« « Mengungkap "The Da Vinci Code" (3)       |       Percantik Layar Today Pocket PC Anda » »

Mengungkap "The Da Vinci Code" (4)

Hujatan Itu Bukan Hal Baru

“Bukti” kedua yang ia gunakan adalah pendapatnya bahwa dalam kepantasan sosial pada zaman Yesus Kristus, seorang lelaki Yahudi terlarang tidak menikah. Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak menikah adalah hal terkutuk. Jelas pernyataan ini tidak berdasar. Sebab merupakan fakta sejarah ada banyak pria Yahudi pada zaman itu yang menjadi nazir, yang karena alasan keyakinan keagamaan ada di antara mereka yang tidak menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes yang menyimpan gulungan kitab Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu merupakan suatu fakta pula bahwa orang Yahudi sangat menghormati tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah, seperti Daniel, yang adalah seorang sida-sida Yahudi di negara Babilonia.

“Bukti” ketiga yang ia gunakan adalah Injil Philip yang menyebutkan bahwa Yesus mencintai Maria Magdalena lebih dari pada seluruh murid-Nya dan Yesus sering mencium Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut sebagai Injil Philip sesungguhnya sama sekali bukan kitab Injil, melainkan sebuah kitab Gnostik yang ditulis sekitar abad ketiga. Kitab ini disebut sebagai Injil Philip bukan karena ia ditulis Rasul Filipus, tetapi karena di dalam kitab Gnostik tersebut tidak disinggung nama rasul-rasul Tuhan Yesus yang lain, kecuali nama Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak menyebutkan bahwa Injil Philip yang ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi tersebut tidak ditulis di dalam bahasa Yunani ataupun berlatar belakang bahasa Yunani sebagaimana layaknya kitab-kitab Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa Koptik, yaitu bahasa Mesir dan dengan latar belakang bahasa Siria.

Kesimpulan

Sejak gereja berdiri dua ribu tahun lalu, serangan terhadap pokok-pokok iman Kristiani tidak pernah berhenti. Serangan tersebut berasal dari kelompok bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari orang-orang yang tidak mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia. Jadi, hujatan dalam buku The Da Vinci Code bukan hal baru. Hanya saja kali ini hujatan ini menjadi meluas karena ditunjang sistem promosi dan pemasaran yang sangat canggih, yang mendatangkan keuntungan finansial luar biasa bagi pihak penulis dan penerbit buku ini. Di samping itu, karena di wilayah-wilayah tertentu di dunia buku ini dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang juga tidak menginginkan terbangunnya kerukunan umat beragama di tengah masyarakat.

Mengapa orang Kristen tidak menanggapi hujatan di dalam buku The Da Vinci Code dengan amarah yang membabi-buta dan berbuat keonaran? Hal ini bukan karena mayoritas orang Kristen terdidik mengetahui Yesus memang seorang manusia yang karena manuver politik Konstantin telah dijadikan Tuhan, sehingga mereka tidak mampu menjawab hujatan tersebut (seperti dikatakan Dan Brown di dalam bukunya). Justru sebaliknya, bagi orang Kristen yang berpikir objektif, kritis, dan memahami metoda ilmiah yang masuk nalar, serta mengetahui sejarah iman mereka, akan dapat melihat hujatan di dalam novel The Da Vinci Code tersebut sebagai fitnah murahan.

Di samping itu orang Kristen menghayati firman Tuhan bahwa ”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:17-18).

Perilaku kasih ini bukanlah tanda kelemahan, justru sebaliknya kemampuan untuk mengendalikan emosi secara dewasa merupakan bukti dari buah Roh (Galatia 5:22), di dalam kehidupan orang yang hidup di dalam anugerah Tuhan.

Di sisi yang lain, buku-buku seperti The Da Vinci Code harus membuat orang Kristen lebih giat lagi membaca dan mempelajari Alkitab, memahami pokok-pokok ajaran iman yang sehat, dan mempelajari sejarah gereja dengan baik. Dengan demikian mereka akan dapat “menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman, dan dalam ajaran sehat yang telah mereka ikuti selama ini.” (1Timotius 4:6), serta mampu menjawab setiap hujatan tersebut sesuai nasihat Firman Tuhan: “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1Petrus 3:15-16).

Rangkaian tulisan "Mengungkap ‘The Da Vinci Code’" ini adalah tulisan Pdt Dr Bambang Wijaya yang dimuat di Harian Sinar Harapan.

Sumber: Sinar Harapan, 17 Mei 2006


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

intinya jangan membaca atau menonton The Da Vinci Code sebelum anda selesai membaca Alkitab dan hidup didalamnya.

FAKTANYA TIDAK BEGITU, SAYA SETUJU DENGAN PENDAPAT JIMMIE”JANGAN MEMBACAATAU MENONTON THE DA VINCI CODE SEBELUM SELESAI MEMBACA ALKITAB.DENGAN BEGITU KITA TIDAK AKAN TERPENGARUH…….!!!! INGATLAH……!!!!!!!!!!!!

Bukti nya banyak di Alkitab.untuk apa kita percaya apa yg di katakan dunia tp percayalah apa yg tertulis di dlm Alkitab yg di Ilhamkan Allah kpd kita.Ok God blesss

eHm…MNrT saya mendingan gak usah nonton n baca buk-nya sama sekali
lgan jg itu akN mebingungkan pikiran kT

Leave a comment

(required)

(required)