« « Mengendalikan Diri       |       Browsing Pake Firefox » »

Leo Tolstoy: Menjadi Seorang Kristen

Leo Tolstoy dan istriLeo
Nikolayevitch Tolstoy dikenal sebagai sastrawan Rusia terbesar yang karya-karyanya
bercorak realis dan bernuansa religius sarat dengan perenungan moral dan filsafat.
Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan kaya Rusia di usadba (istana bangsawan)
di Yasnaya Polyana, sebuah kota kecil di pinggiran Tula sebelah selatan Moskow.

Kehidupan pria kelahiran 9 September 1828 ini terbilang normal untuk kategori
keluarga kelas atas kecuali beberapa kejadian menyedihkan ditinggal mati oleh
orang-orang yang dikasihinya. Yang pertama, ibundanya tercinta meninggal (1830)
saat ia berusia dua tahun. Ayahnya meninggal (1837) tanpa sebab yang jelas
dalam perjalanan bisnis. Kemungkinan besar ayahnya dibunuh oleh para pelayan
yang pergi bersamanya karena uang dan dokumen yang dibawanya hilang. Tidak
lama setelah kematian ayahnya, neneknya ikut menyusul.

Tolstoy mempunyai tiga orang saudara laki-laki yang lebih tua yaitu Nikolai,
Sergei, dan Dmitiri, dan adik perempuan bernama Marya. Dmitri, menjadi sahabat
akrabnya di masa kanak-kanaknya. Sedangkan Sergei bagi Tolstoy lebih mewakili
peran ibunya. Adik perempuannya, Marya menjadi biarawati di sebuah gereja.
Abangnya yang paling besar, Nikolai, menjadi sosok yang ia kagumi.

Rentang waktu hidup yang panjang itu (82 tahun) dilalui sang pengarang dengan
berbagai pencarian akan makna hidup. Pada usia 16 tahun, Leo - yang telah
ditinggal kedua orang tuanya itu - diterima di Universitas Kazan di Fakultas
Bahasa-Bahasa Timur.

Kalau saja ia menyelesaikan kuliahnya, ia bisa berkarir di Departemen Luar
Negeri sebagai seorang diplomat. Namun ia memilih untuk pindah ke Fakultas
Hukum di universitas yang sama. Terpengaruh oleh filsuf Prancis Jean Jacques
Rousseau, ia menjadi tidak puas dengan pendidikan formal dan pada 1847 memutuskan
untuk keluar dari universitas tanpa meraih gelar akademis. dan akhirnya meninggalkan
pendidikannya dan kembali ke Yasnaya Polyana. Di sinilah ia menemukan kehidupan
sederhana bersama para budakyang menghamba di tanah miliknya.

Empat tahun berselang, pada tahun 1851, Tolstoy memutuskan untuk menjadi
prajurit yang siap dikirim ke Kaukasus. Keputusan tersebut merupakan wujud
pencarian jatidiri dan makna hidup. Sejak lahir Tolstoy hidup dalam lingkungan
yang serba berkecukupan.

Kehidupan di bangku kuliah bersama dengan anak-anak bangsawan lain cenderung
hura-hura, membuatnya kecewa dan memacunya untuk mencari sisi-sisi lain dari
kehidupan ini. Dunia kemiliteran, dunia pertempuran, merupakan sesuatu yang
lain, yang menuntut disiplin tinggi dan tanggung jawab besar. Di sana, di
sela-sela waktu senggangnya Tolstoy menggoreskan penanya, menuliskan berbagai
pengalaman masa kecilnya dalam beberapa cerita seperti Childhood
(1852) yang kemudian diikuti oleh lanjutannya, Boyhood (1854) dan
Youth (1856). la kembali ke Saint Petersburg di tahun 1856 dan menjadi
tertarik pada pendidikan kaum petani.

la sempat berkunjung ke Prancis dan Jerman untuk melakukan studi banding
terhadap sekolah-sekolah yang ada di sana. Kemudian, ia mendirikan sebuah
sekolah desa di Yasnaya Polyana dengan metode pengajaran yang terbilang progresif
pada saat itu.

Di tahun 1862, Tolstoy menikahi Sonya Andreyevna Behrs yang kemudian dikenal
sebagai Sofia Tolstoy, seorang gadis muda dari kalangan terkemuka Moskow.
Dalam lima belas tahun berikutnya ia mendirikan sebuah keluarga besar dengan
12 orang anak, mengelola tanah pertanian dan sekolah desanya, serta menulis
dua novel besar yang dikenang dunia, War and Peace (1863) dan Anna
Karenina
(1873).

Memasuki usia 50 tahun (1878) Tolstoy mulai mengerti makna kehidupan yang
ia jalani dan menjadi seorang Kristen. Banyak kalangan membagi perjalanan
hidupnya ke dalam dua bagian, sebelum dan sesudah menjadi seorang Kristen.
Perjalanan imannya menjadi seorang Kristen mendapat tantangan. Setelah menulis
‘Resurrection’, Tolstoy dikucilkan oleh Gereja Ortodoks Rusia. Ia
kemudian mengembangan pengajarannya dan banyak yang mengikutinya.

Pada usia 82 tahun, didorong rasa tersiksa oleh kesenjangan antara ajaran-ajarannya
dengan kemakmuran hidup keluarganya dan pertengkaran tak berkesudahan dengan
istrinya yang menolak keinginannya untuk menghibahkan kekayaannya bagi pendidikan
kaum petani, Tolstoy meninggalkan rumahnya pada suatu malam. la jatuh sakit
tiga hari kemudian dan wafat pada suatu hari di bulan November 1910 di sebuah
stasiun kereta api di kota Astapovo.

Semasa hidupnya ada sebuah anekdot yang melukiskan betapa besar pengaruh
Tolstoy bagi rakyat sebangsanya, yakni bahwa ada tiga hal yang paling penting
di Rusia saat itu: Gereja Katolik, Tsar, dan Leo ToIstoy.

Dalam kumpulan esainya, Confession (1882), Tolstoy menggambarkan
keyakinan spiritualnya pada dua hal utama: cinta bagi seluruh umat manusia
dan perlawanan tak kunjung usai terhadap kejahatan. (Dari berbagai sumber/UF)

***

Foto, e-book, dan informasi lebih lanjut bisa dilihat di:

Bagi pengguna PocketPC bisa download novelnya dalam format .lit (Microsoft
Reader for Pocket PC):


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Print Artikel Ini Print Artikel Ini

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.

Comments

Keep it!!!

Leave a comment

(required)

(required)