggu Presiden yang Peduli kepada Minoritas</a> </li>
</ul>
<p></p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=545&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/06/16/kemiskinan-masih-menyelimuti-ntt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Ponirah Mengayuh Becak demi Biaya Sekolah Anaknya</title>
		<link>http://www.unitedfool.com/2004/05/25/mbok-ponirah-mengayuh-becak-demi-biaya-sekolah-anaknya/</link>
		<comments>http://www.unitedfool.com/2004/05/25/mbok-ponirah-mengayuh-becak-demi-biaya-sekolah-anaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2004 06:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.unitedfool.com/sira/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mbok Ponirah, ibu enam orang anak sedang mengayuh becaknya yang<br />
ditumpangi tiga orang anak sekolah yang menjadi langganannya setiap hari sekolah,<br />
di samping mencari penumpang lainnya .</p>
<p><span id="more-534"></span></p>
<p>SEPINTAS orang tak akan menyangka kalau sang pengayuh becak ini adalah seorang<br />
perempuan. Ponirah (54) begitu nama warga Desa Njeblog, Madukismo, Bantul<br />
ini. Bentuk potongan rambutnya yang menyerupai laki-laki atau potong cepak<br />
kadang ala tentara, sempat membuat pelanggannya terkesima. </p>
<p>Sambil ngepos di Pojok Benteng Kulon, Jalan Bantul, Ponirah yang lekat dengan<br />
caping, celana panjang, hem lengan panjang, ibu enam anak dan nenek dari dua<br />
cucu ini mengayuh becak untuk mengais rezeki dan mewujudkan cita-citanya.
</p>
<p>Sebenarnya cita-citanya cukup sederhana, tapi sangat mulia. Menyekolahkan<br />
anak. Namun karena pendapatan suaminya yang buruh tani itu pas-pasan, Ponirah<br />
nekat kredit becak. Becak merek &quot;Budi&quot; itu dibeli dengan angsuran,<br />
per hari Rp 3 ribu dan kini sudah dilunasinya. </p>
<p>Kasih ibu sepanjang masa, itulah yang dilakonkan istri Supardjo (59) itu<br />
setiap hari dengan memulai mengayuh becak sejak pukul 04.00. Namun baginya<br />
tugas keluarga adalah yang utama. Subuh-subuh, ia sudah menyiapkan sarapan<br />
dan membersihkan rumahnya. Sekitar pukul 07.00 ia mulai melalang buana dengan<br />
becaknya. &quot;Setiap pagi saya mengantar anak juragan saya ke sekolah,&quot;<br />
katanya.</p>
<p>Ponirah bangga bisa dipercayai antarjemput tiga anak sekolah. Perempuan jangkung<br />
dengan postur tubuh layaknya laki-laki ini, sering dipanggil &#8216;Pak&#8217;. Namun<br />
dengan lugu, perempuan yang mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah<br />
ini menyatakan, apapun panggilan orang kepada dirinya, ia tidak pernah memasalahkan.<br />
Biasanya, katanya setelah tahu ternyata tukang becaknya perempuan, penumpang<br />
lalu minta maaf. &quot;Maaf ya Bu, saya tidak tahu. Saya kira bapak-bapak,&quot;<br />
ujar Ponirah menirukan penumpang yang keliru memanggil dirinya.</p>
<p>Entah karena tiap hari berpanas-panas, kulitnya pun kehitam-hitaman terbakar<br />
matahari. Gayanya yang khas laki-laki terlebih ketika mengisap rokok kreteknya,<br />
sempat membuat siapa saja akan memanggilnya &#8216;Pak&#8217;. Sambil menjawab pertanyaan<br />
wartawan, Ponirah berbicara dengan lugas dan tidak pernah basa-basi. </p>
<p>Bukan hanya penumpang yang keblinger melihatnya. Sesama penarik becak pun<br />
sering salah sangka. Pernah suatu ketika ia ditempeleng oleh penarik becak<br />
lainnya. &quot;Gara-garanya, sehabis menurunkan penumpang di Kotabaru, ada<br />
penumpang lain naik. Saya dikira cari penumpang di daerah itu,&quot; paparnya.
</p>
<p>Namun tamparan itu tidak pernah menyurutkan nyalinya untuk tetap berkarya.<br />
Jika sepi penumpang, Ponirah selalu pulang menjelang Maghrib. Tetapi kadang<br />
ia harus pulang lewat pukul 20.00 </p>
<p>&quot;Beberapa hari lalu saya pulang sampai rumah jam delapan malam. Saya<br />
disuruh mengantar langganan periksa ke rumah sakit. Jadi harus menunggu sampai<br />
selesai,&quot; katanya seraya mengaku tidak takut. &quot;Saya sudah biasa<br />
begini,&#8221;katanya. </p>
<p>Dia juga menuturkan, beberapa kali diganggu orang tetapi dia biarkan saja.<br />
Saya tidak peduli dengan mereka. &quot;Pernah ada orang mau bayar saya. Orang<br />
itu meminta saya untuk memarkir becak saya, lalu mau mengajak saya pergi.<br />
Tetapi saya tidak pedulikan dan saya tinggal pergi,&#8221; ujarnya. </p>
<p></p>
<p>
<strong>Biar Sekolah</strong></p>
<p>Seperti ibu-ibu yang lain, Ponirah juga berharap anaknya bisa menuntut ilmu<br />
setinggi mungkin. &quot;Saya ini bekerja untuk biaya sekolah anak-anak. Agar<br />
anak saya pintar, modal saya hanya jujur dan halal. Karena itu saya tidak<br />
pernah mau macam-macam,&quot; ujarnya. </p>
<p>Ponirah tahu bahwa bekerja di luar rumah, memang penuh risiko. Namun empat<br />
belas tahun menjadi tukang becak, Ponirah tidak pernah menyerah. Apa lagi<br />
hanya karena ditempeleng rivalnya. </p>
<p>&quot;Selama saya kuat dan anak-anak masih butuh biaya sekolah saya akan<br />
terus mbecak. Juragan saya baik-baik, anak-anak yang saya antar sekolah memanggil<br />
saya &#8216;mak&#8217;. Mereka kadang minta dibelikan minum,&quot; ucapnya sambir cengar-cengir.</p>
<p>Dituturkan, saat ini ia tinggal membiayai anak bungsunya. Ponirah menceritakan<br />
lima anak yang lain begitu selesai SMA langsung bekerja. </p>
<p>Dua bekerja di hotel, satu buruh, satu bekerja di kerajinan kulit dan satu<br />
lagi bekerja di kerajinan patung. Anaknya terkecil masih duduk di kelas III<br />
SMP. &quot;Saya kebrojolan anak terakhir. Setelah punya lima anak, saya KB<br />
streril. Lima tahun kemudian kok saya hamil lagi. Ya sudah memang sudah kehendak<br />
Allah,&quot; ujarnya.</p>
<p>Walau demikian, Ponirah tidak rela bila anak-anaknya kelak mengikuti jejak<br />
ibunya. &quot;Biar aku sendiri saja yang seperti ini. Anak-anak tidak boleh.<br />
Mereka harus sekolah, kalau sudah besar bisa bekerja yang lain,&quot; ujar</p>
<p></p>
<p>
<strong>Penghargaan</strong> </p>
<p>Mungkin nasib Ponirah tidak seberuntung perempuan lainnya. Tetapi perempuan<br />
&#8216;perkasa&#8217; ini adalah satu dari sepuluh perempuan penerima penghargaan &quot;Ibu<br />
Tahan Banting&quot;, yang diberikan ibu-ibu Pendidikan Kesejahteraan Keluarga<br />
(PKK) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. </p>
<p>Penghargaan itu diberikan dalam rangka peringatan Hari Kartini, Kamis (29/4)<br />
yang lalu. </p>
<p>&quot;Anak-anak saya waktu itu tidak ada yang tahu kalau saya mau terima<br />
penghargaan,&quot; katanya.</p>
<p>Sesampainya di rumah, anak-anaknya malah menanyainya. &quot;Saya malah diejek,<br />
tadi naik mobil polisi ya? pakai dike-crek (diborgol) enggak? Waduh senangnya<br />
salaman dengan Sultan dan Ratu Hemas,&quot; kenang Ponirah pada ejekan anak-anaknya.</p>
<p>Hadiah yang diterima Ponirah memang tidak besar, uang Rp 100 ribu dan sebuah<br />
seprei. Namun penghargaan dan kesempatan bertatap muka dan bersalaman dengan<br />
Sri Sultan dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang membuat Ponirah bangga. </p>
<p>&quot;Saya ini orang miskin yang tidak bisa baca kok ya diberi hadiah. Yang<br />
paling senang, saya bisa salaman dengan Gusti Ratu dan Sri Sultan,&quot; katanya<br />
dengan mata berbinar.</p>
<p>Ponirah tidak bisa menduga. Sampai di mana kekuatannya untuk menyekolahkan<br />
anak bungsunya itu. &quot;Biaya pendidikan sekarang ini mahal sekali. Yang<br />
jelas selama saya kuat, tidak akan putus asa karena tidak ingin anak saya<br />
putus sekolah. Saya bekerja agar anak-anak saya jadi anak pinter dan bisa<br />
bekerja dengan baik, tidak seperti ibunya,&quot; kata Ponirah.</p>
<p>Ponirah memang benar-benar seorang ibu yang sejati. Ia pantas mendapat penghargaan.<br />
Ponirah pun tidak ingin dikasihani, tapi kalau ada yang tergerak hatinya meringankan<br />
beban beratnya mengayuh becak setiap hari demi sekolah anak-anaknya, tentu<br />
Ponirah tidak akan menolak uluran tangan dari siapa saja. Semoga. PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI</p>
<p>Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 22 Mei 2004 (Rubrik Nusantara)</p>
<img src="http://www.unitedfool.com/sira/?ak_action=api_record_view&id=534&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.unitedfool.com/2004/05/25/mbok-ponirah-mengayuh-becak-demi-biaya-sekolah-anaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

