Theological truth is useless until it is obeyed. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Chord

Brooke Fraser: Memadukan Iman dan Musik

Submitted by riel on 16/12/2008 – 6:50 AM | 783 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.60 out of 5)
Loading ... Loading ...

Brooke Fraser - Penyanyi dan Pencipta Lagu Kristen

Saat pertama kali mendengar suara khas Brooke Fraser di album Albertine yang dirilis Mei 2008 (Amerika), saya langsung penasaran siapa gerangan penyanyi perempuan cantik yang berbakat ini. Tak disangka, Brooke Fraser selama ini sudah cukup dikenal di antara para penggemar Hillsong United.

Sejak 2006, ‘diam-diam’ ia tumbuh dalam kelompok pujian dan penyembahan modern Hillsong dimulai dari lagu ciptaannya, “None but Jesus” di album United We Stand. Sejak itu, ia aktif terlibat dalam pelayanan Hillsong, berkeliling dunia dan menulis sejumlah lagu yang menggetarkan jiwa seperti “Hosanna” dan “Lead Me to the Cross” dalam album All of the Above (2007) ; “Lord of Lords” dalam album Saviour King (2007) ; “You’ll Come” dalam album The I Heart Revolution: With Hearts as One (2008) ; “Desert Song” dalam album This Is Our God (2008).

Brooke Fraser - Penyanyi dan Pencipta Lagu KristenYang menarik, sebelum ia terlibat dalam pelayanan di Hillsong, Brooke Fraser sudah menjadi penyanyi dan pencipta lagu yang albumnya laris terjual dan terkenal di kota asalnya, New Zealand. Di New Zealand, ratusan ribu dari dua album pertamanya, What to Do with Daylight (2003) dan Albertine (2006), habis terjual. Album Albertine bahkan sudah dirilis di Amerika pada 2008.

Saya angkat topi atas talenta dari Tuhan yang Brooke gunakan demi kemuliaan-Nya. Ia bisa memadukan iman percayanya dengan sisi lain dari dirinya, penyanyi dan pencipta lagu. Sebagai seorang worship leader, Brooke menulis lagu-lagu yang ditujukan kepada Tuhan dengan cara yang artistik, penuh pengharapan dan introspektif. Lagu Shadowfeet dalam album Albertine misalnya, merupakan lagu yang kaya melodi. Dalam Shadowfeet, Tuhan dan surga digambarkan dengan kata-kata yang menginspirasi ala Nichole Nordeman, namun dengan sentuhan piano ala Sarah McLachlan.

Dari lagu-lagu berjudul “Hosea’s Wife,” “Hymn,” “C.S. Lewis Song,” and “Faithful,” tampak jelas bahwa motivasi Brooke Fraser menulis lagu berasal dari kecintaannya pada Tuhan. Brooke Fraser tahu bagaimana membuat lirik lagu yang bagus dan menyentuh dan menghindari terlalu banyak klise. Mungkin karena banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota di dunia, lagu-lagu yang ditulis Brooke Fraser juga sarat dengan kerinduan akan keadilan sosial dan kemanusiaan.

Albertine (2006), A Must Have Album

Brooke Fraser - Albertine (2006) at AmazonAda yang bilang suara dan lagu yang ia ciptakan mirip dengan Sarah McLachlan, Anna Nalick, Nichole Nordeman, Sara Groves, Jennifer Knapp, dan Rebecca St James. Namun, menurut saya, Brooke Fraser adalah Brooke Fraser yang mempunyai ciri khas tersendiri baik dari segi suara, musik dan syair yang ia ciptakan.

Lagu pertama dalam album Albertine berjudul Shadowfeet misalnya, akan membuat pendengar langsung terhibur dan dikuatkan. Dibuka dengan iringan piano dan suara Brooke Fraser yang khas, pendengar akan hanyut dan merenung betapa Tuhan membuat segala sesuatu menjadi baru. Coba nyanyikan chorusnya yang menguatkan: “when the world has fallen out from under me | I’ll be found in you, still standing | when the sky rolls up and mountains fall on their knees | when time and space are through | I’ll be found in you… (ketika dunia runtuh, aku akan tetap ada di dalam-Mu, tetap berdiri | ketika langit bergulung dan gunung-gunung bersujud | ketika ruang dan waktu terlewati | aku akan tetap ada di dalam-Mu…)

Lagu kemudian disambung dengan ‘Deciphering Me’ yang dibuka dengan iringan gitar akustik dan dentuman drum yang asyik. Pada awalnya agak sulit memahami syair lagu ini karena sarat dengan metafora. Namun pada intinya lagu ini menceritakan tentang hidup yang penuh dengan misteri. Ketika kita mengijinkan Tuhan masuk dalam hidup kita, Ia akan menunjukkan kebenaran dan jalan yang harus kita tempuh (It’s truth, it’s truth that shows us If we’ll walk in it’s (his) light). Suara-Nya memanggil agar kita kembali kepada-Nya. Tidakkah engkau melihat bintang-bintang di langit berjatuhan untuk menunjukkan bahwa hidup kita milik Seseorang? (Oh can you feel the gravity falling, calling us home? Oh, did you see the stars colliding, shining just to show we belong?).

Bagi mereka yang menantikan pasangan hidup merasakan betapa cinta itu sabar menunggu, lagu berjudul ‘Love is Waiting’ akan menginspirasi. Coba dengarkan chorus-nya: I’ll be waiting for you baby | I’ll be holding back the darkest night | Love is waiting til we’re ready, til it’s right | Love is waiting. Lalu bridge-nya: I could write a million songs about the way you say my name | I could live a lifetime with you and then do it all again | And like I can’t force the sun to rise or hasten summer’s start, | neither should I rush my way into your heart.

Ada pula lagu berjudul Albertine yang dipersembahkan untuk Rwanda yang dilanda peperangan dan kemiskinan (I am on a plane across a distant sea | But I carry you in me | and the dust on, the dust on, the dust on my feet | Rwanda). Lagu CS Lewis Song bercerita tentang hidup kita di dunia hanya sementara. Kita berjuang dan menang melawan keinginan dunia agar kita layak mendapat tempat di sisi-Nya (If the flesh that I fight is at best only light and momentary | then of course I’ll feel nude when to where I’m destined I’m compared). Kita diciptakan untuk-Nya. Dialah harapan kita dan Harapan itu akan datang kembali menjemput kita (I was made to live, I was made to love, I was made to know you | Hope is coming for me | Hope, He’s coming).

Lagu-lagu lainnya seperti Faithful , Seeds, Hosea’s Wife, The Thief dan Hymn juga menghibur, menginspirasi dan menguatkan iman kita. Boleh dibilang, semua lagu dalam album Albertine worth listening dan worth to buy.

Bagi para pendengar, lagu-lagu Brooke Fraser condong easy listening, sarat iringan gitar akustik dengan paduan musik alternatif kontemporer. Syair-syair lagunya tidak jauh dari keseharian, maknanya jauh lebih luas dari sekadar lirik-lirik lagu gereja standar dan menggambarkan kedalaman dan kedewasaannya melebihi usianya. Yang terpenting dan menjadi ciri khasnya, lagu-lagu yang dibuat Brooke Fraser merupakan perpaduan antara iman dan seni. Itulah mengapa, album Albertine bukan hanya album yang luar biasa, tetapi juga salah satu album terbaik yang pernah dirilis.

What To Do With Daylight (2003)

Brooke Fraser - What To Do With Daylight (2003) at AmazonAlbum ‘What To Do With Daylight’ diproduseri oleh Brady Blade, yang juga ada di balik kesukesan EmmyLou Harris, Steve Earle, Jewel dan Indigo Girls. Brooke menulis sebelas lagu dalam album ini dan ikut memainkan alat musik di setiap lagu. Lagu-lagu dalam album ini bernafaskan pencarian dan pengakuan jiwa, optimisme dan sukacita yang menggambarkan berbagai sisi dari kepribadian Brooke – seorang perempuan muda yang sudah bergabung dengan World Vision selama dua tahun dan mengunjungi beberapa negara dalam kegiatan kemanusiaan.
Lagu pertama berjudul Better meledak dan mencapai puncak tangga lagu, disusul lagu Lifeline yang mendapat posisi #3. Better sempat bertengger di posisi #1 selama 40 minggu. Penjualan albumnya sendiri mendapat tujuh platinum dan mengganjar Brooke enam nominasi New Zealand Music Award. (Ditulis oleh UnitedFool.com)

Referensi

Bagi kamu yang rindu terlibat dalam pelayanan di dunia musik khususnya kaum perempuan, saya menyarankan Sobat UF menelusuri lebih jauh kiprah Brooke Fraser selama ini di situs-situs berikut ini:

Please support Brooke Fraser and buy her albums at Amazon:

MP3 Download

Bagi yang pengen dengar contoh lagunya sebelum membeli, silakan download dua MP3-nya di sini.

Download MP3 Here: Shadowfeet and Deciphering Me (High Quality: 320 Kbps | 16,5 MB)

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

2 Comments »

  • samuel says:

    iya bener, saya juga tau nya brooke pertama kali dari hillsong..abis itu tertarik ama suara nya yang khas dan bagus. Mulai tertarik, saya denger deh lagu – lagu album solonya….wah, saya langsung memproklamirkan jadi fansnya!! wkwk…

    Saya suka C.S. Lewis Song.
    Bisa bahas ga lagu itu sebenarnya tentang apa? “If I find in myself desires, nothing in this world can satisfy…” kayanya hasrat nya gitu dalam ya ama Tuhan. kenapa judulnya C.S. Lewis, apa dia kutip dari buku2 nya C.S. Lewis ato mungkin menggambarkan isi hati C.S. Lewis yang pertama kali nerima Tuhan Yesus jadi juruselamat, kita tahu kan C.S. Lewis itu awalnya atheis…soalnya saya juga penggemar karya-karya C.S. Lewis hoho…

  • cajey says:

    yeahh..
    gw jga udah dari awal ngikutin prkembangan
    musiknya brooke fraser, n ternyata kiprahnya
    dan lagu2 yg ia ciptakan smakin baik n ditrima
    oleh byak orang…
    maju trus brooke n ttep takut akn Tuhan….
    smoga di Indonesia muncul jgu musisi2 sperti Brooke
    yg memadukan iman n musik bgi generasi muda indonesia
    Gbu…..

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.