Be concerned not with what you have accomplished but over what you might have accomplished if you had followed the Lord completely. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Tips & Thoughts

Satu Tahun LDR

Submitted by riel on 03/05/2005 – 9:52 AM | 707 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Long Distance Love - Tips Pacaran Jarak JauhHari ini, genap setahun, Dhe kekasih saya, merantau ke Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kata orang,
pacaran jarak jauh (long distance relationship – LDR) lebih banyak gagalnya daripada berhasil. “Why bother? It never works. Out of sight, out of mind,”
kata seorang teman saya tahun lalu. Tapi ada juga ’sebagian kecil’ yang mengatakan bahwa kita beruntung menjalani LDR karena itu adalah hal yang berani, dan punya reward yang besar bila berhasil melaluinya. Jarak yang memisahkan memang sulit untuk dijalani tetapi bukannya tidak mungkin. Malahan, LDR bisa memberikan dampak positif dan kenangan yang indah dalam suatu hubungan.

LDR memang tidak untuk semua orang. Menjalani LDR tidaklah mudah. Mulai dari airmata perpisahan saat di airport, pembicaraan yang hanya bisa dilakukan lewat telepon dan seakan tidak akan berakhir, hari dan malam yang dipenuhi perasaan cemas dan cemburu berpikir salah satu atau keduanya akan berhenti mencintai, harus belajar mandiri menjaga diri dan hati (emosi). Pada bulan pertama akan terasa berat untuk menerima kenyataan ‘kehilangan’ sang kekasih. Ada begitu banyak tekanan. Lalu mengapa kita harus menjalaninya? Padahal ada peluang orang yang kita cintai itu akan berubah bahkan bertemu dengan orang lain. Adakah alasan yang baik untuk mempertahankan LDR?

Satu hal yang tidak akan pernah berubah bahwa dalam membina relationship (hubungan) tidak ada rumus baku yang bisa dijadikan
jaminan akan terus bertahan. Seperti kata ibu saya, “Biarpun kalian sering ketemu, sama-sama di Jakarta, kalau
nggak jodoh, nggak jadi. Biarpun kalian jauh, kalau jodoh, pasti jadi.” Kira-kira begitulah wejangan dari para orang tua
yang tentu sudah berpengalaman.

Bicara jodoh, semuanya ada di tangan Tuhan. Tapi bicara memilih, tentu ada di tangan kita. Setelah kita memilih melalui pertimbangan yang matang,
langkah selanjutnya adalah memelihara cinta dan hubungan yang sedang dijalani. Dalam perjalanan inilah, kita mulai
mengenal pasangan kita, dan bila hubungan itu sehat dan dewasa, kita akan melihat kekuatan dan kelemahan-nya dengan
bijaksana.

Setahun ini, saya dan Dhe biasanya berhubungan via telepon satelit sekali seminggu. Tempat Dhe bekerja sebagai dokter PTT, belum ada
sinyal HP dan telepon sehingga harus Dhe yang menelepon saya. Setiap hari Minggu pagi, sepulang gereja, ia mampir ke wartel
satelit tidak jauh dari rumah dinasnya. Berhubung argo wartel satelit termasuk argo kuda, kami
tidak bisa bicara lama-lama. Saya hanya bisa menghubunginya via HP kalau ia sedang pergi ke kota, yang dua jam perjalanan dari tempatnya.

Jadi, selama ini kami berkomunikasi lewat surat dan bicara lewat telepon sekali seminggu, itupun cuma beberapa menit. Model
hubungan seperti ini, memang membutuhkan ‘treatment‘ khusus agar bisa dijalani. Menurut pengalaman saya dalam LDR, 3-4 bulan
setelah pertemuan terakhir (tatap muka), akan ada bulan-bulan dimana hubungan mulai hambar.

Bicara di telepon menjadi sekadar rutinitas
bahkan menulis suratpun terasa kehabisan ide. Perasaan hambar inilah yang bila tidak hati-hati disikapi bisa menjadi ‘racun’ yang
merusak suatu hubungan. Saya pikir, itulah mengapa banyak orang berhenti di tengah jalan dalam LDR, karena tidak ‘kuat’ menghadapi
perasaan hambar ini. Walaupun harus kita akui juga, sering bertemu pun bisa membuat hubungan hambar.

Itulah mengapa, dalam LDR penting dibuat suatu komitmen bersama untuk bertemu dalam rentang waktu tertentu. Misalkan setiap 4-5 bulan, bertemu
tatap muka. Rentang waktu ini perlu dibuat agar kedua pasangan punya ‘harapan’ bahwa mereka akan bertemu lagi. LDR membutuhkan perhatian khusus karena sifatnya yang unik. Bagi kamu yang ‘ditentukan’ untuk menjalani LDR, mengembangkan suatu disiplin dan kreativitas bisa membuat suatu perbedaan ketika menghadapi rasa rindu (sepi) terpisah ribuan kilometer.

Lewat perjalanan LDR selama setahun ini,
saya menemukan beberapa pelajaran berharga yang mungkin bisa bermanfaat bagi Sobat UF yang juga sedang menjalani LDR:

  • Buat komitmen untuk bertemu (buat batas waktu berapa lama kalian akan berpisah). Entah setiap 4 atau 5 bulan sekali. Tergantung lokasi, dana, dan waktu yang kalian miliki. Pertimbangkan dengan baik.
  • Buat komitmen untuk menelepon dan lakukan itu sungguh-sungguh seolah-seolah komitmen untuk bertemu. Entah itu 1-3 kali seminggu. Saat bicara di telepon, ceritakan
    kegiatan sehari-hari yang kalian lakukan. Jangan hanya ’say hello’. Ceritakan semua hal kecil dan yang terpenting selalu katakan kalau
    kamu merindukan/sayang dia.
  • Tulis surat atau e-mail. Tulisan punya power yang lebih kuat dan lebih baik untuk mengekspresikan perasaan. Bila menulis surat, sebaiknya tulis tangan. Kalaupun
    diketik, itu adalah draft surat. Menulis surat berarti menulis tangan.
  • Beri kejutan dengan mengirimkan dia hadiah-hadiah kecil. Misalkan kalender buatan sendiri, foto berdua dalam bingkai, kartu-kartu kecil ungkapan cinta, coklat,
    bunga, dan sebagainya. Terkadang, hal-hal yang ‘tidak diharapkan’ (unexpected things) bisa jadi sarana untuk menunjukkan kepadanya kalau kamu memikirkan dia atau dia penting bagi kamu.
  • Tanamkan dalam hati, bahwa kamu akan memberikan yang terbaik bagi pasanganmu. Jangan menghitung-hitung atau membandingkan ‘untung rugi’ apa yang sudah
    kau beri/lakukan dengan apa yang sudah dia beri/lakukan.
  • Saling mengingatkan (mengenang) kebersamaan yang pernah dijalani. Cara ini biasanya cukup manjur untuk mengatasi rasa hambar/bosan yang mulai mengusik.
  • Dalam model hubungan LDR, segala sesuatu bisa menjadi semakin diperbesar dan melipatganda. Ada masa dimana kita terjebak untuk membesar-besarkan kelemahan pasangan kita. Muncul
    banyak prasangka yang kalau dibiarkan bisa merusak hubungan. Bila hal ini terjadi, cepat-cepat berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang sudah Ia berikan bagi kalian berdua.
  • Komunikasi (communication), kepercayaan (trust), rasa hormat (respect), kejujuran (honesty), kekuatan (strength), rasa syukur (give thanks), dan iman (faith) adalah komponen yang wajib dipegang teguh. Cinta dan komitmen juga perlu dan
    ada kalanya ‘percaya pada cinta sejati’ juga punya impact (pengaruh) yang kuat untuk terus bertahan menjalani LDR. Cinta sejati adalah sesuatu yang istimewa dan sulit. Jangan berpikir bahwa jarak adalah rintangan, tetapi berpikir bahwa itu adalah tujuan bahwa suatu saat nanti, kalian akan bersama kembali.

Yang terakhir, meski banyak orang meragukan keberhasilan menjalani LDR, yang terpenting adalah seberapa jauh kalian saling mencintai, berarti satu sama lain. LDR bisa membuat hubungan menjadi hubungan paling berhasil dan bahagia. Rasa syukur, aman, dan bahagia akan menjadi bagian kita sampai tiba waktunya dimana kedua pasangan berkumpul kembali untuk membangun masa depan bersama.

Jangan lupa… selalu ingat… pepatah ini, "Absence makes the heart grow fonder" – "Tidak bertemu, membuat hati semakin cinta". Terus berdoa dan berserah kepada-Nya. Selamat berjuang dalam LDR! (updated: May 5, 2005)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

3 Comments »

  • agnes_keren says:

    Aloooo, thx ya artikal ttg LDR, gw juga LDR ama cowo gw. Gw baru menjalani hub LDR ini selama 3 bulan. Emang byk godaannya. Tp untungnya gw bs menjalani hub ini dgn baik. LDR itu emang ga susah kok, asal kita bs saling percaya & pegang komitmen, itu yg paling gampang. Dl wkt pas gw mau LDR, gw pikir gw ga bs. Ternyata bs kok. Cm yg ga kuatnya tuh, rasa kangen & pengen peluk. Soalnya gw kan ga ktm ama dia skrg. Ok deh. Ntar gw mau copy paste artikel ini di blog gw. Gw pengen temen2 yg mengalami LDR tidak patah semangat.

  • ratty says:

    Hai,….thanks ya..
    Saya juga lagi jalani LDR nih,….tips anda sangat bagus dan saya kembali PD dalam menjalani LDR ini. Saya semakin merasakan bahwa selama ini sebagian tips itu telah kami (saya & dia ) jalani. Walaupun sebenarnya berat juga menahan rindu kalo jauh-jauhan spt ini. Semoga kami tetap bisa saling menjaga perasaan kasih dan sayang ini sampai nanti dan selamanya.
    Sekali lagi…thanks ya….

  • HAI…thanks ya…
    gw ngejalanin LDR dah hampir 1 thn,awalnya sich emang berat,n mikir hubungan gw ga bakal tahan mpe lama,dah gitu waktu mulai LDR pertama kalinya gw ga terlalu kenal bgt ma co gw palagi kalo harus LDR;(…
    tapi smpe detik ni LDR kita lancar2 aja wlpun emang ga lepas sich dari yg namanya negatif thinking:)..
    semoga gw ma co gw masih bisa ngjalani LDR ini,smpe kakek-nenek(^_^)…..

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.