Potret Pelamar Kerja
Seminggu terakhir, perusahaan tempat saya bekerja sedang mencari karikaturis. Saya kebagian tugas mewawancarai mereka. Hingga kini, saya belum pernah melamar kerja lalu diwawancarai. Berpakaian rapi sambil harap-harap cemas bisa diterima setelah diwawancarai. Entah ini patut disyukuri atau tidak, saya berharap bisa menjadi pribadi yang memahami dunia kerja dan dinamikanya.
Prosedur wawancara sederhana saja. Setiap pelamar langsung diuji di tempat. Mereka diminta membuat gambar karikatur sesuai dengan peristiwa yang saya minta agar digambar. Misalkan, peristiwa kelaparan di Yahukimo, Papua. Saat mewawancarai pelamar kerja ini, perasaan saya agak terbawa juga.
Ada seorang bapak berusia sekitar 55 tahun (lebih tua dari ayah saya) datang melamar. Rambutnya sudah beruban dengan guratan wajah yang semakin menua. Bapak ini berusaha keras menggambar namun hasilnya jauh dari harapan.
Pelamar yang lain dengan usia paling muda juga membuat saya merenung. Pria berusia 20 tahun itu mempunyai badan yang kurus dengan sinar wajah yang seakan menggambarkan ia sudah lama hidup dalam tekanan hidup. Dalam CV-nya tercantum pendidikan terakhir adalah SMA di Yogyakarta. Ia juga melampirkan fotokopi tanda pencari kerja dan tanda berkelakuan baik dari kepolisian. Secara lahiriah, kita mungkin akan meremehkan dia. Tetapi, penampilan luar tidak menjadi jaminan akan keahlian seseorang. Karikatur yang dibuatnya goresannya cukup bagus dan representatif dengan peristiwa yang diminta yaitu potret Indonesia 2006.
Ada pula seorang bapak yang sudah berkeluarga dengan dua anak lulusan Seni Rupa ITB. Jam terbangnya di dunia menggambar sudah sangat banyak. Hanya Bapak inilah yang dengan penuh percaya diri mengeluarkan dua map tebal berisi portofolio karya-karyanya. Mulai dari desain brosur, poster, hingga gambar di atas kotak makanan. Ia masih bekerja sebagai art director di sebuah perusahaan swasta. Demi menghidupi keluarganya, ia rela pulang balik Jakarta-Tangerang. Dari penuturannya, ia berangkat kerja pagi-pagi sekali, lalu pulang kantor sekitar jam delapan malam. Bukan karena lembur, tetapi karena menghindari kemacetan antara pukul 5 sore hingga 8 malam.
Ada pelamar yang sudah menganggur selama dua tahun, ada pelamar yang penampilannya kumal menguatkan kesan ia seorang seniman, ada pelamar yang pernah bekerja sebagai pramusaji di warung tenda, ada pelamar yang sebenarnya tidak bisa menggambar namun mencoba datang berharap ada posisi lain yang sedang lowong.
Ada pelamar ‘ABG’ yang masih kuliah iseng-iseng mencoba melamar. Untuk pelamar yang terakhir ini, ia membawa juga teman perempuannya. Mereka masih kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta. Nah, hanya dialah perempuan yang datang, itu pun mendampingi teman laki-lakinya yang agak culun dan gemulai. Orangnya putih dan mancung. Mata besar dengan bulu mata lentik. Tinggi semampai penuh berisi. Lumayan juga pemandangannya bisa mengusir kantuk. ![]()
Sekitar dua bulan yang lalu pun saya mewancarai pelamar kerja untuk posisi redaktur pelaksana (redpel) dan staf keuangan. Pelamar untuk posisi redpel mayoritas sudah berusia di atas 30 tahun. Saya kikuk juga ketika mewawancarai bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sangat berpengalaman baik itu dalam dunia pekerjaan atau dalam mengarungi kehidupan ini.
Pelamar untuk posisi staf keuangan mayoritas masih berusia muda antara 23-33 tahun. Dari sekian banyak pelamar, ada satu pelamar perempuan yang tiba-tiba bikin saya jadi bersemangat. Penampilannya seksi, tatapan matanya menggoda dengan gaya bahasa yang santai. "Wah, asyik juga nih kalau jadi sekretaris gua…," kata saya sambil mengkhayal nakal. Tapi sayang, penampilan lumayan, tapi keahliannya jauh dari memadai. Tidak cocok jadi staf keuangan melainkan lebih cocok jadi pekerja yang harus disuruh-suruh dulu baru bekerja. Singkat cerita, posisi redpel dan staf keuangan akhirnya terisi juga.
Pelajaran yang saya petik dari pengalaman ini adalah mewawancarai pelamar kerja itu melelahkan termasuk melayani telepon-telepon yang masuk. Hikmahnya, saya lebih memahami dan bersyukur akan pekerjaan yang sedang Tuhan percayakan kepada saya. Di luar sana, masih banyak rekan-rekan kita yang bergumul mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.
Kita yang sudah bekerja tidak berhak memandang rendah mereka yang belum bekerja. Kita yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi tidak berhak memandang remeh mereka yang berpendidikan rendah. Kita tidak berhak merasa mapan, merasa cukup, merasa hebat, lalu menilai orang itu pasti pemalas atau bodoh. Setiap orang punya jalan dan cerita kehidupannya sendiri dan pasti punya alasan mengapa ia menjadi apa adanya dia sekarang. Kewajiban kita adalah berusaha membantu sebisa kita dan tetap bersikap rendah hati.
Buat rekan-rekan yang sedang mencari pekerjaan, jangan berputus asa dan teruslah berusaha. Jangan berhenti berdoa dan percaya bahwa doamu itu sudah dikabulkanNya. Tuhan akan menunjukkan kemurahan dan kesetiaan-Nya dalam kehidupanmu. Teruslah berusaha.
Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.





cerita yang sangat menarik….saya sangat menyukai ide dari anda ini