It is altogether doubtful whether any man can be saved who comes to Christ for His help but with no intention to obey Him. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Tips & Thoughts

Terlalu Kontemporer

Submitted by riel on 03/11/2004 – 8:15 AM | 573 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kita hidup di tengah-tengah jaman yang semakin permisif. Isu-isu seperti homoseksualitas,
aborsi, free sex (seks pranikah), sudah menjadi hal yang lumrah di abad ini. Paradigma atau cara
berpikir kita juga perlahan-lahan ‘dipengaruhi’ oleh nilai-nilai sekuler yang serba permisif ini.

Kita pikir kalau kita mengadopsi cara berpikir ‘kontemporer’ (yang serba permisif) kita menjadi
manusia yang modern, tidak kaku, dan tidak ketinggalan jaman. Kita mulai latah mengikuti setiap jenis
perkembangan ‘pergaulan modern’ dan mulai bersikap sinis terhadap nilai-nilai konservatif yang dipercaya
orang lain. Atau mungkin, kita mulai meninggalkan nilai-nilai konservatif yang kita miliki.

Nilai-nilai ‘konservatif (yang baik)’ tentang sebuah keluarga (komitmen, keutuhan, dan sebagainya), nilai-nilai
tentang hubungan cinta yang sehat, nilai-nilai persahabatan, mulai luntur diganti dengan nilai-nilai yang
cenderung individualistis, memenuhi hawa nafsu, dan hidup semau gue. Padahal nilai-nilai ‘konservatif’
seringkali menyelamatkan kita dari jurang kehancuran.

Percaya atau tidak, ada banyak kalangan di luar gereja (agama lain, atheis, dan sebagainya), yang mulai
bingung dengan gaya hidup orang Kristen yang semakin ‘kontemporer’. Di tengah jaman yang semakin edan ini, ada begitu banyak orang
yang merindukan kehangatan nilai-nilai konservatif, yang percaya akan hidup yang sederhana, bermoral,
penuh kasih, dan berintegritas.

Karena orang Kristen terlalu kontemporer, banyak orang yang memilih mengikuti jalan agama-agama lain yang
mereka lihat masih konservatif. Mereka sudah jenuh dengan kontemporerisme, sedangkan banyak orang
Kristen sekarang ini, yang dengan bangganya menyebut dirinya Kristen kontemporer padahal kehidupannya
sudah tidak lagi mencerminkan iman dan kasih kepada Kristus.

Saya pribadi tidak mau disebut sebagai Kristen kontemporer karena menurut saya, kontemporer sudah
terlalu sering mengecewakan saya. Mari kita perhatikan gereja-gereja kita yang menjamu (menjangkau) jemaatnya dengan
entertainment (musik-musik gereja yang kontemporer) dan pengajaran kontemporer (manajemen hidup yang
penuh dengan usaha manusia tanpa intervensi Roh Kudus). Mari kita ajukan satu pertanyaan sederhana pada
diri kita sendiri. Apakah kehidupan rohani kita akan terus bertumbuh seandainya kita hidup di
tengah hutan, tanpa musik kontemporer dan pengajaran kontemporer?

Kita hidup oleh iman kepada Yesus Kristus dan hidup yang kita jalani ini ditunjang oleh kehidupan Dia
yang ada di dalam kita, bukan oleh hal-hal kontemporer yang ada di luar diri kita (dunia). Tidaklah salah untuk
terus bertumbuh dan berkembang mengikuti perubahan teknologi, media, gaya hidup dan sebagainya. Namun, kita
jangan meninggalkan nilai-nilai konservatif (nilai-nilai yang baik) yang kita punyai. Orang lain boleh
mencemooh kita karena kita tidak mau menyontek, tidak mau korupsi, ingin hidup suci, dan sebagainya. Dunia boleh
berubah sampai ke tingkat yang paling edan sekalipun, tetapi kita sebagai umat pilihan Allah harus memegang
teguh nilai-nilai konservatif yang kita percayai bahwa akhir kata dari segala yang didengar Takutlah akan Allah
dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.

Hari ini, mari kita bertanya pada diri masing-masing, apakah kita malah menjadi
batu sandungan atau menjadi berkat bagi orang lain di tengah-tengah kehidupan
kita yang kontemporer. Percaya atau tidak, gaya hidup orang Kristen yang kontemporer
malah membuat orang lain yang membutuhkan jawaban hidup menjadi beralih kepada
agama-agama lain. Itulah mengapa, saya lebih suka menggunakan istilah Kristen
konservatif yang open minded (masih belajar) meski banyak orang Kristen
lain yang berlomba-lomba menambahkan kata kontemporer dalam segala aspek kehidupannya
termasuk kehidupan imannya.

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

5 Comments »

  • vincent says:

    Right on man… Aku juga merasa dalam hati aku itu konservatif bgt kok… misalnya, kmr aku dengar ada kkr tp pake musik dangdut and rock… hikkss sedih bgt… soalnya yg pada dateng pulangnya pd bilang gak ada kesannya sama sekali, gak ada hadirat Tuhan di sana… susahnya org2 gini klo diberitahu malah nyalahin kita dibilang kuno, gak open minded, de el el…. tp Alkitab blg, kita bisa lihat sesuatu dari buahnya… klo buahnya gak baik ya mesti perbuatannya perlu dipertanyakan juga… seperti yg aku bilang td klo yg kkr gak ngerasain apa-apa, brarti khan ada yg salah… seharusnya yg melakukan itu refleksi ke diri sendiri… dan kita juga harus refleksi diri kita sendiri dari waktu ke waktu supaya tahu apakah kita pernah salah jalan atau sedang salah jalan… itu akan membantu kita jd orang yang lebih baik…

  • lilikhh says:

    Gak selamanya yang kontemporer itu ok,
    Gak selamanya yang konservatif pun ok,
    ..

    nah … kalo menurut gw sih …

    Semuanya kembali lagi kepada kita.

    Prinsip-Prinsip apakah yang loe pegang dalam kehidupan loe?

    Gak perduli apakah loe penganut kontemporer maupun konservatisme.

    The most important question is …

    Apakah YESUS tetap menjadi yang TERUTAMA dalam hidup loe?

    Jadi, yang jadi pegangan kita seharusnya bukanlah sebuah sistem ataupun ajaran agama yang bisa musnah ditelan jaman.

    Setuju banget sama Riel !

  • Yefta frigid Pane says:

    Semuanya sudah terlanjur…

    saat kita di besarkan disalah satu merk gereja, tentu gaya ibadah itu yang akan menjadi patokan secara gak langsung.
    Gereja adalah sarana ibadah!!! tapi karna kita ini manusia yang selalu tidak puas & terlalu memikirkan kepuasaan batin sehingga kita lupa tujuan kita ke Gereja… ya tho!
    he…he… aku pusing kalau masuk ke Gereja yang “macem2″ apalagi kalau yang “macem2′ itu musiknya, weh pusing tenan!

    langsung aja dech… saat ini aku gak bisa ngomong atau komentar.

    tolong kalau punya data atau informasi penting tentang musik gereja,alamat Pdt. Yusuf Roni/mungkin kalian punya refrensi. kabari aku ya, please.

    aku sekarang sedang buat SKRIPSI yang judulnya: PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA di GPdI. aku kuliah di ISI JOGJA jurusan ETNOMUSIKOLOGI

    yang aku pingin omongin di skripsiku bahwa kini musik gereja sudah bertambah fungsi sebagai sarana penginjilan. itu sebabnya pujian2 di gereja sudah tidak seperti dulu lagi, karena para penginjil sekarang gak berani ambil resiko ngetuk pintu rumah orang, mungkin takut dihajar FPI he… jadi didalam pujian kebanyakan doktrinya sampai2 lupa bahwa kita tidak boleh terlalu eksis di depa RAJA.

    sedikit info aja kalau musik gereja yang kalian maksud konservatif pun sebenarnya tidak kalau kita tahu bahwa kristen di Syria/kristen purba/katolik koptik(cikal bakal Katolik Yunani-Roma) masih menggunakan Sholat 7 waktu di dalam ibadahnya sampai sekarang, bahkan Protestan pertama/Martin Luther juga menggunakan sholat 2 waktu di dalam ibadahnya. hm…
    kita ini dari timur!? ya sayangnya yang bawa kristen ke INDONESIA bukan UNTA tapi Kapal Laut.

    Oke deh… salam kenal & sorry kalau kurang berkenan, tapi jangan lupa pesenku ya!?

  • yefta frigid pane says:

    Piye/gimana? kok diskusinya mandeg&gak ada kelanjutannya?
    oya, Puji Tuhan!? Skripsiku udah jadi.

  • Yang di Pertuan says:

    syukur lah..
    sekarang Yefta udah lulus dunk!
    gimana komen dari teman dan dosen masalah ujian pendadaran kemarin

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.