Mengenal Tuhan / Renungan 

Seharusnya

Pecundang. Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi pecundang. Dalam pengertian sehari-hari, pecundang berarti orang yang selalu kalah. Kalah terhadap situasi, bahkan kalah dalam menaklukkan diri sendiri. Dalam kehidupan modern seperti ini, di mana perkembangan teknologi memudahkan kehidupan manusia, kita dibuatnya seakan menjadi pemenang dalam setiap sektor kehidupan, namun ternyata tidak membuat kita menjadi seorang pemenang dalam kehidupan batiniah kita. PDA dalam genggaman, komputer laptop dalam tentengan, HP terbaru dengan teknologi GPRS, dan seterusnya, benar-benar membuai kita untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan lahiriah. Bahkan chatting dan bergabung dalam Forum Diskusi Kristen tidak menjadikan kita menjadi manusia rohani yang mengerti perkara-perkara rohani dan hidup berkemenangan.

Saya sempat bersikap skeptis terhadap semua perubahan teknologi ini dan berpikir betapa indahnya hidup dengan sedikit atau tanpa teknologi. Saya merindukan bisa membaca Alkitab di sebuah tempat yang sunyi di sebuah pegunungan yang dipenuhi dengan hutan yang lebat, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan. Semuanya ini semata-mata karena merasa jenuh dengan kilauan cahaya lampu dari kantor, hotel dan apartemen yang menimbulkan suasana mewah dan jauh dari hal-hal yang bersifat rohani. Suatu kali, saya sedang duduk dalam sebuah cafe di sebuah hotel berbintang lima, dan seperti biasa saya merasa canggung dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Di bagian tengah ruangan terlihat seseorang yang berpakaian rapi layaknya orang kantoran, beberapa orang bule yang asyik ngobrol, dan saya sendiri. Di tengah suasana seperti itu, sambil menikmati segelas susu dan roti, terlintas pikiran, mungkinkah saya menemukan perkara rohani di mana kehidupan rohani saya bertumbuh di tempat seperti ini? Penuh dengan kemapanan, kekayaan, dan materi? Bukankah lebih mudah menemukan Kristus dalam kehidupan orang-orang miskin dan terbuang? Bukankah lebih mudah menghargai perkara rohani dan menantikan janji Allah bila kita hidup dalam suasana yang prihatin? Hati saya terus bertanya.

Saya tidak berkata bahwa kekayaan itu adalah musuh. Namun, oleh karena kekayaanlah, kita menjadi lupa kepada Allah dan membuatnya layak untuk dianggap musuh. Itulah kenyataan hidup. Itulah yang kita lakukan sehari-hari. Mengejar dan melakukan perkara-perkara lahiriah yang mengabaikan pertumbuhan batiniah kita. Sifat utama kita adalah membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit dan sesuatu yang rumit menjadi sederhana. Firman Allah yang sederhana kita buat menjadi rumit. Begitu pula sebaliknya. Tekanan dan pengaruh dunia ini, membuat kita sebagai orang Kristen, menganggap Firman Allah, yang sama dari dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya itu, terkesan usang dan ketinggalan jaman. Prinsip hidup dalam kekudusan dibuat menjadi relatif dan ada batasan-batasannya. Kedewasaan rohani dijadikan sesuatu yang sulit dan bahkan tidak mungkin untuk dicapai. Kasih karunia Allah dijadikan alasan untuk dengan seenaknya terus berbuat dosa, sambil berdalih, "Tuhan gue kan baik, gue pasti diampuni deh!" Apa akar dari semua ini? Mengapa pengorbanan Kristus seakan menjadi tidak lagi dramatis dan menggugah hati setiap kita? Mungkin jawabnya karena kita mulai melupakan pentingnya menjaga kesehatan dan pertumbuhan rohani kita. Karena kita mulai melupakan dan meninggalkan prioritas utama kita dalam mengikut Tuhan. Karena kita adalah orang-orang Kristen pecundang dan frustrasi, yang selalu kalah oleh dosa, tahu kebenaran tapi tidak pernah melakukannya.

Dunia ini akan terus berubah, manusianya pun juga akan berubah. Pengaruh media akan semakin gencar dan ganas melahap siapa saja yang bodoh dan lengah. Tapi satu hal yang pasti, satu hal yang seharusnya kita selalu pegang, satu hal yang seharusnya kita perjuangkan, bahwa Firman Allah harus tetap dijunjung tinggi. Alkitab yang kita miliki itu, seharusnya benar-benar kita hargai sebagai suara Allah. Tidakkah kita semua sudah mendengar, bahwa kita tidak hanya hidup dari roti saja, tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah? Kita seharusnya tidak kalah oleh dunia ini, kita seharusnya berdiri teguh melakukan perintah-perintah-Nya. Kita seharusnya tidak terobsesi dan terbuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Kita seharusnya tidak tenggelam dalam kekayaan materi dan bermegah di dalamnya. Kita seharusnya mencari perkara-perkara rohani, mengenal Kristus dan penderitaan-Nya dan melakukan perintah-perintah-Nya. Kita seharusnya mencintai Dia lebih dari apapun juga yang ada di dunia ini. Kita seharusnya hidup dalam kekudusan dan standar Firman Allah. Namun, mengapa yang terjadi justru sebaliknya dalam kehidupan kita sehari-hari?