Film
"Virgin" produksi Starvision mengangkat persoalan keperawanan dari
kacamata tiga tokoh remaja Stella (Ardina Rasti), Ketie (Angie), dan Biyan
(Laudya Cintya Bella). Film ini mulai diputar di jaringan bioskop 21 pada
11 November 2004.
Pergaulan remaja perkotaan mungkin memang sudah memprihatinkan. Konsumerisme
dan seks bebas. Starvision memotretnya dalam film Virgin. Dalam "komunitas
rusak bersama", film ini mencari yang tidak terlalu rusak. Penggambaran
yang nyaris titik ekstrem.
Virgin dikerjakan oleh sutradara Hanny R Saputra. Sutradara yang pernah meraih
piala Vidia untuk film Sepanjang Jalan Kenangan. Film terakhirnya, Lo Fen
Koei, memperoleh penghargaan sebagai film terpuji di Forum Flim Bandung. Hanny
menggagas ide cerita Virgin dan kemudian dituangkan ke dalam naskah oleh Armantoro.
Judul Virgin memang terasa lebih datar jika dibanding Buruan Cium Gue yang
pernah kena cekal beberapa waktu lalu. Meskipun demikian, dari segi gambar
dan dialog, Virgin tergolong jauh lebih ekstrem. Dibanding kata "perawan",
judul Virgin lebih berasosiatif modern dan tidak berkesan konservatif. Teknik
tersebut juga digunakan dalam dialog makian.
Sesuai judulnya, Virgin mempersoalkan keperawanan perempuan. Kisahnya dikembangkan
dari tiga siswi SMA yang bersahabat. Mereka adalah Biyan (Laudya Cintya Bella),
Ketie (Angie), dan Stella (Ardina Rasti). Masing-masing mempunyai prinsip
soal makna keperawanan. Namun dalam satu komunitas pergaulan, proses saling
mempengaruhi pun terjadi.
Sebelum Virgin dibuat, konon tim produksi sempat melakukan penelitian. Meskipun
diakui tidak mewakili kondisi nasional, dunia gaul kelompok remaja Jakarta
lebih pantas disebut komunitas rusak bersama. Remaja belasan tahun di Jakarta
cenderung ingin mengikuti tren dan haus keingintahuan. Sebagai pengakuan eksistensi,
mereka menggunakan keberanian dan kebebasan.
Armantoro, sang penulis menggambarkan komunitas itu dalam karakter tiga tokoh.
Ketie dari keluarga ekonomi lemah; Stella dari keluarga mapan; dan Biyan,
di tengah-tengah. Virgin mencoba untuk memberi ilustrasi lewat dunia remaja
yang tanpa norma dan memuja kebebasan. Tetapi adakah pesan dan nilai yang
bisa ditangkap dari cerita dan penggambarannya? Hal itu yang mungkin perlu
direnungi kembali.
Jika dikatakan hitam putih, Virgin tak sepenuhnya demikian. Antagonis dan
protagonisnya justru bias oleh cerita. Silakan saja kaji dengan logika common
sense. Tanpa penjelasan, tokoh Ketie melepas keperawanan dan merayakannya.
Motif mengejar kebutuhan dunia gaul rasanya terlalu lemah. Adegan melepas
keperawanan di sebuah toilet mal nyaris tak masuk akal. Entah soal kualitas
akting atau bukan, Ketie pun "selesai" dengan raut wajah tanpa beban.
Selanjutnya, Ketie pun dikisahkan makin "profesional". Dengan latar
belakang keluarga yang gelap, dia seolah memiliki pengesahan. Ibunya pun tak
tahu, siapa ayah Ketie. Kelahirannya memang sempat tak dikehendaki. Ironisnya,
di film ini, penonton tak pernah tahu karakter ibu Ketie. Kejanggalan lain,
Ketie ternyata masih menangis setelah mengira dirinya hamil.
Karakter Stella tak kalah janggal. Seperti Ketie, orangtua Stella juga tak
pernah kelihatan. Lalu dikisahkan gadis yang gemar berkompetisi ini bertaruh
"gila-gilaan" dengan musuhnya, Luna (Uli Auliani). Yang kalah harus
bertelanjang dan berhubungan badan. Tiga lelaki sekaligus pula. Namun semua
dilakukan Stella dengan "gagah berani". Anehnya, nyali Stella malah
luntur ketika rekaman audisi iklan bugilnya tersebar luas.
Sementara karakter Biyan, sang tokoh utama pun tak cukup jelas. Gadis yang
gemar menulis diari ini larut dalam dunia gaul yang rusak. Untuk mendapatkan
eksistensi diri, dia mengejar pemuda tampan bernama Marix (Mike Muliadro).
Sosok Biyan dipakai untuk mewakili "yang tidak terlalu rusak". Meskipun
kerap bersikap kritis, Biyan gagal berpikir logis. Terutama saat didesak dua
sahabatnya untuk menjual keperawanan, demi mengganti mobil mewah yang hilang.
Di luar tiga tokoh itu, ada banyak juga adegan mengganggu. Entah melucu atau
serius, tokoh Marix sekonyong-konyong membuat pengakuan melankolis soal ukuran
kelelakian. Ada juga karakter Luna yang melelang pacarnya Marix, untuk kemudian
dibelinya sendiri. Tokoh ini pula yang gemar mengumbar makian kotor dalam
bahasa Inggris. Adegan dan dialog seksnya sama-sama "mencekam".
Entah apakah penonton keberatan.
Sekalipun lebih banyak menampilkan tokoh remaja, film ini diklaim untuk penonton
dewasa. Yang jadi pertanyaan, kategori penonton dewasa yang mana? Para orangtua
rasanya tak akan betah berlama-lama di kursi bioskop, sekalipun Virgin menyangkut
persoalan anak-anak mereka. Sepanjang durasi 111 menit, keperawanan masih
menjadi pertanyaan. Silakan cari dan temukan, mereka yang butuh pesan. Itu
pun jika tak menuai kontroversi.
Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 13 November 2004
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.