Among those sins most exquisitely fitted to injure the soul and destroy the testimony, few can equal the sin of complaining. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Faith

Kenangan Dalam Sebuah Kereta

Submitted by riel on 20/12/2005 – 7:15 AM | 309 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Rasanya sudah lama kita tidak bercakap-cakap lagi seperti dulu,” kataku membuka pembicaraan. “Yah…,”jawabnya singkat. “Aku takkan pernah lupa saat dulu kita bercakap-cakap di suatu pagi dalam kereta menuju Depok. Aku berdiri di pinggir pintu kereta menantang angin yang menggoyang rambutku. Matahari masih enggan bersinar terik dan rumah-rumah petak yang ada di pinggir rel seakan berlomba dengan kereta api yang melaju cepat,” kataku lagi. “Yah… aku masih ingat itu,” katanya lagi.

“Rasanya indah sekali pagi itu. Kita asyik bercakap-cakap sementara orang-orang terlihat masih mengantuk dalam kereta yang masih sepi itu. Aku bisa bertanya, aku bisa berterima kasih, aku bisa mengutarakan betapa hidup ini berarti semenjak aku mengenalmu. Bahkan dalam angkutan kota Kopaja 502 pun aku bisa menyapamu meski panas terik dan perut keroncongan saat aku pulang sekolah,” kataku dengan nada suara yang semakin melemah.

“Kalau aku hendak melakukan sesuatu aku pasti bertanya padamu. Bahkan hal kecil seperti membeli buku pun aku tanyakan. Lucu juga saat aku mendengarmu setuju kalau aku beli buku itu. Buku yang akhirnya menegurku, mengajarku dan mengingatkanku padamu. Sungguh tak terkira betapa kau selalu setia mendampingiku. Dimana aku berada disitu pula kau berada. Tidak pernah kau tinggalkan aku sedikitpun.”

“Aku rindu masa-masa itu. Aku rindu bisa merasakan dirimu tersenyum padaku, bisa mendengar suaramu dan menyatakan betapa aku sungguh bersyukur akan perbuatan-perbuatanmu. Rasanya, apa yang aku rasakan sekarang tidak sama dengan apa yang aku rasakan dulu. Kita masih bersahabat tetapi aku mulai ‘kehabisan’ waktu untuk menyapamu, bercerita padamu kegiatanku sepanjang hari, atau menanyakan hal-hal kecil padamu, seperti membeli sesuatu.”

“Ini semua salahku yang terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk memuaskan egoku, keinginanku sendiri. Aku mulai lupa bahwa apa yang aku peroleh semuanya itu darimu. Aku pun mulai jarang berterima kasih padamu untuk setiap kebaikan yang kau lakukan untukku. Tapi, sungguh nyata, kau masih bersamaku meski aku tidak mengindahkanmu. Kau masih sabar dengan segala tingkah laku dan perbuatanku yang seenakku sendiri. Tolong aku sahabat… tolong aku… menemukan kembali ‘jalan pulang’ ke dalam kereta di pagi yang indah itu.”

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

2 Comments »

  • sarce 0 isba says:

    SYALOM
    AKU MEMBACA ARTIKEL TERSEBUT DAN AKU TERTARIK
    BOLEH AKU KENALANG SAMA ANDA JUDULNYA,KENAGAN DALAM SEBUA KERETA APA .BOLEH AKU TAHU NAMANYA SIA.KLO UDAH BACA TOLONG DI BALAS YA?KEALAMAT IMEL AKU OK
    AKU TUGUH.

  • dien says:

    artikel nya bgs bngt walaupun ga sama persis ma pngalamanku tp lebih kurang sama. artikelya ngigatin ke pngalamnku dlu wkt msh pny hub intim with Jesus. & ngingatin aku jg betapa skrg aku udah jauh dari DIA.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.