The gospel of work, as someone has called it, has crowded out the gospel of Christ in many Christian churches. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Daily Life

Dunia Kontemporer

Submitted by riel on 18/10/2004 – 8:02 PM | 581 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

“Kristen Kontemporer? Musik Kristen Kontemporer? Hmmm… apa maksudnya?” kata saya dalam hati saat
menjejakkan kaki dalam ibadah gereja yang diadakan di Mall Ambassador, Kuningan, hari Minggu, 17 Oktober 2004. Apakah ibadah gereja yang
diadakan di mall termasuk spirit kontemporer?

Tidak jauh dari tempat saya berdiri dalam ibadah itu, ada seorang pria bule terlihat menggendong seorang bayi. Sementara
istrinya, terlihat sekali-kali menepuk tangannya sementara lagu pujian dinaikkan. Saya tidak bisa melihat
wajah mereka, karena posisinya membelakangi. Belakangan, saya melihat mereka lagi saat makan di lantai 5 di mall itu.
Kontemporer… wanita pribumi married dengan pria bule yang fasih berbahasa Indonesia. Kebetulan saya
melihatnya mengucapkan terima kasih saat memesan es krim di KFC.

Saat makan di KFC itulah, mata saya menangkap pemandangan berwarna putih. Rupanya, itu paha mulus seorang
cewek yang bercelana sangat pendek. Sambil geleng-geleng kepala karena berpikir perempuan muda itu seharusnya
tidak berpakaian seperti itu, diam-diam pikiran saya menikmati juga pemandangan itu. Paha terbuka, begitu pula
tank top yang dikenakannya ketarik ke atas sehingga memperlihatkan pantat (maaf) bagian atasnya yang juga putih. Tapi untunglah,
pencobaan itu cuma sebentar karena saya duduk membelakangi meja mereka kira-kira 3 meja jaraknya.

Mungkin perempuan muda itu pernah hidup di luar negeri atau budaya dalam keluarganya yang membuatnya berpenampilan seperti itu.
Yah sudahlah, dia cuma model manusia yang lain, saya berkata dalam hati. Mungkin ini yang disebut kontemporer? Selesai menikmati paket 7 KFC dengan
5 ayam, 3 nasi, dan 3 Coca-cola, saya bergegas ke lantai bawah. Eits.. tunggu dulu, jangan berpikiran saya rakus. Ayam goreng itu
dibagi dua dengan adik saya yang paling kecil, sedangkan nyokap menikmati soto ayam yang dipesan tidak jauh dari gerai KFC itu.

Selesai makan, sambil mengayungkan kaki, pemikiran tentang istilah kontemporer masih menggelayut di pikiran. Saat melewati jembatan penghubung
antara Mall Ambassador dan CarreFour di lantai 2, saya melewati beberapa kedai makanan (warteg) di situ. Suasananya
ramai padahal bulan puasa. Ups… cobaan datang lagi. Saya melewati seorang perempuan muda yang tanpa rasa malu,
memperlihatkan belahan buah dadanya. Mungkin lumrah kalau sekedar memperlihatkan sedikit belahan, tapi yang saya lihat, dia
nyaris memperlihatkan belahan plus sebagian ‘kecil’ zona putih berbentuk bulat itu. Hmmm… kontemporer… saya teringat
kata itu lagi. Mengenakan kaos berkerah dengan belahan yang rendah atau kancing yang sengaja dibuka hingga ke bawah.

Tiba di lantai dasar, saya menghampiri sebuah kios majalah yang cukup lengkap. Seorang perempuan muda berwajah Jawa
sedang menjagai kiosnya. Saya pandangi deretan majalah yang tergantung di sana. Lucu juga, bulan puasa ini, berbagai
majalah dan tabloid yang sering memuat pose gadis cantik nan sexy dan judul bertemakan tentang seks yang mengundang rasa ingin
tahu, berubah menjadi alim. Penonjolan yang sering dilakukan
di seputar payudara dan paha tidak telihat. Posenya lebih kepada wajah atau pose yang lebih sopan. Rupanya majalah dan
tabloid ikut ‘bertobat’ di bulan puasa ini. Untuk sementara tema yang mengumbar secara vulgar tentang seks ‘kontemporer’ (free sex, tips & tricks, dsbnya) distop dulu.
Itupun pasti sementara…

Karena ingin menambah wawasan dan coba baca topik baru, saya membeli Majalah Angkasa Edisi Khusus tentang
Sniper seharga Rp 25.000. Mahal juga buat ukuran sebuah majalah yang tidak terlalu tebal, tapi karena saya penasaran
sama profesi yang satu ini, ingin tahu strategi dan senjata-senjatanya, saya membelinya. Itung-itung ikuti perkembangan
kontemporer seputar militer.

Tidak jauh dari kios itu, bergerombol puluhan orang sibuk membolak-balik DVD murah seharga Rp 5.000.
Kontemporer… saya kembali ingat kata itu. Rupanya banyak orang di hari Sabtu dan Minggu ini, mencari hiburan penghilang
stres dan penat dengan menonton DVD. Tidak luput adik saya juga ikut mencari-cari film baru atau lama yang ingin ditontonnya (lagi).
Yah, pasti tidak jauh-jauh dari film-film bioskop berjudul Resident Evil Apocalypse, Taxi, Romeo and Juliet, The Matrix, Lost in Translation,
The GodFather, Schindler’s List, Van Helsing, The Lord of the Rings, What Woment Want, 50 First Dates, dan film-film
‘kontemporer’ lainnya. Sayang sekali, saya tidak punya cukup waktu untuk menonton DVD-DVD itu. Bahkan tidak ada
satupun yang belum saya tonton secara utuh. Cuma kedua adik saya yang rajin menonton.

Selesai mengamati ’semangat’ puluhan orang itu mengobrak-abrik mencari DVD pilihannya, nyokap mengajak saya ke CarreFour sementara
adik saya ditinggal karena masih sibuk bergabung dengan puluhan orang itu. Saya benar-benar tidak habis pikir
bagaimana DVD yang menyajikan film berkualitas tinggi dengan tampilan yang tajam dijual seharga 5.000 rupiah plus cover (bungkus) yang juga berwarna.

Saat memasuki kawasan perbelanjaan CarreFour, saya melihat lautan manusia lalu lalang di situ. Ada yang mendorong
troli, ada pula yang mengangkat keranjang. Saya berpikir, apa gerangan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang ada di situ
dalam keseharian mereka. Saya melihat seorang pria beruban mendorong seorang perempuan tua yang duduk di atas kursi roda.
Mungkin mereka sepasang suami isteri yang berbelanja bersama. Saat di kasir, saya melihat seorang pemuda sambil berdiri
dalam antrian, sibuk menekan-menekan layar HP iPAQ 2210-nya dengan stylus. Mungkin dia sedang mencatat kegiatan
harian.

Tepat di samping kasir tempat saya berdiri, saya melihat sepasang bule. Seorang perempuan bule sedang bercakap-cakap
dengan pria bule yang ada di depannya. Sementara pria bule itu sibuk mengamati barang belanjaannya yang dicatat
oleh kasir, perempuan bule itu menunduk lalu mengecup tangan pria itu dengan mesra. Hmm… di kepala saya terlintas lagi
istilah kontemporer itu… Pria dengan PDA, pria tua dan istrinya di kursi roda, pria dan perempuan bule itu, mengingatkan
saya bahwa dunia ini penuh dengan manusia yang berbeda gaya hidup, kepercayaan, nilai, masa lalu, dan sebagainya.

Kira-kira apa yang ada dalam benak manusia-manusia itu (kita) tentang Tuhan? Bagaimana pandangan mereka (kita) tentang kehidupan
setelah kematian? Kalau mereka seorang Kristen, bagaimana mereka (kita) menjalaninya di tengah-tengah pesatnya perkembangan
teknologi informasi, perubahan ekonomi, politik dan sosial budaya?

Apakah kita harus mengadopsi istilah Kristen Batiniah menjadi Kristen Kontemporer? Bisakah menjadi seorang Kristen
batiniah yang kontemporer, atau Kristen kontemporer yang batiniah? Kok, rasanya kedua-duanya seperti kutub yang berlawanan.
Bagaimana kehidupan Kristen batiniah berjalan seiring dengan menggunakan kaos berkerah dengan belahan dada yang sangat rendah?
Bagaimana kehidupan Kristen batiniah berjalan seiring dengan menonton film-film DVD yang terus berkembang baik dari segi cerita,
efek, seksualitas dan sebagainya? Bagaimana kehidupan Kristen batiniah berjalan seiring dengan pakaian dan celana yang minim memamerkan
pesona dan kemolekan tubuh? Bisakah menjadi seorang Kristen batiniah dalam lingkungan yang sarat dengan teknologi yang memberikan hidup ini solusi lebih
cepat dan instan?

Muncul banyak pertanyaan dalam kepala saya. Mungkin, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi PR bagi kita semua untuk
melihat sejauh mana pengaruh dunia ini dengan spirit kontemporer-nya mempengaruhi kehidupan batiniah (rohani) kita.
Apakah kita semakin bertumbuh di dalam Tuhan atau justru semakin jauh dan jatuh? Pelajaran berharga yang bisa
saya petik dari ‘perjalanan’ di mall itu, kemanapun kita melangkah, kita akan berjumpa dengan banyak orang yang berbeda dengan kita. Baik
dari segi penampilan, gaya hidup, status, kepercayaan dan sebagainya. Sekarang tinggal bagaimana kita tetap berpegang teguh
pada nilai, prinsip dan iman Kristen yang kita percayai. Hmm… kontemporer… dimana-mana suasana dan manusia kontemporer selalu ada…

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.