PENULIS, humanis, dan pendidik, Leo F Buscaglia (1924-1998), menulis:
"To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must
be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing…."
Harapan dan kehidupan. Dua hal yang sangat mudah diucapkan, tetapi menjadi
tantangan besar pada Irwanto (49) dan Sartono Mukadis (59).
Pertanyaan "why me", misalnya, lebih mendominasi alam pikiran yang
melayang liar menyangkali realitas bahwa tubuh yang terkapar itu adalah miliknya.
Padahal, Sartono tahu persis bahwa pertanyaan seperti itu hanya akan mendamparkannya
ke dalam sumur tanpa dasar karena jawabannya bisa, "why not you?".
Harapan dengan mudah menguap ditelan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sekaligus
ketidakberdayaan ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa kondisi tubuh
mereka tidak mungkin kembali seperti semula. Embel-embel profesional, segala
teori yang dikuasai, dan kekuatan hati seperti apa pun sempat menjadi tak
banyak berarti ketika orang berada pada posisi mengalami. "Kita ini manusia
biasa, yang kebetulan menjadi psikolog," ujar Irwanto.
Bukan sesuatu yang kebetulan kalau Sartono dan Irwanto adalah psikolog terkemuka
di bidangnya masing-masing. Mereka berteman. Sartono Mukadis adalah pengamat
sosial yang tulisan dan komentarnya sering muncul di media massa. Ia menaruh
perhatian pada sumber daya manusia. Irwanto menaruh perhatian pada masalah
pengembangan anak dan kajian keluarga. Bidang studi itu memberinya gelar doktor
dari Purdue University, Indiana, AS, tahun 1992, dan kemudian bekerja di Lembaga
Penelitian Universitas Atma Jaya (LPA), Jakarta.
Sejak empat tahun lalu Sartono harus bergantung pada kursi roda setelah kaki
kirinya diamputasi karena gangrene sudah merambat naik. Gangguan itu bermula
dari luka yang tak kunjung sembuh akibat diabetes. Kelingking kaki kanannya
diamputasi jauh sebelum ia berangkat pergi untuk menunaikan ibadah haji pada
tahun 1997. Namun, pola makan yang tidak pernah berubah membuat luka serupa
muncul di telapak kaki kirinya.
Irwanto adalah korban "skandal medis tanpa nama" (kalau tidak boleh
disebut sebagai "malapraktik"). Ia masuk RS Internasional Bintaro
pada tanggal 27 Juli 2003 sekitar pukul 23.30 karena merasa tekanan yang sangat
kuat di dadanya sehingga ia sulit bernapas.
Perawatan dan obat yang diberikan dokter menghasilkan kelumpuhan dari dada
ke sekujur tubuh bagian bawah sekitar pukul 17.00 sehari kemudian. Jiwanya
sempat hampir melayang. Diagnosis yang terus berubah dan data rekam medis
yang tidak transparan membuat situasinya terus memburuk.
Setelah dirawat selama 60 hari di sebuah rumah sakit di Singapura, Irwanto
bertahan hidup. Si pemberi inspirasi melalui pengetahuan dan penelitian-penelitiannya
itu kembali memimpin LPA sejak awal Januari 2004. Semangatnya segera tertangkap
meski semua pekerjaan dilakukan dengan posisi setengah berbaring. Irene, sang
istri, dan seorang perawat selalu mendampingi.
"Dibandingkan Pak Irwanto, penderitaan saya bukan apa- apanya,"
ujar Sartono dengan nada penuh sesal.
PENDERITAAN sebenarnya tak bisa diperbandingkan karena menyangkut pergumulan
seseorang dengan dirinya sendiri. Kecuali satu hal: orang yang mengalaminya
melalui proses yang hampir sama untuk sampai pada tahap menerima kenyataan
sebagaimana adanya dan kemudian bangkit melanjutkan perjalanan.
"Ketika tiba pada tahap awal menerima dengan ikhlas semua ini, semua
jalan seperti dibukakan," tutur Sitti Herawati, istri Sartono, yang akrab
disapa Erry.
Bagi Irwanto dan Sartono, bertahan hidup saja tidak cukup kalau tidak bisa
memberikan sumbangan bagi kebaikan manusia. Perjalanan kembali menuju ke arah
itulah yang harus melewati proses sangat terjal.
Optimisme Sartono pasca- operasi Agustus 2002 memudar ketika mendapati kenyataan
ia tak bisa membalikkan tubuhnya sendiri. Penyakit itu membuat jantungnya
kena, parunya berair. Kondisi kesehatannya labil.
Sampai empat bulan setelah operasi, Sartono hanya merasa kesuraman yang pekat.
Pada saat yang sama sebenarnya keluarganya juga mengalami tekanan luar biasa,
pada Erry khususnya. Kesibukan anak- anaknya sehingga tidak selalu bisa menjenguk
sang ayah, ketertatihan Erry menghadapi segala persoalan sendiri, tidak ditanggapi
dengan bantuan psikologis. Sebaliknya, keluarga itu malah dihakimi dengan
berbagai "skenario". Ini sempat membuat Erry down.
"Perasaan terhina dan tidak berarti lagi kuat sekali memenuhi diri saya,
karena buang air pun harus dibantu," kata Sartono mengenang. Konflik
dengan istri dan anak-anaknya sering tak terhindari. Ketidakmampuannya menyesuaikan
diri dengan kondisi fisiknya yang baru acap kali membuatnya terjungkal ke
titik nadir. Ia menjadi sangat sensitif, juga cengeng, dan demanding.
"Ia jarang bicara. Maunya tidur terus, susah dibawa cek ke rumah sakit,"
kata Erry. Saat itu, Sartono merasa hidupnya sudah selesai. Selama dua tahun,
kondisi psikologisnya pasang dan surut secara tajam. Sementara di luar, orang
menganggap keluarga itu pasti bisa mengatasi masalahnya karena baik Sartono
maupun Erry sama-sama psikolog.
Suatu hari, ketika sudah berada di mobil sehabis kontrol ke rumah sakit,
seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengatakan, "Pak, Anda
jangan depresi ya. Nanti Anda tidak bisa menguatkan orang lain."
Peristiwa itu seperti membuka kesadarannya. Namun, untuk bangkit dan menerima
keadaannya, tetap bukan hal yang mudah. Sampai pada suatu hari pada pertengahan
bulan Juni tahun 2002, temannya, Aida Ismed Adullah, minta tolong agar Sartono
membantunya membuka klinik psikologi di Pulau Batam. Tawaran pertama tak dijawab.
"Bergerak saja setengah mati, mana mungkin saya terbang ke Batam?"
katanya.
Namun ia sadar, ada masalah riil yang dihadapi. Keuangan keluarga kacau-balau
sejak ia sakit. Toh bukan itu motivasi utamanya. "Perasaan bahwa saya
masih dibutuhkan bahwa hidup saya masih berarti, itu yang terutama,"
tuturnya.
Pertama menginjakkan kaki lagi ke Bandara Soekarno-Hatta berbagai perasaan
berkecamuk. Akan tetapi, langkah itu juga menjadi semacam "turning point"
yang membangkitkan semangatnya untuk kembali tegak menghadapi dunia nyata.
Sartono tak bisa mengelak bahwa hidupnya kini ditopang oleh 15 jenis obat
setiap hari. Kenyataan itu membuatnya harus terus berjuang untuk menerima
keadaannya dengan hati ikhlas. Dan itu bukan hal yang mudah….
"SANGAT tidak mudah…," sergah Irwanto. Kondisi "stabil"
yang dipahami secara umum tidak berlaku pada Irwanto dan Sartono. Pada mereka,
keikhlasan harus direbut dari diri sendiri, di antara perasaan-perasaan lain
yang saling berkompetisi dalam bayang-bayang penderitaan yang tak selalu bisa
diungkapkan.
"Saya lega ketika akhirnya bisa memaafkan dokter yang menyebabkan saya
lumpuh," ujar Irwanto pelan. Kemarahan yang ia pendam hanya mendatangkan
rasa sakit. Penyesalan yang ia tumpuk hanya mendatangkan rasa pahit.
Namun, memaafkan bukan berarti melupakan apa yang dilakukan dokter itu terhadap
dirinya. Irwanto tidak pernah melupakan peristiwa yang memutar balikkan dunianya
dalam sekejap. Begitu pun Irene, sang istri.
"Bagian dada ke bawah benar-benar mati. Saya shock betul. Sebagian tangan
langsung tak bisa digerakkan, tapi otak saya bekerja baik," kenangnya.
Irwanto sempat berada dalam situasi antara hidup dan mati di RS Bintaro. Lalu
keluarga minta agar Irwanto dipindahkan ke RS lain. Diagnosis dokter di situ
lain lagi. Kali ini, katanya, ia terserang cytomegalovirus (CMV).
Di RS itu depresi menyerangnya. Ia tidak mau melihat cahaya, tidak mau mendengar
suara. Ia bahkan menolak mendengarkan kaset pentas anak sulungnya. "Tidak
ada yang terpikir selain, ’Tuhan, pekerjaan saya masih banyak. Apa salah
saya? Kenapa saya tidak diambil saja?’ Tapi di lain pihak, saya ingin
melihat anak-anak saya jadi orang. Saya ingin hidup."
Dalam situasi yang amat menekan itu bukan penghiburan yang didapat, juga
bukan dukungan psikologis. Empati dari dokter sangat tipis. Vonis bahwa Irwanto
tidak mungkin bertahan disampaikan dokter kepada Irene di lorong rumah sakit.
Pandangan bahwa pasien tak lebih dari komoditas terasa ketika ibu dua anak
itu ditegur untuk segera membayar kekurangan biaya perawatan. Kalau tidak,
hari itu juga Irwanto akan dipindah ke kelas tiga.
Situasi itulah yang membuat Irene nekat membawa Irwanto ke Singapura. Dengan
bantuan dana yang dipinjam dari sanak keluarga dan teman-teman, Irwanto dirawat
di sebuah rumah sakit di Singapura. "Di sana saya merasa diperlakukan
sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara amat teliti,"
ujar Irwanto. Kemungkinan kekeliruan diagnosis terkuak di rumah sakit itu.
Di Singapura ia punya waktu untuk menemui dirinya sendiri, tetapi masih belum
bisa menerima keadaan. Ia baru "terbangun" ketika pada hari keempat
dokter datang dan dengan pelahan mengatakan, kecil kemungkinan bagi Irwanto
untuk bisa berjalan lagi. "Dokter bilang, tidak ada yang berubah dari
Irwanto. Ia bisa berkarya dari kursi roda. Otaknya tidak mengalami cedera
apa pun," kenang Irene.
Pertolongan yang lain sering datang tak terduga. Itulah misteri hidup. Di
bangsal itu ada Mr Ong yang selalu mengingatkan, "Jangan lawan penyakitmu.
Terima apa adanya. Pikirkan apa yang bisa dilakukan ke depan. Jangan melihat
ke belakang terus." Optimisme Irwanto terus ditumbuhkan sampai ia mau
ikut latihan fisik. "Sangat pelan dan mulai dari awal karena menggerakkan
jari tangan pun sakit sekali," katanya.
Menurut Irwanto, para dokter, fisioterapis, konselor, dan semua orang yang
berhubungan dengan mereka di RS sangat membesarkan hati. Kemajuan sekecil
apa pun selalu mendapat apresiasi. Termasuk ketika, setelah berusaha setengah
jam, Irwanto mampu memakai baju sendiri.
Selama delapan minggu sebelumnya, organ pencernaan Irwanto lumpuh. Di Singapura
ia mencoba minum susu. Awalnya berhasil, tetapi lalu ususnya berdarah. "Saya
down lagi. Tapi Mr Ong bilang, mundur untuk maju. Jangan putus asa."
Kondisi beberapa pasien yang jauh lebih serius, membuat semangat Irwanto
semakin besar. Menjelang pulang, Irwanto sudah bisa menggerakkan jari tangannya.
Tetapi berat badannya hilang sampai belasan kilo. Masalah lain muncul: ia
takut pulang. Takut anak-anaknya malu dengan kondisi ayahnya.
Irene kemudian berusaha menghubungi dua anak perempuannya dan pelan-pelan
memberitahu kondisi ayah mereka. "Di luar dugaan, anak sulung kami mengatakan,
’It’s OK Ma. This is the way we have to go. Just go…’.
Ketika mengucapkan kalimat itu, Irene meneteskan air mata, Irwanto juga. Sedu
sedan mereka memecahkan keheningan siang di ruangan itu.
RITME hidup di rumah keluarga Irwanto pun berubah, disesuaikan dengan kondisi
Irwanto, yang hampir semua kegiatan hidupnya harus dibantu. Termasuk buang
air besar dan kecil. Ia juga harus memakai popok.
"Sehari sebelum bekerja lagi, saya konsultasi sama Irene karena setiap
saya bergerak selalu keluar kotoran. Saya khawatir baunya mengganggu orang
lain," kata Irwanto.
Menurut Irene, Irwanto sebenarnya takut bertemu teman- teman lamanya, takut
melihat reaksi mereka. Tetapi semua itu ternyata tak berdasar. "Ini mukjizat
luar biasa," ujarnya setelah melihat tubuhnya tidak bereaksi seperti
yang ia khawatirkan.
Sebelum peristiwa pahit itu terjadi, Irwanto banyak membantu teman-temannya
di organisasi nonpemerintah memberikan pelatihan mengenai posttraumatic stress
disorder (PTSD). Kini ia siap membantu mengatasi PTSD pada para korban cacat
akibat ledakan bom. "Barangkali mereka akan lebih percaya, karena kondisi
saya sama seperti mereka," ujar Irwanto.
Dalam hal itu, trauma terutama disebabkan oleh rasa sakit yang konstan selama
24 jam. "Pada korban bom, bekas luka- luka yang menganga itu sakitnya
bukan main. Pada saya, tangan ini sering saya pukul- pukulkan karena sakitnya
enggak keruan. Namun, trauma sebenarnya juga membuat kita bertanya, siapa
kita, dan apa artinya semua ini," lanjutnya.
Setelah masa-masa paling pahit terlalui, keluarga mereka harus memperteguh
komitmen untuk mendorong dan terus menemani mereka melanjutkan perjalanannya.
"Saya sedang menyiapkan buku judulnya Melihat Dunia dari Kursi Roda,
kata Sartono.
Irwanto akan melanjutkan penelitian-penelitiannya yang tertunda. Pekan kemarin
ia sudah ikut menguji mahasiswa S-3 di Universitas Indonesia di Depok.
Sartono dan Irwanto akan memperpanjang barisan para tokoh yang terus berkarya
dalam keterbatasan fisiknya, seperti penyair John Milton dari Inggris yang
mengalami kebutaan pada usia 43 tahun. Mereka tegak menghadapi risiko apa
pun, demi harapan, kehidupan dan kemanusiaan. Ayo! (MH)
Sumber: Kompas, Minggu, 17 Oktober 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.