Sekitar pukul 24.01, pandangan saya tertuju cukup lama pada jam dinding yang tergantung di tembok. Kilas balik tahun
2004 memecah kesunyian alam sadar saya. Peristiwa demi peristiwa berganti dengan cepat dalam pikiran saya. Masih tersimpan kesedihan melihat saudara-saudara yang sedang ditimpa musibah Tsunami di Aceh. Tahun 2005 dimulai dalam suasana yang muram.
Ada tiga tema besar yang saya alami selama tahun 2004. Yang pertama, berangkatnya
Dhe ke NTT di bulan Mei demi tugas PTT selama 2 tahun. Kedua, doa-doa yang terjawab, dan ketiga ‘kebingungan besar’ untuk
mengerti dan teguh di jalan-Nya.
Hingga kini, saya masih sulit menerima tentang tema yang belakangan ini mengusik jiwa saya. Namun, bila direnungkan lebih jauh, saya harus terbuka dan menerima bahwa tema tahun 2005 bagi
saya adalah ‘Akademi Padang Gurun’. Saya sendiri tidak menyangka bisa membuat istilah seperti ini. Tapi itulah tema besar yang terpampang besar dalam hati ini.
Dua tahun terakhir ini, saya mulai merasakan kesukaan akan Allah yang timbul tenggelam di tengah-tengah rutinitas dan
‘usaha’ mencapai hidup yang lebih baik. Khotbah-khotbah yang saya dengar mulai terasa biasa saja karena saya sudah sering
mendengarnya atau sudah tahu.
Namun, bila saya melihat kembali potret kehidupan saya dua tahun belakangan ini, saya merasa malu di hadapan-Nya. Saya sudah
jarang bercakap-cakap dengan Dia entah saat saya di bis, kereta api, atau sedang memandangi langit dan ciptaan-Nya. Bangun
di pagi hari sudah menjadi ‘rutinitas’ yang tidak berarti apa-apa. Padahal saya tahu, memulai hari di pagi hari bersama Tuhan
adalah kunci awal meresponi rencana-Nya di sepanjang hari yang akan dilalui. Inti dari semuanya itu adalah, saya mulai
mengandalkan kekuatan sendiri.
Makna tentang padang gurun ini saya peroleh di hari Minggu, 2 Desember 2004. Seakan-akan semuanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga saya mendapat rentetan peristiwa yang semakin menunjukkan bahwa tema inilah yang menjadi bagian saya. Rasanya berat sekali untuk menerima dan percaya. Saya mulai berpikir ‘padang gurun’ seperti apa yang akan saya lalui di tahun ini.
Dalam pengertian saya, terkadang Allah seakan menyembunyikan diri sebab Ia sedang menempatkan seseorang di padang gurun. Ia akan menjadikannya orang
yang kuat, tidak bisa disentuh oleh kuasa kegelapan. Ia tidak mudah mengobral pertolongan dan berkat-Nya sehingga menjadikannya
orang yang suka merengek-rengek di hadapan Tuhan. Terkadang Ia memperlambat pertolongan-Nya sampai orang itu betul-betul menyadari
bahwa cuma satu sumber pertolongannya yaitu Tuhan sendiri. Sebab di padang gurun, tidak pernah ada siapapun juga selain dirinya
sendiri dan Tuhan.
Para rasul dan orang-orang kudus sudah melalui akademi padang gurun. Mereka merasakan sulitnya memperoleh makanan, tidak
punya uang, kelemahan fisik yang mendera sehingga sulit beraktivitas. Mereka menjadi bahan olok-olokan, diejek, dihina,
direndahkan dan disalahmengerti oleh orang lain. Miskin dalam perkara duniawi menuntun mereka untuk hidup miskin dalam roh. Dalam
fase inilah, kehadiran Tuhan menjadi sangat nyata bahkan lebih nyata dari setiap nafas yang dihirupnya.
Cuma ada satu jalan untuk menemukan Tuhan dan mengerti rencana-Nya, melalui pendidikan di akademi padang gurun. Itulah
tema tahun 2005 yang sedang saya jalani. Saya benar-benar butuh
pertolongan-Nya untuk terus percaya bahwa masa depan saya terjamin di tangan-Nya. Lebih dari semua itu, saya ingin hidup mengenal
Dia dan memuliakan nama-Nya.
Sebenarnya, fase akademi padang gurun ini sudah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Saya merasa lelah dan lemah
harapan dalam menjalani hidup hari demi hari. Saya sudah jatuh dalam kehidupan suam-suam kuku. Meski saya pergi ke gereja, tersentuh dan
dikuatkan di sana, namun jauh dalam diri saya, rasa haus dan lapar akan Dia mulai pudar.
Saya belum menyusun rencana apapun di tahun 2005 dan mencoba hidup mengalir seperti air. Terus menjalani keseharian, berbuat
yang terbaik, belajar dari kegagalan dan berharap Tuhan berkenan kepada saya. Boleh dibilang saya sedang hidup dalam bingkai
‘penantian’ akan penggenapan janji-janji-Nya. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu dan membiarkan Dia menguji kesabaran
saya untuk terus percaya kepada-Nya.
Apapun yang terjadi di tahun 2005, seberat apapun itu, saya berdoa agar Tuhan menolong saya. Sesuai dengan tema ini, ada dua ayat yang saya peroleh, diambil dari Kitab Ayub dan Mazmur:
“Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di Utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat
Dia. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (Ayub 23:8-10)
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang
menghibur aku. (Mazmur 23:4)
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.