Kebersamaan Keluarga
Matahari Department Store yang menawarkan pesta diskon pasti selalu menarik perhatian siapa saja, mulai dari ibu rumah
tangga, anak gadis, hingga pemuda. Setidaknya itu yang saya lihat saat berbelanja di Matahari, Mall Atrium Senen,
kemarin.
Perihal Matahari sedang menggelar diskon ini saya ketahui dari ibu saya yang melihat iklannya di televisi. Beliau kemudian
mengajak saya untuk membeli beberapa keperluan sebagai persiapan untuk holiday trip yang akan saya ambil akhir Juli nanti, mengunjungi
sang pujaan hati yang sedang merantau di Indonesia bagian Timur.
Hari itu, saya senang sekali, selain karena bisa punya beberapa kaus oblong dan ikat pinggang baru, saya juga pergi bersama
dua orang adik dan ibu saya. Menyenangkan melihat kedua adik saya ikut melihat-lihat di Matahari, memberi saran mana yang bagus, dan
ikut menunggu saya yang sedang mencoba beberapa setel kemeja di kamar pas.
Bukan diskon lagi yang menjadi perhatian, tetapi kebersamaan keluarga inilah yang tak ternilai harganya. Momen-momen bersama
keluarga, saling ‘mencela’ di antara saudara, merangkul adik-adik dan sang ibu, memberi warna tersendiri untuk hari itu. Saya bersyukur
untuk kebersamaan dan keakraban yang terjalin. Mungkin, hal ini dipengaruhi oleh pola asuh keluarga khususnya ibu saya.
Hingga besar, kami tiga bersaudara (laki-laki semua), tidak diberikan kamar sendiri-sendiri. Dulu sewaktu masih SMP dan SMA, kami
harus tidur berbaris rapi di atas satu tempat tidur. Saya yang biasanya tidur seperti kucing menggulung selalu kena protes karena
mengambil ‘lahan’ tempat tidur terlalu banyak. Saat masih kecil, kami dibiasakan pergi ke sekolah bersama-sama, ke gereja bersama-sama,
makan bersama-sama, kemanapun harus bersama-sama. Pakaian pun diberikan yang sama sehingga kami seperti tiga anak kecil yang kompak.
Intensitas kebersamaan ini sudah mulai berkurang seiring dengan usia yang bertambah. Masing-masing sudah mempunyai kesibukannya
sendiri, sudah punya pacar, kerjaan, dan sebagainya. Namun, pola asuh yang ditanamkan sejak kecil di antara kami tetap berbekas. Satu pelajaran
berharga bisa saya petik dari pengalaman ini. Usahakan keluarga sesering mungkin menghabiskan waktu bersama. Bisa dimulai dari makan bersama. Suami isteri makan bersama. Satu hal
‘kecil’ ini akan berarti sangat banyak dalam sebuah keluarga.
Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.






Comments
No comments yet.
Sorry, the comment form is closed at this time.