Saya kapok membeli harddisk bermerk Maxtor. Pasalnya, empat harddisk Maxtor (STM 3250310AS) itu, jebol dan tidak bisa lagi digunakan. Sempat saya bawa untuk di-servis, namun pelayanan servis-nya mengecewakan.
Sekitar dua tahun yang lalu, saya membeli satu set PC (PC 2008) yang komponen-komponennya (mainboard, memori, harddisk, dsb) saya pilih/beli satu per satu. Untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan data yang makin membengkak, saya memutuskan membeli 4 harddisk bermerk Maxtor (STM 3250310AS) berkapasitas masing-masing 250 GB SATA. Jadi total penyimpanan yang saya peroleh sekitar 1 TB. Harga satu harddisk saat itu sekitar Rp 800 ribuan.
Dalam rentang dua tahun ini, satu per satu harddisk Maxtor itu bermasalah. Anehnya, masalahnya sama. Komputer booting lama sekali (seolah hang). Booting tetap berjalan namun seolah terhenti di fase yang menampilkan logo Windows (progress bar). Kalaupun berhasil masuk ke dalam desktop, harddsik yang bermasalah itu hilang, tidak muncul di Windows Explorer atau di Disk Management milik Windows.
Kalau pun muncul di Windows Explorer, ketika saya klik harddisk tersebut untuk melihat isinya, komputer malah hang lama sekali. Saya terpaksa me-restart lagi komputer, menunggu lama hingga komputer berhasil masuk ke desktop. Saya baru tahu kalau masalahnya ada di salah satu harddisk Maxtor itu, setelah saya melepasnya dari mainboard, komputer kembali booting seperti biasa.
‘Penyakit’ lainnya adalah setiap kali komputer dinyalakan, muncul informasi kalau drive F (harddisk Maxtor yang bermasalah itu), perlu diperiksa konsistensinya. Satu dua kali saya turuti permintaan Windows tersebut untuk memeriksa harddisk yang dinilai bermasalah itu. Keadaan sempat membaik, namun peringatan untuk memeriksa konsistensi harddisk kembali muncul.
Saya mencoba memperbaikinya sendiri dengan HDD Regenerator (bahkan memformat total). Ada beberapa bad sector yang terdeteksi dan berhasil diperbaiki. Sejenak saya bisa browsing isi harddisk bermasalah itu. Namun, setelah satu dua kali booting, penyakitnya kumat lagi.
Saya sempat membawa dua harddisk Maxtor yang bermasalah itu ke toko tempat saya membeli, BytePro di Dusit Mangga Dua. Setelah hampir sebulan menunggu, pihak toko menelepon saya dan mengabari harddisk yang sudah diservis bisa diambil. Bagian service di BytePro menyatakan harddisk sudah diperbaiki, bahkan mereka ‘menduga’ salah satu harddisk diganti yang baru.
Saya sempat komplain mengapa memperbaiki harddisk perlu waktu sebulan, namun pihak BytePro menyatakan masalahnya bukan di mereka namun di pihak Maxtor. Saya tidak tahu siapa yang ‘bersalah’, BytePro atau Maxtor, dengan pelayanan yang lelet seperti itu. Akhirnya saya membayar biaya ’servis’ Rp 100.000 dengan harapan harddisk sudah berfungsi kembali.
Namun, apa lacur, satu harddisk setelah digunakan beberapa jam, kembali bermasalah. Sedangkan harddisk satu lagi, bermasalah setelah digunakan beberapa hari. Saya kecewa dan merasa ditipu sebab pihak servis dari BytePro itu menyatakan harddisk sudah diperbaiki bahkan salah satu diganti baru.
Pengalaman buruk saya dengan dua harddisk Maxtor itu bertambah buruk dengan kumatnya penyakit yang sama di dua harddisk Maxtor lainnya. Saya coba perbaiki sendiri dengan HDD Regenerator (bahkan memformat total). Namun, kasus yang sama terjadi lagi, harddisk cuma pulih sebentar setelah itu penyakitnya kumat lagi. Karena pengalaman buruk soal servis dengan dua harddisk sebelumnya, saya tidak membawa dua harddisk yang rusak belakangan itu ke BytePro.
Apes… apes… 4 harddisk Maxtor yang belum genap dua tahun dipakai, jebol semua. Terus terang, saya merasa kapok membeli harddisk Maxtor. Akhirnya saya putuskan ‘memuseumkan’ 4 harddisk Maxtor itu dan membeli 2 harddisk WDC berkapasitas masing-masing 500 GB. Hingga kini, 2 harddisk WDC itu berfungsi dengan baik.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.