Kala Aku Pulang
Hatiku melonjak ketika atasanku meluluskan permohonan cutiku beberapa hari. Pikiranku melayang mengingat seseorang yang kucintai nun jauh di sana. Membayangkan saat-saat yang akan kami lalui dengan penuh canda dan tawa.
Membayangkan tempat-tempat yang akan kami kunjungi sambil membiarkan memori kami disegarkan. Membayangkan keluarga, teman, dan kerabat yang akan kami temui untuk melepas rindu. Rencana demi rencana bermunculan di benakku. Mereka seakan berlomba-lomba minta untuk diwujudkan.
Tak lama di udara, kakiku akhirnya berpijak di Bandara Soekarno Hatta. Penjemputku, yang tak lain adalah pangeranku, menyambut dengan senyum terbaik. Setangkai mawar merah dipersembahkan sambil berbisik, “Selamat datang, tuan puteriku.” Dia benar-benar tahu bagaimana membuatku tersanjung. Kami berbincang banyak hal beberapa jam kemudian. Duduk-duduk di bandara dari jam lima sore hingga 8 malam. Cerita demi cerita mengalir bergantian dari mulut kami. Bandara menjadi saksi sepasang kekasih melepas rindu.
Waktu yang sempit membuat kami harus memanfaatkannya dengan efektif dan efisien. Mulai dari acara belanja, rekreasi, nonton, mempersiapkan acara ulang tahun dan valentine, reuni, bahkan refresh ilmu dengan asisten dosen di rumah sakit aku lakukan. Pangeranku dengan setia menemani ke mana pun aku pergi. Aku bak tuan puteri layaknya di negeri dongeng.
Seminggu ini, hari-hariku penuh warna. Bak pelangi terbentang di langit. Bahagia rasanya dapat kembali berada di tengah-tengah orang yang dekat di hati. Benar kata pepatah, “Meski hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Walaupun kita enak di tanah rantau, tetapi lebih enak di rumah sendiri.
Aku bersyukur untuk kesempatan merantau yang Tuhan berikan. Aku bersyukur untuk pekerjaan yang Tuhan sediakan. Betapa aku melihat, Tuhan sungguh baik merancangnya bagiku. Di sisi lain, kami belajar ekstra tentang hubungan jarak jauh. Dengan sarana komunikasi yang terbatas, kami selalu berusaha kontak. Didasari penyerahan penuh pada Tuhan dan rasa percaya pada pasangan, kami berusaha menjalani komitmen bersama. Puji Tuhan, sampai saat ini kami bertahan.
Saatnya untuk kembali ke tempat tugas. Aku harus terbang pagi-pagi sekali. Ibarat handphone yang baru di-charge, baterai kami penuh. Kami berharap baterai itu cukup untuk bertahan sampai pertemuan kami selanjutnya. God, help us.
Dhe, 3 Maret 2005, 1:30 PM, Lembor, Flores, NTT
——–
* Tulisan ini saya (Riel) terima dari Dhe hari ini, Senin, 21 Maret 2005 pukul 12.30 siang lewat Pak Pos. Seperti biasa, setiap kali ada surat dari
Dhe, Pak Pos itu tersenyum meledek sambil mengangkat tinggi-tinggi surat itu. Ia tahu itu surat dari Dhe karena di atas setiap surat
selalu tertempel perangko foto kami berdua.
Dhe pulang ke Jakarta pada 8-16 Februari 2005 lalu. Saya tidak menyangka, selain menulis surat, dia juga menulis cerita isi hatinya di satu lembar kertas yang ingin dia muat di UF. Kira-kira begitulah isinya dan tidak diedit sama sekali.
Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.





Comments
No comments yet.
Sorry, the comment form is closed at this time.