Hari Rabu, 19 Januari 2005 seakan mengulang kembali hari ‘kelabu’ di bulan Februari 2002. Rumah saya menjadi salah satu dari
ribuan rumah di Jakarta yang tenggelam akibat air sungai yang meluap. Mungkin tidak banyak sobat UF yang tahu kalau rumah
saya ada di dekat kali (sungai), kira-kira 100 meter jaraknya. (Lihat Galeri Foto: Banjir 19 Jan 2005)
Sekitar pukul enam pagi, air mulai memasuki rumah sementara dua rumah yang ada di depan rumah saya sudah tenggelam. Posisi rumah saya yang lebih
tinggi membuat saya bisa mengamati bagaimana air perlahan-lahan masuk ke dalam rumah. Untunglah rumah saya bertingkat sehingga
barang-barang seperti sofa, kursi, meja, lemari, tempat tidur, dan komputer bisa diselamatkan.
Rabu malam, saya sekeluarga tidur di lantai atas beralaskan kasur gulung dikelilingi barang-barang yang ditumpuk dan sudah disusun
rapi agar tersedia cukup ruang bagi kami untuk tidur malam itu. Entahlah, saya tidak terlalu banyak bertanya pada Tuhan perihal musibah ini bila
mengingat tema yang saya terima untuk tahun ini. Sebuah tema yang masih menyisakan tanda tanya besar bagi saya. Suka-suka Tuhanlah,
saya ini cuma meminta agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk melaluinya.
Keesokan harinya, air sudah surut namun menyisakan lumpur yang tebal di lantai rumah. Beberapa orang tetangga turut membantu
membersihkan lantai. Namun ini baru pekerjaan tahap pertama. Karena lantai masih harus dipel lagi agar benar-benar bersih. Saya kemudian
sibuk membersihkan meja dan kursi yang dibiarkan terendam karena terlalu berat untuk diangkat ke atas.
Hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, saya lalui dengan penerangan yang seadanya. Dua buah lampu neon 10 watt menerangi sudut rumah mengusir
kegelapan dalam rumah. Dua buah lampu itu bisa menyala karena meminjam listrik dari rumah tetangga. Listrik di rumah saya belum
menyala karena berbeda gardu listrik dengan rumah tetangga saya itu. Saya bersyukur, tetangga yang saya kenal dekat ini banyak membantu
mengangkat barang saat banjir. Rabu itu, selesai mengangkat barang, saya dan teman perempuan berjilbab ini ngobrol-ngobrol di
lantai atas mulai dari masalah pacar, kuliahan, hingga poligami.
Hari ini, Minggu pagi, 23 Januari 2005, listrik di rumah akhirnya menyala. Sepulang gereja, sorenya saya sibuk menyusun buku-buku
ke dalam kardus. Saya sudah berniat hanya akan memajang buku-buku yang masih ingin dibaca sedangkan buku-buku lama atau sudah dibaca
akan menginap dalam kardus besar seukuran kulkas di lantai atas. Siapa tahu ada banjir lagi, saya tidak perlu lagi mengangkat
buku-buku itu.
Baru malam ini, saya bisa menyalakan komputer dan menulis. Meja kerja saya pun masih berantakan dan masih banyak yang harus
dikerjakan untuk mengembalikannya seperti semula. Printer, kabel jaringan, modem ADSL, dan sebagainya masih ngendon di lantai atas. Ayah saya
agaknya tidak ingin cepat-cepat menurunkan barang karena menurut berita di televisi tadi sore, hujan deras masih mengguyur kota Bogor.
Kali (sungai) dekat rumah pun masih mengalir deras dan penuh. Mudah-mudahan tidak banjir lagi.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.