“Loe enak… kerja di perusahaan bonafid.” ; “Ngomong sih gampang, loe kan kerja yang memang sesuai kemauan loe. Gak
heran loe enjoy kerjanya.” ; “Lha gua, kerja gak sesuai minat, gajipun pas-pasan.” Kira-kira begitulah obrolan
di antara kita yang bekerja demi menghidupi diri dan keluarga.
Dalam benak kita, akan lebih ‘enjoy’ kalau kita bekerja sesuai maunya kita, sesuai jurusan, sesuai minat kita, semua
kosa kata ’sesuai blablabla’ yang menurut kita akan membuat hidup lebih nyaman dan masa depan menjanjikan. Jauh dari
bayangan kita, bagaimana seorang pemulung bisa menjadi pengusaha. Sebab yang kita tahu, untuk menjadi berhasil harus
sesuai ‘kriteria’ dan ‘maunya’ kita: pendidikan tinggi, banyak pengalaman, banyak buku, banyak uang, perusahaan bonafid,
dan sebagainya. Ketika semuanya itu jauh dari jangkauan, kita mulai takut dan bersungut-sungut.
Akibatnya, banyak di antara kita yang pindah-pindah pekerjaan padahal penyebabnya hanya karena, “Pekerjaan itu
tidak sesuai dengan maunya gua!”. Saat kedewasaan kita diuji untuk sabar bertahan, kita memilih menyerah lalu ‘lari’ mencari
pekerjaan yang menurut kita bisa membuat kita nyaman.
Semua orang, akan tiba pada satu titik dimana ia tidak menyukai pekerjaannya. Ada pula orang yang memang ‘terpaksa bekerja’
karena tidak sesuai kemauannya demi memenuhi kebutuhan hidap. Tapi sudahkah kita tanyakan pada diri kita sendiri apakah ‘kemauan’ itu dibangun di atas dasar
hati yang mengucap syukur? Seringkali masalah ‘ketidaksukaan’ kita dengan pekerjaan hanya karena kita tidak tahu mengucap
syukur.
Tuhan pernah berkata, “Barangsiapa yang setia pada perkara kecil, kepadanya akan dipercayakan perkara yang lebih besar.”
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, bahwa pekerjaan yang tidak kita sukai itu justru akan menghantarkan kita menuju
masa depan yang lebih baik dimana Tuhan sendiri yang ’sengaja’ menempatkan kita bekerja di situ. Coba dengarkan suara Tuhan
dan perhatikan bisikan-Nya lewat pengalaman sehari-harimu. Tuhan sudah berbicara, Tuhan sudah memberi tanda, tapi kita
bersikeras untuk mengikuti ‘maunya’ kita.
Sampai kapanpun, kita akan terus menyusahkan diri bila menuntut ‘maunya’ kita itu. Jalan orang berbeda-beda. Ada yang
memang bekerja di perusahaan bonafid, ada yang bisa sekolah tinggi, ada yang punya banyak fasilitas, tetapi itu tidak
bisa dijadikan alasan atau ‘barometer’ keberhasilan.
Meski kita tidak menyukai pekerjaan yang kita lakukan, meski kita punya uang pas-pasan bahkan punya utang, meski
kita tidak sekolah tinggi-tinggi, meski kita tidak punya fasilitas seperti orang lain, kita masih punya harta berharga yang tidak
bisa dilihat oleh mata: iman dan kasih pada Tuhan kita Yesus Kristus, antusiasme, semangat hidup, pikiran positif, semua kualitas yang
berguna untuk menghantarkan kita menjadi pribadi yang memberkati orang lain.
Uang dan harta jangan dijadikan ukuran. ‘Maunya’ kita jangan dijadikan jalan yang akan membuat kita berhasil (menurut kita).
Sebab ada tertulis, “Jerih payahmu di dalam Tuhan, tidak akan sia-sia.” Miliki hati yang mengucap syukur, saya percaya, kita
semua akan menjadi bintang yang menerangi malam. Jadi, meski kita susah, miskin, pintu-pintu tertutup, jangan menyerah,
teruslah berharap kepada Tuhan. Dia sangat tahu apa yang terbaik untuk kita.
Mengutip perkataan seorang tokoh terkenal, Goethe, “It is not doing the things we like, but liking the things we have to do that make life happy.” (Bukannya melakukan
hal-hal yang kita sukai, tapi menyukai hal-hal yang harus kita lakukan, itulah yang membuat hidup bahagia). Selamat bekerja sungguh-sungguh,
giat belajar, dan lakukan dengan sebaik-baiknya apa yang memang harus dilakukan. Ingatlah senantiasa, Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan mereka
yang berharap pada-Nya.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.