« « Doa Bagi Pemulihan Bangsa (Rev. Benny Hinn)       |       CS Lewis - Dari Almari Narnia - Bag. 2 » »

CS Lewis - Dari Almari Narnia - Bag. 1

Clive Staples Lewis memandang dengan dahi berkerut keluar jendela ruangan besar di Magdalena College Oxford University. Ini musim gugur 1936. Berarti, sudah sebelas tahun ia memberikan kuliah Bahasa Inggris di sana. Berarti pula, sudah lima belas tahun dia habiskan di kampus itu sejak mulai mendalami sastra Yunani dan Latin, filsafat klasik, dan bahasa satra Inggris. Untuk ketiga bidang itu dia meraih derajat kelas satu.

Di halaman sana dia melihat jalan setapak favoritnya, Addison’s Walk. Dia ingat, di sanalah, lima tahun lalu, dia dan Tolkien dan Hugo Dyson, berdebat panjang tentang agama Kristen dan mendorong dirinya yang rasional dan skeptis terhadap iman meneguhkan keimanannya.

Lalu, ketika dia mengalihkan pandangan matanya ke dalam ruang kerjanya, dia tertumbuk pada sederet buku di ruang kerjanya itu. Rak-rak yang penuh  buku, benda yang akrab dengannya sedari kecil, barangkali sejak mata bayinya terbuka.

Dalam autobiografinya yang belakangan diterbitkan, Surprised by Joy, Lewis melukiskan kelahirannya di kawasan Dundela, Belfast Timur, Irlandia pada 1898 sebagai putra kedua pasangan Albert dan Flora dan masa kanak-kanaknya sebagai “produk dari koridor-koridor panjang, ruang-ruang kosong yang disinari cahaya matahari, kesunyian kamar lantai atas, loteng yang menyuarakan keheningan, keriuhan degukan tangki dan pipa air dari kejauhan, dan krisik angin di celah genteng. Juga, sederet panjang buku-buku”.

Buku-buku itu mengepungnya sedari kecil. ”Ada buku-buku di ruang belajar, di ruang santai, di ruang depan tempat menempatkan jas dan topi, di lemari besar, di tempat tidur, buku bertumpuk setinggi bahuku di loteng rumah,” kenang Jack. Rumah itu dipenuhi beragam jenis buku. ”Ada yang dapat dibaca, ada yang tidak, ada yang cocok untuk anak-anak dan banyak yang tidak menarik untuk anak-anak. Tak ada yang terlarang bagiku. Semunya boleh kubaca. Dan, di sore hari yang diwarnai rintik hujan kuhabiskan buku itu satu demi satu.”

Buku favoritnya adalah karya Dith Nesbit, seperti The Story of the Amulet (1906), yang meramu fantasi dengan kenyataan, dan edisi lengkap Gulliver’s Travels. Di kemudian hari dia membaca buku mitologi Norse, novel sejarah seperti Quo Vadis-nya Henryk Sienkiewicz dan Beb Hu-nya Lew Wallace. Tentu saja, kemudian bersua The Odyssey, karya Voltaire dan Jhon Milton.

Saat berusia tiga tahun, Lewis kecil mengumumkan bahwa namanya Jack dan sejak itu keluarga dan teman-temannya memanggilnya Jack. Sedangkan kakaknya bernama Warren dan nama kecilnya Warnie.

Jack berteman baik dengan Warren dan menghabiskan waktu mereka dengan menggambar dan menulis bersama. Waren suka menggambar kereta api dan kapal uap, sedangkan Lewis suka binatang berpakaian manusia dan kisah-kisah para satria dan kavaleri. Jack pandai menggabungkan khayalan mereka berdua menjadi sebuah hikayat pertualangan di kerajaan binatang. Di masa kecilnya, bakat kepengarangan Jack mulai tumbuh. Dia belajar menulis tentang sebuah negeri imajiner bernama Bloxen di loteng rumahnya.

Mereka hidup berbahagia hingga meninggalnya sang bunda pada Agustus 1908. Guncangan kehilangan sosok bunda itu merapatkan hubungan Jack dan Warren, tapi hubungan mereka dengan sang ayah malah menjauh.

Selera Jack terhadap dongeng menemukan jalurnya pada musik Richard Wagner saat dia masuk sekolah persiapan Cherourg. Wagner banyak mengangkat tema mitologi. Epik opera Wagner tentang lingkaran cincin memperkenalkan Jack pada alam mitologi Norse. Saat perang dunia pertama, Jack baru masuk Oxford University. Walaupun dia tak harus berperang karena orang Irlandia, ia tetap mendaftarkan diri menjadi tentara dan dikirim ke garis depan. Di sana ia bertemu seorang Irlandia yang kemudian menjadi sahabat baiknya, Edward Moore. Keduanya bersumpah, bila salah satu dari mereka tak kembali dari perang, yang lain akan mendukung keluarga yang ditinggalkan. Jack dikirim pulang dengan sedikit luka, sedangkan Moore mati terbunuh, meninggalkan ibunya Janie, dan adiknya, Maureen.

Jack menenuhi sumpahnya dan tinggal bersama keluarga Moore hingga Janie meninggal. Hubungannya dengan Janie sangat dekat, bahkan sejumlah orang menganggap mereka adalah pasangan kekasih. Anggapan itu belum pernah terbukti. Yang pasti, Jack menemukan figur ibu pada diri Janie yang memperlakukannya dengan sangat baik.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Sorry, the comment form is closed at this time.