« « Dilema Kenakalan, Sebuah Cerita       |       CNET Online Courses » »

Dilema Kenakalan, Sebuah Jawaban

Serigala Berbulu DombaDalam artikel ‘Dilema Kenakalan, Sebuah Cerita’ diberikan ilustrasi bagaimana seorang anak kecil berbuat nakal. Kenakalan yang diperbuat anak kecil tentu berbeda dengan ‘kenakalan’ yang diperbuat oleh orang dewasa sebab kenakalan orang dewasa spektrumnya sudah lebih luas, kompleks, bahkan bisa menjurus pada kriminalitas dan perbuatan dosa.

Dalam judul artikel ini mencuat kata ‘dilema’ yang dalam Kamus Bahasa Indonesia artinya “situasi
yang mengharuskan seseorang melakukan pilihan antara dua kemungkinan yang kedua-duanya tidak menyenangkan; situasi
yang sukar dan membingungkan”
. Saya pilih definisi ’situasi yang sukar dan membingungkan’ untuk kedua artikel ini.

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat membaca kata ‘nakal’ atau ‘kenakalan’. Mungkin ada yang berpikir tentang
perempuan nakal, polisi nakal, anak kecil yang nakal, nyamuk-nyamuk nakal. Beberapa penyandang jabatan nakal ini ada yang sudah masuk penjara atau terancam masuk penjara.

Bagi sebagian besar orang, nakal
adalah nakal, tetapi bagi sebagian besar lainnya, nakal adalah dosa/jahat. Atau bagi orang-orang tertentu, istilah nakal digunakan untuk memperhalus penyebutan dosa yang diperbuatnya. Ayo ngaku…

Istilah nakal ini memunculkan pertanyaan…

Apakah nakal = dosa/jahat?

Apakah nakal = nakal?

Nakal seperti apa yang dosa/jahat, nakal seperti apa yang memang nakal. "Jangan berbuat jahat, jangan berbuat dosa, hindari kejahatan," kira-kira begitulah kata kitab suci dan orang tua berjenggot putih yang bijaksana (emangnya Gendalf film dalam Lords of the Ring? ).

Sudah menjadi budaya (diterima) dalam masyarakat kalau anak laki-laki berbuat nakal, lazim adanya. Sebab,
kalau tidak nakal, bisa-bisa orang tua/orang lain berpikiran kalau anak itu tidak normal bahkan punya kelainan. Pandangan inilah yang menimbulkan dilema.
Lain ceritanya kalau anak perempuan yang berbuat nakal, cenderung dicap negatif dan bikin orang tua ketar-ketir.

Nah, perbuatan seorang anak seperti yang dikisahkan dalam artikel ‘Dilema Kenakalan, Sebuah Cerita’ itu, menurut kamu termasuk kenakalan atau dosa/jahat? Jawabannya tentu menarik, tergantung persepsi atau cara pandang orang yang menjawab. Mungkin, kebanyakan orang akan bersikap lebih lunak bila yang melakukannya anak kecil. "Nakal…nakal…nakal… belajar dari mana mencuri?" kata orang tua sambil menjewer anaknya.

Saat kita beranjak dewasa, nakal bisa berkonotasi macam-macam. Agresi ‘nakal’ di saat malam mingguan, guyonan ‘nakal’ sesama teman kantor, misalnya, menimbulkan sejumlah pertanyaan bila dikaitkan dengan gaya hidup seorang Kristen yang sejati. Di satu sisi ada dorongan untuk menerimanya, namun di sisi lain muncul penolakan karena berbenturan dengan nilai-nilai yang dipegang.

Trus, gimana dong? Ketika kita nakal, kita dilarang nakal. Ketika kita nggak nakal, malah disuruh nakal. Bukan anak cowok katanya kalo nggak nakal. Gimana sih? Dilema lagi… Apa yang harus dilakukan? Di satu sisi, ada ‘kekaguman’ dari orang lain tentang kenakalan, tetapi di sisi lain, akankah dunia menjadi lebih baik bila segala jenis kenakalan dilarang oleh hukum?

Mungkin dilema ini muncul sebagai akibat berbenturannya nilai/norma yang diyakini dengan niat untuk meregang batas atau norma, hukum atau aturan sejauh mungkin demi sedikit ‘tantangan’, ‘petualangan’, ekspresi kekanak-kanakan, atau yang lebih ekstrim, kejahatan menjurus penjara. Dilema semakin kronis bila manusia yang mengalaminya punya sifat ingin tahu yang besar, ingin mencoba, dan tidak pernah belajar dari kegagalan. Dilema yang terus dibiarkan perlahan-lahan semakin menggunung, membuat batasan antara nakal dan dosa lenyap tak berbekas. Muncullah justifikasi bahwa dosa yang diperbuat hanyalah kenakalan semata. Dosa tidak lagi dipandang sebagai dosa tetapi kenakalan. Ups… gawat juga nih…

Namun, bila kita tilik lebih lauh, kenakalan adalah bagian dari kemanusiaan, manusiawi. Tentu, (agak) berseberangan dengan hidup yang bersih, steril, suci, taat pada hukum dan norma. Lalu, sebagai orang Kristen, bagaimana saya bisa membedakan kalau perbuatan saya itu termasuk perbuatan nakal atau sudah termasuk perbuatan dosa/jahat yang diam-diam saya perhalus menjadi kenakalan? Jawabannya sederhana. Kita akan bisa membedakan mana yang nakal dan dosa bila kita menanggalkan pembenaran diri, rendah hati, dan sungguh-sungguh ingin berjalan dalam terang. Perbuatan anak kecil yang meninju temannya bisa disebut nakal. Perbuatan orang dewasa yang ‘nakal’ sama pacarnya bisa dikategorikan nakal atau dosa? Jawabannya tentu kembali kepada kandungan nilai/norma yang dianut seseorang.

Berbuat nakal memang membuat dunia lebih berwarna (tahu sendirilah… orang kreatif biasanya nakal-nakal ). Tetapi berbuat nakal pun mempunyai batas akhir sebelum disebut sebagai dosa. Berbuat dosa pun mempunyai batas akhir sebelum sampai pada kebinasaan.

Kalau boleh memilih, mungkin saya akan sedikit nakal, berdoa agar dikasih kemampuan untuk berjalan dalam batas-batas terluar aturan dan norma yang saya yakini. Dilema itu menyiksa, dan jalan keluarnya hanya ada dua, tetap dalam lingkaran batas norma atau buang sekalian batas-batas itu. Untuk pilihan yang terakhir, sangat tidak direkomendasikan bila tidak dipertimbangkan dengan matang sebab menyisakan ‘luka yang cukup dalam’ sebagai akibat mengingkari nilai/prinsip/norma yang sudah lama dipegang.

Hmmm… sesuatu yang menarik untuk dipikirkan…


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)