Kita hidup di tengah-tengah jaman yang semakin permisif. Isu-isu seperti homoseksualitas,
aborsi, free sex (seks pranikah), sudah menjadi hal yang lumrah di abad ini. Paradigma atau cara
berpikir kita juga perlahan-lahan ‘dipengaruhi’ oleh nilai-nilai sekuler yang serba permisif ini.
Kita pikir kalau kita mengadopsi cara berpikir ‘kontemporer’ (yang serba permisif) kita menjadi
manusia yang modern, tidak kaku, dan tidak ketinggalan jaman. Kita mulai latah mengikuti setiap jenis
perkembangan ‘pergaulan modern’ dan mulai bersikap sinis terhadap nilai-nilai konservatif yang dipercaya
orang lain. Atau mungkin, kita mulai meninggalkan nilai-nilai konservatif yang kita miliki.
Nilai-nilai ‘konservatif (yang baik)’ tentang sebuah keluarga (komitmen, keutuhan, dan sebagainya), nilai-nilai
tentang hubungan cinta yang sehat, nilai-nilai persahabatan, mulai luntur diganti dengan nilai-nilai yang
cenderung individualistis, memenuhi hawa nafsu, dan hidup semau gue. Padahal nilai-nilai ‘konservatif’
seringkali menyelamatkan kita dari jurang kehancuran.
Percaya atau tidak, ada banyak kalangan di luar gereja (agama lain, atheis, dan sebagainya), yang mulai
bingung dengan gaya hidup orang Kristen yang semakin ‘kontemporer’. Di tengah jaman yang semakin edan ini, ada begitu banyak orang
yang merindukan kehangatan nilai-nilai konservatif, yang percaya akan hidup yang sederhana, bermoral,
penuh kasih, dan berintegritas.
Karena orang Kristen terlalu kontemporer, banyak orang yang memilih mengikuti jalan agama-agama lain yang
mereka lihat masih konservatif. Mereka sudah jenuh dengan kontemporerisme, sedangkan banyak orang
Kristen sekarang ini, yang dengan bangganya menyebut dirinya Kristen kontemporer padahal kehidupannya
sudah tidak lagi mencerminkan iman dan kasih kepada Kristus.
Saya pribadi tidak mau disebut sebagai Kristen kontemporer karena menurut saya, kontemporer sudah
terlalu sering mengecewakan saya. Mari kita perhatikan gereja-gereja kita yang menjamu (menjangkau) jemaatnya dengan
entertainment (musik-musik gereja yang kontemporer) dan pengajaran kontemporer (manajemen hidup yang
penuh dengan usaha manusia tanpa intervensi Roh Kudus). Mari kita ajukan satu pertanyaan sederhana pada
diri kita sendiri. Apakah kehidupan rohani kita akan terus bertumbuh seandainya kita hidup di
tengah hutan, tanpa musik kontemporer dan pengajaran kontemporer?
Kita hidup oleh iman kepada Yesus Kristus dan hidup yang kita jalani ini ditunjang oleh kehidupan Dia
yang ada di dalam kita, bukan oleh hal-hal kontemporer yang ada di luar diri kita (dunia). Tidaklah salah untuk
terus bertumbuh dan berkembang mengikuti perubahan teknologi, media, gaya hidup dan sebagainya. Namun, kita
jangan meninggalkan nilai-nilai konservatif (nilai-nilai yang baik) yang kita punyai. Orang lain boleh
mencemooh kita karena kita tidak mau menyontek, tidak mau korupsi, ingin hidup suci, dan sebagainya. Dunia boleh
berubah sampai ke tingkat yang paling edan sekalipun, tetapi kita sebagai umat pilihan Allah harus memegang
teguh nilai-nilai konservatif yang kita percayai bahwa akhir kata dari segala yang didengar Takutlah akan Allah
dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.
Hari ini, mari kita bertanya pada diri masing-masing, apakah kita malah menjadi
batu sandungan atau menjadi berkat bagi orang lain di tengah-tengah kehidupan
kita yang kontemporer. Percaya atau tidak, gaya hidup orang Kristen yang kontemporer
malah membuat orang lain yang membutuhkan jawaban hidup menjadi beralih kepada
agama-agama lain. Itulah mengapa, saya lebih suka menggunakan istilah Kristen
konservatif yang open minded (masih belajar) meski banyak orang Kristen
lain yang berlomba-lomba menambahkan kata kontemporer dalam segala aspek kehidupannya
termasuk kehidupan imannya.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.