The pain of the cross means that we are in 'the way'. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Books

CS Lewis – Dari Almari Narnia – Bag. 2

Submitted by riel on 10/02/2006 – 2:08 PM | 403 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Setelah lulus, Jack mulai mengajar di Oxford pada Oktober 1925. Setahun kemudian dia menerbitkan Dymer, sebuah puisi mitologis panjang. Puisi ini diresensi cukup baik dan terbilang sukses mengingat jenis puisi bebas semacam itu belumlah populer pada masa tersebut. Di kampus dia bertemu Owen Barfield dan sejumlah pengarang lainya, diantaranya Tolkien, Adam Fox, Hugo Dyson, Charles Wiliams dan saudara Jack, Warren. Pada 1930-an mereka sering bertemu di Pub Eagle and Chlid, yang mereka suka sebut Bird dan Baby.

Klub pengarang ini disebut Inklings. Tolkien menjelaskan kelompoknya ini sebagai “Orang-orang yang keintiman dan gagasan yang separuh atau samar-samar ditambah orang yang berkabung dalam tinta”.
Tujuan dari kelompok ini adalah mendengar dan mengkritik tulisan anggotanya yang dibaca klub ini, yang biasanya di salah satu sudut Bird and Baby atau di Magdalen College. Trilogi Lord of the Rings Tolkien dibaca pertama kali dalam pertemuan Inklings, juga kisah-kisah Lewis.

Jack mengalihkan pandangannya pada sahabat-sahabatnya yang sedang duduk bersandar di kursi jok kulit. Dinding berpanel putih keren di latarnya. Tolkien meraih kendi kaca bir di meja dan mengisi kembali cangkirnya. “Kau tahu, Tollers, terlalu sedikit yang kita nikmati dari cerita-cerita yang ada. Kau suka The Place of the Lion-nya (Charles) Williams, seperti aku juga. Sungguh aku kaget, betapa jarangnya buku semacam itu,” kata Jack.

Tolkien gusar dan menghembuskan gumpalan asap rokoknya ke arah lainnya. ”Tak cukup banyak gema nafiri negeri Elf,” kata Tollers, panggilan akrab Tolkien. Dia lalu menghisap cangklongnya untuk menyalakan kembali bara tembakaunya. “Kadangkala Scientifiction (science fiction) melahirkan ketakjuban—kadangkala menawarkan kendala dari alam dari dunia-dunia lain. Juga, ada pula beberapa hal yang tercela, tetapi demikian genre tersebut adanya. Kisah-kisah ruang waktu dapat memberikan Pemulihan dan Pelarian.”

Tolkien menyebut dua kata terakhir itu dengan keras, mungkin hendak menekankan bahwa seharusnya kedua istilah itu harus dengan huruf kapital. ”Aku berharap segera memberikan kuliah tentang hal ini sebagai sebuah kualitas dari cerita dongeng. Aku sangat menikmati kisah-kisah yang menggali ke dalam ruang dan waktu,” katanya.

“Betul, betul,” kata Jack. “Ambil contoh H.G.Wells. Bahkan kisah-kisah Wellsian dapat menyentuh dunia nyata lain dari rohani. Karya-karya awalnya aku perhatikan—sayangnya dia lebih menjual bakatnya untuk seonggok pesan. Jenis-jenis kisah semacam ini yang menciptakan wilayah-wilayah rohani – mereka sebenarnya memperkaya kehidupan, bukan? Mereka seperti bermimpi-mimpi yang hanya datang sekelebat -mereka memberikan kita sensasi yang belum kita rasakan sebelumya. Kau dapat mengatakan bahwa mereka dapat memperbesar gagasan kita yang sesungguhnya tentang apa yang mungkin dialami manusia”. “The Pilgrim’s Regress-mu memiliki sesuatu yang kita suka, romansa. Sayangnya, hal itu tak cukup sampai ke publik,” kata Tolkien. “Ada sedikit yang salah tempat di situ. Perlu sedikit usaha untuk meletakkannya di tempat yang benar.”

“Kau tahu, Tollers,” kata Jack dengan cangklong di tangan. “Aku khawatir, kita harus menuliskannya sendiri. Kita butuh kisah-kisah seperti buku Hobbit-mu, tapi pada skala yang lebih heroik daripada perang Gondolin dan Goblin. Salah satu dari kita harusnya menulis sebuah kisah tentang perjalanan lintas waktu dan yang lain menulis soal perjalanan lintas ruang”.

Tolkien mengingatkan temannya itu tentang tantangan yang rada mirip yang terjadi seabad sebelummya. Lord Byron, di Danau Jenewa pada 1816, menantang Percy Shelley dan Mary Shelley untuk menulis sebuah dongeng hantu. Dan, Mary, masih seorang gadis remaja saat itu, akhirnya menulis Frankenstein. ”Kita membutuhkan,” kata Tolkien, matanya berbinar, ”Dongeng-dongeng masa kini mengangkat sihir modern – tirani mesin.” “Mari bersulang untuk itu, Tollers. Di awalnya, kau tulis tentang perjalanan lintas waktu, di akhirnya kau mencoba menulis yang lainnya.” Tolkien mengangguk.

Tolkien tak pernah menyelesaikan dongeng perjalanan lintas waktu seperti janjinya. Dia terus berkonsentrasi menggarap kisah negeri Elf dan para Hobbit yang kemudian  menjadi legendaris: Lord of The Rings. Sebaliknya, Jack berhasil melahirkan trilogi novel fantasi ruang angkasa: Out of the Silent Planet, Perelandra, dan That Hideous Strength. Novel tiga serangkai ini berawal dari diculiknya seorang filolog bernama Ransom ke Mars.

Penculiknya adalah Devine, yang ingin mengeksploitasi sumber daya alam Mars, dan Weston, yang ingin menjelajah Mars setelah Bumi tak lagi bisa ditempati. Ransom kemudian diselamatkan makhluk endil bernama Oyarsa (atau penguasa) Mars. Oyarsa ingin tahu tentang endil lain yang kini menjadi Oyarsa Bumi. Sejumlah pihak menafsirkan Oyarsa Mars sebagai malaikat dan Oyarsa Bumi adalah malaikat dan Oyarsa Bumi adalah malaikat yang jatuh ke bumi dan menjadi setan.

Trilogi fantasi ruang angkasa ini disambut hangat pembaca, sangat jauh dibanding sambutan terhadap The Pilgrim’s Regress-nya yang seakan tertelan begitu saja dalam sejarah. Sejak Out of the Silent Planet, nama Jack bersinar, bersanding dengan Tolkien yang lebih dulu populer lewat The Hobbit.

Namun, ini bukanlah karya yang membuat namanya melegenda. Ada karyanya lain yang menunggu dilahirkan dari rahim pemikiran Jack. Namun, untuk beberapa tahun lamanya, karya itu belum menemukan wujudnya. Pada usia menjelang setengah abad, Jack mulai sakit-sakitan. Hukum besi waktu menggerus tubuhnya, menggerogoti sedikit demi sedikit.

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Comments are closed.