Seringkali saya tersenyum malu-malu tiap kali uda (istilah dalam bahasa Batak yang biasanya digunakan untuk memanggil adik kandung dari ayah) bercerita tentang kenakalan saya sewaktu kecil. Kalau tidak salah saat usia 5-6 tahun. Dia bercerita bagaimana waktu itu, saya meninju seorang anak kecil seusia saya, yang berdiri di depan rumah
lalu lari bersembunyi ala perang gerilya.
“Tapi sekarang, dia jadi pendiam,” kata uda saya ketika membandingkan masa kecil dengan sifat saya sekarang. Saat dia bercerita, tersirat kebanggaan akan kenakalan yang saya buat. Seolah-olah semakin mengukuhkan slogan, “Anak laki-laki itu harus nakal”. Sebab kalau tidak nakal malah dicap aneh bahkan punya kelainan. Bukankah begitu, penonton? 
Mengenang ‘kenakalan’ – saya juga tidak keberatan bila disebut ‘kejahatan’, yang saya buat di masa kecil, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Entah darimana sifat ‘nakal’ itu datangnya. Ada dua ‘kenakalan’ yang masih sangat membekas dalam ingatan (sengaja ditulis dua, takut merusak image.. he..he..he..
).
Sewaktu saya masih duduk di bangku 2 SD, saya bersekolah di SD Kalam Kudus, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sekolah Katolik yang mayoritas siswanya dari etnis Tionghoa ini, punya tempat kantin yang luas dengan jajanan yang bikin anak SD ngiler kebawa mimpi.
Saat itu, bel istirahat adalah simbol dimulainya ‘kenakalan’ saya. Saya bergegas menuju sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam permen. Permen-permen ini disusun di atas sebuah meja yang miring 30 derajat ke arah pembeli. Seperti sebuah papan yang dimiringkan untuk bermain mobil-mobilan, dari atas turun ke bawah. Di atas meja itu, dibuat kotak-kotak kecil tempat menampung permen-permen berbagai jenis. Pembeli tinggal mengambil dari kotak itu bila berniat membelinya.
Posisi warung ini diapit tembok sisi kanan dan kirinya dengan lebar sekitar 3 meter. Jadi, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya anak-anak SD berebutan jajan permen. Nah, keadaan penuh sesak ini saya manfaatkan untuk berbuat ‘nakal’. Di hadapan saya ada sekitar 15 anak dan di belakang saya ada sekitar 10 anak. Saat itu, suasana gaduh dan dorong-dorongan. Dorong ke kanan, ada tembok, dorong ke kiri ada tembok. Saat berada di antara kerumunan itu, saya berpura-pura antri hendak membeli permen lalu membuat suara hendak membeli. “Itu permennya berapa?” saya berteriak supaya membuat suasana tambah gaduh.
Sambil pura-pura membeli, tangan saya menyelusup seperti ular di antara badan anak-anak SD yang ada di depan, membungkuk sedikit, lalu meraup sejumlah permen di atas meja itu. Lumayan, permen warna-warni bisa menari-menari di lidah saya. Beberapa kali ‘aksi’ ini berhasil tanpa ketahuan.
Pesona jajanan di kantin terus terbayang di rumah. Makan permen tidak mengenyangkan. Saya pernah jajan bakmi di kantin dan rasanya bikin ketagihan. Tapi sayang, uang jajan lebih sering hanya cukup beli krupuk jigoan atau gocapan dan coklat ayam. Dirundung ‘kesulitan ekonomi’, saya membuat ‘kenakalan’ yang lain. Hanya saja, setting atau TKP-nya di rumah.
Beberapa jam sebelum masuk sekolah (sekolah siang), saya masuk ke kamar, mengambil kursi, berdiri di atasnya lalu meraih sebuah celengan ayam jantan dari tanah liat yang ada di atas lemari. Orang tua sengaja menaruh di situ agar sulit dijangkau. Tapi memang sudah niat berbuat ‘kenakalan’, pasti ada jalan. Banyak jalan menuju Roma, kira-kira begitu kata nenek-nenek.
Saya berniat mengambil uang dari celengan ayam itu tanpa ketahuan. Entah dari mana idenya, saya membuat lubang kecil, cukup untuk mengeluarkan uang kertas, di bawah celengan itu. Lewat lubang itu, saya meraup seratus hingga seribu perak. Agar tidak ketahuan mengambil (harusnya sih mencuri tapi diperhalus… he..he..he..
) uang saat keluar kamar, uang ratusan yang sudah kumal dan berbau apek itu, saya masukkan ke dalam mulut.
Saya kemudian melenggang pergi keluar kamar bersama ‘jarahan’. Saat di sekolah, saya berpesta pora makan beberapa porsi bakmi dan jajan berbagai permen. Anehnya, ‘kenakalan’ saya ini tidak pernah ketahuan sampai sekarang (kecuali orang tua saya membaca tulisan saya ini
).
Bersambung ke ‘Dilema Kenakalan – Segumpal Kegelisahan’
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.