
Melihat blog seorang teman, muncullah ide untuk menulis seputar cinta dan berpacaran.
Sebelum kita mengulas soal memilih pasangan hidup, marilah kita mengulas tentang cinta.
Ada banyak tipe/model berpacaran. Kadang kita melihat orang-orang yang suka ganti-ganti pacar atau seseorang yang terlalu mengikat pacarnya atau bahkan yang terlalu bergantung dengan pacarnya, ataupun tipe-tipe berpacaran yang lainnya.
Saya sempat berpikir. Katanya cinta tidak selalu berarti memiliki. Katanya cinta sejati itu selalu menyayangi dan ingin memberikan yang terbaik. Lalu kenapa ada yang suka ganti-ganti pacar? Lalu kenapa ada yang bilang bosan? Kenapa ada yang terlalu mengikat, terlalu bergantung, dan sebagainya?
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemudian muncullah serentetan kemungkinan-kemungkinan yang ada di pikiran saya. Contoh: Mungkin seseorang (sebut saja A) yang kurang kasih sayang dan perhatian merasa mendapatkan kasih sayang dari sang pacar (B), dan dia takut kehilangan sehingga dia terlalu mengikat sang pacar atau terlalu bergantung pada sang pacar. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah,”Apakah dia takut kehilangan sang pacar karena cinta atau karena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari sang pacar?”. Begitu pula dengan sang pacar. “Apakah dia benar-benar mencintai si A atau karena dia mencintai rasa/perasaan dibutuhkan?”. Andai kata kebutuhan itu tidak terpenuhi (contoh: terpisahkan oleh jarak), apa yang akan terjadi?
Ada juga orang yang merasa kurang kasih sayang dan perhatian lalu reaksinya adalah ganti-ganti pacar. Mungkinkah karena dia merasa tidak bisa hidup tanpa perhatian sehingga saat sang pacar tidak di sisi, dia mencari perhatian dari yang lain?
Masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain, seperti:
Mungkin seseorang tidak menemukan keamanan di rumah dan dia merasa aman dengan sang pacar.
Mungkin seseorang selalu merasa kurang percaya diri dan mendapat dukungan dari sang pacar yang membuat dia lebih percaya diri.
Mungkin dia hanya ingin diperhatikan atau dimanja atau bahkan mungkin karena gengsi dan kebanggaan, dll.
Satu hal yang ingin saya tekankan disini adalah, pada saat kita merasa mencintai seseorang, coba kita renungkan kembali apakah kita benar-benar mencintai orang tersebut atau kita mencintai diri kita sendiri?
Bila kita melarang si dia untuk melakukan sesuatu, apakah itu untuk kebaikan si dia ataukah untuk kebaikan dan keamanan (feel secure) kita (ego kita)?
Bukankah kalau kita mencintai si dia seharusnya kita menginginkan yang terbaik untuknya, menerima dirinya apa adanya dan mendukungnya berkembang dan bertumbuh untuk menjadi lebih baik sesuai dengan bakat(talenta) dan personaliti dia?
Tambahan:
Hal ini juga bisa diterapkan untuk hal-hal lain seperti saat kita memberikan sesuatu untuk orang lain, apakah motivasi kita? Apakah kita tulus ingin memberi dan menunjukan kasih? atau kita ingin dipuji, dianggap special, dan diterima oleh si penerima?
Saat kita belajar keras, apa motivasi kita? Apakah untuk menambah ilmu kita? Ataukah untuk status agar dipuji orang sebagai orang pintar? ataukah supaya mendapat pengakuan/perhatian dari orang tua ataupun orang lain?
Mulai sekarang, marilah kita mulai mengambil waktu sejenak untuk merenungkan motivasi-motivasi dari setiap tindakan kita.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.