Jakarta — Pantai Carnaval Ancol penuh sesak Jumat malam (24/3) itu. Tak kurang 700.000 umat Kristiani dari berbagai pelosok nusantara menyemut sampai keluar pagar batas. Semua hadir untuk satukan hati, memanjatkan doa kepada Tuhan untuk kebangkitan dan pemulihan bangsa Indonesia. Mereka datang ke Jakarta dengan biaya sendiri semenjak beberapa hari lalu. Sudah sejak jam 13.00 siang, orang mulai memadati kawasan Pekan Raya Jakarta (PRJ) sampai ke Pantai Carnaval. “Hanya satu yang kami pinta ya Tuhan Yesus, selamatkan dan pulihkan Bangsa kami,” seorang ibu tua lusuh melipat tangan sambil berucap pelan. Puji-pujian penyembahan kepada Tuhan sudah dimulai semenjak sore. Umat bernyanyi bersorak ke langit, seperti melihat tingkap-tingkap langit yang terbuka dan ribuan malaekat yang ikut bernyanyi dan menari.
Langit malam itu cerah. Gubernur DKI Jakarta , Sutijoso naik ke panggung dan membuka dengan berseru panjang, “Shalooom!” yang disambut panjang seluruh umat Kristiani dengan gegap gempita. “Atas nama pemerintah Indonesia, khususnya Daerah Khusus Ibu Kota, saya berterima kasih karena umat nasrani, dalam keadaan apapun, tidak pernah berhenti mendoakan bangsa ini. Mari kita berdoa pada Tuhan kita, memohon ampun untuk semua kesalahan yang pernah kita buat, agar Tuhan mau melindungi bangsa ini dari berbagai bencana alam dan penyakit dan kesulitan lainnya.”
Sutiyoso membuka sambutannya malam itu, setelah beberapa sambutan dari beberapa pimpinan gereja dari aras nasional. Setelah terdiam sejenak Gubernur DKI Jakarta melanjutkan. “Kita adalah anak-anak bangsa, mari kita jaga negara dan bangsa kita. Kita juga berdoa agar kita dipulihkan dan bersama kita bangkit dari semua masalah yang selama ini kita hadapi. Saya akan berupaya sebisa saya untuk membantu menjaga keamanan acara ini.” “Walaupun kita berbeda-beda etnis dan agama, tapi kita satu bangsa. Saya bangga dengan dipilihnya Jakarta terutama Ancol sebagai tempat berkumpulnya umat Kristiani untuk berdoa. Biarlah berkat Tuhan bagi bangsa Indonesia dimulai dari tempat ini, “ tegasnya.
“Selamat datang dan terima kasih khususnya untuk pendeta Benny Hinn yang mau mengunjungi dan mendoakan Indonesia,” tegas Sutijoso dengan nada sedikit bergetar. Sekilas setelah ia menutup sambutannya, Benny Hinn menyambut dan merangkul Gubernur DKI dengan penuh kasih dan hikmat. Malam itu langit terang, hanya segumpal awan kecil membentuk tangan di atas Ancol.
Percayalah!
Pria dengan baju putih, di atas panggung luas itu bernama Benny Hinn. Dengan sepenuh hatinya ia meminta umat untuk menaikkan pujian penyembah, “Kami Memuji Kebesaran-Mu”. Benny Hinn menyampaikan pesan seperti yang sudah sering disampaikan banyak pendeta dan orang-orang percaya. “Bangsa ini ada di hati Tuhan dan Ia mengasihi bangsa ini. Percayalah bahwa Dia akan memulihkan bangsa ini, lewat orang-orang yang dipulihkan Iman dan kekuatannya. Bangkitlah Indonesia, engkau telah dipulihkan!” tegasnya.
Pesan sederhananya itu seperti merasuk di jiwa semua orang yang hadir. Air mata menetes merasakan lawatan Tuhan malam itu. Benny Hinn meminta umat berdiri dan menyanyikan Indonesia Raya. “Percayalah bangsa ini akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di dunia. Yesus tidak akan pernah meninggalkan rencananya terhadap bangsa ini. Jangan kamu takut!” Benny memastikan.
Kesembuhan
Malam itu juga, lawatan Roh Kudus nyata. Ratusan kesembuhan terjadi di sana-sini, seperti keajaiban. Perempuan lumpuh berlari. Anak dengan kaki bengkok ditegakkan. Orang buta melihat. Mereka yang tuli mendengar. Sakit kanker disembuhkan. “Halleluyah, Terpuji Engkau ya Bapa di Surga!” seru seorang ibu buta yang baru bisa melihat. Air matanya membasahi wajahnya.
Bukan hanya orang Kristiani yang datang mendapatkan kesembuhan. Seorang ibu di atas kursi roda bangkit berdiri kaget dan gembira. Beberapa yang buta juga tercelikkan matanya. “Yesus memang milik semua orang,” suara seorang bapak bergetar di samping saya. “Bukan karena aku. Aku hanyalah hamba-Nya. Dialah Yesus yang melakukan semua kebaikan untukmu, untuk bangsa ini. Jangan berhenti memuji, teruslah menyembahkan pujian. Roh Kudus masih bekerja di tepat ini,” demikian kesaksian Benny di tengah penyembuhan massal itu.
Benny Hinn dilahirkan di Israel dari pasangan Yunani-Armenia yang bernama Costandi dan Clemence Hinn. Setelah tinggal di Israel selama beberapa tahun, keluarganya pindah ke Kanada pada tahun 1967. Di Toronto inilah Benny menyerahkan hidupnya pada Kristus di tahun 1972.
Tidak lama setelah itu, ia menghadiri sebuah kebaktian yang dipimpin Kathryn Kuhlman, seorang yang legendaris pada masanya dalam kesembuhan ilahi. Saat itu merupakan momen yang penting karena di sanalah Benny menyadari panggilannya untuk terjun dalam pelayanan kesembuhan ilahi.
Dalam usianya yang ke-22 tahun, ia mulai berkhotbah di balik mimbar sebuah gereja Pentakosta kecil di daerah Oshawa – Ontario. Biasanya Benny Hinn gagap ketika bicara. Tapi ajaibnya, begitu ia mulai bicara di atas mimbar, kegagapannya itu langsung hilang. Keluarganya yang melihat ia berkhotbah dengan begitu lancar terkaget-kaget dan akhirnya menerima Kristus sebagai juru selamat. Pada saat Benny secara terbuka mendoakan kesembuhan orang untuk pertama-kalinya, Roh Kudus bekerja dan orang-orang langsung disembuhkan dari berbagai penyakit mereka.
Tahun 1979, ia memindahkan tempat pelayanannya ke Florida dan ia menikahi Suzanne Harthern, anak seorang gembala sebuah gereja. Lima tahun kemudian ia membuka sebuah pusat kekristenan yang anggotanya mencapai 8.000 orang. Tahun 1990, ia memulai pelayanannya lewat televisi dan ia pun mulai melakukan pelayanannya secara internasional ke berbagai penjuru dunia.
Awal Januari 2005 ia memimpin KKR di Bangalore – India dengan peserta sekitar 7 juta orang selama 3 hari kebaktian. Bulan Februarinya ia berada di Manila – Filipina untuk memimpin Kebaktian dan Kebangunan Rohani (KKR) yang dihadiri oleh lebih dari 3 juta orang selama 3 hari kebaktian. Dan tanggal 29-30 April 2005 ia mengadakan kebaktian di Lagos, Nigeria atas undangan Presiden Nigeria, Olusegun Obasanjo. Tahun 2005 di Singapura.
Kontroversi
Di luar segala kontroversi seputar dirinya, banyak orang yang tetap percaya bahwa Benny Hinn dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kuasa dan kebenaranNya. Dalam KKR nya di Singapura, ia menerangkan perbedaan antara kuasa dan hadirat Allah.
“Kuasa Allah adalah apa yang Dia lakukan, namun hadirat-Nya adalah apa yang Dia nyatakan. Orang bisa saja mengalami kuasa Allah, namun hidupnya tidak berubah. Tapi jika seseorang masuk dan mengenal hadirat Allah, ia akan bertemu dengan Allah secara pribadi yang pasti akan mengubahkan hidupnya.
Kuasa Allah seperti kesembuhan Ilahi hanyalah bagian dari manifestasi Allah. Orang bisa saja mengalami kuasa Allah, tapi akan sia-sia jika ia tidak masuk ke dalam hadirat Allah dan bertemu dengan pribadiNya. Kesembuhan fisik, walaupun merupakan mukjizat, tidak sebanding dengan mukjizat yang terbesar yaitu keselamatan kekal yang Allah berikan!” tegas Benny.
Sumber: Sinar Harapan, 25 Maret 2006
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.