OZIA terbaring lemas di bahu Santi. Dari mulutnya yang mungil terdengar seruan perlahan, “Nda (kakak-Red) pulang saja,” katanya. Kakaknya, Santi, hanya bisa membelainya dan berjanji akan segera membawanya pulang. Janji yang disadari Santi sulit ditepati. Sebab, rumah mereka di Lampojambe, Banda Aceh, telah lenyap ditelan gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember lalu. Tidak hanya itu, ibu mereka pun hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
Santi juga diliputi kekhawatiran karena adiknya yang baru berusia dua tahun itu terus-menerus mengeluarkan cairan dari mulut dan anusnya. Apalagi cairan itu berwarna hitam, dan bercampur dengan pasir. Meski demikian, ada pancaran harapan di wajah Santi. Pasalnya, dia berhasil bersatu dengan ketujuh adiknya yang sempat terpisah akibat bencana itu. Selain itu, ayahnya, Fadli Ahmad yang saat peristiwa sedang bertugas di Meulaboh, juga dikabarkan selamat. “Ini semua mukjizat Tuhan, kami bisa bersatu kembali di tengah cobaan ini,” kata Santi saat ditemui Pembaruan, Rabu (5/1), di RSAB Harapan Kita, tempat Ozia dirawat.
Dia berkisah, saat bencana terjadi sebagian besar anggota keluarganya sedang berada di rumah. Dia sendiri tengah pergi bersama sejumlah temannya ke pusat kota. Demikian juga ayahnya yang sedang tugas sebagai pegawai distribusi PLN Aceh Barat di Meulaboh.
Di tengah jalan, dia melihat orang begitu banyak berhamburan di jalan sambil berteriak air naik. Saat itu, Santi belum terpikir kalau rumahnya ikut terkena. Tetapi kecemasan itu timbul saat dia bertemu dengan sejumlah tetangga yang mengabarkan lokasi kediamannya telah habis tersapu gelombang. “Saya sudah tidak bisa menangis. Saya hanya berjalan menuju rumah dengan harapan masih ada yang tersisa,” katanya.
Sepanjang jalan menuju rumahnya, dia terus mencari saudara-saudaranya. Yang ditemui hanyalah mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia pun nekat mencari saudaranya diantara jenasah itu. “Sudah tidak ada lagi rasa takut atau jijik. Bahkan untuk menangis pun sudah tidak sanggup, sebab semua orang juga menangis,” ujarnya.
Membuahkan Hasil
Upaya pencarian yang dilakukan mahasiswi Universitas Islam Syiah Kuala itu selama tiga hari membuahkan hasil. Satu persatu adiknya diketemukan. Dua adiknya, Ira (11) dan Ayu (12) ditemukan di RS Banda Aceh. Selanjutnya dia juga menemukan adik bungsunya, Romi yang baru berusia 6 bulan. Ajaibnya, bayi itu selamat berkat usaha Sari (16), adik Santi nomor 3 yang memasukkan Romi ke dalam pakaiannya sambil berpegangan pada sebatang kayu.
Dia juga memegang ketiga adiknya yang lain, serta ibunya. Sayang, arus air yang begitu kuat membuat ibunya terlepas dan hanyut. Sari berhasil menyelamatkan adik-adiknya, tetapi dirinya terluka parah. Kepala dan mukanya terkena tusukan besi tajam hingga berlubang.
Menurut Santi, luka yang diderita Sari kini mulai membusuk. Karena itu, sejumlah dokter asing yang membantu di Aceh, menyarankan agar Sari mendapat perawatan khusus di Jakarta. Santi mengaku sudah pasrah. Sebagai pengganti orang tua bagi adik-adiknya, beban yang dipikul gadis berusia 20 tahun itu terlalu berat. Untung ada banyak pihak yang memberi semangat.
“Saya bisa bertahan karena mereka terus memberi semangat dan menjanjikan adik-adik saya akan disekolahkan. Itu yang memberi semangat,” katanya.
Apalagi, adik-adiknya terus bertanya kapan mereka bisa sekolah lagi. Namun dia mendapat kabar bahwa ayahnya masih hidup. “Serasa tidak percaya, ketika mendengar suara bapak di telepon. Dia berjanji akan segera bersama dengan kami. Jika dia sudah ada di sini, baru Santi bisa tidur dengan tenang,” katanya penuh harap. Secercah harapan telah timbul dari mukjizat Tuhan. Semoga itu segera terwujud. (W-10)
Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 7 Januari 2005
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.