Extensive reading without the discipline of practical observation will lead to bookishness and artificiality. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Daily Life

LASIK: Melihat Dunia Tanpa Kacamata!

Submitted by riel on 06/03/2010 – 8:18 AM | 405 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Sebuah Testimoni Pasien Lasik Mikrokeratom - Flap Mata Saya DibukaSebuah Testimoni Pasien Lasik Mikrokeratom

Dua hari terakhir ini, saat sore menjemput malam, saya duduk-duduk di teras rumah. Saya melihat dua pohon besar di depan rumah tak kuasa menolak sapuan angin yang seolah sedang lari ketakutan. Begitu kencangnya angin berlari, bagian atas pohon meliuk-liuk ke kanan ke kiri. Tidak berapa lama kemudian, hujan turun sederas-derasnya.

Saya tersenyum melihat pemandangan alam yang indah itu. Saya tertawa karena sekarang bisa menyaksikan pekerjaan-Nya tanpa bantuan kacamata. Saya (membayangkan) bisa menatap ke langit mengangkat ke dua tangan menjangkau surga sambil merengkuh hujan yang membasahi wajah saya. Sanubari saya berseru, “Selamat datang di dunia tanpa kacamata!” Terima Kasih Tuhan!!! Tiada putusnya saya bersyukur kepada Dia yang senantiasa menyertai saya. Saya bersyukur karena Dia mengijinkan saya ‘diobati’ dengan sebuah kecanggihan teknologi LASIK di dunia kedokteran.

Dengan mata minus yang cukup tinggi sebelumnya, saya selalu kesulitan melihat sesuatu tanpa kacamata. Hal pertama yang saya kerjakan saat bangun tidur misalnya, adalah mencari kacamata. Hal ini tetap saya lakoni setelah menikah dan mempunyai anak. Setiap kali bangun tidur, bila ingin melihat-lihat isteri dan kedua puteri saya yang sedang terlelap, saya mesti bangkit dari tempat tidur mencari kacamata. Namun, sekarang, saya bisa langsung melihat-lihat wajah mereka lalu mengecupnya.

Kalau kembali ke masa lalu, saya ‘terpaksa’ mulai memakai kacamata saat duduk di kelas 4 SD. Semuanya berawal saat saya kedapatan oleh guru matematika sedang menyipit-nyipitkan mata saat membaca tulisan di papan tulis. Kebetulan saya duduk di barisan kedua dari belakang. Sebagai anak kesayangannya di kelas, ibu guru yang badannya cukup gemuk itu menunjukkan perhatiannya dengan memanggil saya setelah jam sekolah usai. Ia meminta saya membaca urutan abjad yang terpampang di samping papan tulis. Saya kedapatan kesulitan membaca abjad-abjad tersebut lalu guru berdarah keturunan itu meminta saya agar memakai kacamata.

Seiring dengan pertumbuhan badan dan usia saya, minus saya yang semula 2 di bangku SD meningkat menjadi 4 lalu 5. Di bangku kuliah minus saya bertambah lagi menjadi 8 (mata kanan) dan 7 (mata kiri). Pada 10 Februari 2010 saya memeriksakan mata ke Melawai Plaza Buaran. Hasilnya, saya mesti memakai kacamata dengan minus 9 (mata kanan) dan minus 8 (mata kiri) tanpa silindris. Saya cukup kaget juga saat itu kala mengetahui minus saya bertambah. Namun mengingat sudah empat tahun terakhir ini saya tidak mengganti kacamata, saya berpikir pertambahan minus itu lumrah saja.

Saya kemudian memakai kacamata baru dengan harapan penglihatan bisa lebih tajam dan nyaman. Namun kenyataannya, setelah seminggu menggunakan kacamata baru yang semakin tebal itu, mata saya cepat lelah, perih dan kering. Saya merasa ada yang salah dengan kacamata baru itu. Setelah berdiskusi dengan isteri saya, kami memutuskan untuk mencoba pengobatan mata dengan teknologi LASIK. Setelah mencari informasi dari beberapa klinik mata yang memberikan layanan LASIK di internet, kami memutuskan untuk mencoba di sebuah klinik mata yang tidak jauh dari Rumah Sakit Harapan Kita, Slipi Jaya, Jakarta Pusat.

Pada Selasa siang, 23 Februari 2010, saya ditemani isteri tercinta, menjalani pemeriksaan mata menyeluruh. Menurut dokter, bola mata saya memanjang ke belakang. Ini artinya minus saya yang tinggi disebabkan oleh faktor keturunan. Ia kemudian memeriksa bagian retina saya apakah cukup kuat (tidak mudah robek) untuk bisa mengikuti tindakan LASIK. Kesimpulannya, mata memenuhi prosedur untuk di-LASIK dengan catatan, pada mata kanan ternyata minus 8.25 dengan silindris 1.25 dan pada mata kiri minus 7.75 dengan silindris 0.75.

Setelah memastikan waktu yang tepat, tidak bentrok dengan pekerjaan, kami memutuskan untuk di-LASIK pada 3 Maret 2010, tepat dengan ulang tahun pernikahan kami yang ke-3. Tindakan LASIK dilakukan sekitar jam 1 siang dan selesai 30 menit kemudian.

Sebelum menjalani tindakan LASIK, saya dipakaikan baju OK (baju operasi) dan penutup kepala. Saya diminta duduk tenang di ruangan persiapan sambil mendengarkan lagu-lagu klasik selama kurang lebih 10 menit. Sambil menunggu, mata saya diberi obat tetes (anestesi topikal) sebanyak beberapa kali.

Setelah semuanya siap (mesin, dokter, perawat), saya diminta masuk ke ruang operasi. Saat masuk, saya melihat sebuah mesin besar berwarna putih yang memanjang ke samping. Saya kemudian berbaring vertikal di bawah mesin itu. Kepala saya diletakkan tepat di bawah mesin yang akan mengoperasi mata saya. Ujung kaki saya diberi bantalan dan kedua tangan saya diberi bola kenyal untuk dikepal.

Saat berbaring, saya diminta melihat lurus ke depan sambil menatap satu titik cahaya berwarna merah. Terkadang saya melihat beberapa titik cahaya merah muncul di satu lokasi. Selama proses operasi, dokter dan perawat mengarahkan dan menenangkan saya. Beberapa kali saya diminta untuk menatap lurus ke depan dan tetap membuka kedua mata.

Pelupuk mata bagian bawah dan atas diberi plester agar bulu mata tidak menghalangi operasi. Setelah itu, mata saya diberi semacam alat agar mata saya terbuka lebar. Setelah beberapa kali diberikan obat tetes, mata saya diberi alat mikrokeratom yang berguna untuk membuka flap (lihat video rekaman saat mata saya di-LASIK di YouTube).

Saat pisau mikro memotong, saya bisa merasakan ada objek yang lewat di mata saya. Setelah itu saya merasa seperti ada sesuatu yang diangkat dari mata saya. Rupanya itulah saat-saat dimana flap dibuka. Saat flap dibuka saya cuma melihat warna putih dengan banyak titik. Saat itu saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi belakangan setelah melihat video rekaman operasi, di saat itulah mata saya sedang dilaser. Saat proses laser terjadi, saya mencium bau seperti kulit terbakar. Menurut dokter, itu adalah bau dari laser.

Proses untuk satu mata berlangsung sekitar 10 menit. Setelah kedua mata selesai di-LASIK, saya diberi kacamata hitam lalu diminta menenangkan diri di ruang pemulihan selama kurang lebih 10 menit. Pada saat itu, mata saya terasa berat dan perih, terasa berpasir dan silau. Dari ruang pemulihan, saya dibawa ke ruang dokter untuk diperiksa kondisi dan letak flap yang sebelumnya dibuka, apakah sudah kembali ke posisinya dengan rapi atau tidak.

Saya diminta istirahat total hari itu dan dokter mengatakan kalau mata saya akan terasa lebih baik esok paginya. Sepanjang sore dan malam hari itu, mata saya terasa perih. Saya diberi tiga jenis obat tetes mata: obat tetes antibiotik, obat tetes untuk radang, dan obat tetes air mata buatan. Setiap 4 jam, mata saya harus ditetesi tiga jenis obat tetes itu. Khusus untuk obat tetes air mata buatan tidak diwajibkan kecuali mata terasa kering.

Sesuai jadwal kontrol pasca operasi yakni 1 hari kemudian, saya kembali diperiksa dokter untuk memastikan letak flap dan proses recovery dari mata saya. Dokter mengatakan, mata saya terbilang cepat pulih dengan tingkat ketajaman mata melebihi ketajaman saat memakai kacamata. Saya mesti kembali kontrol dengan jadwal 1 minggu kemudian, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun.

Sebuah Testimoni Pasien Lasik Mikrokeratom

Saat menulis testimoni ini, saya masih mengenakan kacamata hitam karena cahaya dari monitor masih silau dan membuat mata cepat lelah. Menurut dokter, biasanya satu hari setelah operasi, pasien sudah bisa menonton atau membaca koran per 2 jam setelah itu mata harus diistirahatkan. Dua sampai tiga hari setelah operasi, bila di rumah, kacamata hitam bisa dilepas. Empat hari setelah operasi (sesuai penilaian dokter), pasien sudah bisa menyetir kendaraan.

Proses penutupan flap hingga rekat sempurna membutuhkan waktu sedikitnya tiga hari. Oleh sebab itu, selama tiga hari setelah operasi, pasien diharapkan tetap cukup istirahat dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Saya sangat berterima kasih dengan pelayanan yang diberikan oleh klinik tersebut. Namun sayangnya, meski saya termasuk keluarga dokter (suami dari seorang dokter), komersialisasi dunia kedokteran sangat terasa dimana saya tetap diperlakukan sama (dalam hal biaya) seperti pasien biasa.

Kira-kira itulah sedikit pengalaman saya saat menjalani tindakan lasik di sebuah klinik mata di daerah Slipi Jaya, Jakarta Barat.

Riel Niro,
Jumat, 5 Maret 2010

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

2 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.