Sebagai orangtua, kita berkewajiban memberi pendidikan kepada anak-anak kita
agar mereka tumbuh menjadi manusia yang berakhlak mulia dan cerdas.
Karena itu, tidaklah heran banyak buku bimbingan yang beredar di pasaran yang
betujuan agar orangtua mudah mempelajari dan punya panduan dari para ahli
untuk mendidik anak mulai usia dini sampai remaja dewasa.
Orangtua mana yang tidak bercita-cita mempunyai anak baik dan terdidik dengan
sempurna? Tentu saja setiap orangtua punya kriteria tersendiri dlam ukuran
kebanggaan atas prestasi anak-anak mereka. Begitu juga dalam hal cara mendidikan
mereka. Ada orangtua yang membiasakan anak-anak hidup "bebas" namun
tetap terkontrol dengan baik, tetapi tidak sedikit yang membuat anak-anak
mereka dibentuk menurut cita-cita mereka, tanpa kompromi dan toleransi. Padahal,
sang anak nyata- nyata adalah pribadi tersendiri, yang tentu saja tidak sama
dengan diri orangtuanya karena setiap orang mempunyai pribadi yang unik dengan
kapasitas individu.
Dengan tekanan dan bentukan yang keras sesuai dengan kemauan orangtua, banyak
sekali anak yang stres (tertekan) karena dipaksa menuruti apa yang dimaui
orangtua. Penulis pernah kedatangan klien, seorang remaja putri berusia 15
tahun. Ia adalah anak tunggal pasangan seorang pengusaha kaya raya. Anak tersebut
dalam konsultasinya mengemukakan rencananya, dia akan berusaha untuk hamil
agar bisa cepat menikah dan terlepas dari deraan orangtuanya yang selalu menuntut
agar ia menjalani berbagai les di luar waktu sekolah yang padat, dan orangtua
selalu menuntut anak tersebut berprestasi di segala bidang. Sang anak merasa
dipaksa menjadi seseorang yang dicita-citakan orangtuanya, bukan dihargai
dan disayangi sebagai seorang pribadi dan seorang anak tunggal.
Orangtua zaman sekarang sangat bangga jika anak-anak mereka terlihat prestasinya
di muka umum, tetapi mereka kurang memperhatikan budi pekerti anak-anaknya.
Sehingga tidak jarang kita melihat, seorang anak dengan prestasi bagus, seperti
juara kelas dan sebagainya tetapi soal interaksi dengan sesama teman-temannya
kurang harmonis, terkesan disosial.
Saat ini banyak orangtua, terutama kaum ibu yang sama-sama meninggalkan rumah
karena harus bekerja sehingga perawatan dan pengasuhan anak-anak banyak dijalankan
oleh orang yang dibayar untuk pekerjaan itu. Tidak tertutup kemungkinan ibu-ibu
yang bekerja itu condong lebih keras mendikte pengasuh anak-anak mereka daripada
mengawasi dan mengikuti perkembangan anak itu sendiri.
Jika terjadi sesuatu yang dianggap salah, orangtua itu memarahi si pengasuh,
tanpa mau tahu apa yang menjadi alasan si anak berbuat yang menurut sang orangtua
"salah", padahal sering kali anak-anak mengeluarkan kritikannya
yang sebetulnya ditujukan kepada orangtuanya dengan membuat ulah, yang tentu
saja terkadang menjengkelkan dan merepotkan.
Hadiah Pengganti Kasih Sayang
Tidak bisa dimungkiri lagi, meninggalkan anak dengan pergi bekerja, di hati
sang ibu tentu ada rasa "bersalah" karena menganggap diri melepas
tanggung jawab. Karena itu ibu-ibu yang berkarier bagus dengan penghasilan
besar tidak jarang menebus rasa bersalahnya dengan banyak memberi hadiah kepada
anak. Para pakar banyak memberi nasihat: "Bahwa hadiah yang terbaik untuk
anak adalah perhatian dan pengertian bukan benda-benda."
Dengan waktu yang sangat terbatas, orangtua yang sibuk bisa mulai memilah
waktu dengan cermat untuk anak-anak karena bukan jumlah waktu yang membuat
lebih baik, tetapi mutu pertemuan dan komunikasilah yang menjadi penentu,
berharganya suatu pertemuan dan pendidikan.
Sebagai contoh, seorang dokter yang buka praktek di rumahnya pada sore hari
karena paginya praktek di rumah sakit, dokter yang juga seorang ibu itu berusaha
tetap memperhatikan anak-anaknya yang masih duduk di kelas sekolah dasar dengan
mengoreksi pekerjaan sekolah anak-anak, membahas bahan ulangan esok hari,
di sela-sela menunggu pasien yang datang berkunjung.
Seorang wanita karier yang supersibuk tetap membiasakan memberi waktu istirahat
makan siangnya untuk menelepon anak-anak di rumah, berdialog dan bergurau.
Sehingga, terjadilah komunikasi yang lancar walaupun badan terpisah jauh.
Mendidik Bukan Menghukum
Suatu kisah nyata yang ditulis dalam bahasa Malaysia dikirimkan lewat e-mail
kepada penulis oleh seorang pembaca yang tidak memberi nama. Kisah itulah
yang memberi inspirasi kepada penulis untuk membuat artikel ini. Ada baiknya
kita belajar dari pengalaman orang lain untuk memperbaiki diri dan mencegah
hal buruk yang menjadi pengalaman orang lain itu terjadi pada keluarga kita.
Kisah tersebut demikian. Sepasang suami-istri, seperti pasangan lain di kota-kota
besar, meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah saat mereka keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan itu perempuan berusia tiga setengah tahun. Dia sering
dibiarkan pembantunya yang sibuk bermain di teras luar sendirian, tetapi pintu
pagar tetap dikunci. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret
lantai, tempat mobil ayahnya diparkir tetapi karena lantainya terbuat dari
marmer, coretan itu tidak jelas kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.
Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apalagi kanak-kanak
itu pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya tidak memakai mobil, tetapi naik sepeda motor ke
tempat kerja karena macet ada perayaan Thaipusam. Setelah penuh coretan yang
sebelah kanan, dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan
ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan sebagainya mengikut imajinasinya.
Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah tangga yang sibuk
bekerja di dalam rumah.
Saat tiba di rumah pasangan itu terkejut melihat mobil yang baru setahun
dibeli secarea angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah itu pun terus
berteriak, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan
teriakan itu berlari keluar. Dia juga, beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan,
terlebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras
kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu…!" "Kamu di rumah sepanjang
hari, apa saja yang kau lakukan?" hardik si istri lagi. Si anak yang
mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh
manja dia berkata, "Ita yang membuat itu papa. Bagus dan cantik kan!"
katanya sambil memeluk ayahnya, ingin bermanja seperti biasa dia lakukan jika
orangtuanya pulang kerja.
Sang ayah yang hilang kendali mengambil sebatang ranting kecil dari pohon
di depan rumah, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.
Si anak yang tidak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.
Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman
yang dikenakan pada anak balitanya. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu
harus berbuat apa. Si bapak cukup bernafsu dalam memukul-mukul tangan kanan
dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong
anak kecil itu, membawa ke kamarnya. Dilihatnya telapak tangan dan belakang
tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak
kecil itu. Sambil menyirami dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu
juga menjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air.
Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu, yang tertidur dengan
erangan kesakitan pada kedua telapak tangannya yang luka. Kedua orangtua anak
tersebut sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokan
harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu pada majikannya,
dan dijawab, "Oleskan obat saja!" Pulang dari kerja, orangtua tersebut
tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
Si bapak konon mau mengajar anaknya dengan memperlakukannya demikian.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya, sementara si ibu
juga begitu, tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah tentang keadaan
anaknya . "Ita demam…," jawab pembantunya ringkas. "Kasih
minum panadol saja," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur,
dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu
rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan majikannya bahwa suhu badan
Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap,"
kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan
ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap, dokter memanggil ayah dan ibu anak itu. "Tidak
ada pilihan…," katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu
dipotong karena gangren (infeksi) yang terjadi sudah terlalu parah. "Ia
sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong
dari siku ke bawah," kata dokter.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.Terasa
dunia berhenti berputar, tetapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul
si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata istrinya, si ayah terketar-ketar
menandatangani surat perjanjian pembedahan yang disodorkan dokternya.
Keluar dari ruang operasi, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak
menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.
Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan
dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Papa…
Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tidak
mau jahat. Ita sayang papa, sayang mama," katanya berulang kali membuat
si ibu gagal menahan rasa sedih dan penyesalannya. "Ita juga sayang Kak
Narti," katanya memandang wajah pembantu rumah sekaligus membuat gadis
dari Surabaya itu meraung histeris. "Papa, kembalikan tangan Ita. Untuk
apa diambil…. Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Ita janji tidak akan
mencoret-coret mobil lagi," katanya berulang-ulang, membuat orang yang
mendengar tersayat hatinya.
Suatu kisah nyata yang sarat pelajaran untuk kita semua, semoga bisa diambil
hikmahnya untuk kehidupan banyak orang.
Lianny Hendranata (ray-and_mel@hotmail.com)
Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 14 November 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.