« « Masa Depan di Tanganmu       |       Takut » »

Periodesasi Kesusastraan Rusia

Kesusastraan Rusia terkenal dengan novel, puisi, dan dramanya yang memperlihatkan
keterlibatan moral, religi, dan filsafat yang mendalam. Gejala munculnya kesusastraan
di Rusia telah ada pada tahun 900-an dengan tersebarnya agama Kristen di negeri
ini, namun karya-karya besar kesusastraan Rusia baru mulai ditulis pada tahun
1800-an. Sejak Revolusi Rusia tahun 1917, kegiatan kesusastraan mulai diawasi
pemerintah Komunis. Meskipun demikian, para sastrawannya berusaha keras untuk
melepaskan diri dari sensor pemerintah.



Periode Sastra Awal

Tersebarnya agama Kristen di daerah Rusia dari Kekaisaran Bizantium pada
tahun 988 mengakibatkan masuknya kesusastraan religius ke negeri ini. Sebagian
besar sastra masa itu berisi riwayat perang-perang suci Gereja, khotbah-khotbah
termasyhur, himne, dsb. Seni cetak yang baru ada di Rusia pada tahun 1564
menyebabkan sebagian besar karya tersebut dikerjakan dengan tulisan tangan
oleh para rahib di biara-biara.

Pada sekitar tahun 1100 berkembang karya-karya kronik berupa catatan-catatan
peristiwa Istana Kiev. Salah satu karya yang terkenal adalah prosa liris berjudul
Kisah Igor. Pada tahun 1400-an terbit pula buku serupa, Pertempuran di Sungai
Don, yang melukiskan kemenangan Rusia atas pendudukan bangsa Tartar. Setelah
itu berkembanglah kesusastraan Moskwa bersamaan dengan berkuasanya negara
itu atas Rusia. Kesusastraan yang lebih bersifat mannerisme ini menekankan
pujian terhadap para tsar (kaisar) di Moskwa.

Periode Permulaan Sastra Modern

Setelah mengisolasi diri sejak tahun 1100, pada tahun 1600-an Rusia menerima
pengaruh kebudayaan Barat secara besar-besaran. Banyak karya sastra Barat, seperti
puisi, kisah ksatria, dan fabel.diterjemahkan atau disadur di Rusia. Tokoh-tokoh
yang muncul dalam jaman ini antara lain Avvakum, seorang biarawan, yang menulis
otobiografi dengan gaya tajam dan ekspresif; Simeon Polotsky, juga seorang biarawan,
yang mengadakan pembaharuan terhadap puisi Rusia yang selalu memuja tsar dan
keluarganya.

Tokoh amat kuat yang memasukkan budaya Barat ke Rusia adalah Tsar Peter I (Peter
Agung). la memerintahkan penerjemahan besar-besaran karya sastra Barat sehingga
pada tahun 1700-an terjadi gerakan westernisasi dalam sastra. Sejak itu, banyak
sastrawan Jerman, Inggris, dan Perancis yang berpengaruh di Rusia. Tokoh-tokoh
yang terkenal adalah Pangeran Antiokh Kantemir, diplomat yang juga penyair satir,
dan Mikhail Lomonosov, penyair yang sering disebut bapak kesusastraan modem
Rusia.

Periode Sastra Klasik

Setelah pembaharuan Lomonosov pada kesusastraan di sekitar tahun 1740, berkembanglah
sastra neo-klasik di Rusia akibat pengaruh gerakan serupa di Eropa. Jaman ini
melahirkan sastrawan-sastrawan seperti Alexander Sumarokov yang menulis puisi,
drama, dan fabel; Wasili Iwanovikh Maykov, seorang penyair epik; Denis Fonvizin,
penulis komedi yang sering mengritik para tuan tanah. Itu pula sebabnya Katarina
yang Agung melarang Fonvizin menyiarkan karya-karyanya.

Penyair terkenal masa ini ialah Gavriil Derzhavin yang banyak menulis ode bagi
Ratu Katarina. Sejak dialah sastra neoklasik Rusia mengalami titik balik ke
sastra Romantik. Pada jaman peralihan ini muncul penulis fabel bergaya humoristik
yang termasyhur, Ivan Krylov.

Periode Sastra Romantik

Aliran neoklasik yang mementingkan rasionalisme dan patokan yang ketat akhirnya
didesak oleh aliran romantik yang lebih menekankan emosi dan kebebasan individu.
Aliran ini mulai terlihat di Rusia pada akhir tahun 1700-an. Sekitar tahun
1790 berkembang aliran sastra yang mementingkan perasaan dan imajinasi, sehingga
lahirlah aliran sentimentalisme dalam sastra.

Penulisnya yang terkenal ialah Nikolai Karamzin. la menulis Liza yang Malang,
kisah gadis tani yang ditinggalkan kekasihnya, seorang bangsawan. Penulis-penulis
akhir tahun 1790-an yang lain lebih menekankan kecintaan terhadap alam dan
suasana perasaan, termasuk Vasily Zhukovsky, Konstantin Batyushkov, yang banyak
menerjermahkan sajak-sajak romantik dari sastra Inggris dan Jerman, di samping
menulis puisi-puisi lirik sendiri.

Puncak gerakan yang disebut Jaman Emas Puisi Rusia terjadi sekitar tahun
1820. Pada masa itu pengaruh Shakespeare dan Lord Byron amat kuat. Sastrawan
romantik terbesar Rusia ialah Alexander Pushkin yang terkenal dengan bahasanya
yang pekat dan ekspresif sehingga sulit diterjemahkan ke bahasa lain tanpa
mengurangi nilainya. Pushkin rnenekankan tempat manusia dalam masyarakatnya.
karya-karyanya meliputi puisi, drama, dan novel.

Eugene Onegin (1823-1831) dan Penunggang Kuda Perunggu (1833) merupakan puisi
besarnya. Dramanya, Boris Godunov (1825), memperlihatkan pengaruh Shakespeare.
Novelnya Putri Sang Kapten (1836), kisah pemberontakan petani Purgachev yang
mengalami sensor pada jamannya dan beberapa cerpennya sudah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia. Sastrawan-sastrawan lain pada puncak romantik Rusia
adalah Yevgeny Baratynsky, Baron Anton Delwig, Wilhelm Kuchelbecker, dan Alexander
Griboyedov.

Pada akhir jaman romantik, sekitar tahun 1830-an, kecenderungan kepada kebebasan
bentuk gaya merajalela, sehingga penekanan perasaan dan nafsu manusia dikembangkan.
Akibat politik dan korupsi menjadi tema favorit, sensor pemerintahan tsar
terhadap kesusastraan juga semakin keras. Tokoh-tokoh sastrawan saat itu adalah
Mikhail Lermontov.

Ia menulis puisi dan novel, lblis (1839) dan Pahlawan Jaman Kita (1840),
yang berisi kritik sosial dan politik masa itu; Fyodor Tyutchev yang menulis
puisi Vision (1829), Mimpi di Laut (1836), dan Malam Kudus (1849); Nikolai
Gogol, penulis besar Rusia yang amat terkenal di Indonesia. Dengan gaya humor,
Gogol banyak menvoroti kelemahan-kelemahan spiritual manusia. buku-bukunya
yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Taras Bulba (1835),
Jiwa-Jiwa Mati (1824), drama Inspektur Jendral (1836), dan beberapa cerita
pendek Baju Mantel dan Hidung.

Periode sastra Realisme

Sejak tahun 1840-an berkembanglah aliran realisme dalam kesusastraan Rusia
meskipun bayang-bayang pengaruh romantik masih cukup kuat. Perhatian utama
kaum realis adalah masalah-masalah sosial dan politik. Tokoh pertama yang
muncul dari aliran ini ialah Ivan Turgenev, novelis dan dramawan, yang dengan
baik memahami kondisi masyarakat Rusia saat itu.

Karyanya yang penting, Corat-coret Seorang Olahragawan (1852), melukiskan
sikap simpatik para petani-budak yang digambarkannya berjiwa lebih mulia daripada
para tuan tanah yang kasar dan tamak; Rudin (1856) serta Ayah dan Anak (1862),
menggambarkan rasa frustrasi kaum intelektual muda yang menyaksikan keterbelakangan
bangsanya namun tak kuasa berbuat banyak karena saat untuk perubahan belum
sampai. Selain itu, Turgenev juga gemar mengolah tema-tema percintaan seperti
terlihat dalam Asya (1858), Cinta Pertama (1860), dan Sebulan di Desa (1850).

Tokoh kedua, Ivan Goncharov, beraliran politik liberal. Novel terkenalnya,
Oblomov (1859), berkisah tentang konflik batin seorang tuan tanah dengan pikir?pikiran
liberalnya. Alexander Ostrowsky, seorang penulis drama yang produktif, banyak
mengecam kelas menengah bangsanya yang dinilainya tamak, tidak jujur dan ingin
berkuasa, terutama para pedagangnya. Karya-karyanya antara lain adalah Kekayaan
Bukan Kejahatan (1854), kisah pedagang yang mengawinkan anak gadisnya dengan
seorang bajingan kaya, Badai (1860) yang mengisahkan penderitaan seorang istri
akibat sikap tirani ibu mertuanya yang kaya.

Puncak realisme terjadi pada tahun 1860 dan 1870an di tangan dua sastrawan
besar Rusia, LEO TOLSTOY dan Fyodor Dostoyewsky. Tolstoy
menulis novel-noveI tebal mengenai tahap kehidupan manusia sejak lahir sampai
mati yang menekankan keagungan spiritual manusia. Novel-novelnya antara lain
Perang dan Damai (1869), Anna Karenina (1875-1877), Kematian Ivan Ilyits (1886),
dan novel-novel biografi serta fabel. Dostoyewsky terkenal karena novel-novelnya
menggarap konflik-konflik kejiwaan manusia, seperti tergambar dalam bukunya
Kejahatan dan Hukuman (1866), Karamazov Bersaudara (1880), dan berbagai karyarya
yang lain.

Pada saat surutnya aliran realisme di Rusia tahun 1890-an akibat kerasnya
tsar menekan kaum reformator, kesusastraan Rusia banyak menghasilkan drama
dan cerita pendek dari dua tokoh termasyhurnya, Anton Chekov dan Maxim Gorki.
Chekov menulis Paman Vanya (1898), Kebun Ceri (1904), dan Burung Camar.

Drama-drama Chekov yang termasyhur di seluruh dunia ini serta banyak cerita
pendeknya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Di Indonesia Gorki lebih
dikenal sebagai penulis cerpen karena banyaknya karya jenis ini yang diterjemahkan
ke bahasa Indonesia. Selain dramanya yang terkenal, Lembah Dalam (1902), novelnya
Ibunda sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Periode Sastra Revolusioner

Sepanjang abad ke-19 di Rusia berkembang gerakan-gerakan revolusioner untuk
memperbaiki keadaan yang terbelakang akibat pemerintahan otokrasi. Perhatian
yang semula ditujukan kepada kaum tani-budak, akhirnya ditujukan pada gerakan-gerakan
buruh kaum urban di kota-kota. Karya-karya sastra yang didasari pemikiran
religius dan filsafat. Akibatnya, berkembanglah aliran simbolisme.

Mereka meninggalkan realisme untuk kembali pada pilihan kaum romantik yang
menyuguhkan impian dan fantasi dalam sastra. Tokoh-tokoh simbolis Rusia tahun
1890-an adalah Alexander Blok, penulis religius yang dalam karyanya, Dua Belas
(1918), memandang kehidupan penuh kekotoran; Andrey Bely, novelis dan penyair,
menulis St. Petersburg yang melukiskan konflik Barat-Timur menjelang ledakannya;
Leonid Andreyev, yang mengawinkan realisme dan simbolisme dalam karyanya Tujuh
Orang yang Digantung (1908); Ivan Bunin, pemenang Nobel tahun 1933, yang menulis
Seorang Gentelmen dari San Fransisco (1915).

Kisah ini melukiskan seorang yang menjadi miliader berkat kerja keras namun
tak bisa menikmati hidup. Pada jaman ini pula muncul penyair besar Vladimir
Mayakowsky dengan karya-karyanya Awan dalam Celana (1915) dan Tersesat dalam
Konferensi (1922). Penyair dan novelis Boris Pasternak menulis Si Kembar di
Awan (1914) dan Saudara Perempuan Kehidupanku (1922).

Periode Sastra Soviet

Setelah Revolusi Komunis tahun 1917, berkembanglah sastra Soviet yang berisi
gambaran kemenangan, kesejahteraan, dan kebenaran pemerintah. Sensor keras
dilakukan bagi karya sastra yang mengritik pemerintah. Sastra menjadi alat
bagi partai komunis dan pemerintah komunis untuk memperteguh komunisme. Dalam
situasi demikian amat sedikit karya-karya sastra bermutu yang muncul. Meskipun
begitu. terbit juga beberapa karya bermutu setelah ada sedikit kelonggaran
dalam penerbitan buku di tahun 1920-an.

Beberapa sastrawan yang pantas dicatat adalah Isaak Babel, penulis serial
novel, Kavaleri Merah (1926), yang mengisahkan kengerian akibat perang; Leonid
Leonov, penulis Para Pembawa Panji (1924) dan Maling (1927) yang melukiskan
akibat kejiwaan Revolusi Komunis bagi rakyat; Alexei Tolstoy, penulis Jalan
ke Kalvari (19211941), kisah kehidupan kaum intelektual selama dan sesudah
Revolusi Komunis.

Tahun 1930-an Uni Soviet mulai mengadakan pembangunan besar-besaran. Kesusastraan
dan karya-karya sastra kembali menjadi alat propaganda sehingga jatuh mutunya
kecuali beberapa penulis yang berhasil mengatasi niat propaganda dengan keterampilan
dan kreativitas artistiknya, seperti Valentin Kataev dengan bukunya Waktu,
Maju Terus (1932).

Sejak tahun 1930 berkembanglah sastra realismesosialis yang bertujuan membangun
masyarakat sosialis dengan karya-karya sastra yang "mudah dimengerti
rakyat". Para sastrawan digabungkan dalam organisasi sastrawan yang diawasi
pemerintah, karenanya banyak sastrawan pembangkang yang dipenjarakan. Namun
dalam jaman ini muncul juga karya-karya besar, antara lain karya Mikhail Sholokov
yang berjudul Sungai Don yang Mengalir Tenang (1928-1940) dan Tanah Perawan
Terbalik (1932-1960); karya Konstantin Simonov Siang dan Malam (1941); serta
tulisan humoristik Anna Akhmatova dan Mikhail Zoschenko.

Periode Sastra Mutakhir

Sejak tahun 1953, setelah kematian diktator Joseph Stalin, bermunculan kembali
sastrawan Rusia kelas dunia akibat mulai mengendor sensor pemerintah. Ilya
Ehrenburg menulis novel-novel yang menggambarkan kenyataan kehidupan pahit
dalam masyarakat, misalnya SaIju Keras dan Hari Penciptaan Kedua, pada permulaan
tahun 1950-an.

Vladimir Dudintsev menyoroti korupsi dalam partai komunis dengan menulis
novel Tidak dengan Roti Saja (1956). Alexander Solzhenitsyn menulis Suatu
Hari dalam Kehidupan Ivan Denisovich yang melukiskan jeleknya kondisi kamp
kerja pada masa Stalin. Pada masa ini terbit pula novel Boris Pasternak, Dokter
Zhivago (1957), yang memberinya Hadiah Nobel tahun 1958.

Penyair-penyair muda liberal bermunculan, termasuk Yevgeny Yevtushenko yang
membela kaum Yahudi di Rusia dalam Babi Yar (1961), Andrey Voznesensky yang
terkenal karena sajak-sajak orisinalnya dengan imaji-imaji kompleks, dan Andrey
Sinyavsky yang dengan nama samaran Abram Tertz menerbitkan cerpen-cerpennya
di luar Uni Soviet tahun 1950-an.

Sejak tahun 1924 ketika Eugene Zamiatin menerbitkan Kami di luar Uni Soviet,
semakin banyak penulis Rusia yang mengirimkan karyanya ke luar negeri. Setahun
setelah Solzhenitzyn menerbitkan Lingkaran Pertama (1968) di luar negeri,
sastrawan tersebut diasingkan oleh pemerintah ke luar negeri.

Karya-karya sastrawan Rusia banyak diperkenalkan di Indonesia dan banyak
diterjemahkan, antara lain Dokter Zhivago. Suatu Hari dalam Kehidupan Ivan
Denisovich, dan sajak-sajak Yevtushenko, Sinyavsky.

Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi 14, 1990


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)