Kedua film ini memang sama-sama bercerita tentang anak-anak dan hewan-hewan yang mampu berbicara. Namun, bila ditelusuri lebih jauh, keduanya memiliki perbedaan yang mencolok.
Seorang anak gadis berusia 12 tahun bernama Lyra Belacqua melakukan perjalanan mendebarkan untuk menyelamatkan sahabatnya dari kaum The Gobbler. Dengan menggunakan kompas ajaibnya (kompas emas), Lyra melintasi dunia yang penuh fantasi. Lyra ditemani seekor tentara beruang kutub dan Pantalaimon (seekor daemon) yang bisa berubah wujud. Itulah sepenggal gambaran Film Golden Compass yang beredar awal Desember 2007.
Sedangkan dua tahun yang lalu di bulan yang sama, diputar sebuah film yang mengisahkan petualangan empat orang anak bersaudara di sebuah dunia lain, dunia Narnia. Di sana mereka bertemu dengan binatang-binatang buas yang dapat berbicara, manusia kerdil, manusia berbadan kuda, dan raksasa yang dikutuk menjadi es oleh seorang penyihir jahat bernama Jadis. Di bawah bimbingan seekor singa sakti bernama Aslan yang rela memberikan nyawanya demi penduduk Narnia, mereka pun bersama-sama menumpas kekuatan jahat Penyihir Putih Jadis. The Chronicles of Narnia judul film ini.
Menurut sejumlah kalangan, kedua film ini menyajikan ‘spirit’ yang bertolak belakang ibarat langit dan bumi. Baik itu dari segi pengarangnya, latar belakang, dan maksud pembuatannya. Sebenarnya, Golden Compass dan The Chronicles of Narnia diadaptasi dari novel yang sudah laris di mana-mana. Film Golden Compass yang dibintangi Nicole Kidman dan Daniel Craig, merupakan adaptasi dari novel laris, Northern Lights (Golden Compass di Amerika), karya Phillip Pullman. Sang pengarang mengaku seorang ateis dan agnostik, yang tidak percaya pada agama dan Tuhan. Northern Lights sendiri merupakan jilid pertama dari novel trilogi karya Pullman, His Dark Materials, yang sukses memenangkan berbagai penghargaan di dunia sastra.
Sedangkan The Chronicles of Narnia diadaptasi dari buku karangan penulis Kristen kelahiran Inggris, CS Lewis. Meski karya-karyanya berbentuk cerita atau novel namun sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan gambaran iman Kristen. Awalnya CS Lewis sama seperti Phillip Pullman yang ateis. Namun justru ketika ia berada pada pencapaian hidup paling tinggi termasuk menjadi profesor Bahasa Inggris Abad Pertengahan dan Renaisans di Cambridge University, Lewis memilih percaya akan adanya Tuhan.
Kedua film (buku) ini menjadi topik pembicaraan menarik karena pendapat yang dilontarkan oleh Pullman sendiri. Sebagai seorang ateis yang militan dan seorang humanis yang sekuler yang menentang CS Lewis dan karyanya “Chronicles of Narnia”, Pullman menyatakan motivasinya untuk menulis tiga seri novel His Dark Materials terutama untuk menandingi perlambangan Kristus yang digambarkan Lewis dalam serial Narnia, yang disebut Pullman sebagai ‘propaganda agama’ melalui buku anak-anak. Di sisi lain, Northern Lights disebut-sebut sebagai “ateisme bagi anak-anak”.
Jalan hidup yang dipilih Pullman memang tidak tanggung-tanggung. Pullman pun memberikan jawaban khusus perihal keyakinannya. “Saya sungguh tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak. Tak seorang pun tahu atau dapat membuktikan. Saya pikir hal yang normal jika menjelaskan tentang asal dunia ini tanpa melibatkan Tuhan, tetapi saya bukan maha tahu, dan mungkin saja ada Tuhan, sedang bersembunyi. Jika dia tidak menampakkan diri-Nya mungkin dia malu akan pengikut-Nya yang melakukan kejahatan, kekejaman dalam mempromosikan nama-Nya. Jika saya sebagai Tuhan, saya akan menolak mereka.” Itulah sebabnya, Pullman memilih menggunakan perbendaharaan kata seperti gereja atau pendeta sinonim dengan penjahat dan Allah sebagai polisi yang tirani.
Dalam sebuah wawancara tahun 2003 tanpa ragu Pullman juga mengatakan bahwa “buku-buku saya adalah mengenai pembunuhan Allah”. Pulman juga mengatakan bahwa ia adalah “penulis yang sangat paling akan didoakan oleh para ateis apabila mereka berdoa”, “Saya mencoba menggoyahkan dasar agama Kristen”, dan ingin “membunuh Allah dalam pikiran anak-anak”.
Militanisme Pullman akan ateisme tidak terlalu tampak dalam film Golden Compass karena sudah disensor agar kelihatan lebih komersial dan tidak menyinggung siapa pun. Contoh konten yang diedit oleh sutradara Chris Weitz adalah organisasi jahat yang di novel disebut gereja. Di film, istilah itu diganti dengan Magisterium. Istilah ini juga menuai kritik karena istilah tersebut merupakan istilah dalam agama Katolik. Magisterium ini kerap menculik anak-anak yatim piatu di seluruh Inggris dan mengirim mereka ke tanah tak bertuan di daerah utara. Di sana, anak-anak itu dijadikan bahan eksperimen mengerikan.
Keputusan penyensoran ini mungkin bijaksana mengingat buku-buku (novel) yang dikarang Pullman memang sarat dengan analogi yang mengundang kontroversi agama. Dalam buku pertama dari trilogi itu, seorang gadis bernama Lyra Belacqua, yang disebut sebagai Hawa jaman baru (new age Eve) terjerumus masuk ke dalam perjuangan bersejarah yang akhirnya berhasil mengalahkan kekuatan Allah yang pikun. Tokoh lain adalah tumpangan Lyra, beruang polar dan malaikat homo. Sedangkan buku-buku jilid kedua dan ketiga karya Pullman justru lebih vulgar dalam menyatakan kritik sang pengarang terhadap agama. Dalam buku itu, salah satu karakternya, seorang mantan biarawati, mengatakan, “Agama Kristen merupakan sebuah kesalahan yang sangat kuat dan meyakinkan.”
Sosok dan karya Pullman ini tentu mengundang protes. Pengarang Katolik, Sandra Miesel bahkan punya pendapat unik soal trilogi karya Pullman ini. Ia menyebut novel Pullman anti-Narnia. Miesel yang sedang membantu penulisan buku Pied Piper of Atheism: Philip Pullman and Children’s Fantasy yang akan segera dirilis, mempunyai sejumlah keluhan. Ia melihat dalam buku Pullman, digambarkan setiap pendeta itu jahat. Kemudian, setan-setan umumnya digambarkan dalam bentuk ular atau kodok. Berlawanan dengan ajaran agama yang percaya pada adanya surga dan neraka, Pullman mendeskripsikan kehidupan setelah mati sebagai tubuh yang terpecah menjadi partikel-partikel, untuk kemudian didaur ulang ke dunia kembali.
Namun, Miesel menolak jika harus melancarkan protes. “Protes hanya memberikan film dan novel tersebut publisitas tambahan. Saya hanya menyarankan, jika kamu melihat isi materi itu, kamu mungkin akan berpendapat bahwa lebih disarankan untuk tinggal di rumah ketimbang menonton film tersebut atau membaca novelnya. Juga, lebih baik menonton film lain dan membaca buku yang benar-benar bagus,” jelasnya.
Kritikus lain juga ikut tampil dalam blog-blog dan situs evangelis. Adam Holz dari Focus on the Family, menulis pada situs organisasi Kristiani, Plugged In. Di situ, ia menyebut buku-buku karya Pullman dan film Golden Compass sebagai “sebuah langkah penuh strategi untuk memaksakan kepercayaan anti Tuhan yang dimilikinya kepada para pembaca dan penontonnya.” Yang lebih jahat lagi, menurut Holz dalam sebuah wawancara dengan Associated Press, adalah Pullman menujukan karyanya kepada anak-anak. Ini membuatnya sangat jauh berbeda dengan The Da Vinci Code, yang juga memicu kontroversi di kalangan pemeluk Kristen.
Tanggapan yang bersifat ‘membela’ juga datang dari beberapa kalangan. Nicole Kidman, yang memerankan Mrs Coulter (karakter jahat) membantah adanya pelecehan ajaran agama. “Saya dibesarkan di tengah keluarga yang taat beragama dan tidak ditemukan adanya sindiran terhadap agama tertentu. Saya tidak akan bermain untuk film ini apabila saya melihat adanya alur cerita yang menentang ajaran agama saya,” ungkap Kidman yang mengaku sebagai seorang Katolik.
Begitu pula dengan asisten produser Golden Compass, Deborah Forte, yang mengatakan bahwa dalam 12 tahun berhubungan dengan film dan buku-buku karya Pullman, tak sekalipun para pembacanya yang berusia belia menyebutkan masalah agama kepadanya. Menurutnya, anak-anak hanya menyukai cerita dan karakter-karakternya saja. The U.S. Conference of Catholic Bishops’ Office for Film and Broadcasting pun berpendapat senada. Mereka menilai film Golden Compass tidak menunjukkan sikap anti Katolik secara transparan, namun sebuah penolakan secara umum terhadap tirani. Mereka juga menilai inti ceritanya berisikan “semangat perlawanan dan sikap individualisme” karena Lyra dan teman-temannya mempertahankan kebebasan berpendapat, berlawanan dengan kekuatan dari Magisterium “sesuai dengan ajaran-ajaran Katolik.”
Meski dinilai sarat dengan kontroversi, Northern Lights membawa Pullman, cucu dari seorang pendeta gereja Anglikan ini menjadi penerima Carnegie Medal untuk fiksi anak-anak di Inggris pada 1995. Sementara volume terakhir dari trilogi karyanya, The Amber Spyglass merupakan novel anak-anak pertama yang menjadi penerima penghargaan bergengsi, British Whitbread Book of the Year di tahun 2002. Deretan penghargaan dan sukses inilah yang membuat studio New Line rela mengucurkan anggaran sebesar 180 juta dolar untuk membuat versi filmnya.
Tampaknya, buku Pullman akan bernasib sama seperti buku kontroversi “Da Vinci Code” yang juga mengundang protes. Semakin diprotes dan ditentang, buku itu makin membuat banyak orang penasaran dan ingin membacanya, hingga penjualan makin melambung. Sang penulis pun akan tersenyum karena bukunya yang sukses di pasaran membuatnya bertambah makmur.
UnitedFool.com (diolah dari berbagai sumber).
Popularity: 4% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.