God will not lead us except for His own glory and He cannot lead us if we resist His will. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Books

Leo Tolstoy: Tokoh Pembaharuan Moral

Submitted by riel on 28/10/2004 – 10:40 PM | 738 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Leo Tolstoy (1876) : Tokoh Pembaharuan MoralTulisannya sarat dengan pesan-pesan moral, cinta, dan kebebasan. Pencarian akan arti kehidupan, akan kehidupan yang lebih baik membuatnya tidak puas dengan segala kemasyuran dan kekayaan yang menurutnya semu dan tidak abadi. Dalam berbagai karyanya ia sering menelanjangi konflik batin yang sering dialami oleh manusia saat melanggar norma dan nilai kebenaran yang ada.

Sebagai seorang Kristen ‘kontemporer’ di jaman ini, kita lebih banyak tahu tentang tokoh-tokoh Kristen ‘kontemporer’ seperti Billy Graham, Roberts Liardon, Benny Hinn, dan sebagainya. Ada baiknya dan sangat baik bila kita juga mengalihkan perhatian lebih dalam kepada tokoh-tokoh lain yang hidup di ‘jaman dulu’. Saya berani bertaruh, bahwa banyak di antara kita yang tidak tahu atau baru pertama kali mendengar tentang Leo Tolstoy.

Penulis besar dunia asal Rusia ini dikenal sebagai penulis novel yang sangat berbakat dan kemudian dikenal sebagai seorang tokoh pembaharuan moral dan kerohanian. Ia banyak mengangkat tema dan problematika bernuansa filosofis, psikologis, dan religius. Gaya kepengarangan Tolstoy yang sarat dengan pemaparan psikologis tokoh-tokohnya, menempatkan sastrawan beraliran realisme ini sebagai master “dialektika jiwa”.

Coba tengok buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul Ziarah yang merangkum sebagian kecil karya-karyanya. Di sana kita diajak untuk merenung dan merasakan tentang arti kehidupan, moralitas, dan konflik batin yang kerap mendera dalam kehidupan manusia.

Ia menulis beberapa karya seperti “Kebangkitan” (Voskresenie), “Haji Murat”, “Bapa Sergey” (Otets Sergii), dan “Kematian Ivan Ilyich” (Smert’ Ivana Ilyicha). Namun ada dua karya yang cukup terkenal mengharumkan namanya, yaitu “War and Peace” (Perang dan Damai/Voina i Mir), yang dianggap sebagai magnum opusnya dan “Anna Karenina”, novel percintaan yang diletakkan setaraf dengan Madame Bovary oleh Flaubert dan Effi Briest karangan Fontane di dalam membicarakan kisah penzinahan.

War and Peace terjemahan Louise dan Aylmer Maude setebal 1.315 halaman merupakan sebuah mahakarya berbentuk ‘epopeyd’ (epos besar) yang di dalamnya terdapat kurang lebih 580 tokoh cerita. Tema patriotisme dalam karyanya ini lebih diperlihatkan pada sosok-sosok ‘orang biasa’ yang berjuang untuk kebebasan tanah airnya, bukan pada tokoh-tokoh besar yang sepak terjangnya lebih didorong oleh ambisi pribadi, karir, dan kemasyuran.

Para pengkritik sastra menganggap War and Peace sebagai novel teragung yang sangat kompleks. Kurang lebih 580 tokoh/watak merangkai cerita dalam novel ini seperti Napoleon, Marat dan Alexander dari Rusia, bersama tokoh-tokoh rekaan seperti keluarga Bezukhov, Rostov, Bolkonsky, dan Kuragin.

War and Peace menggambarkan pemikiran Tolstoy tentang takdir dan manusia. Isaiah Berlin, menulis di dalam The Hedgehog and The Fox pada tahun 1953 menyatakan, “Tidak ada yang dapat menandingi Tolstoy di dalam melukiskan satu rasa yang spesifik, satu kualitas yang tepat mengenai sesuatu perasaan… yang dimilikki oleh satu kejadian tertentu, oleh individu, keluarga, masyarakat, dan seluruh bangsa.”

Sedangkan Anna Karenina terjemahan Rosemary Edmonds setebal 853 halaman merupakan sebuah roman psikologis tentang kehidupan seorang wanita bangsawan yang terjebak dalam keadaan dilematis antara mengikuti norma-norma yang berlaku di masyarakat atau mendengarkan suara hati yang menentang hubungan yang semu (perzinahan).

Dalam novel Anna Karenina yang sudah muncul dalam layar perak beberapa kali, Tolstoy menceritakan penderitaan tragis seorang isteri bangsawan bernama Anna yang jatuh cinta kepada Count Vronsky yang kembali membawa kegairahan cinta dalam dirinya. Tolstoy memulai novel tersebut dengan ayat yang cukup populer, “Semua keluarga yang bahagia adalah serupa tetapi keluarga yang berduka mengikuti caranya yang sendiri.”

Kebahagiaan yang dicari-cari pada Vronsky tidak kesampaian dan Anna membunuh diri dengan membiarkan dirinya dilanggar oleh kereta api – setelah melahirkan seorang anak haram buat Vronsky.

Sebagaimana lazimnya dengan Tolstoy, kisah krisis kekeluargaan itu cuma menyembunyikan kisah pencarian arti kehidupan dan keadilan sosial. Seperti juga di dalam War and Peace, kisah-kisah individu di dalam kisah cinta Anna Karenina dialun dengan cara yang cukup menakjubkan dengan pesan-pesan yang jauh lebih mendalam dan cerita-cerita yang amat kompleks.

Tahun-tahun selepas lahirnya dua karya tersohor tersebut, Tolstoy lebih berperan sebagai seorang tokoh moral dan kerohanian. Ia disingkirkan dari Gereja Ortodoks dan Yasnaya Polyana menjadi daya tarik bagi pengikut-pengikutnya yang ingin merasakan sendiri ajaran Tolstoy.

Ajaran-ajaran Tolstoy mempengaruhi perjuangan Gandhi di Afrika Selatan dan gerakan kibbutz di Palestina. Mahatma Gandhi telah menyatakan bahwa kejayaan fase akhir gerakan satyagraha di Afrika Selatan adalah berdasarkan Pengaruh Tolstoy yang memberikan “pembersihan kerohanian” di antara 1908 hingga 1914. Pengaruh tersebut menjadi prototype bagi Ashram Gandhi di Sabarmati, India yang menjadi pusat gerakan pembebasan politik dan kerohanian yang dipeloporinya.

Apa yang cukup menarik Gandhi tentang ajaran Tolstoy ialah penolakan kekerasan di dalam penentangan yang disebarkan oleh Tolstoy. Meskipun begitu, Gandhi tidak setuju dengan sikap Tolstoy yang menolak terus kerajaan yang tersusun dan terancang. Tulisan penulis Russia tersebut, The Kingdom of God is Within You menjadi rujukan utama Gandhi.

Gandhi menulis beberapa surat tentang beberapa hasil karangannya kepada Tolstoy. Namun perbincangan yang betul-betul mendalam tidak berlangsung antara dua tokoh besar dunia tersebut, karena kesehatan Tolstoy yang makin menurun hingga akhirnya dia meninggalkan isterinya beberapa hari sebelum meninggal dunia.

Pengarang buku Gulag Archipelago yang cukup terkenal, Aleksander Solzhenitsyn yang menjadi mangsa Stalinisme di Uni Soviet mengandaikan pandangan Tolstoy yang menekankan perbaikan moral dan kerohanian tanpa mempedulikan kebebasan politik tidak akan dapat bertahan kiranya Tolstoy melalui kehidupan di bawah komunisme.

“…jika Tolstoy ditekan sebagaimana kami ditekan pada zaman pemeritahan Stalin, apabila tiga lelaki takut untuk berhimpun di bawah bumbung, pasti dia akan turut menuntut kebebasan politik.” (Dirangkum dari berbagai sumber/UF).

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.