« « Hujan       |       Potret Pelamar Kerja » »

Pergi untuk Kembali

Selalu ada kejutan dalam hidup ini. Itulah yang terlintas dalam benak saya ketika mendapat berita kalau Agn (seorang teman) sudah menikah seminggu yang lalu. Hanya dalam hitungan empat bulan setelah berkenalan, Agn dengan mantap mengiyakan lamaran Btr yang kini sudah menjadi suaminya. Bukan teman lama, melainkan teman yang dikenalnya ketika tugas PTT di Ambon.

Dhe, teman akrab Agn, termasuk yang paling syok. “Kok bisa ya, dia (Agn) bisa langsung menikah sama cowok itu?” tanya Dhe berulang kali. Bagi Dhe, mengenal pribadi seseorang membutuhkan waktu dan untuk masuk ke jenjang perkawinan juga membutuhkan proses. Tapi untuk kasus Agn, mungkin suatu perkecualian.

Dengar-dengar kabar, salah satu teman ’seperjuangan’ yang kini sudah mengambil jalan hidupnya sendiri (saya memahami pilihannya), juga akan melangsungkan pernikahan akhir Januari 2006. Well, satu per satu orang-orang yang saya kenal menikah. ‘Gua kapan yah…,’ kata saya bermaksud meledek Dhe. ‘Gua sih tiga tahun lagi… masih lama…,” mendengar itu Dhe pasang tampang merajuk.

Menjalani suatu hubungan dengan kekasih bukan perkara mudah. Apalagi untuk kasus saya pribadi. Dari luar mungkin perjalanannya terlihat mulus bak melalui jalan tol. Layaknya menjalani hidup, menjaga suatu hubungan pun, harus melalui kerikil dan batu yang menghadang. Perlu banyak kesabaran, tekun berharap, memahami satu sama lain dan mencintai dengan tulus dan setia.

Apalagi kalau dalam hubungan itu sering terjadi perjumpaan kemudian berpisah lagi. Itulah yang saya alami selama 1 tahun delapan bulan ini. Kekasih saya, Dhe, ‘datang untuk pergi’. Pulang ke Jakarta tapi kembali lagi ke Flores NTT, demi tugas sebagai dokter PTT. Sedangkan Dhe punya istilah lain, ‘pergi untuk kembali’ mengutip judul lagu Ello, penyanyi ganteng yang kalau menyanyi selalu mengeluarkan jurus uler (saya tertawa tiap kali Ello menggerak-gerakkan tangannya ke depan seakan hendak mematok.. ).

Tiap kali saya mengarahkan pandangan jauh ke depan mencoba mengerti masa depan, kala keraguan mulai mengusik pikiran, kala saya merasa lelah untuk terus melangkah, Dhe dengan sabar (that’s one of the reason why I love her) mencoba menghibur saya dengan melantunkan lagu itu.

Walaupun langit pada malam itu / Bermandikan cahaya bintang / Bulan pun bersinar, betapa indahnya / Namun menambah kepedihan

Ku akan pergi meninggalkan dirimu / Menyusuri liku hidupku / Janganlah kau bimbang dan jangan kau ragu / Berikanlah senyuman padaku….

Selamat tinggal kasih sampai kita jumpa lagi / Aku pergi tak kan lama / Hanya sekejab saja ku akan kembali lagi / Asalkan engkau tetap menanti…

Untuk Dhe, terima kasih banyak untuk cinta dan kesetiaanmu. Terima kasih banyak untuk setiap momen yang sudah kita lalui. Perpisahan membuat perjumpaan sangat berharga. Setiap detik bersamamu adalah detik-detik yang takkan terlupakan. Tidak akan pernah lagi aku akan menemukan seseorang sepertimu, tidak akan pernah lagi aku akan mengalami cerita cinta yang sudah kita lalui bersama.

Mengenang kebersamaan kita di atas sebuah kapal di pinggir pantai di Labuanbajo, Flores, NTT. Suatu sore yang indah, sementara aku menggandeng tanganmu, duduk menantang angin, kita menyanyi sambil tersenyum. “Aku… masih di sini… untuk setia…” Kaulah sahabatku, kekasihku. Selamat berlibur di Jakarta Desember ini. Aku senang bisa bertemu kamu lagi.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Sorry, the comment form is closed at this time.