« « CS Lewis - Dari Almari Narnia - Bag. 2       |       Membaca Berita via RSS Reader » »

CS Lewis - Dari Almari Narnia - Bag. 3

Pada 1949 kesehatannya makin memburuk dan akhirnya kolaps. Dia segera dibawa ke rumah sakit dengan sebuah anbulans dan mendapat suntikan penisilin setiap tiga jam. Dia terbaring sepekan lamanya di rumah sakit. Hidupnya nyaris dalam kesunyian. Orang-orang yang membesuknya harus diijinkan menjumpainya sebentar saja. Para dokter praktis memaksanya istirahat total.

Pada masa-masa itulah Jack mulai dihantui mimpi-mimpi buruk. Seekor singa raksasa, yang tak cukup besar tapi tak juga berkepribadian, mendatanginya. Juga para faun, manusia berkaki domba, berseliweran di alam mimpinya. Para monster, raksasa, dan peri, yang baik dan yang jahat, dari abad pertengahan memenuhi benaknya. Binatang berjubah manusia dari kenangan masa kecilnya berhamburan keluar, menari-nari di atas ranjang dan meja tulisnya.

Dia terkekang kembali akan pegangan pintu kuningan di rumah kuno kakeknya yang menjadi rektor gereja St Mark, Dundela. Dia ingat keasikannya bermain petak-umpet dengan Warren di lemari berkayu oak di rumah besar yang sunyi. Angannya menjelajah kawasan Belfast, dari pegunungan Holywood di Timur hingga galangan kapal di Barat, dan terutama The Klins, daerah tempat dia tinggal. “Aku tahu dari mana datangnya singa itu atau mengapa Dia datang, tetapi sekali Dia ada di sana Dia membawa seluruh ceritanya,” kata Jack.

Perlahan-lahan negeri Narnia terbangun, menemukan bentuk utuhnya dalam sebuah munuskrip yang nanti menjadi The Lion, the Witch and the Wardrobe, novel pertama yang terbit dari tujuh novel berseri The Chonicles of Narnia.

Jack membacakan manuskripnya ini di hadapan Ingklings. Anggota klub itu menyambutnya dengan antusias, menganggapnya sebuah karya Jack yang cemerlang dan lain daripada karya-karyanya sebelumnya.

“Jack, tak mungkin kita mencampuradukkan dunia mitologi kuno di masa lalu dengan dunia masa kini. Mitologi dengan segala mahluk ajaib dan Elfnya berada di alam yang jauh berbeda. Kalau mau mempertemukan lewat sebuah lemari tua, apa yang akan ditawarkan orang?” kata Tolkein.

“Aku tahu itu, Tollers, tapi aku membayangkan imajinasi anak-anak yang tak terbatas yang menemukan keasikan dan petualangan sendiri.” Tolkien tetap bertahan pada pendapatnya bahwa mitologi harus dipertahankan dalam kemurnianya. Dunia ini sudah terkubur di masa lalu sejak Elf dan Hobbit tak lagi berhubungan dengan manusia.

Kita tahu  persis seberapa tajam perdebatan mereka saat itu dan kenapa Tolkien begitu keras menentang Jack. Barangkali, hal ini dipengaruhi situasi saat itu: Tolkein agak kecewa karena Lord of the Rings-nya tak disambut pembaca sehangat yang dibayangkannya.

Tolkien terus menyarankan agar Jack tidak menerbitkan karyanya, karena khawatir akan merusak citra mulia mitologi. Namun,  dukungan teman-teman Inklings lain membuat Jack terdorong untuk perlahan-lahan menyelesaikan dongeng Narnia dan akhirnya menerbitkannya.

Nyatanya, ramalan Tolkien tak terjadi. Publik menyambut baik kehadiran Narnia di alam modern. Jack mendapat banyak pembacanya di seluruh dunia yang menanggapi dogeng Narnia-nya. Ini suatu yang sebelumnya tak bisa diduga Jack maupun rekan-rekannya di Inklings.

Di lain pihak, meski tak mendapat dukungan Tolkien, Jack terus mendorong sahabatnya itu untuk menerbitkan Lord of the Rings. Pada awalnya hingga akhirnya sebuah penerbit bernama Unwin bersedia menerbitkannya. Kita tahu kini bahwa kedua karya itu menempati tempatnya sendiri-sendiri sebagai dua karya besar yang pernah dilahirkan di Inggris.

Selama 1954 sampai 1963, Jack menjadi profesor Bahasa Inggris Abad Pertengahan dan Renaisans di Cambridge University. Dia sudah terkenal masa itu dan kuliah-kuliahnya selalu dipadati mahasisiwa. Dia mampu mengutip teks-teks Latin dan Yunani tanpa sepotong catatan pun.
Di masa itu ia bertemu Joy Davidman, guru sastra Inggris dari New York, Amerika Serikat. Joy hidup menjanda dengan dua putra, Douglas dan David. Mereka menikah di catatan sipil pada 1954. Namun, perkawinan mereka tak berjalan lama, karena tak lama kemudian Joy didiagnosis menderita kanker yang perlahan mengerogoti tubuhnya hingga dia meninggal pada Juli 1960.

Jack tampaknya sangat terpukul akan kematian ini dan menuangkannya dalam A Grief Observed yang terbit dengan nama samaran N.W. Clerk. Buku ini melukiskan suatu duka yang mendalam, kesakitan yang tak tertahankan. “Tak pernah ada orang yang mengatakan padaku tentang duka yang begitu menakutkan,” tulisnya dalam buku itu. “Aku tak takut, tapi sensasinya begitu mengkhawatirkan. Rasa yang sama mengguncang perutku, kegelisahan yang sama, keluhan. Aku terus menekannya.” Di buku ini Jack tak mengingkari betapa keimanannya diuji saat itu. Pada akhir bukunya, Jack mencoba berdamai dengan Tuhan.

Banyak orang yang kemudian merekomendasikan buku ini kepada Jack untuk dibaca untuk mengobati deritanya. Hingga pada akhirnya dia harus memberikan pengakuan kepada mereka bahwa dialah yang menulis buku itu.

Hubungan Joy-Jack ini kemudian diangkat ke layar lebar dalam Flim Shadowlands (1994) yang disutradarai Wililiam Nicholson dan dibintangi Debra Winger dan Antony Hopkins. Film ini berdasarkan skrip tayangan televisi karya Nicholson yang terbilang sukses.

Jack tak perlu menahan deritanya. Tiga tahun kemudian perjuangannya melawan ketuaan dan osteoporosis berakhir. Clive Staples Lewis meninggal pada 22 November 1963. Dia tak ingin kematiannya diketahui umum. Harapannya terpenuhi. Pada tanggal yang sama Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy mati tertembak. Pengarang terkenal Brave New World, Aldous Huxley, juga meninggal di tanggal yang sama.

Kini, anak-anak yang berkunjung ke Marion E. Wade Center di Wheaton College, Illionis, Amerika Serikat biasanya akan berebutan menuju almari besar yang berada tepat di balik pintu masuknya.

Almari pintu ganda itu setinggi sekitar 2 meter dan lebar 1,2 meter. Isinya sejumlah mantel bulu. Namun, sebuah plakat tertampang jelas di pintunya berisi peringatan penuh ancaman: “Masuk tanggung sendiri risikonya. The Wade Center tak bertanggung jawab terhadap orang-orang yang raib atau hilang di dalam Almari ini!”

Tapi, anak-anak itu tidak mengindahkan peringatan itu. Mereka berharap-harap cemas akan memasuki belantara magis negeri Narnia rekaan Clive Staples Lewis.

Catatan:

  1. Tulisan ini bersumber dari sejumlah media, seperti BBC, Wikipedia, dan Chistianity Today.
  2. Percakapan Lewis dan Tolkien dicuplik dari biografi sastrawi Colin Duriez, Tolkien and C.S Lewis: The Gift of Friendship
  3. Rincian kisah penyusunan the Chonicles of Narnia berdasarkan kenangan Douglas Greshan, anak tiri Lewis, dalam Jack’s life: A Memory of C.S Lewis.

Sumber: Koran Tempo

( October 18, 2003 )

CS Lewis - Sepotong Pertanyaan dari Kathryn

Category:
Karakter

Jack telah wafat. Tapi, cerita tentangnya belumlah tamat. Tujuh tahun sebelum meninggal, Jack bertemu Kathryn Lindskoog, mahasiswi University of Redlands, California, Amerika. Kathryn bermaksud menyusun sebuah tesis bertajuk The Lion of Judah in Never Land yang membahas karya-karya Jack. Tesis yang disusun pada tahun 1957 itu kemudian terbit menjadi buku pada 1973. Jack dalam sepucuk suratnya kepada Kathryn, memuji tesis itu.

Namun, bukan tesis itu yang membuat nama Katryn kini sering dikaitkan dengan Jack, tetapi sebuah buku lain yang ditulisnya, the C.S Lewis Hoax, yang kemudian dilanjutkan dengan Sleuthing C.S.Lewis: More Light in the Shadowlands.

Buku-buku ini mencoba membuktikan bahwa sejumlah karya sastra dan theologi dari pengarang Inggris itu hasil pemalsuan sistematis Kathryn mencurigai peran yang dimainkan Wateer Hooper.

Hooper, mahasiswa Bahasa Inggris di Universitas of Kentucky, Amerika Serikat, sedang belajar menjadi pendeta Episcopal (Dia kemudian pindah ke Katolik Roma) ketika bertemu dengan Jack 1963. Sedang Jack meninggal dunia. Hooper pindah ke Inggris dan membantu menyiapkan penerbitan puisi dan esai warisan Jack.

Di awal 1970-an, dia bekerja sebagai konsultan sastra pada lembaga satra CS lewis. Dia menjadi penulis pendamping untuk biografi pertama Jack dan menerbitkan memoar tentang hubungannya dengan Jack dalam C.S. Lewis at the Breakfast Table. Selama 1964-2000. Hooper menyiapkan sekitar 27 buku bukti karya Jack dan memberikan kata pengantar oleh Hooper.

Kecurigaan Kathryn kepada Hooper mulai muncul pada artikelnya “Some Questions in C.S Lewis Scholarship” pada tahun 1978 di Jurnal Christianity and Literature. Di sini ia menyebutkan bahwa Hooper sudah menyalahgunakan perannya sebagai penyunting karya-karya Jack sehingga Kathryn melihat adanya gaya dan nuansanya yang bukan “Lewis”.

James Como, profesor retorika dan komunikasi publik di York College of City Universitas of New York, menilai seharusnya karya Kathryn itu tak layak terbit sebagai karya akademis. “Ini gosip bagus, jurnalisme yang buruk, dan  tak sepenuhnya ilmiah,” kata anggota pendiri New C.S Lewis Society dan pengarang monograf tentang karya Lewis itu. Sedangkan Hooper menjamin, “Tak ada pemalsuan di sini”.

Hooper menyatakan, dia cuma berupaya menyelamatkan setumpuk besar naskah yang ditinggalkan Jack. Naskah-naskah itulah yang diseleksinya dan kemudin diterbitkan.
Tapi, Kathryn sangat meragukan sebuah naskah fiksi ilmiah yang tak selesai, The Dark Tower, yang pertama kali diterbitkan 1977. Hooper menduga manuskrip itu ditulis Jack pada tahun 1930-an sebagai lanjutan trilogi ruang angkasanya. Naskah itu terbilang buruk, sehingga sejumlah sarjana sastra menduga bahwa Jack sendiri akan malu menerbitkannya.

Di tengah keraguan Kathryn, para pendukungnya berdatangan. C.F Jones dari University of Florida pada tahun 1986 melakukan analisa naskah dengan komputer membuktikan adanya kejanggalan itu dan dibenarkan pula lewat analisa komputer oleh A.Q. Morton dari University of Glasgow pada 1991.

Kathryn juga melaporkan bahwa seorang ahli autentikasi dokumen menyatakan bahwa tinta pada beberapa halaman munuskrip itu belum diperdagangkan pada 1950-an.
Dukungan pada Kathryn bertambah. Bahkan, selusin akademis memasukkan namanya dalam sebuah petisi yang meminta lembaga Lewis untuk menjawab pertanyaan Kathryn yang digelar The C.S Lewis Foundation for Truth in Publising. Di antara penandatangannya adalah pengarang fiksi ilmiah Acthur C Clarke dan Ursula K.Le Guin, juga Richard Wilbur, mantan penyair laureate Amerika Serikat.

Lontaran Kathryn memanaskan berbagai diskusi seputar Jack dan Kekristenannya. Akhirnya, C.S. Lewis Foundation di Redlands, California, Amerika Serikat, menggelar diskusi yang dihadiri oleh lusinan ahli Lewis pada 1989 untuk membahas buku Kathryn, terutama tuduhannya terhadap Hooper telah menanam tema gay pada kumpulan surat menyurat Jack.

Dalam diskusi itu disimpulkan bahwa Kathryn gagal membuktikan tuduhannya. Bahwa para peserta diskusi meminta membersihkan nama Hooper dari tuduhan pemalsuan dan penyalahgunaan peran penyunting.

Sumber: Koran Tempo


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)