Waktu berlalu begitu saja. Matahari terbangun lalu tertidur begitu cepat. Tanggal-tanggal dalam kalender melompat jauh dan terburu-buru. Desember… 2004…
Apa yang aku lakukan setahun yang lalu? Seperti apa aku dua tahun yang lalu? Aku yang sekarang bukan yang dulu lagi. Aku berubah… Kesalahan, dosa, dan kemenangan berbaur seakan mengajarkan satu hal, kedewasaan.
Perlahan-lahan fisik ini akan menurun termakan usia, orang-orang yang pernah dikenal dan dikasihi akan berlalu. Hidup ini seperti rumput, seperti uap, hari ini ada, esok hilang.
Seseorang bisa berubah dalam hitungan detik. Sepotong kata, sepotong cinta, sepotong benci, bisa membuat dunia berubah. Dunia seseorang…
Tidak banyak teman di jalan lurus yang sempit. Berjuta teman kutemui di jalan yang lebar. Biarlah aku di sini saja, menelusuri jalan sempit demi hadiah yang tidak bisa kulihat, tapi bisa kurasa dalam batinku.
Bicara tentang dunia, tiada habisnya. Kegilaan, kompromi, cinta diri sendiri, sejak dulu tidak pernah berubah. Yang ada hanya semakin… semakin gila, semakin kompromi…
Kesetiaan, kehormatan, kejujuran, kasih, sudah menjadi bahan olok-olokan demi sepiring kedagingan dan nafsu. Aku percaya, semua yang baik dan mulia itu masih bisa ditemukan dalam hidup ini. Dunia ini akan berlalu dan kedatangan dunia yang baru itu semakin dekat. Betapa rindunya jiwa ini tenggelam selamanya dalam pesona kekekalan.
Air mata menetes dalam lelah dan jenuh melihat hidup yang tidak pernah adil. Entah mengapa, selalu ada harapan yang berserakan di jalan yang sempit penuh kerikil. Memungutnya satu per satu selangkah demi selangkah hingga tiba di tanah perjanjian.
Cukup berhargakah melewati jalan yang sempit penuh kerikil. Sedangkan banyak orang berbelok menuju jalan yang lebar dan licin. Ah… lebih baik berjalan membungkuk memungut harapan di jalan yang sempit daripada berjalan memungut rasa bersalah di jalan yang lebar karena mengingkari hakikat diciptakan, menyembah si pemilik alam semesta.
Persetan dengan ajaran dunia yang sesat. DiriNya terlalu berharga untuk ditinggalkan. CintaNya terlalu besar untuk diabaikan. Cuma satu jalan mengingkariNya, membunuhNya perlahan-lahan dalam hati yang bebal dan penuh dosa.
Hmm… kalian nikmati saja dunia ini, sebab jiwa ini hanya ingin berlabuh dalam dekapan hangat kasihNya. BersamaNya, jiwa ini teduh dan pasti.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.