Pengantar Redaksi:
Film The Da Vinci Code, yang merupakan versi layar lebar novel karya Dan Brown akan serentak diputar di seluruh dunia pada 19 Mei 2006, termasuk Indonesia. Novel itu memicu kontroversi karena dianggap memutarbalikan fakta yang dapat membingungkan, terutama bagi umat Kristiani. Terkait dengan itu redaksi menurunkan ulasan Pendeta Dr Ir Bambang Wijaya, Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia, mengenai novel dan film tersebut. Ulasan akan diturunkan bersambung dalam empat seri, mulai Senin (15/5).
THE Da Vinci Code adalah salah satu novel terlaris dekade ini. Sejak diterbitkan pada 2003, di seluruh dunia buku ini telah terjual lebih dari 40 juta eksemplar. Bila jumlah tersebut didistribusikan di seluruh Indonesia, sama dengan setiap rumah tangga memiliki sebuah buku tersebut.
Buku ini tentu dapat berdampak pada pola pikir masyarakat. Dampak yang diharapkan secara jelas dituliskan pada sampul depan edisi bahasa Indonesianya, yaitu “memukau nalar, mengguncang iman!” Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris tidak dicantumkan ini, dapat semakin besar dengan tayangan versi layar lebarnya, melalui film yang dibintangi Tom Hanks, aktor Hollywood yang sangat terkenal, dan diluncurkan serempak di seluruh dunia pada 19 Mei 2006 ini.
Hujatan terhadap Iman Kristiani
Buku ini memang diharapkan mengguncang iman. Novel yang edisi bahasa Indonesianya setebal 624 halaman ini terang-terangan menghujat pokok-pokok iman Kristiani. Berikut adalah hujatan tersebut yang merupakan pandangan si penulis.
Pertama, Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa. Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan, melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi kepentingan politiknya.
Kedua, Kitab Perjanjian Baru yang digunakan orang Kristen saat ini adalah himpunan dari kitab-kitab yang disusun Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea. Sedangkan kitab-kitab suci yang benar, yaitu yang digunakan para pengikut Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan putusan konsili tersebut, sebab berisikan “kebenaran” yang sesungguhnya, yaitu bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan.
Ketiga, Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki seorang putri. Maria terpaksa harus mengungsi ke Prancis, berlindung di antara masyarakat Yahudi dan melahirkan anaknya di sana. Hal ini antara lain dikarenakan rasul Petrus merasa cemburu sebab Maria Magdalena, sebagai seorang perempuan, telah dipilih Yesus untuk menjadi kepala gereja.
Untuk mengemukakan hujatannya tersebut sang penulis dengan sangat licin telah memadukan cerita-cerita khayalan atau fiksi, fakta-fakta sejarah, data yang tidak akurat dan tafsiran yang melenceng terhadap beberapa fakta sejarah, dan keyakinan teologisnya yang bersifat anti-Kristen.
Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di dalam sebuah tulisan yang rancak dan dengan setting cerita thriller yang menarik, menegangkan, serta penuh kejutan, dengan mudah orang terhanyut dalam alur cerita tanpa dapat membedakan fakta dan fiksi. Akibatnya, bagi yang tidak paham sejarah gereja dengan mudah akan terperangkap kedalam jerat keyakinan teologis sang penulis. Bahkan, orang dapat terbawa kepada ajaran sang penulis yang merupakan ajaran kafir, seperti memandang hubungan seks bebas sebagai sarana untuk berhubungan dengan Tuhan.
Ringkasan Plot Cerita
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap Jacques Sauniere. Dia adalah kurator Museum Louvre, di Paris. Pembunuhan dilakukan Silas, seorang biarawan berkulit albino, demi mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, karena di situ termuat informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail), yaitu cawan yang digunakan Yesus dalam perjamuan kudus terakhir bersama para murid-Nya. Sebelum meninggal, Jacques Sauniere sempat memberi petunjuk sandi yang mengakibatkan Robert Langdon, ahli ilmu simbol dari Universitas Harvard, ikut terlibat dalam kasus ini.
Robert Landon lalu bekerja sama dengan Sophie Neveu, ahli ilmu sandi pemerintah Prancis, yang juga cucu perempuan Jacques Sauniere. Dalam upaya ini, keduanya terus diburu Kapten Bezu Fache, anggota reserse kriminal Prancis, dan Silas. Kapten Bezu ingin mengungkap kasus pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi pemimpin Opus Dei, sebuah organisasi rahasia Gereja Katolik, demi menyelamatkan Gereja Katolik.
Di tengah cerita, Robert Landon dan Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus. Teabing memaparkan berbagai “rahasia gereja”, di antaranya Yesus hanyalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena. Sehingga demi kepentingan politiknya Kaisar Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai Tuhan melalui sebuah konsili (sidang gereja) di kota Nicea pada tahun 325. Dalam konsili tersebut diputuskan semua “kitab suci yang benar”, yang menyatakan Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar. Sedangkan para “pengikut Yesus yang asli”, yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat, dan harus dimusnahkan.
Lebih jauh Teabing menjelaskan Leonardo da Vinci, yang adalah anggota serikat rahasia Priory of Sion, mengetahui rahasia pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini menjaga rahasia itu. Namun Leonardo da Vinci membocorkannya melalui lukisannya yang sangat terkenal, The Last Supper (Perjamuan Malam yang Terakhir) yang melukiskan suasana perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap. Lukisan tersebut menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan Maria Magdalena adalah istri Yesus.
Kode-kode tersebut di antaranya: tidak adanya gambar Cawan Suci pada lukisan tersebut. Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus, sesungguhnya adalah gambar Maria Magdalena, bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus dengan Maria Magdalena di dalam lukisan tersebut membentuk huruf V, supaya orang yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan menangkap kode huruf V ini, dan mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah Sang Cawan Suci yang mereka cari. (bersambung)
Sumber: Sinar Harapan, 15 Mei 2006
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait