Mengenal Tuhan / Renungan 

Hari Yang Buruk dan Gila

Ketika semuanya hancur berantakan di depan mata, perasaan tak percaya mulai merasuki hati kita. Perencanaan matang yang kita buat sendiri, gagal memcapai tujuan. Di tengah-tengah kesendirian, seakan-akan tidak ada seorangpun yang peduli kepada kita, pengharapan yang sebelumnya teguh tak tergoyahkan menjadi sebuah pertanyaan.

Benar-benar minggu yang buruk. Benar-benar hari yang gila. Betapa berat tekanan hidup ini. Betapa berat semua yang kita hadapi. Adakah orang yang peduli kepada kita? Teman-teman yang lain tampaknya juga memiliki masalahnya masing-masing. Mereka juga berjuang untuk mengatasinya, menjaga jangan sampai kehilangan iman. Iman yang seharusnya berfungsi itu, tidak lagi menunjukkan sengatannya.

Kita mencari pemecahan atas semua masalah yang kita hadapi. Namun kali ini, masalah yang muncul sepertinya datang dengan sengaja, di mana kita sendiri tidak akan pernah bisa memecahkannya sendiri. Sepintar dan sekuat apapun kita, akhirnya kita harus menyerah. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengembalikan kepada Dia, yang maha besar.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya Tuhan tidak pernah menunjukkan diri-Nya kepada kita, umat manusia. Bayangan kita mungkin, dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang gila karena badai kehidupan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah. Ketergantungan dicoba untuk dimusnahkan. Berdiri sendiri dan individualisme menjadi tujuan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri, sejak awal penciptaan, manusia sudah memiliki sifat ketergantungan yang tertanam dalam hati yang selalu mencari jawaban. Ketergantungan kepada Kuasa yang lebih tinggi. Kerinduan yang mendalam akan kehidupan yang benar dan damai.

Iman, kepercayaan dan keyakinan, itulah yang membuat kita mau hidup di tengah-tengah dunia yang rusak ini. Namun kali ini, iman kita kandas akibat kegagalan yang kita hadapi. Hati kita menjerit dan menangis. Berapa banyak lagi tahun yang harus berlalu dengan sia-sia. Kekerasan hati dan potensi dosa lama mulai muncul kembali. Pengunaan rasio dan usaha sendiri mulai bergerak mencoba mengatasi masalah yang unik itu. Namun, akhirnya kita harus berkata,"Aku menyerah."

Kita membiarkan waktu berlalu begitu saja. Jarum jam yang berdetak menimbulkan suasana yang semakin menakutkan. Masa depan... Betulkah aku memiliki masa depan? Semuanya sudah hancur di depan mataku. Apakah aku mampu membangun kembali reruntuhan itu. Menyatukan kembali butiran-butiran harapan yang jatuh berserakan?

Kekosongan dan kehampaan mulai menggeliat dan bangkit dari tidurnya. Tidak ada pengharapan. Tidak mungkin. Rasa malas membuat kita hanya diam tidak melakukan apa-apa.

Di tengah-tengah keraguan dan kebimbangan itu, kita kembali diingatkan akan Tuhan. Suatu pribadi yang mempunyai otoritas penuh atas semua yang terjadi di alam semesta. Masih ada bagian hati kita yang percaya akan hal itu. Kita kembali diingatkan akan kasih dan pengorbanan-Nya di kayu salib. Suatu pengorbanan yang aneh dan tidak masuk akal. Mana mungkin ada kemuliaan di balik salib itu...

Perlahan-lahan, tanpa diminta, ada suatu atmosfir yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Hadirat-Nya turun menaungi kita. Ya… Dia datang sebab Dia mendengar seruan kita. Kita merasa bahwa Dia masih memperhatikan kita. Dia masih peduli dengan kita.

Tuhanlah kekuatanku. Tak pernah Dia tinggalkanku. Hanya Kaulah pengharapanku. Kupercaya pada-Mu. Tuhan, Kaulah sahabatku. Rangkaian kata mulai muncul dari lubuk hati kita yang terdalam. Dia tidak pernah tinggalkanku, bahkan sedetik pun. Tangan-Nya selalu menjagaku dan menopangku. Dia tidak pernah membiarkanku jatuh tergeletak.

Iman itu, yang sebelumnya lesu, mulai bangkit dan disegarkan. Di dalam Tuhan, kita memiliki pengharapan. Sebab Dia hidup, kita memiliki hari esok. Dialah yang memegang kunci akan masa depan kita. Masa depan yang penuh harapan dan mendatangkan damai sejahtera.

Benarkah? Lihatlah salib itu. Bayangkan kembali, detik-detik dramatis yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Bagi mereka yang hidup di tahun itu dan berada di sana saat itu, pengharapan juga tampaknya kandas, iman mulai dipertanyakan, ketakutan menghantui mereka yang dekat dengan Dia. Sahabatnya dan gurunya, tergantung tak berdaya, di atas kayu salib yang berlumuran darah. Benar-benar hari yang gila. Benar-benar di luar perencanaan. Benar-benar minggu yang buruk dan menekan.

Gempa bumi dan suara halilintar yang berderu silih berganti membuat suasana yang gelap semakin mencekam. Apa yang terjadi? Benarkah ada masa depan di balik semuanya itu? Benarkah ada suatu rencana yang indah di balik semuanya itu? Benarkah Dia masih peduli dengan kita, tapi mengapa Dia tampaknya justru meninggalkan kita, mati dengan cara yang hina seperti itu?

Murid-murid Tuhan Yesus menjadi ragu dan bimbang. Mereka lari berpencar menyelamatkan dirinya masing-masing. Namun, waktu berlalu, jarum jam masih terus berdetak. Pada pagi hari yang cerah, cahaya matahari menghias dedaunan, membuat kilauan-kilauan yang indah dipandang mata, kuburan di mana Yesus dikuburkan telah kosong. Dia Bangkit! Dia Bangkit! Dia Bangkit.

Suatu harapan mulai terlihat. Suatu kepastian mulai tampak. DIA BANGKIT. Dia tidak meninggalkan kita. Dia datang menghampiri kita. Dia datang menyatakan diri-Nya. Wajah-Nya yang bersinar menaungi kita. Memberikan kita kekuatan baru. Memberikan kita pengharapan. Tuhan akan menolong kita.

Salib. Di balik salib ada kemuliaan yang tak tertandingi. Di balik salib yang hina itu, ada kekuatan dan pengharapan. Di balik salib itu ada hari esok. Bila kita berdiri di sana 2000 tahun yang lalu, menyaksikan penderitaan-Nya di kayu salib, kita akan mengalami hal yang sama seperti yang murid-murid Yesus alami bahkan mungkin justru termasuk orang-orang yang mengolok-olok Dia, benar-benar hari yang buruk dan gila.

Namun, bila kita berdiri saat ini, 2000 tahun kemudian, hari yang buruk dan gila itu menjadi hari yang terindah di sepanjang masa. Hari yang paling bersejarah di sepanjang masa. Suatu hari di mana kemuliaan Allah memancar memenuhi seluruh bumi, bahwa Bapa mengasihi dunia ini. Bahwa Bapa telah memulihkan dan menyembuhkan semua umat manusia. Bersama Tuhan, ada hari esok. Tuhanlah kekuatan kita, gunung batu dan penebus kita. Dia tak pernah tinggalkan kita, hanya Dialah pengharapan kita. Segala pujian, hormat, kemuliaan, kejayaan dan keagungan hanya bagi Dia. Allah yang sanggup mengubahkan hari yang terburuk menjadi hari yang terindah dalam hidup kita. Puji syukur kepada Tuhan, yang telah melimpahkan anugerah-Nya kepada kita sekalian.

"Ia tidak tampan dan semarak-Nya pun tidak ada... Ia dihina dan dihindari orang, Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan... Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia... Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul, dan ditindas ALLAH. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ...oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:2-5)