« « Mengungkap ”The Da Vinci Code” (1)       |       Mengungkap "The Da Vinci Code" (3) » »

Mengungkap "The Da Vinci Code" (2)

Ketika Fakta Diramu dengan Fiksi

HURUF V merupakan simbol cawan yang juga simbol seorang perempuan. Leonardo memakai cawan suci sebagai kode untuk memberitahukan Yesus menikah dengan orang yang duduk di sebelah kanan-Nya, yaitu Maria Magdalena. Lukisan itu juga ingin memberitahukan betapa bencinya rasul Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria telah dipercaya Yesus untuk memimpin gereja. Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh amarah dengan jari telunjuknya diarahkan ke leher Maria Magdalena.

Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik telah berkonspirasi menutupi fakta Yesus hanya manusia biasa, dan Vatikan mengetahui kebohongan ajaran kalau Yesus adalah Tuhan. Rahasia ini dijaga demi mempertahankan kekuasaan gereja.

Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa ternyata Teabing-lah tokoh kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, dan bahwa Sophie Neveu adalah keturunan Maria Magdalena dari perkawinannya dengan Yesus.

Indoktrinasi Dan Brown

Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, Dan Brown, menulis novelnya dengan sangat licin. Dia menjalin beberapa fakta dan fiksi, atau kisah khayal, sehingga orang awam yang tak paham sejarah gereja sulit membedakannya. Akibatnya pembaca buku tersebut dapat menganggap bagian-bagian fiksi sebagai fakta.

Pelbagai fakta yang disisipkan Dan Brown dalam novel fiksi ini, antara lain pertama, detail ruangan Museum Louvre, tempat kisah ini dimulai, dan detail Kapel Rosslyn di Skotlandia, yang dikisahkan sebagai tempat disimpannya cawan suci.

Kedua, penyelenggaraan Konsili Nicea atas permintaan Kaisar Konstantin, yang juga menetapkan para pengikut Arius yang tak mempercayai keilahian Yesus sebagai bidat.

Ketiga, kedangkalan kekristenan Kaisar Konstantin, sehingga misalkan ia hanya mau dibaptis menjelang saat ajalnya, dan diserapnya beberapa praktik agama kafir ke dalam kehidupan gereja, khususnya sejak Kaisar Konstantin mengeluarkan edik toleransi pada tahun 313. Edik toleransi ini memang pada satu sisi bersifat positif bagi orang Kristen karena penganiayaan terhadap mereka dihentikan, namun di sisi lain bersisi negatif sebab telah mengakibatkan gereja mengalami kemerosotan spiritual sehingga terjerumus ke dalam abad-abad kegelapan.

Keempat, Sebagian dari detail lukisan The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci yang terdapat pada dinding gereja Santa Maria delle Grazie di kota Milan, Italia.

Kelima, Serikat Priory of Sion dan Opus Dei yang memang ada dalam lingkup Gereja Katolik. Hanya saja lembaga-lembaga tersebut didirikan bukan untuk melakukan kegiatan rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.

Di luar fakta tersebut bagian yang lain dari buku tersebut hanyalah fiksi, yakni khayalan Dan Brown. Data yang dikemukakannya tidak akurat, tafsirannya melenceng dari fakta sesungguhnya. Namun karena gaya penyajiannya sangat meyakinkan, pembaca yang tidak menggunakan nalarnya secara kritis akan menganggap itu semua fakta yang benar. Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap dalam alur pikir Sophie, tokoh dalam novel ini, saat ia terpengaruh ceramah Leigh Teabing, yang sesungguhnya adalah indoktrinasi dari Dan Brown.

Sebaliknya, apabila ketidakakuratan dan tafsir yang melenceng tersebut diungkap, dan pada saat yang sama ditunjukkan bagian fiksi novel tersebut, dengan mudah pembaca yang berpikiran jernih dan objektif dapat menangkap kelicinan dan kesalahan pandangan Dan Brown, sekaligus akan melihat kebenaran pokok iman Kristiani.

Kebenaran Konsili Nicea?

Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar pada tahun 325, gereja pada zaman para rasul atau gereja mula-mula telah mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus tentang diri-Nya kepada para murid-Nya (lihat Injil Matius 16:13-20).

Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula ini dapat dilihat antara lain di dalam kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100). Kitab ini pada intinya mengajarkan praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas menuliskan Pokok Iman Kristiani, yakni Yesus adalah Tuhan. Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan Yustinus Martir, bapa gereja dan apologet terkemuka pada awal abad kedua, yang dua abad sebelum Konsili Nicea telah menegaskan keilahian Yesus Kristus.

Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus, dari Lungdunum, tokoh yang sangat terpandang pada awal abad kedua, yang mengacu kepada tulisan dalam 1 Korintus 8:6, yang berbunyi: “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus.”

Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan sama sekali bukanlah ide Kaisar Konstantin yang dalam agenda politiknya bermaksud menyatukan kaum kafir dengan pemeluk agama Kristen di negara Romawi, dengan mencampurkan ajaran kafir dan Kristen melalui Konsili Nicea.

Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan syahadat atau Pengakuan Iman Kristiani, namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah pemasukan ajaran baru yang bersumber dari ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani. Kredo yang dirumuskan itu merupakan penegasan inti ajaran Kristiani yang sudah ada tiga abad sebelumnya. Penegasan ini dinilai perlu karena pada masa itu muncul ajaran baru yang dikembangkan Arius, seorang teolog dari Aleksandria, Mesir, yang menyangkali keilahian Yesus.

Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia ciptakan, Teabing, berkata bahwa di dalam Konsili Nicea telah diadakan pemungutan suara, untuk menentukan apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa voting tersebut menghasilkan suara yang hampir seimbang di antara pendukung dan penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan. Dalam realita sejarah, saat dilakukan pemungutan suara, dari tiga ratus uskup yang hadir pada konsili tersebut hanya dua orang saja yang menentang rumusan Pengakuan Iman Nicea. Jadi sungguh jauh dari yang disebut Dan Brown sebagai suara hampir seimbang! Padahal sebagian besar dari para uskup yang hadir berasal dari wilayah Timur, tempat Arius menyebarkan ajarannya.(bersambung)

Sumber: Sinar Harapan, 16 Mei 2006


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)