Mengenal Tuhan / Renungan 

Kehidupan dan Kematian

Kehidupan dan kematian... Mana yang lebih menakutkan? Bagi banyak orang kematian adalah sesuatu hal yang menakutkan dan perlu dihindari agar tidak terlalu cepat datang menjemput. Namun, tak dapat disangkali juga, ada orang-orang tertentu yang justru takut kepada kehidupan. Jauh sebelum kita mengenal Kristus, kehidupan dan kematian sepertinya tidak mempunyai arti yang mendalam. Kedua istilah ini tidak jauh berbeda dengan istilah-istilah lainnya, yang dipergunakan hanya sebatas ucapan. Namun, dalam terang Firman Tuhan, kedua istilah ini berubah maknanya dan menjadi memiliki nilai yang benar-benar berharga. Kehidupan dan kematian menjadi kata-kata yang selalu mengingatkan kita, orang percaya, pada banyak hal, terutama dalam perjalanan hidup kita bersama Kristus.

Sudah sering kita mendengar bahwa Kristus telah mati bagi kita. Kita juga sering mendengar bahwa kita harus mati terhadap diri sendiri. Mengapa? Agar kehidupan muncul dan bersinar dalam hidup setiap orang percaya. Kematian juga berkaitan dengan perginya orang-orang yang kita kasihi, meninggalkan kita dalam kesedihan, bertanya-tanya mengapa hidup ini harus dilalui dengan kematian. Sementara itu, kelahiran selalu diidentikkan dengan suatu hal yang baik, membanggakan, indah, bahagia, sampai tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.

Pada mulanya hanya ada kehidupan. Namun, semenjak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, kematian menjadi bagian semua umat manusia, baik kematian secara fisik dan juga kematian secara rohani. Oleh satu orang, semua manusia beroleh kematian (Roma 5:12). Roh manusia yang sebelumnya tunduk di dalam otoritas Allah dan dominan, kehilangan kemampuannya terhimpit oleh jiwa dan tubuh manusia yang mau berbuat semaunya. Hubungan yang indah dengan Allah menjadi terputus dan manusia hidup semakin jauh di dalam dosa, dikendalikan oleh hawa nafsu dan keinginannya sendiri. Tidaklah mengherankan bila pembunuhan, perzinahan, kemabukan, penyembahan berhala, dsb menjadi sesuatu hal yang semakin lama semakin lumrah adanya. Homoseksualitas, aborsi, penyalahgunaan obat-obat terlarang, seks bebas menjadi sesuatu hal yang dapat diterima dan tidak bisa lagi ditolak. Kegelapan memenuhi seluruh umat manusia (Roma 3:23). Sesuatu yang aneh terjadi, kita ingin berbuat baik namun justru yang jahatlah yang kita perbuat (Roma 7:18). Umat manusia sudah mati oleh karena dosa, begitu pula dengan kita, oh... betapa malangnya kita.

Kita pasti tahu bagaimana kondisi hati, bagaimana keadaan sekeliling kita, bagaimana cara pandang kita akan dunia ini ketika kita masih di dalam dosa, kita terbelenggu oleh rantai yang kuat, membuat kita akhirnya berpikir bahwa keadaan kita itu sudah suratan takdir dan bertanya-tanya mengapa Tuhan mengijinkan semuanya ini terjadi. Benarkah? Jauh di dalam lubuk hati kita yang terdalam, kita merindukan kebebasan, rindu untuk memiliki kehidupan yang menyegarkan jiwa kita.

Jauh di sana, di suatu tempat yang tidak terjangkau akal pikiran manusia, duduk seorang pribadi di atas sebuah singgasana yang megah, memiliki pelayan-pelayan yang setia, dan yang luar biasa adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, pastilah terjadi. Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Seandainya dia ingin menghentikan waktu, dia bisa saja melakukannya, sebab dialah yang menciptakan waktu. Dia bisa berbuat apa saja yang diinginkannya.

Namun ada yang tidak bisa dijelaskan, bahkan dengan kepintaran 1000 orang…. Pribadi itu sedang menangis. Menangis karena rindu kepada anak-anak-Nya yang terhilang. Tidak ada lagi hubungan yang indah, semua hal yang baik yang telah dicanangkannya, ditolak oleh pemberontakan demi pemberontakan yang terus dilakukan oleh manusia ciptaannya. Kasihnya yang begitu besar dan dalam, membuat dia mengambil langkah, yang kalau dipikir-pikir secara akal manusia, adalah tindakan yang bodoh, mengada-ada, tidak mungkin, dan sia-sia.

Dia pergi... dia pergi... meninggalkan singgasananya yang megah... meninggalkan segala kepunyaannya untuk bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya. Dia pergi... untuk membawa kehidupan. Dia pergi... untuk membebaskan umat manusia dari dosa. Dia memilih untuk menjadi serupa dengan manusia, turut merasakan penderitaan badani, turut merasakan kesedihan dan kekecewaan sama seperti yang dialami oleh makhluk ciptaannya yang mulia itu.

Dan Dia memilih jalan yang paling hina dengan mati di kayu salib. Bukankah ini tindakan dan cara yang bodoh? Tidak adakah cara yang lain, yang lebih terhormat? Apakah dia harus mati dengan cara itu? Mengapa dia harus mati bagiku?

Kristus memilih salib demi menanggung dosa-dosa kita, dosa-dosa Anda dan saya. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21).

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dia datang untuk membawa kehidupan... kehidupan yang kekal...

Bila saudara mendengar suara-Nya, berulang kali Dia mencoba dan menanti dengan sabar, ketahuilah itu karena Dia sangat mengasihi saudara. Dia telah mati bagi saudara dan bila saudara memilih untuk bertobat, berbalik dari jalan-jalan yang salah, Dia akan mengampuni dosa-dosa saudara. Bila saudara sudah merasa lelah karena telah berulang kali gagal, merasa mengecewakan Tuhan, tersungkurlah di hadapan-Nya, berserulah kepada-Nya dengan hancur hati dan katakan "Tuhan... ampuni aku!"

Belum terlambat, saudaraku yang kekasih, belum terlambat... Ijinkalah Yesus masuk ke dalam hatimu, ijinkanlah Dia tinggal dalam hidupmu, percayalah kepada-Nya dan ucapkanlah..."Aku menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadiku. Di dalam Dia, aku hidup dan oleh karena darah-Nya yang tercurah bagiku, aku diampuni dari dosa dan diselamatkan.

Keputusan yang saudara ambil, menerima Dia dan bertobat akan membawa Anda kepada kehidupan yang berkelimpahan. Kehidupan yang baru akan Anda rajut sesuai dengan rencana Allah. Kematian juga menjadi sesuatu hal yang baru. Kematian bukan lagi hal yang menakutkan, sebab kini ia memberikan arti yang baru. Apa itu? Kristus telah mati bagiku. Aku yang sebelumnya mati oleh dosa, dihidupkan dan dilahirkan kembali oleh Kristus. Aku juga harus mati dengan Dia agar kehidupan Kristus nyata dalam hidupku. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan tentang kematian, sebab oleh kematian satu oranglah, semua orang dihidupkan kembali agar hidup bagi Kristus.

Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan (Roma 14:7-8). Panjatkanlah senatiasa doa dengan ucapan syukur buat kasih-Nya yang besar atas kita semua. Dan ingatlah, kita telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kita menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Puji syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus atas semua yang telah dilakukan-Nya dalam kehidupan kita. Amin...