Regret is a kind of frustated repentance that has not been quite consummated. Once the soul has turned from all sin and commited itself wholly to God there is no longer any legitimate place for regret. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Highlight News

Belajar Memahami Alkitab

Submitted by riel on 21/02/2005 – 10:53 AM | 768 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

APA yang tampak di depan mata itu sungguh jauh dari gambaran Alkitab yang kita kenal selama ini. Kesannya seperti buku harian biasa, peninggalan orang terkenal, ditulis tangan, hingga pantas dipajang di meja khusus yang ditutup kaca, dipamerkan. Ukurannya 32,5 cm x 22 cm, hampir seukuran Alkitab mimbar. Tulisannya khas tulisan tangan tempo dulu: tulisan miring dalam huruf Latin, tebal-tipis, sangat rapi.

Memperhatikan dengan cermat keterangan yang menyertainya, baru kita tahu, buku itu Kitab Perjanjian Baru terjemahan Pdt Werner August Bode, yang dilakukan 1929-1938. Terjemahan Bode itu menggantikan terjemahan Melchior Leijdecker, Hillebrandus C Klinkert, William G Shellabear, yang dipakai sebelumnya. Penerjemahan itu dilakukan agar satu Alkitab dapat dimengerti di seluruh Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaka.

Kitab itu terbuka, tepat pada Roma 16: “Adapoen soedara kita Feibi ini ialah seorang prampoean jang men- djadi mendjawat Aklisia jang di Kancharjah itoe maka telah akoe pertarohkanlah dia kepadamoe soepaja kamoe menjamboet dalam Toehan seperti jang patoet antara orang saleh, dan soepaja kamoe menolong akan dia dalam barang sesoeatoe perkara jang dipintanja pertolonganmoe: kerna iapoen soedah mendjadi penolong kepada banjak orang, dan kepada akoe inipoen …” Memang tidak mudah membacanya, apalagi bagi generasi sekarang.

Perjanjian Baru terjemahan Bode itu merupakan salah satu dari koleksi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang dipamerkan di Auditorium Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Pameran untuk memperingati hari ulang tahun ke-51 LAI itu, digelar pekan lalu. Kitab hasil terjemahan Bode itu dipamerkan bersama koleksi Alkitab kuno lainnya.

Replika

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Replika Gulungan Kitab Yesaya (Isaiah Scrolls). Seperti diketahui, gulungan Kitab Yesaya merupakan satu-satunya gulungan kitab yang ditemukan dalam keadaan lengkap, terdiri atas 66 pasal. Gulungan itu ditemukan di dalam gua di barat laut pantai Laut Mati, di kawasan Qumran, pada 1947.

Tak kalah menarik adalah Kitab Kejadian Aksara Arab Jawi berukuran 20,5 cm x 13 cm yang diterbitkan Nederlandsch Bijbelgenootschap pada 1939, Kitab Lukas dalam bahasa Arab Melayu ukuran 19 cm x 13 cm terbitan British and Foreign Bible Society Singapore pada 1913, serta Perjanjian Baru aksara Madura ukuran 20 cm x 14 cm yang juga diterbitkan Nederlandsch Bijbelgenootschap pada 1840.

LAI menyusun materi pameran secara kronologis, mulai dari panel gambar tentang sejarah kehadiran Alkitab bagi manusia. Materi itu diteruskan dengan bagan sejarah penerjemahan Alkitab, dan seterusnya bagan sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia.

Semua koleksi Alkitab kuno diletakkan di atas meja ditutup kaca, sedangkan koleksi terbitan LAI bisa disimak langsung karena diletakkan di rak-rak yang dijajarkan di bagian tengah ruangan.

Tercatat 84 Alkitab, Kitab Perjanjian Baru, dan Kitab Perjanjian Lama terbitan LAI, sebagian besar di antaranya berbahasa daerah dari seluruh wilayah Nusantara, dipajang di rak.

Dari wilayah Papua saja, terdapat Perjanjian Baru dalam 12 bahasa, di antaranya dalam bahasa Sougb, bahasa Citak, bahasa Berik, bahasa Hatam, bahasa Moni. Di samping itu, terdapat satu kitab kumpulan lima kitab Musa dalam bahasa Lani.

Selain koleksi Alkitab, LAI memamerkan koleksi temuan arkeologis yang berkaitan dengan cerita dalam Alkitab. Di antaranya, cawan Herodian, koin, buli-buli minyak, dan rep- lika keramik bergambar Alkitab.

Pada saat-saat tertentu, panitia memutar film di salah satu ruangan. Pada sudut yang lain, pengunjung pameran bisa mengakses informasi yang menyajikan peta elektronik penerjemahan Alkitab.

Seminar Alkitab

Pameran koleksi itu pada kenyataannya belum sepenuhnya memuaskan pengunjung. Beberapa pengunjung merasa perlu mendapatkan informasi tambahan di ruang seminar, yang diselenggarakan setiap hari, Rabu (9/2) hingga Sabtu (12/2). Itu pun dengan catatan jika masih tersedia kursi kosong.

Secara berurutan sejak Rabu itu hingga Sabtu, dari pukul 10.00 – 12.00, dibahas tema-tema: “Bagaimana Alkitab Sampai kepada Kita?”, “Mengapa Alkitab Berbeda?”, “Penerjemahan Nama-nama Illahi”, dan “Alkitab dan Seks”.

Seorang ibu yang datang dari Jonggol, Jawa Barat, mengaku kecewa tidak mendapatkan tempat untuk pembahasan tema “Penerjemahan Nama-nama Illahi” yang di antaranya menghadirkan pembicara cendekiawan Muslim Ulil Abshar-Abdalla. Namun, ia cukup puas bisa mengikuti pembahasan tema “Bagaimana Alkitab Sampai kepada Kita?”

Ia berdecak kagum ketika seorang ibu mempertanyakan arti penulisan TUHAN dan Tuhan, konsistensi penulisan Priska dan Priskila, jemaah dan jemaat, serta mempertanyakan pemakaian suatu istilah dalam Kitab Tawarikh di Perjanjian Lama yang ia rasa kurang pas.

Ibu itu juga tersenyum ketika mendengar peserta seminar yang lain menanyakan, bagaimana keabsahan Alkitab jika melihat proses penerjemahannya dilakukan banyak orang dan memakan rentang waktu hingga 1.500 tahun. Bukankah sangat mungkin secara teknis terjadi salah salin atau salah tulis?

Diskusi menghangat ketika pembahasan menginjak pada sumber Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang sampai kepada pembacanya sekarang.

Kisah Perjumpaan

Pendapat peserta lain menyejukkan suasana, dari mana pun sumber dan siapa pun yang menuliskan, menerjemahkannya, memprosesnya, yang paling penting adalah meyakininya. Alkitab adalah kisah tentang perjumpaan Tuhan Allah dengan umat-Nya.

Umat Kristen di sepanjang masa dan di segala tempat tidak perlu menerjemahkan teks Alkitab ke dalam berbagai bahasa di dunia ini jika umat Kristen berbicara dalam tiga bahasa, Ibrani, Aram, dan Yunani.

Penerjemahan dilakukan karena kebutuhan untuk membaca teks Alkitab menjadi kebutuhan banyak orang. LAI mendasarkan penerjemahan untuk Kitab Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani, sedangkan untuk Perjanjian Baru didasarkan pada Alkitab bahasa Yunani.

Kebutuhan itu pula yang menyebabkan Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa daerah tertentu.

“Kami menerjemahkannya berdasarkan permintaan umat di daerah itu. Pada kenyataannya, melalui Alkitab bahasa daerah, kami bisa membantu pemerintah menurunkan angka buta huruf, seperti terjadi di Nusa Tenggara Timur,” kata Supardan, Sekretaris Umum LAI.

LAI, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta gereja-gereja (Kristen dan Katolik), menyelenggarakan program pemberantasan buta huruf/pembaca baru Alkitab. Program berlangsung 12 bulan di Soe.

Dan, bersamaan dengan ulang tahunnya kali ini, LAI menyelenggarakan program Satu dalam Kasih, membagikan Alkitab berbahasa Dayak Ngaju dan Perjanjian Baru bahasa Banjar, belum lama ini di pedalaman Kalimantan. (PEMBARUAN/SOTYATI)

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 14 Februari 2005

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Comments are closed.