Mengenal Tuhan / Renungan 

Dua Sejoli

Kebutuhan setiap insan adalah untuk dikasihi. Namun, bila kita berpikir ulang, kebutuhan kita tidak hanya untuk dikasihi tetapi juga untuk mengasihi. Untuk sampai ke tahap ini, takaran yang digunakan untuk setiap individu berbeda-beda. Tidak dapat dipastikan pada umur berapa seseorang mulai mencapai klimaks akan adanya kedua kebutuhan ini.

Orang-orang yang kita kasihi seperti orang tua dan sanak saudara perlahan-lahan meninggalkan kita. Ada yang harus kembali ke rumah Bapa yang di surga, ada yang harus tugas ke luar daerah, dsb. Teman-teman kita pun datang dan pergi. Beruntunglah di antara kita bila kita memiliki satu atau dua orang sahabat yang terus setia bersama-sama dengan kita.

Namun, tibalah waktunya bagi kita untuk memiliki seseorang yang istimewa. Seseorang yang bisa mengerti dan menerima kita. Seseorang yang tahu segalanya tentang kita namun tetap mengasihi kita. Betapa kelamnya atau baiknya masa lalu kita, dia tetap peduli dan mengasihi kita. Seseorang yang akan menopang dan mendukung kita di kala susah. Menghibur kita di kala sedih. Seseorang yang bisa menggantikan hari-hari sepi menjadi hari-hari yang bermakna dan indah. Sepertinya kita diciptakan untuk memiliki "kebutuhan" ini. Benarkah demikian?

Dalam Kejadian 1-2, Allah menciptakan sebuah mahakarya yang luar biasa dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Pada hari pertama Dia menciptakan langit dan bumi. Pada hari keenam Dia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Pekerjaan Tuhan benar-benar sempurna.

Mari kita perhatikan Kejadian 2:18-24,

18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.
20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Allah memberikan penolong yang sepadan kepada Adam karena Allah tahu bahwa Adam membutuhkan teman yang bisa menemaninya sepanjang hidupnya.

Bagaimana dengan setiap kita? Kita semua juga akan mengakui bahwa kita juga membutuhkan penolong yang sepadan yang bisa menemani kita sepanjang hidup kita. (kecuali untuk orang-orang tertentu seperti biarawan, dsb).

Pertanyaannya adalah siapakah penolong yang sepadan itu dalam hidup kita? Sebuah pertanyaan yang jawabannya akan mempengaruhi separuh waktu dalam kehidupan kita. Ada tiga saat bersejarah dalam kehidupan ini yang akan kita hadapi yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian. Pernikahan adalah suatu keputusan yang akan mempengaruhi cara pandang kita akan kehidupan ini. Menghadapi tantangan dan tanggung jawab bersama-sama dengan orang yang kita kasihi. Benar-benar membuat kita harus berhati-hati terhadap perkara ini bukan?

Namun sangat disayangkan, banyak pernikahan berakhir dengan tragis. Saat-saat indah yang dulu pernah dilalui bersama kini berubah menjadi saat-saat terburuk dalam sejarah kehidupan, bagaikan neraka yang tiba dengan prematur. Korban-korban pun berjatuhan dan yang paling menderita adalah anak-anak. Mengapa cinta berubah menjadi benci? Mengapa perhatian berubah menjadi caci maki? Bukankah cinta akan mampu mengatasi segalanya? Bukankah kita berpikiran seperti itu?

Ada banyak motivasi dan cara berpikir yang salah tentang pernikahan/hubungan sehingga menimbulkan luka di dalam batin generasi masa kini. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Hubungan hanya dilandaskan pada perasaan terobsesi, perasaan "membutuhkan" atau sekedar ingin memiliki teman hidup.
  2. Pemberontakan, menunjukkan pemberontakan terhadap pihak-pihak yang tidak setuju akan hubungan tsb.
  3. Pelarian, membina suatu hubungan karena sekadar ingin melarikan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan. Sudah merupakan kenyataan bahwa orang yang sedang berusaha melarikan diri dari kehidupan yang menyesakkan di rumahnya tidak mempunyai teladan yang baik tentang bagaimana seharusnya hubungan antara suami-isteri (orang tuanya sendiri tidak menjadi teladan baginya).
  4. Hubungan hanya dilandaskan pada penampilan wajah atau fisik.
  5. Kesepian dan tidak bahagia. Membina hubungan agar mendapatkan kebahagiaan. Bila ia bergantung kepada seseorang untuk membuat dirinya senang, itu namanya mencari masalah. Kebahagiaan Anda tidaklah bergantung pada seseorang, tetapi pada diri Anda sendiri.
  6. Penyelamat. Merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan seseorang. "Kalau kau meninggalkan saya, maka saya akan bunuh diri!"
  7. Tekanan dari pihak-pihak lain. Didesak uintuk menikah cepat-cepat, yang penting menikah.
  8. Karena harta atau materi.

Satu hal yang perlu kita perhatikan dan pegang adalah cinta semata tidaklah cukup untuk mempertahankan suatu hubungan. Cinta memang bisa menjadi awal segalanya, tetapi bukan dasar segalanya. Apalagi dasar yang kokoh dan lestari. Cinta atau asmara mudah tumbuh melalui pergaulan. Sudah terlalu sering kita melihat betapa hubungan yang dimulai dengan cinta kasih yang begitu indah dan menggebu ternyata begitu mudah berakhir dengan tragis saling menghancurkan. Kita harus menambahkan aspek lain selain cinta, yaitu IMAN. Cinta yang timbul dari manifestasi iman. Ketika cinta mulai goyah dalam menghadapi tekanan hidup, iman yang adalah dasar menjadi penolong.

Tanpa iman, orang akan jatuh cinta lagi pada yang lain ketika ia bertemu dengan yang lebih 'ideal' (kondisi ideal bisa dibuat-buat). Iman akan memampukan kita mengatur dan mengatasi setiap permasalahan yang timbul. Dengan iman, kedua belah pihak dapat saling mengerti dan mengenal. Iman yang benar kepada Kristus juga akan mempraktekkan prinsip kasih seperti yang terdapat dalam 1 Korintus 13:4-7,

4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Ingatlah selalu bahwa cinta bisa menjadi awal segalanya, namun bukan dasar segalanya. Dasar segalanya dalam membina suatu hubungan adalah iman. Ini saatnya bagi setiap kita untuk memeriksa kehidupan dan kondisi hati kita. Memeriksa kembali motivasi kita dalam membina suatu hubungan dengan orang yang kita kasihi. Dasar apa yang kita gunakan selama ini? Hanya cinta sematakah? Atau... Cinta yang timbul dari manifestasi iman?

Bila kita memiliki cara pandang yang benar, kita tidak akan dengan serampangan dalam memilih pasangan, menuruti perasaan atau emosi dan hawa nafsu, siapa saja yang 'menarik', 'ideal' dan 'baik' kepada kita, kita jadikan pasangan atau pacar kita. Memilih pasangan harus dilandaskan dengan iman. Inilah satu-satunya cara yang ampuh untuk tidak membuat kesalahan dalam memilih pasangan, menemukan pasangan yang tepat dan penolong yang sepadan bagi kita. Inilah satunya-satunya cara untuk tidak mengulangi kesalahan orang tua kita, perceraian yang menyakitkan karena tidak melibatkan Tuhan dari awalnya.