Home » Tips & Thoughts Dua Nalar
Submitted by riel on 26/05/2005 5:18 PM | 354 views 
Loading ...
“Kok bisa ya, cewek manis itu mau sama cowok yang jelek kayak gitu. Masih mending tampang gua,” kata Yohanes pada sobatnya
setelah melihat sepasang suami isteri yang duduk di hadapan mereka dalam angkot mikrolet.
“Kenapa sih dia bisa jatuh cinta sama cowok kayak gitu?” sewot Siska tentang sohibnya yang
baru saja pacaran dengan seorang cowok.
Pertanyaan-pertanyaan ini pasti pernah terlintas dalam pikiran kita. Kita mempertanyakan
alasan mengapa orang memilih melakukan A, B, atau Z. Dalam nalar kita, apa yang mereka lakukan
’salah’, ‘tidak masuk akal’, ‘bodoh’, ‘dungu’, ‘tolol’, ‘buta’, terserah istilah yang ingin kita gunakan.
Sebagus-bagusnya kita mengenal seseorang, kita tetap saja tidak bisa memahaminya 100 persen.
Selain pikiran atau pengalaman yang terbatas, ketidakmampuan kita untuk memahami mereka juga dipengaruhi
oleh kesadaran akan keterbatasan atau ‘kegagalan’ kita untuk memahami tindakan yang kita lakukan atau pilihan
yang kita ambil. Di sisi lain, kesadaran ini membuat kita lebih bijaksana untuk tidak cepat-cepat
menghakimi orang lain atas setiap keputusan dan tindakannya.
Mungkin… (saya pikir), kita setidaknya lebih sering menggunakan dua nalar untuk memutuskan/melakukan sesuatu, nalar akal budi dan
nalar hati. Entah bagaimana, hati mempunyai nalarnya sendiri yang tidak dapat ditangkap oleh akal budi. Hati bisa menilai benar tetapi
akal budi menilai salah, begitu pula sebaliknya. Pertentangan ini membangkitkan dilema dalam diri seseorang untuk memilih
mana yang benar, nalar akal budi atau nalar hati. Bisakah kedua nalar ini sehati? Saya agak sulit menggambarkan situasinya.
Saya pikir, potensi kedua nalar ini bisa dijadikan pertimbangan untuk menjawab pertanyaan mengapa cewek manis itu mau
menikah dengan pria jelek itu atau mengapa pria itu mencintai gadis itu. Bisa jadi cewek manis itu lebih menggunakan
nalar hatinya dibandingkan nalar akal budinya. Bisa jadi orang yang mempertanyakan pilihan gadis manis itu lebih menggunakan
nalar akal budinya. Akhirnya sulit untuk menentukan, siapa yang benar dan salah karena masing-masing menggunakan nalarnya sendiri.
Ah… saya masih bingung soal dua nalar ini.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.