Hubungan Ibadah dan Korban
Imamat 16, 24; Markus 14:3-9
Ibadah atau beribadah adalah hal yang sangat umum dan sangat berkaitan erat dengan hidup kita keseharian. Yang kita maknakan dengan ibadah bukan hanya berkaitan dengan apa yang kelihatan dari luar, misalnya berbondong-bandong orang mengunjungi gedung gereja pada setiap hari Minggu.
Ibadah juga bukan hanya berkaitan dengan sebuah ritual disaat orang berkumpul lalu bernyanyi, berdoa, persembahan, mendengar kotbah.
Nilai sebuah ibadah tidaklah terletak pada ritual dan rutinitas dari orang-orang yang melakukannya. Tapi ibadah menjadi bermakna kepada apa yang mendasarinya.
Oleh karena itu bahasan kita kali ini hendak mendalami beberapa hal mengenai ibadah Kristiani antara lain:
1. Pengertian
Berdasarkan dua asal katanya, yaitu kata avoda (bhs Ibrani) / latreia (bhs Yunani), yang berarti pelayanan serta kata hisytokhawa (bhs Ibrani) / proskuneo (bhs. Yunani), yang berarti tiarap atau bertiarap, dalam Alkitab diterjemahkan dengan: sujud menyembah / tersungkur. Maka contoh ibadah yang sejati adalah apa yang menjadi perikop kita hari ini, yaitu pelayanan Harun dan penyembahan Maria.
2. Apa yang menjadi dasar ibadah
Dalam ibadah Israel selalu didasarkan kepada ikatan perjanjian Tuhan dan umatNya. Ikatan Perjanjian tersebut selalu ditandai dengan adanya korban
(Imamat. 19, 24). Mulai sejak kejatuhan manusia janji Allah terhadap umatNya selalu ditandai dengan hal tersebut. Begitu juga ketika zaman gereja Allah melakukan hal yang sama dengan umat Kristen. Ada sebuah ikatan perjanjian yang Allah lakukan berdasarkan inisiatif dan atas namaNya sendiri.
3. Apa sebenarnya tujuan ibadah dan apa yang sedang terjadi selama sebuah ibadah berlangsung?
Ada dua, yaitu pengudusan dan pemuliaan
Hal pertama terjadi sekarang (present), terus menerus (progresif), dan akan datang (future). (1 Tim 4:8; 6:6). Dan itu membutuhkan sebuah ketaatan
Seorang teolog Matthew Henry berkata “sacrifice, without obedience, is a jest, an affront and provocation to God” (korban, tanpa ketaatan, adalah suatu olok-olok, suatu penghinaan dan provokasi pada Tuhan). Lihat kisah zaman Amos (Yesaya. 1:10-20)
Sedangkan yang kedua seperti apa yang Maria lakukan sebuah penyataan ucapan syukur dalam bentuk penyembahannya kepada Tuhan. Bagian kedua ini membutuhkan tiga hal:
- berfokus pada Kristus
- menyatakan kasih
- menggunakan semua kemampuan
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Maz. 15:16)
Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. (Hosea 6:6)
JBU
*(Disadur dari bahan kotbah penulis-minggu, 30 juli 2006)
Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.





Comments
No comments yet.
Leave a comment