More spiritual progress can be made in one short moment of speechless silence in the awesome presence of God than in years of mere study. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Wow Articles

Berkah dari Itoe Ayer Mata

Submitted by riel on 13/02/2005 – 2:33 PM | 291 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

SEJAK kelas satu Lagere School (kini sekolah dasar) di Bandung, saya kenyang menderita, dalam arti menderita hukuman dari guru. Pernah, saya lupa membawa batang korek api untuk belajar berhitung. Langsung ibu guru menghardik, “Kamu lupa tugas. Cepat pulang! Ambil!” Saya sangat takut. Rumah kami jauh sekali. Tidak bisa saya menyeberang jalan. Untunglah ada kakak di kelas dua. Sambil marah-marah ia menyeret saya lari terengah-engah.

Di kelas tiga, saya kenyang menderita hukuman dalam pelajaran bahasa. Kata sapa untuk Ibu Guru adalah Mejuffrouw. Untuk anak kelas tiga, penulisan kata itu penuh jebakan. Pertama, di situ ada dua vokal, yaitu e dan u, padahal lafalnya sama. Kedua, di situ ada konsonan f, padahal akar katanya, yaitu vrouw ditulis dengan konsonan v. Ketiga, konsonan f itu harus ditulis ganda. Keempat, di situ ada diftong ou, padahal tanpa vokal u pun lafalnya sama.

Ketika saya salah menulis kata Mejuffrouw, ibu guru membentak, “Tulis kata itu seratus kali!” Menjengkelkan! Namun yang membuat saya menderita adalah ketika hukuman itu diubah menjadi denda uang. Tiap salah eja, didenda satu sen. Uangnya dimasukkan dalam celengan yang nanti digunakan bila kelas berdarmawisata.

Saya merasa menderita sebab saya emoh (tidak mau) mengeluarkan uang. Kalau ada tiga salah maka dendanya tiga sen, padahal tiga sen bisa dipakai untuk membeli pensil.

Penderitaan lain terjadi di kelas empat bukan dari guru melainkan dari pelanggan koran. Salah satu pelanggan koran adalah sebuah perusahaan ekspor. Ruangannya menjorok ke dalam dipenuhi peti-peti besar berisi teh.

Seperti biasa, saya bergegas meletakkan koran di atas peti dekat pintu. Tetapi tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam. Saya disuruh masuk. Di ujung dalam ada seorang bapak duduk di belakang meja tulis. Ia membentak, “Cara kerja apa ini? Tugasmu mengantar koran ke meja ini! Bukan dilempar di pintu. Kalau kerja jangan kepalang tanggung! Kalau kerja harus bersungguh-sungguh! Mengerti?” Dengan kaki gemetar ketakutan saya berkata, “Ya Oom, maaf Oom…ya Oom, maaf Oom.”

Apakah pengalaman semacam itu menyenangkan? Tentu tidak! Itu adalah penderitaan. Tetapi mengapa masih terus diingat? Karena di kemudian hari saya justru beroleh manfaat. Penderitaan membuat saya tergores sehingga jera dan bertekad memperbaiki diri. Menjelang dewasa, segala pengalaman derita itu membentuk kepribadian saya untuk berprestasi secara optimal.

Di perguruan tinggi dengan sistem pilihan, biasanya mahasiswa lebih suka memilih mata pelajaran yang ringan daripada mata pelajaran berat yang menimbulkan derita. Padahal sebenarnya kita lebih banyak belajar dari pengalaman derita.

SEKITAR empat puluh tahun setelah hidup Kristus di bumi, seorang rasul bersaksi bahwa Kristus belajar bukan dari apa yang disenangi-Nya, melainkan dari apa yang diderita-Nya. Tulisnya, “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5:8). Dalam bahasa aslinya ayat ini memakai kata emathen dan ephaten yang mengaitkan “apa yang dipelajari-Nya” dengan ” apa yang diderita-Nya”.

Tawa dan Gembira memang perlu, namun kita lebih banyak belajar dari tangis dan derita. Dalam novel Boenga Roos dari Tjikembang, sastrawan angkatan 1920-an Kwee Tek Hoay menulis, “Djiwa manoesia djadi matang dalam tangisan, sebab ada berkah dari itoe ayer mata.”

Apakah saya menerima “berkah dari itoe ayer mata?” Ya! Ibu guru yang galak itu sampai akhir hayatnya sangat baik kepada saya dan gemar membaca Seri Selamat. Bagaimana dengan bapak di perusahaan ekspor itu? Badannya tinggi besar. Alisnya tebal. Sebagai anak Sekolah Minggu saya tahu betul siapa dia. Ia tokoh gereja kami.

Kemudian hari, ketika saya mendaftar ke Sekolah Teologi, justru bapak ini yang membantu saya, sebab ia penatua GKI Kebon Jati dan anggota Badan Pekerja Sinode. Sebelum saya berangkat, ia datang ke rumah dan memberi uang untuk karcis kereta api. Ia menepuk-nepuk pundak saya.

Saya mengenang banyak orang yang telah mewariskan pusaka “belajar dari derita”. Dari dulu mereka membuat saya menderita, kini mereka membuat saya berkarya. (Andar Ismail, penulis adalah pengarang buku-buku renungan “Seri Selamat”)

Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 29 Januari 2005

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Comments are closed.