« « Selah: Greatest Hymns       |       Mengenal Investasi Reksa Dana » »

Kota Jakarta Dikepung Banjir

Dalam foto tampak tiga orang tukang ojek sedang berdiri di mulut gang menuju rumah yang terletak di ujung depan. ‘Mul’, tukang ojek yang sering mengantar saya ini terlihat melambaikan tangannya.

Banjir yang melanda Jakarta di awal Februari 2002 seakan berulang kembali. Namun, banjir tahun 2007 ini yang melanda hampir 60% seluruh wilayah di Jakarta lebih ganas. Bila banjir 2002 lalu hanya menggenangi rumah keluarga saya di kawasan Bukit Duri Tanjakan setinggi 1 m (berpatokan pada ketinggian air saat berdiri di jalan gang di depan rumah), banjir tahun ini sudah mencapai ketinggian kurang lebih 3,5 m. Jangan heran dengan ketinggian banjir ini karena kebetulan letak rumah hanya sekitar 100 m dari pinggir sungai Ciliwung.

Tadi pagi saya melihat air sudah meluber hingga Jalan Bukit Duri Tanjakan setinggi 1 m menyeberang menggenangi rumah-rumah di gang-gang yang tidak terpikir akan dilanda banjir. Apabila kita berjalan mengarah ke SMA 8 yang letaknya lebih rendah, ketinggian air cukup membuat orang bule setinggi 2 m pun tenggelam.

Selain mengepung Jakarta, banjir juga menggenangi daerah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Di wilayah itu, ketinggian air bahkan ada yang mencapai 2,5 meter. Seorang rekan kerja yang tinggal di daerah Ciledug mengaku sudah pindah ke rumah mertuanya sejak Jumat (2/2). Ia mengatakan banjir yang melanda rumahnya benar-benar hebat menenggelamkan rumahnya hingga ke atap. Akibat banjir, sejak Jumat kemarin, aktivitas kantor terhenti. Sebagian rekan kerja sibuk mengevakuasi barang-barangnya, sebagian lagi terpaksa pulang lagi karena terjebak macet yang parah. Ada juga yang berhasil sampai ke kantor, itupun setelah berjam-jam dengan penuh kesabaran duduk dalam angkot yang berjejer antri berusaha menembus banjir.

Banjir kali ini agak di luar dugaan saya terutama dalam hal ketinggian. Saya khawatir sebagian buku dan dokumen kantor ikut tenggelam padahal sudah diletakkan di rak-rak yang disusun sedemikian rupa agar tidak terkena air seandainya sungai meluap. Mau tidak mau, sepeda yang sering mengantar saya ke kantor, sebagian kursi dan lemari, alat olahraga dan sebagian barang pecah belah/keramik, rusak karena banjir. Saya belum tahu pasti sejauh mana tingkat kerugian yang terjadi karena banjir hingga sore ini, pukul 18.00 belum juga surut. Sejak kemarin malam, saya dan keluarga mengungsi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

Sungguh sangat memprihatinkan..Marilah kita menggalang dana untuk mengatasi bencana di Indonesia…^^

waduh..emank parah neh Indonesia..parah abiess..warga-warganya tuh, uda ga ada yang sadar lagi tentang apa artinya kebersihan..jadi ya, gini deh… banjir di mana-mana… palagi sekarang lagi marak-maraknya gobal warming.. berjaga-jagalah Indonesiaa…

Leave a comment

(required)

(required)