“Kamu nggak usah terlalu memikirkan itu. Coba kamu lihat, memangnya kamu dan adek-adek bisa kuliah di UI
karena punya tabungan? Memangnya kita punya usaha karena ada tabungan? Semuanya Tuhan yang kasih,” jawab ibuku lembut.
Menilik setengah perjalanan hidupku selama kurang lebih 25 tahun, aku melihat kasih setia Tuhan yang begitu besar dalam
kehidupan keluargaku. Betapa tidak terselami dan tak terjangkau pikiran manusia apa yang Ia tetapkan dan rencanakan.
Berulang kali masa-masa sulit kami lewati. Aku pernah menyalahkan Tuhan karena keadaan yang aku terima. Namun, seiring
perjalanan waktu, aku akhirnya menyadari bahwa semua masalah, semua kesulitan yang aku alami tujuannya baik, betapa Tuhan
sangat setia dan bertanggung jawab akan kehidupan setiap anak-anak-Nya.
Saat aku masih sekolah kelas 2 SMP hingga kelas 1 SMA, aku berusaha menerima kenyataan bahwa orangtuaku belum
bisa mengganti kacamataku yang sudah kupakai sejak kelas 5 SD. Kacamata yang kupakai itu sudah berwarna hijau di sisi-sisi
lingkarannya dan miring saat digunakan. Apalagi pandanganku mulai buram karena rupanya minusku bertambah. Saat pertama kali
memakai kacamata, aku minus 2,5.
Waktu terus berlalu dan orangtuaku dengan berat hati selalu mengatakan belum bisa mengganti kacamataku karena tidak mempunyai cukup uang. Barulah
saat aku duduk di bangku 2 SMA, aku dibelikan kacamata baru. Karena kacamataku dibiarkan bertahun-tahun tidak diganti, minusku
bertambah sangat cepat menjadi minus 5. Aku sempat marah kepada orang tuaku dan tidak mau mengerti mengapa kacamataku tidak
segera diganti setiap kali aku memintanya. Diam-diam, aku menyimpan kekecewaan.
Saat aku kelas 3 SMA, kami sekeluarga pindah rumah ke daerah Jatinegara Barat. Sebuah rumah kecil bertingkat dua (menyerupai ruko)
yang letaknya di samping bioskop Jatinegara.
Belakangan aku baru tahu, bahwa keadaan ekonomi kami saat itu sulit. Ibuku terpaksa belanja beras ke pasar di malam hari karena
harga beras lebih murah daripada siang hari. Itupun satu liter, hari demi hari. Saat itu aku sedang bergumul memutuskan akan
kuliah di mana. Aku berharap bisa diterima di universitas negeri karena biayanya yang murah. Sangat kecil kemungkinan aku
bisa bersekolah di universitas swasta karena uang tidak ada.
Karena tidak mempunyai cukup uang, aku sering pergi ke pegadaian menggadaikan perhiasan ibuku yang tidak seberapa. Bahkan cincin kawin orang tuaku pun sudah sering digadaikan. Awalnya aku gengsi dan malu, tetapi demi menyambung hidup dan menutupi biaya keluarga, aku paksakan diri.
Saat itu, orang tuaku selalu menolak dengan halus saat aku meminta mengikuti kursus
persiapan UMPTN. Aku merasa iri dengan teman-teman sekelasku yang sering bercerita bahwa mereka sedang kursus di Teknos, Sony Sugema,
dan sebagainya. Di sana mereka mendapat cara mengerjakan soal lebih mudah, uji coba UMPTN, dan sebagainya. Aku marah dan iri…
Bahkan saat aku meminta uang untuk membeli buku soal-soal UMPTN pun ibuku selalu menjawab, “Uang kita lagi nggak ada.” Tapi,
aku terus ngotot dan marah, sampai akhirnya ibuku memberiku selembar uang 20 ribuan. Aku meminta lagi tapi hanya itu yang bisa
diberikan ibuku. Niatku membeli beberapa buku UMPTN sirna. Aku hanya membeli dua buku kumpulan soal UMPTN di Toko Buku Gramedia
Matraman. Aku sedih…
Aku cuma bisa diam dan tersenyum pahit saat teman-temanku berdiskusi tentang kursus mereka. Tapi aku tetap berusaha. Aku meminjam buku-buku bekas dari
temanku Junanto. Kebetulan abangnya punya buku-buku tua yang isinya tentang tips dan triks mengerjakan soal matematika dengan cepat, ringkasan
pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dan sebagainya.
Satu bulan sebelum UMPTN, setiap hari aku belajar sendiri memanfaatkan
buku-buku bekas dan dua buku UMPTN itu. Aku tidak mau menyerah pada keadaan. Apa yang ada, itu yang aku syukuri. Akhirnya,
aku diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Akuntansi.
Keadaan ekonomi keluargaku tidak selamanya sulit. Ada juga tahun-tahun dimana aku bisa membeli buku sesukaku dan tidak risau
dengan keuangan keluargaku. Aku juga bersyukur bisa mendapat kesempatan itu.
Aku mau menyatakan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat baik. Seringkali kita berpikir bahwa uang adalah sumber kebahagiaan kita.
Uang yang membuat kita menjadi percaya diri. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang menjadikan ‘tabungan’ sebagai berhala penjamin masa depan. Kita mulai iri dengan teman-teman kita yang mengaku sudah punya tabungan sekian juta, sekian puluh juta, dan seterusnya.
Terbukti,
selama lebih dari 25 tahun, apa yang aku capai, apa yang aku miliki saat ini, bukan karena tabungan, bukan karena uang yang
dikumpul-kumpulkan. Tetapi karena kasih setia Tuhan, pemeliharaan Tuhan dalam hidupku. Mempunyai tabungan tidak menjadi jaminan akan masa depan. Sakit penyakit, ditipu orang, serakah bisa menguras tabungan. Tetapi pemeliharaan Tuhan kekal selama-lamanya. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
Memang baik untuk menabung, tapi jangan sampai tabungan itu membuat kita lupa untuk bersandar dan percaya kepada Tuhan. Ada banyak
teman-temanku yang menganggapku cukup berada, tetapi mereka tidak tahu bahwa aku dan keluargaku hidup hari demi hari mengharapkan
belas kasihan Tuhan.
Mengenang masa lalu, kini aku bersyukur bisa melewati masa-masa sulit yang tidak kumengerti. Tapi di ujung jalan penuh
cobaan dan kesulitan itu, cahaya terang kesetiaan Allahku menjadi bagianku. Akan ada banyak, sangat banyak kesulitan yang akan
aku (kita) hadapi hari ini dan masa depan, tetapi ketahuilah tangan Tuhan yang murah hati, kesetiaan-Nya yang tanpa batas, dan
penyertaan-Nya yang ajaib selalu mengikuti di mana aku (kita) berada.
Jangan biarkan kemarahan menguasaimu karena keadaanmu yang tidak sesuai dengan yang kau inginkan. Jangan biarkan
putus asa mengusikmu setiap pagi karena kau menganggap Tuhan tidak adil dalam hidupmu, dalam keluargamu. Sadarilah dan
bersyukurlah bahwa Tuhan selalu baik dalam hidupmu. Percayalah, masa-masa sulit yang kita hadapi, membuat kita menghargai
apa yang Tuhan berikan, membawa kita mengalami kasih setia-Nya. Itulah keindahan hidup yang sesungguhnya.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.