TUBUH gadis cilik itu tampak tergolek pada sebuah tempat tidur di lorong poliklinik di Kecamatan Lamno, Aceh Jaya. Kelopak matanya terbuka sedikit, tetapi tatapan matanya tampak kosong.
Dari mulut gadis berusia 10 tahun itu tak henti-hentinya keluar busa berwarna putih kekuningan. Meski sudah diseka dengan tisu, buih itu muncul lagi. Wajahnya cantik, tubuhnya mungil. Tetapi, di tangan, kaki, dan lehernya tampak beberapa luka terbuka. Kulit tubuhnya mengeriput karena terbakar matahari.
Wahyuni namanya. Dia tak bereaksi saat dipanggil. Tetapi, sesekali tampak air mata menetes ke pipinya. Seorang ibu tampak menemaninya, sambil sesekali menyeka mulutnya yang terus mengeluarkan busa. "Bukan, bukan, saya bukan ibunya. Bapak dan ibunya sudah meninggal dihantam ombak besar hari Minggu lalu," ujar ibu itu ketika ditanya. "Satu-satunya keluarga yang dia punya hanya pamannya. Saya ndak tahu namanya, tetapi itu dia sedang duduk," ujarnya sambil menunjuk seorang laki-laki setengah baya.
Laki-laki yang ditunjuknya sedang menemui dokter relawan dari Partai Keadilan Sejahtera dan Global Rescue yang hari itu tiba dari Banda Aceh. Laki-laki itu, Ibrahim namanya, juga kehilangan istri dan anaknya yang ditelan ombak. Tetapi, dialah yang menemukan Wahyuni. "Sekarang saya hanya punya mamak dan Wahyuni ini," ujarnya.
Ketika bencana datang, Ibrahim tergulung ombak dan tak sadarkan diri. Begitu sadar, dia sudah berada di tepi sawah, sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Dia mencoba mencari anak dan istrinya, tetapi tidak satu pun berhasil dia temukan.
Sekitar lima kilometer menjelang rumah orangtuanya di Lamno, dia menemukan seorang gadis kecil tergeletak di tepi hutan. Ternyata anak itu Wahyuni, keponakannya. "Saya gendong Wahyuni kemari dan saya serahkan ke dokter di poliklinik," ujar Ibrahim.
Kisah Wahyuni mungkin hanya satu dari ribuan cerita memilukan yang bisa didengar dari para korban gempa tektonik dan tsunami yang menimpa hampir seluruh pesisir Nanggroe Aceh Darussalam pada hari Minggu 26 Desember lalu. Namun, kepedihan makin terasa karena musibah itu tidak juga berhenti meski seminggu telah berlalu.
Di dekat Wahyuni, tergeletak M Yunus, petugas kebersihan dari Kecamatan Calang, Aceh Jaya. Dia ditemukan oleh nelayan di tengah laut hari Kamis siang, setelah selama lima hari terapung-apung di laut hanya dengan berpegangan pada sebuah tutup peti plastik tempat menyimpan ikan. Tanpa makanan dan minuman, Yunus terseret arus hingga 80 kilometer meninggalkan kampungnya.
Yunus akhirnya sadar dia justru terseret ke laut ketika air bah itu berbalik setelah menghantam bukit. Sebuah tutup peti plastik yang dipegangnya akhirnya dia peluk sambil terombang-ambing gelombang. "Di hari kedua, saya menemukan menemukan dua botol aqua yang terapung di laut. Satu isi penuh, satu tinggal separuhnya. Saya minum keduanya sekaligus. Tetapi, sejak itu saya tak dapat apa-apa lagi," ujarnya.
Yunus tidak tahu berapa lama dia terombang-ambing di laut. Dia tidak punya lagi tenaga untuk mengayuhkan kakinya mendekati daratan. "Tiba-tiba saya mendengar suara perahu motor. Saya lalu melambai- lambaikan tangan, sampai akhirnya ditolong mereka," ujarnya. Yunus baru tahu dia terapung-apung di laut selama lima hari saat dia diberi tahu bahwa dia ditemukan hari Kamis siang.
REPOTNYA, poliklinik tempat mereka dirawat tidak memiliki obat-obatan memadai untuk para pasiennya. Tidak ada oksigen untuk membantu Wahyuni yang tampak makin sulit bernapas. Tak ada peralatan untuk operasi bagi beberapa pasien yang harus diamputasi karena bagian tubuhnya sudah hancur dan membusuk.
Memindahkan mereka ke rumah sakit juga tidak mungkin. Sebab, jalur jalan ke mana pun dari dan menuju Lamno terputus. "Kalau mau berjalan kaki, butuh waktu dua hari untuk sampai ke Banda Aceh. Sudah banyak yang melakukan itu, tetapi saya imbau agar warga tidak meninggalkan desa karena situasi di Banda Aceh pun tidak lebih baik dari desa ini," ujar Komandan Rayon Militer Lamno Ramli Saragih.
Apa yang terjadi di Lamno juga terjadi di Kecamatan Calang dan Kecamatan Tenom yang terletak di antara Banda Aceh dan Meulaboh. Ratusan desa habis disapu ombak.
"Kami jadi tempat pengungsian warga dari tempat lain. Padahal, di Lamno sendiri, dari 48 desa yang ada, kini hanya 10 desa yang tinggal. Pengungsi di sini sudah mencapai 15.000-an, tersebar di rumah-rumah penduduk, sekolah, pesantren, kantor kecamatan, dan meunasah," ujar Sembiring. "Kami kekurangan tenda, tangki-tangki untuk air bersih, dan tenaga medis. Baru dua hari ini, kami kedatangan dokter dari TNI AD serta relawan Partai Keadilan Sejahtera serta Global Rescue," tambahnya.
Sulit untuk membayangkan berapa lama yang dibutuhkan untuk pemulihan di daerah- daerah yang persis berhadapan dengan pusat gempa ini. Beberapa desa, seperti Lhong, Lambusa, Jangut, Ujung Muloh, Lhok Kruet, dan Kreung Tunong, kini rata dengan tanah, tanpa sebuah bangunan pun yang tersisa karena kuatnya gelombang tsunami. Begitu juga infrastrukturnya. Di antara Kecamatan Lamno dan Kecamatan Calang saja ada sedikitnya 30 jembatan yang hancur dihantam ombak. Belum lagi jembatan-jembatan besar seperti di Kuala Unga yang panjangnya lebih dari 100 meter.
Pelabuhan-pelabuhan rakyat dan dermaga kapal di sepanjang pantai barat tak satu pun yang tersisa. Praktisi hukum Jakarta asal Lamno, Nasrullah, yang Senin sore mengirim bantuan 15 ton beras dan 500 dus mi instan menggunakan empat buah perahu, terpaksa menginap di tengah laut karena para nelayan yang membawa perahu tidak bisa menemukan muara sungai di tengah kegelapan malam.
Di tengah kesulitan menyalurkan bantuan, toh, warga Lamno masih harus diganggu oleh baku tembak yang sesekali terjadi antara pasukan TNI dan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seperti yang terjadi Selasa lalu. "Mas sementara tinggal di sini saja bersama anggota POM TNI," ujar Saragih sambil menunjuk sebuah ruko yang diubah fungsiya menjadi gudang persediaan beras sekaligus pos TNI.
WAHYUNI tidak bereaksi apa-apa ketika dia digendong pamannya, Ibrahim, naik ke atas truk menuju lapangan bola di depan Kantor Koramil Namro. Setelah empat hari tergeletak di poliklinik dengan perawatan seadanya, Wahyuni, Yunus, serta 12 korban lain yang kondisinya parah dievakuasi ke Banda Aceh, 4 Januari lalu.
Perwira kesehatan TNI AD Mayor dr Malissa yang tiba tanggal 2 Januari langsung meminta korban yang terluka parah dievakuasi ke Banda Aceh untuk dirawat di RS Kesdam, satu dari dua rumah sakit yang tersisa di Banda Aceh.
Busa berwarna putih terus keluar dari mulut Wahyuni ketika dia dinaikkan ke atas helikopter Sea Hawk milik tentara AS yang datang untuk memberikan bantuan mi instan dan biskuit. Cuma napasnya yang terlihat makin tersengal-sengal ketika helikopter membawanya terbang menuju Banda Aceh. Begitu tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Wahyuni langsung dilarikan ke RS Kesdam Banda Aceh menggunakan truk, ditemani relawan asal Universitas Atmajaya Jakarta.
Mulut Wahyuni tiba-tiba mengeluarkan cacing, begitu dokter menyeka dan membuka mulutnya di rumah sakit. Seorang dokter dibantu beberapa relawan medis langsung menanganinya begitu Wahyuni dimasukkan ke unit gawat darurat. Cacing di perutnya sudah naik ke mulutnya, begitu kata tenaga medis yang menanganinya.
Wahyuni terkena pnumonia parah. Paru-parunya kemasukan air laut dalam jumlah yang cukup banyak. "Air asin lebih membahayakan jika masuk ke dalam paru-paru. Apalagi jika dia menelan air dari gelombang tsunami yang juga penuh pasir dan lumpur," ujar Muzal Kadim, dokter anak yang menjadi relawan dari Ikatan Dokter Indonesia.
Tetapi, takdir menentukan lain. Malam harinya, beberapa jam setelah dirawat, Wahyuni mengembuskan napas terakhir. Seperti banyak warga Aceh lainnya, Wahyuni hanya menambah panjang daftar korban bencana di Aceh yang terus berjatuhan.(nug)
Sumber: Kompas, Kamis, 6 Januari 2005.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.