Leo Tolstoy: Dunia Anak-anak
Tak
banyak yang tahu bahwa Leo Tolstoy juga dekat dengan dunia anak-anak.
Tak banyak yang tahu bahwa di balik keseriusannya menganalisa kehidupan konflik
batin tokoh-tokoh ciptaannya, Tolstoy juga menekuni kesederhanaan dan keluguan
dunia anak.
Perhatian terhadap dunia anak dapat kita lihat sejak debut kepengarangan Tolstoy. Karangannya berjudul “Childhood”(Detstvo/Masa Kecil) adalah karya pertama yang mengantarnya memasuki dunia sastra yang memaparkan kehidupan dari sudut pandang seorang anak. Tema utama karya tersebut adalah perasaan cinta pada orang-orang dekat dan cinta kepada Tuhan yang sangat kuat pada masa kanak-kanak.
Kecintaannya kepada dunia anak didorong oleh pemahamannya bahwa kebebasan, termasuk di dalamnya kebebasan berimajinasi dan berekspresi adalah hak setiap manusia, termasuk anak-anak. Institusi sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam keadaan tertentu seringkali menghilangkan kebebasan anak dan membelenggu keluasan imajinasi mereka. Ini yang ditentang Tolstoy. Inilah yang kemudian mendorongnya menciptakan sebuah sekolah di mana anak-anak bisa bebas mengekspresikan masa kanak-kanaknya sesuai dengan jiwa mereka.
Satu tempat yang tak bisa dilepaskan dari sosok Tolstoy dan dunia anak adalah Yasnaya Polyana -sebuah kota kecil di selatan Moskow, di situ terdapat rumah tinggal keluarga Tolstoy - yang menyimpan banyak cerita dan kenangan pengarang akan kecintaannya pada anak-anak. Betapa tidak, di kawasan yang rimbun dan teduh milik bangsawan ternama itu, anak-anak dari golongan budak diperbolehkan dengan leluasa bermain dan belajar di sekolah yang didirikan khusus untuk mereka.
Sekolah ini didirikan pada tahun 1859 tepat dua tahun sebelum Pemerintahan Tsar Aleksandr II secara resmi menghapus sistem perbudakan (Krepostnoye Pravo) di Rusia pada tahun 1861. Kecintaan pada anak, diungkapkan dengan memberikan kebebasan mereka bermain dan menikmati dunia mereka sambil mendapatkan pelajaran yang berguna bagi mereka di masa depan.
Pada tahun 70-an abad XIX, Tolstoy membuat kumpulan cerita berjudul “Azbuka”
(Pelajaran Membaca), “Novaya Azbuka” (Pelajaran Membaca Baru), dan buku-buku
lainnya yang masuk dalam khazanah dunia sastra anak lainnya. Karya-karya yang
dibuat dengan kesungguhan dan kerja keras itu ditujukan, tak lain adalah untuk
mewujudkan impiannya memajukan anak-anak Rusia. Hal ini tersirat dari apa
yang diungkapkannya kepada saudaranya A. A. Tolstoy, “Setelah menulis “Azbuka”
(Huruf) tersebut, saya baru bisa mati dengan tenang.” (Dirangkum dari buku
‘Enam Puluh Dongeng Anak Rusia, Leo Tolstoy’ Edisi Pertama Juni 2004 terbitan Granit)
Jika Anda menyukai artikel ini, silakan beri komentar atau berlangganan rss-feed untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru UF di aplikasi feed reader Anda.





Comments
No comments yet.
Leave a comment