Everything of lasting value in the Christian life is unseen and eternal. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Surat dari UF

Duka Aceh… Tangis Kita…

Submitted by riel on 30/12/2004 – 2:07 PM | 358 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Duka Aceh... Tangis Kita...Membaca berita tentang Aceh dalam surat kabar Kompas hari ini, 30 Desember
2004, mengiris-ngiris perasaan saya. Kerongkongan saya tercekat dan tiba-tiba
mata mulai berair saat membaca berita di halaman depan seperti ‘Sebotol
Sirup untuk Hidup
‘, “Warga
Eksodus
‘, dan sebagainya.

Sehari setelah Natal, di hari Minggu pagi, 26 Desember 2004, sekitar pukul 07.58 WIB, gempa tektonik pertama berkekuatan 8,9 skala Magnitudo (atau sekitar 6,8 pada skala Richter) terjadi di dekat pulau Simeulue (berjarak 149 km di barat Meulaboh, Aceh Barat), yang diikuti gelombang laut pasang (tsunami) menerjang sebagian besar wilayah pantai barat, utara, dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dan pulau Nias bagian barat di Sumatera Utara.

Gempa kedua terjadi pada pukul 09.16 WIB berkekuatan 5,8 SM terjadi di sekitar kepulauan Andaman, disusul gempa ketiga pada pukul 09.22 WIB berkekuatan 6,0 SM terjadi di sekitar Kepulauan Nicobar, utara pulau Weh (kedua kepulauan kecil ini termasuk bagian negara India meskipun terletak di Asia Tenggara).

Gempa yang berpusat di dekat pulau Simeulue, Kepulauan Andaman dan Nicobar itu menimbulkan dampak gelombang tsunami yang mengerikan di beberapa wilayah pantai India, Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Maladewa, Myanmar, Bangladesh, bahkan sampai ke Somalia, Tanzania, Seychelles, dan Madagaskar di Afrika Timur. Gelombang tsunami (berasal dari bahasa Jepang, ‘tsu’ artinya pelabuhan, dan ‘nami’ artinya gelombang) yang menimpa provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sungguh mengerikan. Hanya dalam hitungan menit ribuan manusia dan rumah tenggelam disapu ombak tsunami.

Pedih rasanya bila menyaksikan banyak keluarga yang kehilangan saudaranya. Seorang anak terlihat menangis selama
berhari-hari karena seluruh keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua adiknya tewas dan pergi untuk selamanya. Tiba-tiba
saja ia menjadi anak sebatang kara. Saya sendiri tidak tahu apa yang akan saya lakukan bila mengalami hal seperti itu. Mungkin saya akan meraung keras-keras
dan bersedih selama berbulan-bulan. Jangankan berbulan-bulan, luka batin karena kehilangan dan trauma bisa berlangsung bertahun-tahun, dan
tidak jarang terbawa hingga ke kubur.

Luka Aceh adalah tangis kita. Luka fisik seperti hilang dan rusaknya harta benda, bisa digantikan oleh waktu. Namun, luka
batin karena kehilangan keluarga, saudara, teman, tidak bisa ditukar dengan uang atau harta benda. Bagi banyak orang,
kehilangan keluarga berarti kehilangan cinta dan harapan. Terkadang, rasa kehilangan itu pun tidak bisa ditukar dengan waktu.
Apalah arti hidup ini bila dijalani tanpa cinta dan harapan?

Aceh, Nias (Sumatra Utara) dan daerah-daerah lainnya yang terkena musibah memang jauh dari tempat kita yang tinggal di Jakarta
(Jawa). Namun sebaris doa yang tulus dan sungguh-sungguh bisa sangat berarti bagi mereka yang sedang kehilangan.

Lewat tayangan di televisi kita menyaksikan betapa porak-porandanya Aceh. Mayat-mayat berserakan dikelilingi sampah dan
lumpur. Bahkan mayat-mayat itupun sudah sulit diidentifikasi dan langsung dikuburkan secara massal. Betapa banyaknya orang
tidak pernah melihat lagi keluarganya yang tewas dan dinyatakan hilang. Hanya dalam hitungan menit, orang-orang yang dicintai
pergi untuk selama-lamanya. Tanpa pesan apa-apa, dengan kuburan yang tidak jelas di mana letaknya.

Kiranya, Tuhan kita, Yesus Kristus, menganugerahkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pulihnya Aceh dan daerah-daerah yang
tertimpa musibah. Dalam setiap musibah akan selalu muncul pertanyaan yang mempertanyakan keberadaan-Nya, “Di manakah Tuhan saat ini semua terjadi?” “Mengapa
Tuhan ijinkan ini terjadi?” Doa kita, lewat musibah ini, Tuhan menyatakan diri-Nya dan menunjukkan kasih dan pengertian-Nya.
Duka Aceh… tangis kita…

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.