Kilau sinar matahari memantul di atas kap mobil yang kukendarai. Puluhan motor berseliweran di kiri kanan berpacu dengan waktu dan kemacetan. Aku duduk di belakang kemudi sambil berbisik dalam hati, “Syukur pada-Nya, aku bisa di tengah kemacetan ini, melihat hari dan lalu lalang kehidupan.”
Namun kenyataannya, hatiku sedang galau menyaksikan riak-riak kehidupan, yang perlahan-lahan membuatku kehabisan kata. Ada beberapa perkara dalam kehidupan ini yang nampaknya tidak bisa kita tolak. Mungkin inikah yang dinamakan takdir? Kita lahir dengan membawa sejumlah keterbatasan. Memang aku tidak terlahirkan buta, tuli atau cacat. Namun, ‘duri dalam daging’ ini akan kubawa hingga ke liang kubur.
Perkara lain yang mengusikku adalah hal-hal yang terjadi di luar kendali kita. Sebaik dan sekeras apapun kita telah berusaha, jalan-Nya ternyata tidak sama dengan jalan kita. Contoh yang sederhana misalnya perkara jodoh. Sebagian orang sudah jungkir balik membina hubungannya, namun harus kandas di tengah jalan. Sebagian orang tua sudah berulang kali mencucurkan air mata dan habis harta benda demi mengobati anak tercinta yang terbelakang, namun tak kunjung sembuh.
Sebagian orang harus berjuang menepis kehampaan karena tak kunjung memiliki anak. Sebagian lagi harus bertahan dari siksaan verbal dan fisik dari orang terdekatnya. “Tuhan, mengapa Kau biarkan ini terjadi padaku!!!” seru mereka menembus keputusasaan. Kira-kira begitulah gelisah yang kualami sekarang. Gelisah pada takdir yang tak terelakkan. Takdir yang tak bisa dibeli dengan uang, status, gelar, jabatan, apapun yang ada di bawah kolong langit ini.
Kegelisahan ini kalau dibiarkan hidup akan berujung pada keputusasaan dan rasa mengasihani diri sendiri. Aku tidak mau seperti itu. Hanya saja, aku masih sulit menerima kalau aku sudah menyadari kalau jalan-Nya seperti bumi dan langit dengan jalanku.
“Oh lampu sudah hijau,” pikiranku segera memerintahkan tanganku memasukkan persneling satu dan kakiku untuk menekan kopling. Setelah melewati lampu merah, aku menoleh ke kanan, logo McDonald yang kuning terlihat lebih kuning dari biasanya. Aku menoleh ke kiri, kulihat proyek Banjir Kanal Timur yang biasa disebut BKT, masih begitu-begitu saja, hari demi hari.
Aku segera memacu mobil hingga kecepatan 50 km/jam, menyongsong rutinitas dan takdir yang harus kuhadapi dengan kreatif. Hidup ini terlalu mahal untuk disia-siakan hanya karena ‘perkara di luar kendali kita’. Semua orang punya jalan hidupnya sendiri. Dan aku akan tetap menyongsong hari, menikmati riak-riak dan lalu lalang kehidupan bersama Dia yang memberiku kekuatan.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait