Mengenal Tuhan / Renungan 

Pulihkan Negeriku

Seorang pedagang nasi goreng mendorong gerobaknya dalam kegelapan malam melewati gang-gang perumahan dan perkampungan. Dengan mata dan telinga yang terus waspada ia berharap ada orang yang memanggil dan memesan nasi gorengnya. Setelah jauh berjalan dan merasa lelah, dia memutuskan untuk berhenti di bawah lampu jalan yang dikerumuni oleh dedaunan. Gemerisik angin bernyanyi dalam malam yang semakin larut.

Hari demi hari, bulan demi bulan dia terus mengulang pekerjaan ini. Hatinya bertanya, "Sampai kapan aku akan terus begini? Selalu menanti dalam ketidakpastian, lakunya dagangan nasi gorengku dan hidup dalam keadaan ekonomi yang tak menentu. Aku sudah lakukan semampuku tapi waktu belum memihakku."

Tidak jauh dari tongkrongan pedagang itu, berdiri seorang perempuan dalam kegelisahan menunggu mikrolet yang semakin lama semakin jarang terlihat. Batinnya menjerit, "Sampai kapan ayahku akan terus memukuliku? Mengapa aku terlahir dalam keluarga seperti ini?"

Warung-warung kecil dan sederhana satu persatu mulai tutup. Tinggal suara jangkrik dan motor yang sebentar-sebentar lewat.

Malam berganti pagi. Hamparan sawah di tengah-tengah gedung bertingkat masih terlihat di pinggiran kota. Kesibukan kembali beraksi berkejar-kejaran dengan waktu. Sang surya menunjukkan senyum nakalnya di atas bumi yang kupijak ini, bumi Indonesia.

Pedagang teh botol, siomay dan bakso mulai mondar-mandir mencari tempat yang tepat. Tidak jauh dari mereka, beberapa pegawai kantor, pria dan wanita, berjalan dengan anggun terbungkus oleh setelan jas dan blazer yang sedap dipandang mata.

Pemandangan yang sama juga terlihat di belahan nusantara yang lain. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Aceh, Medan, Padang, Kalimantan, Surabaya, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Semua tersapu hangatnya belaian sinar mentari.

Setidaknya beginilah sepenggal potret kehidupan di bumi Indonesia yang tercinta ini. Kebakaran hutan, kerusuhan di Poso, pemberontakan separatis di beberapa wilayah, masih terus membelenggu. Tingkat aborsi dan penggunaan narkotika yang terus meningkat. Dekadensi moral dan spiritual mulai merembet ke berbagai lapisan melalui media, ideologi, agama, dsb.

Satu hal yang terus berdengung di telinga kita, "Kapankah Indonesia dilanda revival yang besar?" Semenjak tahun 90-an, seruan iman diproklamirkan, "Tuhan akan pulihkan Indonesia! Yesus akan pulihkan bangsa ini!"

Secara pribadi, saya merindukan revival di tanah kelahiran nan permai ini. Begitupun dengan saudara-saudaraku semua. Revival yang menjamah hati bangsa ini. Membuat ribuan orang berlutut menangis karena begitu kuatnya hadirat Tuhan. Di sawah-sawah, di jalan-jalan, di kantor-kantor, di pasar-pasar, orang-orang membicarakan Tuhan dan kasih-Nya.

Kapan Tuhan Kau akan melawat bangsaku? Melawat perempuan yang terluka itu? Melawat pedagang nasi goreng itu? Melawat pegawai kantoran itu? Melawat kami umat-Mu?

Revival. Kehausan dan kelaparan akan Tuhan bernafas dengan udara pertobatan dan kekudusan. Kapan Tuhan? Setidaknya lawatlah lebih dulu keluargaku dan sahabat-sahabatku. Sama seperti pedagang nasi goreng itu, sama seperti perempuan itu, kita terus menanti sekiranya Tuhan menurunkan hujan pertobatan dan jamahan kasih-Nya.

Setidaknya sebuah lagu permohonan ini terus mengobarkan hati yang rindu bahwa Tuhan akan melawat Indonesia dan membawa revival yang besar di seluruh nusantara.

Kami umat-Mu rendahkan diri
sujud dan berdoa.
Mencari wajah-Mu berbalik dari
jalan kami yang jahat.

Oleh anugerah-Mu ampunilah
Oleh anugerah-Mu pulihkanlah

Tuhan, pulihkan
Bapa pulihkan
Kembalikan bangsa kami kepada-Mu
dan pulihkan kembali negeri kami...

2 Tawarikh 7:14
dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Yesaya 61:4
Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi.